Putra Sang Dekan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 30 September 2013

Bulan berlalu, daun berguguran, burung-burung berkicau (hubungannya? kagak ada sih)
Reva akhirnya tiba pada sesi sidang keduanya. Wacana perjodohan kak ikwan dan nunung lenyap bak ditelan bak mandi. Nunung yang juga sibuk dengan risetnya, dan kak ikwan yang kabar terakhirnya sudah berada di belahan wilayah lain untuk studi S2 nya.

Reva keluar dari ruangan, dan tebak siapa yang ada? Kak ikwan. Berdiri di depan jendela tepat di sebelah ruangan sidang tersebut
“lho kak? ngapain?” reva cukup terkejut
Kak ikwan hanya tersenyum tipis “ada urusan sedikit. Akhirnya, lulus kan. Selesai juga dia”
Beberapa waktu lalu, reva memang mengirimkan pesan singkat pada kak ikwan. Reva juga berencana untuk studi S2 di belahan wilayah yang sama seperti kak ikwan. Namun pada sms itu, reva juga sedikit curhat, bahwa dia pesimis bisa lulus sesuai dengan target karena beberapa birokrasi kampus dan mepetnya jadwal wisuda. Kak ikwan Cuma mengatakan, pasti bisa va.

Rupanya, keinginan nunung untuk menjalin walimatul ursy dengan kak ikwan tak surut. Beberapa bulan setelah yudisium, nunung meminta pada reva untuk menanyakan jawaban kak ikwan sekali lagi.
Namun, sms reva tak kunjung dibalas oleh kak ikwan. Padahal, biasanya lancar saja. Hingga akhirnya, email yang dikirim reva pun dijawab oleh kak ikwan. Beliau menanyakan kabar reva dan kesibukan reva sekarang, beserta jawaban untuk nunung.
Panjang penonton, intinya, kak ikwan hendak konsentrasi pada studinya. Dan tidak siap untuk menikah. Dan jawaban itu reva sampaikan pada nunung. Kasihan nunung, hatinya kacau. Padahal dia sudah terlanjur berharap.

Reva pun membalas email kak ikwan, kurang lebih begini bunyinya
“oke kak. Insya Allah saya sampaikan. Tapi, kok saya merasa kakak juga ada hati dengan nunung.”
Dan hingga sekarang, kakak tidak pernah menanggapi email reva tersebut. Jangankan email itu, sms-sms reva selanjutnya pun tidak.
Kak ikwan aneh, pernah suatu hari beliau bertemu dengan teman wanitanya, dan menjabat tangannya dengan akrab. Tapi, selama kenal dengan reva, kak ikwan tidak pernah mau menyentuhkan jemarinya pada reva. Kadang reva kesal, tapi dia diam saja. Kak ikwan aneh

Akhirnya, reva jadi melanjutkan studi S2 nya. Mendarat di kota pahlawan tersebut, hati reva sedang remuk. Dia menyukai seseorang yang juga begitu jatuh hati padanya, namun reva yang begitu tomboy menolak dan pada akhirnya, orang tersebut menikah pada hari reva wisuda.
“assalamualaikum, reva?”
Suara yang tidak asing mengejutkan reva di kota asing ini. Reva sedang berdiri memperhatikan layar informasi bagasi pesawat.
“kak..?” reva terkejut,
Reva menjulurkan tangannya, namun kak ikwan hanya menangkupkan tangannya.
“akhirnya, jadi juga studi S2 nya va” kak ikwan tersenyum ramah dan ditanggapi diam oleh reva. Dia yang sedang letih dan tidak konsentrasi hanya mengangguk saja. Reva pun berlalu dari pandangan kak ikwan, reva memisahkan diri dengan alasan hendak mengambil bagasinya (masa punya orang?.. psstt… cerita mulai serius nih)

Tanpa dianya, kak ikwan malah mencarikan teman-teman untuk setaksi dengan reva. Reva kaget, dia bukan cewe penakut, bahkan dia paling pemberani dan tahan malu di depan banyak orang. Heran juga reva, kenapa kak ikwan repot-repot mencarikannya teman.
“biar ada teman” kata kak ikwan menanggapi keheranan reva “lagian sudah malam va”
Kak ikwan sendiri malah dijemput oleh temannya. Jadilah, reva setaksi bertiga dengan dua orang teman kak ikwan yang tidak reva kenal.

Lusanya, kak ikwan menelepon reva. Sesuatu yang tidak pernah kak ikwan lakukan padanya sebelumnya. Mereka mengobrol macam-macam. Lumayan lama. Hingga ketika hendak mengakhiri perbincangan, kak ikwan mengeluarkan statement
“va, gimana cara untuk ngubah paket … Ke paket … saya nelpon kemana-mana jadi murah, tapi sms mahal va. Sebenarnya kakak tadi mau Tanya itu aja sama kamu”
“gak tahu kak, saya gak pernah pake”
Agak mengherankan. Kenapa kakak tidak ngomong dari awal, dasar kak ikwan aneh.

Awalnya reva merasa aneh. Ada rasa suka dan kagum pada sosok seseorang ini, entah kapan rasa ini muncul. Reva sudah bukan yang dulu lagi. Sebelum meraih gelar sarjananya, reva tomboy sudah insaf. Walau masih suka ketawa dan nangkring-nangkring gak jelas, reva menyadari kesalahannya.

Awal tahun 2011, sebuah pesan masuk dari seorang sahabat lama reva. Ika, seorang akhwat berhati lembut berparas ayu (serius bu? hehehhehe, hush, usil), begini kurang lebih dialog mereka by sms
“assalamualaikum va. apa kabar ni”
“alhamdulilah baik. ika gimana?”
“alhamdulilah sama baiknya. Oya reva kenal gak dengan ikwan? dia anak dekan kampusmu dulu?”
(deg… ada apa lagi ni? ika suka beliau? kenapa perasaanku tidak menentu begini)
“kenal ka. Kenapa?”
“gini va, beliau sudah selesai S2 nya. Dan kabar dari teman karibnya, dia hendak mencari istri”
“oh gitu. Gimana kalo dengan ika? Kan cocok tu”
(dengan hati pedih, Send dikliknya)
“jangan dengan aku va. Gak level. Gimana kalo dengan reva? reva kan sekarang udah jilbaban, jadi ntar beliau menuntun reva supaya jauh lebih baik lagi. Lagipula, reva juga studi S2.”
(bingung, senang, sedih, gak tau bagaimana perasaaan reva saat itu. Teringat masa lalu, ketika reva yang menjadi pion perjodohan antara nunung dan kak ikwan. Kenapa sekarang reva yang dijodoh-jodohkan?)
“ika, level itu gak ditentuin dari strata ataupun ssuatu yang dnilai dari manusia. Dia bisa berjodoh dengan siapa saja ka, termasuk dengan ika”
“jadi jawaban reva apa?”
“gak deh ka”
“beneran va? kamu gak mau sama kak ikwan?”
(bukan gak mau, benih cinta ini tumbuh semakin hari semakin tinggi ka, tapi, kenapa kak ikwan tidak menyampaikan sendiri? kami kan kenal? proses ta’aruf untuk orang yang tidak saling kenal, lagian ini dari pihak ketiga, kenapa tidak disampaikan dari pihak kedua. Beribu Tanya dan jawab dalam benakku. Begitu banyak pertimbangan yang reva kemukakan dalam benaknya. Dan entah mengapa, kata itu tidak keluar dari lisannya).
“bukan tidak mau ka. Tapi belum untuk saat ini. Aku masih konsen kuliah dulu. Jika Allah menghendaki kami berjodoh, insya Allah ka. Amin”

Perasaan reva tidak menentu. Dia berharap, namun juga merasa berdosa pada nunung. Walau nunung sudah menikah, namun tetap saja. Itu hal tabu bagi reva, menyukai orang yang pernah diinginkan oleh sahabatnya. Di sela-sela doanya, diam-diam reva berdoa
“ya Allah, aku menyukainya, ijinkan aku menyukai dan mencintainya karenaMu. Aku ingin cinta yang bisa membawaku kepada cintaMu. Aku ingin kekasih yang jika kukecup, maka surga lah janjiMu. Ridhoi cintaku ya Allah, yang kusimpan, kujaga dan kusemat hanya karenaMu. Jika tiba saatnya nanti, pertemukan kami dalam mahligai pernikahan yang Engkau ridhoi, Amin Ya Robbal Alamin.

2 tahun berlalu. Reva telah menyelesaikan studinya. Dia kini telah menjadi staf pengajar di salah satu PTS yang baru berkembang di kota tercintanya. Ada begitu banyak hal yang reva lalui, namun hatinya masih tersemat pada kak ikwan. Doa dan harap selalu ia sematkan di setiap sujudnya. Hingga lamaran dan wacana perjodohan oleh orangtua dan sahabat karibnya ia tepis dengan jawaban, aku sudah menyukai orang lain karena Allah Ta’ala.
Betapa reva mengharap kehadiran kak ikwan di hadapannya dengan membawa tawaran khitbah.

“va, temani ke mall yuk” ajak septi, kakak pertama reva
“hah? ngapain?” reva yang masih tertidur-tidur menanggapi enggan
“ayuk, sebentar aja”

Reva dan kakaknya, beserta kedua keponakannya meluncur ke mall yang dimaksud. Ketika sedang mencari sesuatu, reva dan kakaknya terpisah. Reva berjalan mendekati eskalator, dan kemudian melemparkan pandangan ke arah eskalator, jantungnya terasa mau berhenti berdetak, kakinya lemas tanpa daya, hatinya beku, matanya berair.
Kak ikwan tersenyum manis dengan mata penuh bahagia, di sebelahnya, wanita cantik berparas ayu ikut tersenyum.

Cerpen Karangan: Rahmi
Blog: Http://susantirahmi.blogspot.com/

Cerpen Putra Sang Dekan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Datang dan Pergi Lagi

Oleh:
Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu, jika setiap aku sudah tak mengingatmu, kemudian kau datang membuat hati ini merasa bersorak atas kebahagiaan saat kau datang (lagi), dan tiba-tiba hati ini

Kau Pilihanku

Oleh:
Seberkas cahaya memamerkan binar indah sang surya, menghujam keindahan budaya di alam tercinta. Burung-burung gereja turut serta bergembira dengan kicauan indah bernada, mengantarkan para pengais rezeki untuk segera berkarya

Matahari Tengah Malam (Part 1)

Oleh:
Aku tersentak, mata yang perlahan sayut mendadak terbelalak. Sepanjang perjalanan aku hanya duduk dan sesekali menyandarkan dahi pada kaca jendela bus yang melaju dengan kencangnya membawaku dan puluhan penumpang

Lukisan Salah Penerima

Oleh:
Dina sangat semangat mempersiapkan selembar kertas karton putih dan kotak berisikan pensil warna yang baru saja dibelinya dari mini market saat pulang dari sekolah, ia bukanlah seorang pelukis dan

Menemukan Cinta

Oleh:
Berdiri di seberang lelaki itu seorang gadis dengan khimar biru dongker menutupi lebih dari sikunya sedang membaca buku, lelaki itu mulai memperhatikan gadis itu. Membolak balik buku yang sedang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *