Putra Sang Dekan (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 27 September 2013

Bagaimana kita dapat bertemu jika kita berjalan berlainan arah
Bagaimana kita bisa menjalin kasih dalam ridhoNya jika terpisah

“aku suka dia re” ucap nunung padaku dengan lugu dan lucunya
“apanya yang kamu suka” tangkisku, sambil berlalu dengan menyambar jaketku yang kusangkutkan di pohon depan kampus biruku. kata anak-anak, gak lama lagi itu pohon hidup, mau marah-marah sama aku, soalnya saban hari digantungi jaket yang 3 bulan sekali dicuci.
“gua gak punya jaket tau” teriak reva ketika diprotes oleh teman-temannya karena aromanya yang mewangi hingga kucing pun kabur….. hehehehe

siang itu tanpa sengaja reva bertemu kak ikwan. dia lah idolanya nunung, sahabat reva. beliau adalah putra dari dekan tempat reva dan nunung kuliah. Reva hanya menyapa sekedarnya pada kak ikwan yang memberi senyum lebar padanya. Awal pertemuan reva dan kak ikwan cukup lucu, pada akhirnya karena wacana perjodohan nunung dan kak ikwan, mereka malah akrab

pada suatu hari (ceile…. macam penulis hebat saja) reva yang super cuek bebek angsa sampai dinausurus lewat, masuk ke dalam ruangan akademik. dengan baju kaos tanpa kerah, rambut yang tidak dikeramas 3 hari, celana jeans terkoyak di bagian lutut (bukan disengaja coy, itu celana kesayangan reva, harganya cuma 75 ribu, tapi itu celana pertamanya yang paling keren, baru punya 3 minggu, reva kecelakaan, kakinya terseret, pas pada bagian lututnya, alhasil, hal tersebut membekas di hatinya eits, di celananya) dan… yang paling parah, reva masuk ke ruangan tersebut dan sodara-sodara hal tersebut dia lakukan dengan sengaja, apakah itu? yak… hal yang paling tabu di muka pertiwi kampus biru, reva menggunakan sendal jepit, jepit asli, asli swallow. penuh dengan debu-debu intan…

mba mba akademik diam saja tidak memperingatkan reva, hal tersebut bukan untuk kali ini saja. namun, tiba-tiba, suara asing mengejutkan reva. bukan suara yang keras, namun lembut dan terkesan biasa saja
“mba, sendalnya”
“hah? kenapa? mau pinjem mas?” dengan butek reva malah menawarkan
“mba, masuk sini pake sepatu ya. kali lain jangan pake sendal”
otomatis mata reva melotot. siapa nih cowo? pegawai baru? berani-beraninya sama aku. maklum, reva preman kampus, kelakuannya, ampun ampun deh…

sejak saat itu, reva alergi sekali dengan cowo musterius itu, hingga reva tahu, beliau adalah putra dekan kampus. yang baru saja menamatkan s1 IT di kampus yang sama dengan reva. namun entah sejak kapan, reva dan kak ikwan, (akhirnya tahu juga namanya) suka berbincang. usut punya usut, kak ikwan suka memperhatikan semangat reva. setiap hari, setiap pagi, baru sampai kampus, reva sudah memberi senyum gembira, tawa penuh semangat, candaan, dan sapaan pada siapa saja yang ia temui. hingga suatu hari, kak ikwan tercetus sebuah kalimat
“saya suka sama ni anak, setiap pagi selalu ceria” si reva yang dimaksud malah lewat saja tanpa menyapa si kakak.

hampir setiap saat bertemu, reva dan kak ikwan mengobrol. Banyak hal yang tidak penting yang mereka perbincangkan. Kedekatan reva dan kak ikwan, yang notabennya adalah aktifis muslim kampus, putra dekan, dan menarik perhatian beberapa teman reva tidak terlalu digubris oleh orang-orang. Reva mah biasa dekat dengan siapa saja, dengan satpam kampus saja reva suka mengobrol.

Seperti siang itu, kak ikwan mengobrol dengan reva di teras kampus berdua saja. Anak-anak kampus penuh wira wiri.
“va, darimana?” Tanya kak ikwan
“keliatannya?” yang ditanya malah balik bertanya. Sableng…
“reva tau gak?”
“Gak” (hahahahhaha… penonton tertawa)
“teman saya kemarin ada yang baru diwisuda, sudah ditawarin jadi Direktur Utama Bank lho?
“hah” reva mulai tertarik. Insting dan cita-cita menjadi orang yang hebat suatu hari nanti, membuat reva tertarik pada kisah-kisah inspiratif seperti ini
“iya, orangya cerdas deh va. Semua mata kuliahnya A. saya saja tidak mampu”
“orang apa kak?”
“cina, dan tau gak istimewanya lagi” kak ikwan terlihat bersemangat walaupun ritme bicaranya normal, tidak seperti reva, naik turun kayak tangga lagu “dari awal kuliah sampai lulus, dia menggunakan sepeda”
“sepeda motor kak? Aku juga”
“bukan, sepeda va. Sepeda roda dua biasa. Padahal, setau saya beliau anak orang berada”
“berada apa kak? berada dimana-mana?” kak ikwan hanya tersenyum tipis menanggapi candaan reva yang tidak penting tersebut. Dalam hati kak ikwan, kapan ni cewe bisa serius. Lucu juga. Diam-diam, kak ikwan jadi suka mengajak reva berbincang. Bincang apa saja, hal-hal yang tidak penting menjadi suka ia jadikan topik untuk memancing reva berbicara dengannya.

“kak, punya pacar gak?” pertanyaan bodoh reva yang ia lemparkan pada kak ikwan
Dengan raut wajah bingung kak ikwan menjawab reva dengan pertanyaan juga “kenapa memangnya?”
“ah kakak, ditanya balik Tanya juga”
“yak an kayak kamu va” tangkis kak ikwan santai
“gini lho kak, aku to the point saja ya. Ada sahabat aku yang suka sama kakak”
“terus” kak ikwan mulai bingung
“lha kok terus? itu lho kak, ta… taruf, eh itu buat orang nikah ya kak. Itu nah kak, taa..”
Dengan geli kak ikwan menanggapi reva “Ta’aruf maksudnya va?”
“nah itu kak” reva tertawa dengan
“mau gag kak?” sambung reva
“dengan siapa va?”
“ya kakak mau gak?”
“lho va, harus jelas siapa orangnya. Supaya kakak bisa kasi jawaban”
“kakak gag nyesel deh, orangnya cantik, alim, pintar masak, bla bla bla bla…” Reva menirukan pujian yani pada nunung tempo hari.
Kak ikwan hanya diam saja mendengar ocehan reva. Entah pikirannya sedang melayang kemana

Reva dan kak ikwan mulai jarang bertemu. Kak ikwan yang ternyata sedang mempersiapkan studi lanjutnya ke luar kota, reva pun sibuk dengan seabrek kegiatan kampusnya. Mulai dari kegiatan lapangan hingga penyusunan tugas akhirnya. Pembicaraan reva dan kak ikwan tentang ta’aruf itu terhenti sementara. Namun nunung yang sudah sangat kesengsem dengan kak ikwan, merongrong reva setiap saat. Rong rong rong (itu mah suara motor taun 65an nek). Nunung menagih jawaban dari kak ikwan melalui reva.

Siang itu, kampus ramai sekali. Semua mahasiswa pada sibuk kasak kusuk mau maju proposal. Tak terkecuali reva. Semangatnya rada pudar ditelan matahari siang nan terik itu. Dengan cueknya, reva melalui beberapa teman dan sahabatnya tanpa sapa dan salam seperti biasa. Reva berlalu cepat untuk menjadi yang pertama antri konsul gigi… eitss…konsul proposal maksudnya, dengan dosen yang diburu saban hari saat masa-masa penyusunan tugas akhir seperti ini. Macam sanggar, kalah lah tu makanan pisang goreng nan hangat lengkap dengan sambelnya dengan dosen-dosen di kampus biru.

“va” suara familiar itu meneriaki reva
Reva hanya menoleh sekedarnya dan tidak menghentikan langkah seribunya.
“reva, tunggu. Bentar” kak ikwan setengah memaksa menahan reva. Mau tak mau cewek tomboy itu berhenti dan menunggu kak ikwan yang sedang asyik bicara dengan temannya.
“mengesalkan” pikir reva. Manggil tapi nyuekin. Reva menyandarkan dirinya di pagar penghalang kampus di lantai dua itu. Hingga akhirnya reva terduduk menunggui kak ikwan yang gag jelas perlunya apa. Memang mereka lama sekali tidak bertemu, tidak mengobrol seperti biasanya. Rindu kali kak ikwan, pikir reva cuek.
Tau gak kak ikwan manggil reva untuk apa? Nothing penonton. Nothing. Kak ikwan hanya sekedar berbasa basi yang memang sudah basi. Mantap kan penonton.

Hingga pada suatu hari, reva tidak sengaja masuk ke dalam ruangan dosen dan disana ada kak ikwan. Mau tak mau, karena pada saat itu ada nunung dan yani di luar ruangan. Reva menyampaikan maksudnya
“kak, tu ada di luar”
“siapa?” kak ikwan melongo bingung
“haduh, itu. Cewe yang suka sama kakak. Yang mau ta’aruf”
“oh…” Kak ikwan menanggapi pendek
“kok oh? katanya penasaran. Itu kakak keluar, lihat sendiri” bikin gregetan ni orang, pikir reva.
“lira ya va?” tebak kak ikwan. Aneh, kok malah lira yang dikira kakak suka sama dia. Apa kak ikwan suka lira. Memang sih, lira agak centil dengan siapa saja. Itu karena dia supel, bukan ceremil kayak cewe-cewe gak jelas lainnya
“habis, ciri-cirinya mendekati” dulu reva memang pernah menguraikan cirri-ciri cewe yang suka pada kak ikwan. Umum banget donk ya ciri-ciri itu, hingga banyak cewe yang dikira masuk kategori itu (kategori yang mana mba penulis? penonton bingung)
“kamu sibuk menjodoh-jodohkan orang va, kamu sendiri sudah ada belum?” kak ikwan bertanya pelan
Reva melotot pada kak ikwan “kak, hidup itu harus mendahulukan kepentingan orang lain. Mumpung ada yang punya kesempatan, ya kita bantu untuk mendapatkan jodohnya”
Kak ikwan tersenyum lebar “pinter kamu va” puji kak ikwan yang tidak ditanggapi oleh reva
“kakak keluar bentar deh. Dia pakai baju kuning, tinggi-tinggi, berdiri di dekat yani”
Kak ikwan akhirnya mau melongok ke luar ruangan, dan apa yang dia katakan penonton
“oh, itu”
Mata reva kian melebar dan membulat hingga bola pingpong kalah.
Kak ikwan tidak memberikan tanggapan apa-apa. Beliau hanya bilang butuh waktu.

Cerpen Karangan: Rahmi
Blog: Http://susantirahmi.blogspot.com/

Cerpen Putra Sang Dekan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pacar Bukanlah Segalanya

Oleh:
Hari itu aku sedang mengikuti MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Aku berada di gugus 3 bersama sahabat karibku Putri. kakak pembimbingku adalah kak riko dan kak citra. Kak riko

Pangeran Berhati Putih

Oleh:
Tetesan embun dan basuhan air wudhu’ itu terlihat dari wajah Aisyah. Dia bergegas menyapa dunia untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi agama islam di Jember,

Jalan Terbaik

Oleh:
Sudah hampir satu bulan bayu tidak mengabarinya dan hadphonenya pun tidak bisa dihubungi. Ada kekhawatiran yang sangat dalam.. Aisha benar-benar bingung dengan sikap bayu, sebelumnya dia tidak pernaah bersikap

Pangeran Bersorban

Oleh:
Ada kekhawatiran tersendri bagi setiap anak perempuan yang dilangkahi. Dilangkahi dalam artian didahulukan menikah oleh adik perempuannya. Tak terkecuali dengan Aina Nathania seorang gadis sederhana yang sudah cukup dewasa

Bintang Hati Ku (Part 3)

Oleh:
“Kamu jangan terlarut bersedih, masa lalumu kini telah sirna esok dia akan lamaran kan? Biarlah terjadi lupakan masa lalumu. Memang.. berat untuk melupakan tapi insya Allah jika kita berniat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *