Puisi Untuk Atthar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 5 March 2016

Ketika rindu menyerang, ketika hati bertasbih. Memuji namamu di hati, kerinduan yang tak terbendung, menghiasi malam ini. Rintik hujan yang berbunyi serta angin yang bertiupan. Dapat ku lihat senyummu di keremangan malam. Di antara langit dan rintik hujan, ada kamu di sana.

“Anna! Anna!” seorang gadis tersadar dari lamunannya. Sontak ia beristighfar.
“Yah.. pasti ngelamunin Atthar lagi nih,” seru Akira sambil memajukan bibirnya.
“Duh, nggak lah, ana cuma ngantuk kok, “Anna mengelak.
“Jangan bohong, Ukhti, ana tahu kok, tadi anti melamun, nggak baik loh,”
“Iya, iya, Ukhti,” jawab Anna sekenanya.

Bohong. Benar-benar bohong. Sebenarnya Anna sedang memikirkan Atthar, tak ada yang berbeda dari lamunannya saat ini dengan yang kemarin-kemarin. Atthar, adalah seorang ikhwan saleh yang berprestasi dan terkenal di seluruh pesantren. Rasanya, tidak ada yang tidak mengenal ikhwan yang satu ini. Semua mengaguminya, tak terkecuali Anna, seorang gadis sederhana namun saleha yang cukup berprestasi, namun kurang aktif di berbagai kegiatan, karena ia seorang pendiam dan pemalu. Anna melihatnya setiap hari dari jendela kelasnya. Hampir setiap hari ikhwan itu melewati kelasnya dengan teman-temannya. Tapi Anna memilih menahan perasaannya, karena lebih baik memendam perasaan dan menjaga diri dari fitnah ketimbang menunjukkan hasrat.

“Anna..” Akira seperti hendak berbicara sesuatu, tapi ragu.
“Ya, ada apa, ukhti?” tanya Anna sambil merapikan lemarinya.
“It.. itu,” Akira terlihat gugup.
“Kenapa sih? Ana penasaran deh, apa ada berita?” Anna kemudian berhenti melipat kainnya dan menatap Akira.
“Atthar dijodohkan dengan anak Abi,” sahut seseorang yang baru saja masuk, Ryouta, teman sekamar Anna dan Akira, ditambah Suci dan Shareen.
Deg! Mendadak wajah Anna berubah pucat. Ia benar-benar dikejutkan dengan berita itu. Jantungnya serasa berdetak lebih cepat. Dadanya tiba-tiba sesak. Ia merasa sangat pusing.
“A-anak Abi? Y-yang mana? Ukhti Ayra atau Aruna?” tanya Anna lirih.

“Aruna, tidak mungkin Ukhti Ayra, lagi pula, Ukhti Ayra sudah dijodohkan dengan Akhi Rifqi,” jawab Ryouta.
Mendadak sekujur tubuh Anna serasa kaku. Ia menggenggam erat kain yang dipegangnya. Aruna? Dia kan teman sekelas Anna. Hatinya serasa sangat sakit, seperti ditusuk.
“Kenapa bisa?” tanya Anna. Ia tidak mampu melontarkan pertanyaan lainnya. Lidahnya serasa kaku untuk berbicara.

Akira dan Ryouta pun menceritakan semuanya. Abi, pimpinan pondok pesantren sangat kagum pada Akhi Rifqi dan Atthar, oleh karena itu, ia menjodohkan Akhi Rifqi dan Atthar dengan kedua putrinya. Apalagi, orang yang berhasil menyatukan dua orang hingga naik ke pelaminan, maka akan dibuatkan satu rumah di surga oleh Allah. Anna hanya bisa menangis, hatinya sangat sedih, enam tahun sudah ia memendam perasaan ini, dan ternyata Atthar bukanlah jodohnya.

“Ya Allah, Ya Rabbi, ampunilah dosaku, sesungguhnya aku hannyalah hamba lemah yang berlindung kepadamu, Ya Allah Ya Rabbi, tunjukilah kebenarannya Ya Allah, jika Atthar memang bukan jodohku, maka jauhkan kami, maafkanlah aku Ya Allah yang telah menyimpan kerinduan kepada selain Engkau Ya Allah, namun hanya Engkaulah yang mampu menenangkan hati ini, Ya Allah.. tenangkanlah hatiku Ya Ilahi..” Anna menangis tersedu-sedu di dalam doanya.

Ia mengusap wajahnya sesekali dengan mukenanya. Jam menunjukkan pukul 03. 00 dini hari, tapi Anna enggan beranjak dari tempatnya duduk. Hatinya sangat sakit, jika boleh memilih, ia lebih memilih sakit gigi dibanding sakit hati. Sangat perih. Tanpa ia sadari, seorang ikhwan mendengar doanya. Ikhwan itu ternyata juga baru selesai menunaikan salat malam, karena duduk di dekat hijab (pembatas) ikhwan itu bisa mendengar suara Anna walau sebenarnya suaranya tergolong pelan. Dan kebetulan, Anna juga duduk di dekat hijab, tidak menyadari ada seseorang di depannya.

“Maaf Abi, saya memang tidak tahu diri, tapi saya tidak bisa menikah dengan Aruna,” Atthar berlutut di depan Abi.
“Ada apa, wahai Atthar?” Tanya Abi kemudian ikut duduk di sebelah Atthar.
Atthar menundukkan kepala nya dalam-dalam. “Saya mencintai orang lain,”
Abi tersenyum. “Jikalau Abi bisa tahu, sebenarnya siapa gadis yang beruntung itu? Apa salah satu santriwati di sini?” Atthar menganggukkan kepalanya. Ia merasa tidak enak kepada gurunya, tapi juga tidak bisa meninggalkan orang yang sangat mencintainya.

“Maafkan saya Ukhti, saya tahu saya keterlaluan,” Atthar menundukkan kepalanya.
“Tidak apa Akhi, jikalau ini memang keputusan Akhi, saya terima dengan lapang dada,” jawab gadis ayu yang duduk agak jauh darinya, namanya Aruna.

Brrakk!!

“Afwan, maaf, saya tidak sengaja,” Anna dengan cepat membereskan buku-bukunya yang jatuh.
“Ukhti Anna?” Anna menoleh dan betapa kagetnya Anna melihat siapa sosok di depannya, itu Atthar!
“A-akhi Atthar,” dengan cepat, Anna menundukkan pandangannya.
“Ukhti, ada yang ingin saya bicarakan pada Ukhti,”
“Si-silahkan, Akhi,” Anna menundukkan kepalanya dalam-dalam, sungguh ia sangat gugup bicara langsung dengan Akhi pujaannya.

“I.. itu.. sebanarnya, sa-saya mencintai Ukhti,”
“Apa? Apa saya tidak salah dengar Akhi?” Anna benar-benar terkejut.
“Tidak Ukhti. Dan jika ukhti tidak keberatan, secepatnya saya akan melamar Ukhti,”
Anna benar-benar diam, tidak bisa berkata-kata lagi. Ia mencoba menyadarkan dirinya, tapi ternyata ini bukan mimpi. Anna kemudian mengangguk.
“Alhamdulillah.. ”

Ya Allah, sungguh besar karuniamu. Engkau memberikan hal terindah bagi mereka yang mampu bersabar dalam menghadapinya, tidak ada cinta yang lebih indah dibanding cinta Engkau, Ya Allah. Jauhkanlah kami dari segala hal yang menjerumuskan kami kedalam dosa, sesungguhnya Engkaulah pelindung bagi kami, tunjukkilah kami jalan yang lurus, anugerahkanlah kami cinta yang indah, cinta yang dilandaskan ketakwaan kepadamu, Ya Rabbi, Ya Ilahi. Amin.

Cerpen Karangan: Rizkya Adindra
Facebook: Rizkya
Ana Rizkya, sekarang masih duduk di bangku MTsS. Terima kasih Ikhwan dan Akhwat yang telah membaca. Mohon kritik dan saran untuk kebagusan karya selanjutnya.

Cerpen Puisi Untuk Atthar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Yang Suci

Oleh:
Aku sudah memakai jilbab sejak kecil. Saat itu guru madrasahku berkata kalau, “Memakai jilbab itu kewajiban. Soal tingkah laku itu lain lagi. Intinya kita harus menutup aurat.” Setelah guruku

Putra Sang Dekan (Part 1)

Oleh:
Bagaimana kita dapat bertemu jika kita berjalan berlainan arah Bagaimana kita bisa menjalin kasih dalam ridhoNya jika terpisah — “aku suka dia re” ucap nunung padaku dengan lugu dan

Jodoh Pasti Bertemu

Oleh:
“braak…”. Skuterku menyerepet seorang pemuda “Astagfirulloh dek! kamu gak papa kan.” Kuhampiri pemuda yang kutabrak tadi “Tidak apa apa kok mbak, hanya lecet saja.” Jawab pemuda itu sambil mengusap

For Attention Religious

Oleh:
“Bisakah kau datang ke sini?,” tanya Arka kepada Felly. “Ada apa memangnya?,” tanya Felly kembali. “Siapa sih yang nelepon, Fel?!,” tanya Bram penasaran. Felly membalik tubuhnya ke arah Bram.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *