Raka dan Rana

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 15 January 2014

Berawal dari sebuah kekagumanku padamu, Raka. Aku mencintaimu dalam ketidakberdayaanku sebagai seorang wanita yang hanya kau anggap sebagai sahabat, tak lebih.

Pagi itu, aku bertemu denganmu yang tengah asyik membersihkan papan yang tak lain merupakan salah satu penyalur ilmu.
“Rajin sekali..” lirihku
Aku tak pernah berani menyapamu walau sebenarnya aku sangat ingin untuk itu. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku benar-benar mengagumimu. Cowok jenius VIII-D, itulah sebutan anak-anak kelas untukmu. Raka, kamu ahli Matematika dan IPA, sedangkan aku? Aku hanya seorang makhluk pecinta sastra dan pembenci akan materi penuh angka.

“Siapa yang ingin menyelesaikannya?” tanya Bu Frida pagi itu.
“Saya, Bu!” ujarmu.

Lihatlah, berpasang-pasang mata menatapmu yang dengan santainya berjalan menuju papan tulis. Kau menuliskannya dengan beberapa kali menatap sebuah buku di tangan kirimu. Dan hebat, kau mendapat nilai sempurna dalam mengerjakan soal serumit itu.

Hari-hari terus berlanjut dan aku pun tetap kokoh dengan perasaanku padamu. Setiap kali aku melihatmu, aku tak sanggup menahan desiran-desiran itu di hatiku. Kini, ulangan semester pertama telah usai dan saatnya untuk menantikan detik-detik pembagian hasil prestasi siswa.
“Kelas VIII-D, kita mulai dari juara pertama… Raka Dwitama!”
Aku sudah menyangka bahwa yang akan meraih kemenangan itu adalah dirimu. Dan aku? Tentu saja tidak bisa.
“Juara kedua… Ranasya Anggraini!”
Kali ini, aku sama sekali tak menyangka. Aku yang ‘pas-pasan’ ini mendapat peringkat kedua dan akan berdiri di sampingmu Raka? Aku malu, sangat malu hingga aku tak lagi fokus mendengarkan siapa seseorang yang akan berdiri di sampingku nanti.

Degg.. degg…
Aku merasakan jantungku bekerja keras hingga menimbulkan ledakan-ledakan aneh untukku. Aku terus merasakannya walau prosesi pemberian hadiah itu telah usai.

“Wah Rana hebat deh, aku juga pengen masuk tiga besar!” ucap Dara, sahabat ku.
“Ah kamu Da, aku juga nggak nyangka kok. Belum lagi bisa berdiri di samping Raka, aku deg-degan banget tahu nggak.” Balasku dengan diselingi curhat.

Dia sahabatku, tentu saja ia mengetahui bagaimana perasaanku terhadap Raka. Aku pun mengetahui hal yang sama, ia menyukai cowok tinggi yang duduk berseberangan dengan ku. Cowok itu Dafi, cowok berkuit hitam manis, berambut lurus dan bertubuh tinggi itulah yang menarik perhatiannya.

“Ra, Dafi peringkat berapa ya?” tanya Dara padaku.
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, sebuah suara yang tak asing bagiku menyapa.
“Rana, selamat ya.” Ujarmu.
Ah Raka, kamu membuatku sangat malu.
“Eh Raka, ee.. makasih. Kamu juga, selamat ya!” balasku gugup.

Waktu terus berputar seiring dengan perkembangan hari, berkembang pulalah kedekatan kita. Sejak kuberanikan diri untuk menyapamu lewat ‘pesan singkat’ dengan alasan menanyakan tugas kelompokku bersamamu, hubungan kita semakin dekat. Awalnya, kukira kau menyukai ku, bahkan aku berpikir kamu akan meminta hubungan lebih dari sebatas teman. Memang iya, tapi hanya sebatas sahabat. Tidak seperti kebanyakan teman-temanku yang lain, jika mereka dekat dengan seorang lelaki maka kelanjutannya adalah ‘pacaran’, hal yang belum pernah ku lakukan.

“Rana, tugas matematika mu sudah selesai belum?” tanyamu pagi itu.
“Seperti biasa Ka, bolong-bolong!” jawabku dengan wajah cemberut.

Dengan kebaikan hatimu, kamu mengambil sebuah buku bersampul biru dan memberikannya padaku.
“Thanks Ka, kamu baik banget.” Ucapku dengan tersenyum gembira.

Kita pun terus sejalan hingga akhirnya menempuh jenjang yang lebih tinggi, kelas IX. Tapi sayang, aku terpisah dengan banyak teman kesayanganku. Termasuk kamu dan Dara, begitu pula dengan Bu Faizah, guru favorit kita. Ramainya suasana kelas tetaplah membuatku merasa sepi disini, belum lagi aku tengah duduk bersama dengan seorang perempuan yang juga menyukaimu. Maria, dia juga menyukaimu Raka. Yang membedakanku dengannya sangat banyak, ia memiliki banyak kelebihan dariku. Postur tubuhnya lebih tinggi, kulitnya putih bersih, penampilannya diluar batas anggun, belum lagi ia merupakan salah satu vokalis ‘grup’ musik sekolah. Sedangkan aku? Sangat jauh di bawah darinya.

“Rana, ke perpustakaan bareng yuk!” ujarmu memanggilku.
“Ria, aku keperpus dulu ya. Mau ikut?” tanyaku sok akrab.
“Nggak Ra, nanti aku ganggu kalian belajar lagi.” Balasnya dengan wajah yang kurasa adalah milik seorang pencemburu.
Maafkan aku ya, Maria.

Selama di perjalanan menuju perpustakaan, kamu terus menceritakan banyak hal-hal lucu tentang kelasmu.
“Maklum, IX-C Ra, jadi anaknya gitu-gitu. Lucu!” ujarmu di sela-sela tawa kecilku.
Saat kita melewati ruang guru, Bu Faizah memanggilmu. “Raka, nanti siang temui Ibu di ruang guru ya.” Pintanya.
“Baik Bu.” Balasmu semangat.
Setibanya di perpustakaan, seorang Ibu penjaga ruang membaca itu menyapaku. “Rana, tumben jarang kesini.”
“Iya Bu, banyak tugas di kelas. Belum lagi, minggu depan sudah les.”

Setelah melakukan obrolan ringan, aku pun segera menghampirimu yang telah duduk mematung di kursi favorit kita.
“Hei Ka, lagi ngarang puisi ya?” tebakku.
Sejak aku menjadi sahabatmu, kamu menjadi seseorang yang cukup terbuka. Aku pun mengetahui hobimu yang sama denganku kala itu, mengarang puisi.
“Iya, nih buat kamu. Bacanya di rumah aja ya Ra!” sahutmu dengan memberikan beberapa lembar kertas padaku.
“Oke bos!” ujarku dengan menempatkan diri di sampingmu.

Sepulang dari sekolah, dengan cekatan kuraih beberapa lembar kertas yang semula berada di Lks Matematika itu.

For: Ranasya Anggraini

Mentari
Kau annggun dalam setiap lukisan cahaya
Kau surga bumi nan menyejukkan kalbuku
Kau penerang dalam gelap malamku
Mentari
Telah kutemukan dirimu di bumiku
Dan engkaulah itu…

Tertanda
Raka Dwitama

Jika ini mimpi, kuharap takkan ada yang membangunkanku untuk meninggalkan kata-kata indah ini. Surat cinta kah ini? Raka membuat surat cinta untukku?

Hari hari terus berlanjut, di perjalanan itulah Raka terus mengirimiku bait-bait indah itu. Oh Tuhan, aku tak ingin mematikan hari-hari itu. Namun tanpa sepengetahuanku, Raka menjalani hubungan ‘tersembunyi’ dengan Syela. Lihat saja, ia bahkan tak membiarkan Syela ditembus sang surya saat matahari yang terik memasuki area bimbel hari itu. Dan akhirnya, aku mengetahuinya melalui pembawa gossip terhangat sekolah yang bernamakan Elisa.
“Wah selamat ya Ka, kalian serasi ko.” Tulisku pada Blackberry messagger.
“Aku hanya ingin membantunya Ra. Syela selalu dikejar-kejar temanku yang notabennya adalah mantan kekasihnya. Kebetulan, rumah kami berdekatan dan tentu saja, ia segan mendekati Syela kembali setelah tahu bahwa kami berpacaran.” Balasnya.
~ Oh, jadi itu alasannya. Tapi, benarkah demikian Ka? Entah mengapa, aku sedikit meragukanmu. ~
Rasanya, aku hancur dan sangat menyedihkan. Aku baru mengalami derita cinta kepada sahabat yang mesti selalu terpendam di hatiku.

Sudah seminggu aku tidak bertemu dengan Raka, dia sibuk dengan kegiatan bersama Syela. Kamu jahat Ka! Lantas, untuk apa surat-surat itu? Aku sakit karenamu!

“Rana..” panggilmu.
“Ada apa?” jawabku datar.
“Kamu marah?”
“Tidak, aku hanya tidak ingin mengganggumu dengan Syela. Nanti dia cemburu lagi sama sahabatmu ini!”
“Ish kamu Ra, itu hanya hubungan palsu.”
“Be, benarkah”
“Iya, aku mencintaimu.”
“Ra..ka, kamu ini, becandanya keterlaluan deh!”
“Beneran, itu Cuma hubungan palsu kok. Lagian, Syela sudah mendapat pacar baru. Jadi, peranku sebagai pacar palsunya udah clear. So, kamu mau nggak jadi pacar aku?”
“Ha? Kamu nggak lagi bercanda kan Ka?”
“Nggak. Jawab dong Ra, mau nggak!”
“Emm, aku minta waktu deh.”
“Berapa lama? 1 second, 2 minutes, 3 hours, or 1 day?”
“Hehe, 1 day”
“Ok.”

Jika memang ini benar-benar bukan mimpi, ku mohon panjangkan umurku untuk besok dan hari-hari selanjutnya. Aku merasa menyesal karena telah meminta waktu untuk menjawabnya, dan berandai-andai pun telah menjadi pilihan.
“Raka, aku mau kok jadi pacar kamu.” Ujarku di sela makan siang kita.
“Sahabat jadi cinta nih?” balasmu dengan tersenyum manis padaku.
Aku pun mengangguk.

Kita telah sepakat untuk hanya melakukan hubungan secara sembunyi-sembunyi. Itulah keinginanku dan keinginanmu. Kita adalah pribadi yang tak menyukai keramaian, kita merupakan pribadi yang menyukai ketenangan. Itulah yang kau ungkapkan di waktu itu.

Hari berlalu menjadi minggu dan bulan, dua bulan sudah kita menjalani hubungan tersembunyi di balik persahabatan ini. Tapi, teman-temanku mulai mempertanyakan kejelasan statusku dengan dirimu. Kuakui, aku bukanlah penyimpan rahasia yang setia. Beberapa sahabat karibku mengetahuinya, seperti Dara, Vivi, Nifa dan Nina. Mereka menanyakan kejelasan hubunganku denganmu, Raka. Sebab, kedekatanmu dengan beberapa orang perempuan membuat mereka curiga. Mungkin, itulah hati seorang sahabat yang teramat bersimpati pada saudara sehatinya. Hal itulah yang membuatku meragukanmu, hingga akhirnya peistiwa itu terjadi. Peristiwa yang kurasa lucu, aku tak menegurmu namun kamu tak marah padaku. Ingatkah dengan apa yang kau katakan?

“Ra (sayang), kalo ngambek tambah imut loh..”
“Ih Raka…”

Kita baikkan dan harmonis kembali, walau terkadang keraguan itu kembali hadir di hatiku. Mengapa selalu aku yang sering memulai, bukan dirimu. Kamu jarang mengirim pesan walau hanya untuk menanyakan sudahkan aku makan? Raka, aku meragukanmu lagi.

Perlahan-lahan, ujian itu telah tiba di depan mata, ujian yang menakutkan dan mengintai kelulusan.
“Ra, semangat ya!” ujarmu yang kala itu duduk bersebelahan denganku.
“Ok, semangat juga ya Ka!” balasku dengan tersenyum simpul padamu.

Waktu pun berlalu, ujian telah selesai dan mengharuskan kita untuk menunggu. Dan saat ini, aku berdiri di sampingmu dengan harap-harap cemas. Aku yakin, kamu memang bisa mempertahankan juara kelasmu, sayang. Sedangkan aku? Entahlah, aku ragu.

“LULUS”
Lima kata itulah yang membuatku hampir berjingkrak jika aku tidak mengingatmu yang berada di sampingku. Akan sangat memalukan bukan jika aku berjingkrak-jingkrak di depanmu? Tapi, intaian perpisahan tengah menghantuiku. Aku diharuskan untuk mengikuti perpindahan kerja orangtuaku ke Banjarmasin, sedangkan dirimu akan tetap meneruskan SMK pilihanmu di Surabaya. Tapi lihatlah, hari ini adalah hari perpisahan kita. Di hari itu, aku memakai kebaya berwarna cokelat. Sedangkan kamu terlihat keren dengan kemeja putih dan celana hitam mu. Karena tempat duduk itu diatur berdasarkan nomor urut peserta ujian, aku dan kamu berdampingan. Ingatlah, disaat teman-teman sekolah mengatai kita. Mereka tersenyum-senyum melihat kejadian ini. Dimana sepasang ‘kekasih’ mendapat keberuntungan oleh sebuah kebetulan. Namun, hal berat telah menantiku untuk mengatakannya padamu.

“Raka, besok lusa aku akan pergi ke Banjarmasin. Aku akan melanjutkan sekolahku disana, e… bagaimana dengan hubungan kita?”
“Kita long distance!”
“Yakin?”
“Kamu meragukanku atau kamu yang tidak mau?”
“Bukan begitu, aku mau kok.”

Itulah pertemuan terakhirku denganmu, karena kesibukanmu dalam mengurus pendaftaranlah yang menyebabkan hari terakhir ku di Surabaya tak berjalan dengan baik. Bahkan, sangat tidak baik bagiku. Raka, untukmu aku menangis meninggalkan kota kelahiranku ini. Untukmu dan beberapa sanak saudaraku disini, serta untuk beberapa sahabat yang telah kuanggap saudara sehatiku. Aku menangis, Raka. Tidakkah kamu ingin hadir disini?, seperti beberapa bulan yang lalu kau hapuskan air mataku.

Satu bulan, dua bulan, hubungan kita tetap harmonis seperti dulu. Namun, di bulan ketiga kamu mulai berubah. Perhatianmu berkurang, sms mu pun jarang datang, apalagi telepon, kamu bahkan tidak melakukannya. Raka, tidak pentingkah aku di hatimu? Untungnya, kesibukanku di jejaring sosial cukup mampu membuatku ‘tak’ resah dengan keadaan kita. Aku mulai rajin membaca beberapa kata mutiara dan artikel berlafadzkan islam, agama terindah yang pernah ku kenal. Hingga di suatu hari, aku membacanya.

“PACARAN ITU BOLEH, TAPI…”
1) Tidak ada pegangan tangan.
2) Tidak ada waktu berduaan.
3) Tidak ada status hubungan.
4) Tidak ada kata mesra bergelantungan.
5) Dan yang utama, harus setelah NIKAH.
“It’s not shame to be a Jomblo,
Be proud… be a Josh
~ Jomblo Sampai Halal ~

Aku tertohok, sangat tertohok dengan apa yang baru saja kuperoleh melalui android phone-ku. Jujur saja, aku merasa hina akan diriku, aku munafik di hadapan Tuhanku. Entah sudah berapa banyak butiran dosa yang telah ku buat. Haruskah aku memutuskan hubungan ini? Hubungan yang telah kujalin hampir 365 hari bersama Raka, sahabat sekaligus kekasihku. Baiklah, aku akan menunggu hari ke-365 yang akan berlangsung tiga hari kedepan. Lebih dari itu, aku tidak ingin terus mengganggu Raka. Ia telah menjadi ketua di berbagai organisasi, ia pun menjadi salah satu anggota Osis.

“Ra, kita putus!” tulismu melalui pesan singkat.
Aku menangis, padahal inilah yang aku inginkan. Raka, aku belum memiliki kekuatan untuk ini. Ku mohon, beri aku sedikit ketabahan untuk menjawabmu.
“Iya.” Tulisku.
“Tapi, kita tetap sahabat ya Ra. Aku nggak mau kehilangan sahabat baik sepertimu.” Balasmu lagi.
“^_^” hanya itu yang dapat kutuliskan padamu.

Beberapa bulan telah berlalu, aku hanya mendapat beberapa pesan dan kabar darimu. Lambat laun, kita tak pernah saling mengabari. Dan hari ini, aku mendapat status hubungan barumu di jejaring sosial facebook.

“Berpacaran dengan Dewi Ramadhani”

Itulah yang kudapatkan di status hubungan facebook mu. Untungnya, aku telah bergabung dengan beberapa komunitas yang membuatku sedikit melupakanmu. Disanalah kutemukan berbagai hal baru yang tak pernah kupelajari.

Akhir-akhir ini, kamu mulai menghubungiku kembali dengan beberapa kalimat motivasimu. Kuakui, kamu telah mampu mewujudkan cita-cita mudamu. Gelar ketua Osis telah kau dapatkan dengan mudah. Dan lengkaplah sudah ketenaranmu, hingga kembali muncullah desiran-desiran itu. Rasanya aku ingin menenggelamkan diri di bumi, agar aku tak lagi berjumpa denganmu walaupun hanya sebuah ketidaksengajaan. Ya, kita bertemu di sebuah jalan raya. Tatapan mata kita bertemu, hingga akhirnya senyumku terulur untukmu.
“Senyum yang kurindukan!”
“Ah tidak, ini tidak boleh. Astagfirullahh…”

Hari demi hari terus berlalu, aku dan kamu semakin dewasa menapaki samudera lautan yang penuh dengan ombak ini. Kita telah bermetamorfosis menjadi mahasiswa. Aku kembali melanjutkan kuliahku di Surabaya, pelajaran bahasa arablah pilihanku. Dua tahun tak bertemu membuatku merasa malu saat bertemu denganmu. Kamu terlihat dewasa dengan kemeja batik berlengan pendek dan celana jeansmu, sedangkan aku tampak berbeda dengan rok panjang, baju longgar dan jilbab besarku.

“Wah, kamu jauh berbeda ya Ra. Semakin dewasa!” pujimu.
“Kamu juga berubah kali, tambah dewasa!” balasku di sela-sela menuruni tangga bersamamu.

Lambat laun, kita mulai akrab kembali. berbagai macam pesan kau kirimkan kembali padaku. Namun maaf, permintaanmu tak dapat kuterima dengan persetujuan. Karena kini, aku harus menjaga iffah dan harga diriku sebagai seorang muslimah.
“Maaf Ka, aku tidak bisa untuk mengulangnya kembali. Aku, aku, aku sudah dikhitbah.” Jawabku yang kali itu mengejutkan wajahmu.
“Dikhitbah? Siapa?” tanyamu.
“Tunggu saja undanganku!” sahutku dengan segera berpamitan padamu.

Lihatlah, aku ingin menangis karenamu.

Senin, 12 Juli 2020
Raka, inilah akhir perjalanan cintaku yang tak berujung bersamamu. Melainkan dengan orang lain yang hadirnya lebih jauh terlambat dari kedatanganmu di hatiku. Seorang ikhwan yang merupakan anggota aktif di Lembaga dakwah kampusku, yang aku pun turut aktif di dalamnya. Hidup ini adalah piihan, dan itulah pilihanku. Farid Arrasyidi Muhammad, kaulah jawaban atas semua munajat dan sujud panjangku. Bismillah…

Cerpen Karangan: Hanida Ulfah
Facebook: www.facebook.com/hanidaulfah.alfarizy
Assalaamu”alaykum
Panggil saja saya Hanida, saya merupakan salah satu siswi kelas XII IPA 2 di SMAN 1 Samboja. Cerpen ini saya persembahkan untuk sahabat saya yang jauh disana, terima kasih untuk motivasi dan pencerahannya.

Cerpen Raka dan Rana merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sosok Dalam Bayang

Oleh:
Sinar mentari mulai menaik ke ubun-ubun. Aisy menepi. Duduk di pinggiran teras musala sembari menunggu panggilan zuhur memanggil. Hanya dirinya sendiri. Tidak sepenuhnya benar sendiri, karena ditemani khayalan aneh

Laa Tahzan Innallaha Ma’ana

Oleh:
Malam-malamku sebulan terakhir ini bertabur doa lewat istikharah. Doa harapan senantiasa kumohon dalam sujud-sujud wajibku dan qiyamul lail. Semoga Allah segera mengabulkan doaku ini. Egois memang rasanya tak berhak

Goresan Ayat Cinta (Part 2)

Oleh:
Adzan isya kini sudah lalu berkumandang,. Terlihat kini gadis cantik dengan balutan jilbab coklat batik tengah terburu meninggalkan masjid guna menemui Umi Ria, yupp.. Ega “Ealah.. aduh..” kesal Ega

Semanggi Berhelai 4

Oleh:
Persahabatan adalah segalanya dalam hidup. Dia akan berubah menjadi dewasa layaknya kedua orang tua yang senantiasa menasehati. Sebagai kakak dan juga adik yang selalu setia. Aku sangat beruntung mempunyai

Separuh

Oleh:
“Malam ini hari lahirmu..” Katamu mangingatkan bahwa usiaku telah tepat 21 tahun. “Kita akan melakukan seperti biasanya.” Katamu lagi memancingku untuk bersuara. Aku hanya tertunduk seolah memandang kue kecil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *