Raina Dan Burung Rantau

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 7 March 2016

Pertemanan ini tak akan putus walau terpisahkan selama tiga tahun, tanpa kabar tanpa komunikasi satu sama lainnya. Keduanya di luar terlihat saling membenci dan tak mempedulikan satu sama lain, tetapi dalam diam keduanya ada doa yang terselip untuk kebaikan masing-masing. Entah suatu hari Tuhan akan mempertemukan dengan cara apa, keduanya pasrah. Ada suatu hal yang serius sehingga memisahkan keduanya, kesalahpahaman. Mungkin saja.

Tiga tahun sebelum ini mereka menjadi sahabat yang sangat dekat, banyak yang mengira mereka punya hubungan lebih dari sahabat, yang sebenarnya terjadi dan paham betul hanya mereka sendiri juga. Selama tiga tahun Raina menjalani kehidupannya Aflah, sahabatnya. Selama tiga tahun pula ia jalani dengan kebencian yang terlihat dari luar saja, hari-harinya dia sulap menjadi bahagia, jauh berbeda dari tiga tahun yang lalu.

“Tidak tanggung jawab!” kata-kata itu ke luar dari bibir mungil Raina.
“Apa yang kau lakukan? Kuliahmu berantakan, hafalan Qur’anmu juga putus di tengah jalan.”
Aflah tak mengeluarkan sepatah kata pun, diam adalah jawabannya.
“Bagaimana nanti dengan orangtuamu kalau tahu anaknya seperti ini?”
“Abah dan Umiku juga sudah tahu.”
“Apa? Lalu bagaimana pendapat mereka?”
“Aku pergi dulu, Ra. Aku harus segera kembali ke pondok,” Aflah meninggalkan Raina tanpa menjawab pertanyaannya.

Raina dan Aflah, mereka dipertemukan pada bangku perkuliahan. Duduk pada jurusan dan program studi yang sama, hampir satu tahun persahabatan mereka berjalan, bahasa dan budaya yang berbeda tak menjadi halangan satu sama lainnya. Keduanya asli peranakan jawa, berasal pada suku yang sama, Jawa, namun berbeda daerah. Perbedaan terlihat dari logat bicara, Raina berbicara dengan dialek jawa halusnya dan Aflah dengan dialek jawa ngapak.

“Selamat ulang tahun, Raina,” dengan kue tart di tangan dan lilin angka 20 yang sudah dinyalakan.
“Terima kasih, Kinanti. Kau tak pernah lupa hari ulang tahunku,” dipeluknya sahabat yang ia kenal sejak duduk di bangku SMA itu. Prosesi hari ulang tahun berjalan dengan ucapan, tiup lilin dan tak ketinggalan, Doa.
“Apa yang kau minta?”
“Rahasia dong,” Jawabku dengan senyum ringan.
“Aflahkah?” seketika senyuman hilang dari wajah riang Raina.
“Apa lulus dan bisa wisuda dengan titel S.S tahun depan?” Kinanti menebak-nebak.
“Itu salah satunya,” Jawab Raina.
“Yang mana? Aflah?” Jawab Kinanti memancing.

Ia paham betul bagaimana sifat sahabatnya. Sejak tiga tahun belakangan ini ia tak pernah lagi menceritakan tentang sahabat yang lainnya, Aflah. Terakhir ia berkabar telah pindah dari jurusan sastra dan tak meninggalkan sepatah kata pamit padanya. Ia mengetahui kabar tersebut dari kawan-kawan Aflah di pondok. Aku lihat ia menangis pada hari itu dan kebenciannya mulai tumbuh.

“Lupakan nama itu, Kinan,” ia masih pasang muka datar tanpa senyuman.
“Kamu jangan berbohong padaku. Aku tahu kamu sampai hari ini tak bisa melupakan dia. Kau baca blognya saban hari. Ini yang kau katakan membenci? lupakan?” sentak Raina diam.
“Kau mencintainya bukan? aku lihat jelas sinar matamu itu.” Raina kembali terdiam.

Selama tiga tahun ini keduanya memilih saling tidak bertemu, Aflah masih sering berkunjung ke Pondok lamanya dan beberapa kali mengunjungi kampus lamanya. Sering kali Aflah melihat Raina dari kejauhan dan memilih untuk tidak menemuinya, begitu ucap kawan sepondok Aflah. Hal yang sama juga dilakukan Raina. Apa yang terjadi pada mereka berdua hanya mereka sendiri yang tahu, mereka saling melihat dari kejauhan namun tak memilih untuk menemui, mereka juga saling mendoakan namun tak saling memberi kabar dan penjelasan. Raina juga tak mengganti password untuk login area hospot kampus karena ia tahu Aflah masih sering menggunakan akunnya sejak Aflah pindah universitas.

Keduanya saling mengingat tanggal lahir, namun tak pernah memberikan ucapan, seperti hari ini pada ulang tahun Raina. Nada panggilan dapa Hp-nya berbunyi nyaring, dari Ani. Teman sepondoknya dulu, pondok yang sama dengan Aflah. Raina sempat mengecam kehidupan pesantren selama satu semester sebelum ia memutuskan untuk ke luar dan aktif pada organisasi kampus. Pondok tidak lagi bisa sejalan dengan aktivitas organisasi yang diikutnya, biarpun organisasinya juga merupakan organisasi keagamaan namun tetap saja membutuhkan waktu yang banyak menyita. Panggilan dari Ani diiyakannya untuk saling bertemu karena ada suatu hal yang akan dibicarakan.

“Mbak Raina apa kabar?” Ani yang datang lebih dulu mempersilahkan Raina duduk.
“Alhamdulillah, bagaimana denganmu? Masih di pondok?”
“Alhamdulillah masih, Mbak.” Ia keluarkan sebuah tas kecil dari bawah meja.
“Apa ini, Mbak? Untuk siapa? Dari siapa?” Raina yang terkejut terus bertanya
“Untukmu, Mbak. Aku hanya menyampaiakan amanah.”
“Dari siapa?”
“Nanti Mbak akan tahu sendiri,”

Raina langsung membuka bingkisan yang ada di depannya. Didapatinya sebuah novel dan surat yang tak diselipkan. Keduanya hilang di bawah lampu-lampu indah hiasan kafe itu, Raina hanya melihat isi bingkisan dan tak sempat membaca surat yang ada di dalamnya. Ia memilih untuk membacanya setelah pulang. Dilihatnya bingkisan ini masih tergeletak di atas meja kamarnya, matanya hanya memperhatikan dan tangannya tak juga reaksi untuk membaca surat yang ada di dalamnya. Ia rebahkan tubuhnya karena kelelahan, baru keesokan harinya matanya mulai membacai surat yang didapatnya semalam.

“Assalamualaikum. Untuk Raina, Sebenarnya aku sudah lama ingin menulis surat ini. Namun baru sekarang aku melakukakannya,” Ia berhenti membacanya dan meletakkan di atas meja, ia mengenal betul tulisan tangan itu. Tulisan tangan Aflah. Setelah tiga tahun lamanya menghilang, dan hari ini, pada hari ulang tahunnya yang telah lewat satu minggu ia datang dengan sepucuk surat dan novel. Kebencian dan rasa bahagianya hadir bersamaan. Ia lanjutkan membacanya.

“Aku tahu sudah banyak bersalah padamu, tiga tahun aku tak memberi kabar. Aku juga tidak berpamitan padamu saat pindah kuliah dan mondok. Kau sendiri sudah tahu alasan kenapa aku pindah. Selamat ulang tahun, Raina. Dalam perpisahan selama ini aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, lulus dengan nilai yang bagus, wisuda tepat waktu dan juga kesehatan dan kebahagiaan semoga selalu kau miliki. Rain, aku sudah berhenti menghafal. Hafalanku yang aku bangun sejak MTs kini sudah putus di tengah jalan, Abah dan Umiku tentunya kecewa tapi mau bagaimana lagi aku tidak bisa melakukannya secara bersamaan, hafalanku harus kalah dan aku memilih untuk fokus kuliah.”

“Kau tahu, Rain? Kuliahku yang sekarang sesuai dengan yang aku harapkan. Saban hari aku berkutat dengan ilmu komputer yang aku gemari, teman-teman sekelasku juga sebagian besar laki-laki. Sekarang aku tak punya banyak keinginan seperti dulu menjadi duta bahasa dan penulis ternama. Saat lulus nanti aku hanya ingin menjadi tukang cetak saja. Hanya itu. Maafkan aku, Rain. Aku yang belum bisa menepati semua janjiku, aku memang pengecut, aku memang egois. Maafkan aku. Semoga kau bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Wassalam. M. Aflah Khairul.”

Ia baca surat itu dengan beberapa tetes air mata. Ia relakan keadaan dengan seikhlasnya. Sahabatnya kini telah menjadi burung-burung rantau yang terbang dengan bebasnya, tak ada lagi yang bisa memenjarakan pikirannya. Sudahlah, jika Allah memang mengizinkan pasti nanti akan ada saat yang terindah untuk bertemu. “Ayo, Raina. Semangat dan kejar S.S-mu. Aku harus bisa wisuda tahun ini!” ucap Raina menyemangati diri.

Perjuangan sudah dimulainya sejak beberapa bulan lalu, lembaran revisi skripsi telah berakhir dan sampai pada kata “LULUS”. Di sela-selanya mengerjakan skripsi ia baca novel pemberian Aflah, novel bersampul warna putih itu seperti menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada diri Aflah. Hari-hari yang ditunggunya segera tiba, wisuda tinggal menghitung jam, kebaya pituh dan toga sudah siap pakai. Sepatu dengan hak lima senti dikirim ibu sebagai hadiah. Saat namaku dipanggil maju sebagai wisudawan terbaik aku lihat Abah dan Umiku meneteskan air mata. Ke luar dari gedung aku kembali mendapatkan peluk bahagia dari kedua orangtuaku, juga aku lihat beberapa teman sudah menunggu di depan gedung dengan rangkaian bunga ucapan selamat. Dari kejauhan aku lihat sosok laki-laki yang aku kenal benar, tubuhnya tinggi dan agak kurus, kulitnya putih bersih.

“Aflah?” Raina terkejut saat Aflah mulai mendekat.
“Assalamualaikum,” ia ia cium dengan santun tangan kedua orangtuaku.
“Selamat, Rain.” Ia sodorkan setangkai mawar putih padaku.
“Terima kasih,” Rain lalu terdiam.
“Maafkan aku, Rain. Baru bisa menemuimu hari ini,” Rain hanya mengangguk.
“Sekarang, di depan Abah dan Umimu aku ingin mengkhitbahmu,” senyum tipis mengembang pada wajah Rain dan butiran bening menetes begitu saja dari matanya yang teduh. Sesungguhnya Allah mempunyai rencana yang lebih indah.

Cerpen Karangan: Akhil Bashiroh
Blog: akhldzatuhimmah.blogspot.com
Facebook: Bintu Aql

Cerpen Raina Dan Burung Rantau merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Skenario Tuhan

Oleh:
Aku tidak tau bagaimana awalnya aku sudah tak lagi mencintai dalam diam, bahagia? Ya sangat, sebab aku tau dia juga menyayangiku. Tetapi kami tidak ada ikatan apapun, jadian saja

Sorry, Gak Galau Lagi

Oleh:
“Ah.. aku bisa gila.. aku bisa gila!” Ucapku sendiri dalam hati seraya memegangi kepalaku. Kenapa wajah pria itu selalu menghantuiku. Senyumnya, kenapa senyumnya ada di mana-mana. Ada apa denganku!

Rindu UntukNya

Oleh:
Aku Muzee terlahir di tengah-tengah keluarga yang memahami agama, semua yang aku lakukan atas dasar keinginan orangtua. Hidupku sangat amat formal, seolah tak pernah punya keinginan, padahal yang menurutku

Cinta Rima Dan Rama

Oleh:
Rima dan Rama adalah saudara kembar. Mereka dari keluarga sederhana Ayahnya seorang guru sedang Ibunya seorang pejahit. Sikap mereka tidak jauh beda mereka juga mempunyai hobi yang sama. Rima

Thanks to Fara

Oleh:
Malam hening. Hanya desir angin yang sesekali menerpa dedaunan. Belum lagi suara desisan Jangkrik seperti desisan Ular di gurun pasir memecah sepi malam itu. Aku masih sibuk mengencani malam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *