Sajadah Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 1 January 2016

Pagi ini aku buru-buru untuk pergi ke pengajian di masjid. Ketika akan memasuki masjid aku merasa ada yang memanggil namaku.
“Fatma, ma.” Aku pun melihat ke belakang ternyata dia Habibi.
“iya ada apa Akhi?”
“afwan Ukhti, apa Ukhti punya waktu nanti malam?” Tanya Habibi.
“tidak ada Akhi, ada apa?”
“nanti malam di rumah akan ada tahlilan 7 hari meninggalnya keponakan saya, nah Ibu saya mengundang Ukhti untuk memimpin pengajian,”
“Insya Allah saya usahakan. Afwan Akhi saya masuk dulu.”
“na’am Ukhti.” Habibi ini adalah tetanggaku sejak kelas 6 SD dan bisa juga dikatakan dia adalah cinta pertamaku.

Selesai pengajian aku kembali ke rumah untuk istirahat karena nanti malam aku harus berangkat memimpin pengajian. Ku baringkan tubuh mungil ini di atas tempat tidur aku berusaha untuk memejamkan mata ini namun pikiran ini tidak bisa lepas dengan kejadian 4 tahun yang lalu. Ketika Habibi mengungkapkan perasaannya padaku di depan orangtuaku.

Jujur memang dulu sampai sekarang aku sangat mencintainya tapi aku tidak bisa memberikan jawaban kepadanya karena aku takut terhadap azab Allah kepada hambanya yang tidak mematuhi perintahNya. Tapi rasanya cinta yang ku rasakan saat ini bagaikan gejolak api yang tidak bisa padam akibat adanya setan yang selalu memancing hawa nafsu agar gejolak nafsu yang ada pada manusia tidak akan padam sampai mati.

Namun sebagian manusia menyalahkan Allah dia bilang kenapa Allah menciptakan hawa nafsu yang dapat menjerumuskan manusia ke api neraka sedangkan Allah ingin makhluknya menjadi penghuni surga? menurut saya nafsu juga adalah nikmat karena tanpa nafsu kita tidak mungkin punya selera untuk makan dan sebagainya jadi, setiap yang diciptakan Allah untuk kita itu pasti ada hikmahnya tinggal kita saja yang membawa nikmat itu ke arah yang baik atau yang buruk.

Sesudah salat isya aku bergegas menuju rumah Habibi untuk memimpin tahlilan. Saat aku sedang siap-siap, tiba-tiba datang mobil merah parkir di depan rumah aku buru-buru mengambil jilbab dan ke luar melihat siapa tamu yang datang. Setelah aku ke luar ternyata yang datang adalah Habibi aku pun berteriak.
“Habibi ada apa, bukannya akan ada acara tahlilan di rumahmu ya?” tanyaku.
“aku disuruh menjemput Ukhti…”
“ahh nggak usah Akhi aku bisa jalan sendiri lagian rumahnya juga dekat kok. Oh ya kenapa acaranya bukan di sini saja?” tanyaku menunjukkan rumah lamanya.
“ndak tahu juga Ukhti. Ukhti tidak memanggilku masuk nih.”

“astagfirullah haladzim, afwan Akhi anaa khilaf Akhi.”
“tidak apa-apa Ukhti ana hanya bercanda, Ukhti sudah siap ya.”
“oh tunggu sebentar aku tinggal pakai jilbab saja Akhi, maaf sebelumnya ngerepotin ya.”
“tidak masalah Ukhti lagian masih ada 20 menit lagi.”
Aku hanya tersenyum kemudian masuk ke dalam untuk memakai jilbabku. Setelah itu akupun pamitan pada kedua orangtuaku.

Suasana dalam mobil sangat hening karena kami tidak tahu mau bahas apa. Tapi tiba-tiba Habibi bertanya padaku.
“Ukhti setelah selesai di pondok apa Ukhti sudah punya rencana untuk menikah?”
Aku pun kaget dengan pertanyaan Habibi. “kalau Allah sudah mendatangkan pria untukku yang akan menjadi imamku di dunia dan di akhirat maka aku pun siap.” jawabku seadanya saja.
“apa Ukhti mau ta’arufan?”
“tergantung.. kalau Akhi udah punya seseorang nggak nih?”
“kalau orangnya sih sudah ada, tapi aku tidak tahu apakah wanita ini mau atau tidak.”

“wanita itu mungkin adalah wanita yang paling beruntung mendapat lelaki seperti Akhi. Emangnya siapakah wanita yang membuat Akhi jatuh cinta?”
“namanya Fatma Altafunnisa.” Aku kaget mendengar nama yang disebut oleh Habibi.
“apa Akhi salah sebut?”
“namanya Fatma Altafunnisa wanita yang dulu sampai sekarang aku sayangi, wanita yang selalu ku sebut dalam doaku dan semoga dia juga wanita yang ditulis Allah di lauhul mahfudz bersama namaku.” Dia berbalik menatapku tapi ku alihkan pandanganku agar tidak menimbulkan syahwat.

“Fatma aku ingin kamu jadi makmum di setiap salatku.” Entah kenapa aku menangis mendengar jawaban Habibi dan sebenarnya aku juga sangat menyayanginya.
“Habibi, jika itu adalah hasil dari istikharamu maka aku siap engkau jadi imam di setiap salatku dan jadi Ayah dari anak-anakku kelak. Dan jujur namamu sering ku sebut di dalam doaku dan semoga namamu juga yang ditulis oleh Allah bersama namaku di lauhul mahfudz. Tapi aku yakin kamu sudah tahu kehidupan ekonomiku. Aku hanya putri dari seorang petani miskin yang bekerja di sawahmu. Apakah kamu mau bersama gadis miskin sepertiku.”

“Alhamdulillah, aku siap menerima kamu apa adanya. Insya Allah selesai acara ini aku akan datang ke rumahmu.”
“insya Allah aku akan menunggumu ke hadapan orangtuaku.”
“astagfirullah Akhi ternyata kita sudah sampai.” Kami pun segera turun dari mobil dan aku pun bergegas masuk ke dalam karena orang sudah banyak.

Beberapa hari setelah acara tahlilan di rumah Habibi datanglah 3 mobil yang ku kenal ternyata itu adalah mobil Habibi dan keluarganya. Tiba-tiba aku teringat kata kata Habibi beberapa malam yang lalu ternyata dia membuktikan kata-katanya. Saat mereka naik ke rumah keringat dingin pun bercucuran aku mulai salah tingkah. Tak ku sadari aku meneteskan air mata. Aku tidak tahu mau ngapain aku hanya berlari ke kamar menangis mengingat semua masa laluku yang penuh dengan perjuangan.

Mulai dari sekolah SD, SMP, ALIYAH yang penuh perjuangan setiap kali mengingat masa sulit itu air mata selalu menetes tapi kini aku akan dipinang oleh seseorang yang sudah ku kenal sejak aku SD. Seseorang yang sering ku ajak bertengkar saat SMP. Seseorang yang selalu ku rindukan saat sekolah di pondok, dan seseorang ini yang akan mendampingiku melanjutkan hidup ini selamanya, membangun surga bersamanya.

Salam lamunanku tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara tanteku yang tiba tiba masuk ke kamar, ternyata dia memanggilku ke ruang tamu karena keluarga Habibi ingin bertemu denganku. Aku pun memakai jilbab kemudian ke luar keringat dingin kembali membasahi seluruh badanku aku kembali salah tingkah melihat wajah Habibi. Saat aku duduk di kursi kayu ruang tamu rumahku ayah Habibi bertanya padaku.

“Fatma kalian mungkin sudah saling mengenal sejak kalian masih anak anak dan Fatma mungkin sudah tahu bagaimana sifat Habibi dan apakah kamu bersedia menjadi pendamping Habibi dunia akhirat?” tanyanya padaku. Sejenak aku terdiam lagi-lagi air mata ini membasahi wajahku.
“bismillah aku sudah siap menyerahkan diriku sepenuhnya kepada Habibi, tapi apakah Habibi mau menungguku sampai aku menyelesaikan S2-ku di Kairo?” tanyaku.
Ayahnya pun bertanya pada Habibi. “bagaimana denganmu Nak?”
“bismillah aku pun siap menunggu Fatma menyelesaikan S2 sementara dia menyelesaikan S2-nya aku juga bisa menyelesaikan S2-ku di Kediri.”

Pada tanggal 26 mei 2015 kami telah melakukan janji untuk saling menunggu sampai S2 kami selesai kemudian melanjutkan ke jenjang pernikahan. Dan insya Allah tanggal satu juni nanti aku akan berangkat ke Kairo untuk melanjutkan S2-ku di sana sementara Habibi dia akan berangkat tiga hari setelah keberangkatanku ke Kairo. Mungkin ini adalah penantian yang kami tidak tahu kapan akhirnya tapi aku percaya semuanya akan terasa cepat asalkan kita mau bersabar.

Sebelum keberangkatanku ke Kairo Habibi datang ke rumah dan berbincang-bincang dengan abiku di balkon rumah. Entah apa yang mereka bicarakan aku tidak memperhatikannya aku malah sibuk menyiapkan barang yang akan ku bawa. Setelah itu aku pergi ke pada Habibi dan abiku yang sedari tadi asyik mengobrol, ku potong perbincangan mereka.
“maaf Abi mobil yang akan mengantarku ke bandara sudah ada, apa belum?”
“nanti Habibi yang akan mengantarmu ke bandara.”
“Abi dan Ummi tidak ikut?”
“Abi sama Ummi tidak bisa ikut karena Abi dan Ummi dipanggil ke acara lamaran sepupumu.”

Saat akan berangkat ke bandara aku menangis karena kedua orangtuaku tidak ikut mengantarku ke bandara padahal selama beberapa tahun yang akan datang aku tidak bisa melihat wajah mereka berdua. Selesai pamitan dengan mereka berdua aku pun naik ke mobil menuju bandara. Saat aku akan menuju ke pesawat yang akan ku tumpangi tiba-tiba Habibi memberiku sebuah sajadah berwarna merah.

Dia bilang walapun untuk beberapa tahun kita tidak akan bertemu dan dia belum bisa jadi imam dalam salatku tapi sajadah ini akan menggantikan dia menjadi imam dalam salatku. Akupun mengambil sajadah itu tapi, aku tidak memasukkannya dalam koper karena selama dalam perjalanan aku akan tetap bersama Habibi dan sejuta kenangan kampung halamanku dengan melihat sejadah merah ini. Sehari setelah aku sampai di Cairo aku mendapat pesan dari Habibi yang isinya membuat wajahku merona.

“Assalamualaikum calon istriku, semoga kamu di sana sukses dengan kuliahmu, jangan lupa jaga hatimu untukku…” seketika itu juga wajahku seakan merona, seandainya dia mengatakannya secara langsung mungkin aku sudah tidak tahu wajahku bagaimana. Usai membaca pesannya aku pun membalasnya.
“walaikumsalam calon imamku, semoga kamu juga sukses dengan kuliahmu, jangan lupa jaga juga hatimu untukku. Jangn memandang wanita lain ya…” balasku dengan setengah menggoda. Mungkin itu adalah pesan pertama dan terakhirku dengan Habibi selama aku di Kairo, karena kami punya kesibukan masing-masing.

Tak terasa sudah 7 tahun aku menuntut ilmu di negeri padang pasir berpisah dengan kedua orangtuaku, adik-adikku, keluargaku, dan juga orang yang akan menemaniku di masa depan. Setelah menulis skripsiku, malam ini aku mulai membereskan barangku karena besok lusa aku akan kembali ke tanah air khususnya daerah Sulawesi. Hembusan angin malam membawaku larut dalam tangis entah aku harus bahagia atau tidak.

Aku bahagia karena aku akan kembali bertemu dengan sanak saudara di tanah air tapi berat juga rasanya harus meninggalkan negeri padang pasir waktu 7 tahun bukanlah waktu yang sangat singkat. Karena selama 7 tahun aku mendapat banyak pelajaran di sini. Ku mulai merapikan kitab-kitab dan buku-bukuku. Lagi-lagi air mataku menetes melihat kitab-kitabku karena kitab ini yang telah memberiku ilmu. Kitab yang selalu ku bawa ke kampus, dan buku-buku ini tempatku menulis semua ilmu yang ku dapat dari dosenku.

Sesampai di bandara Sultan Hasanuddin tepatnya jam 10:26 pagi aku berdiri di luar bandara sambil menunggu jemputan. Jilbab panjang sampai lutut yang ku kenakan membuat semua pandangan tertuju padaku, mungkin semua orang risih dengan penampilanku yang serba tertutup hanya saja aku tidak memakai cadar karena aku tahu kalau orang Indonesia itu menganggap orang bercadar sebagai orang asing.

Beberapa jam menunggu dari jauh aku melihat lambaian tangan mungkin itu adalah keluarga yang menjemputku. Aku pun membalas lambaian tangannya, mereka berlari mendekatiku perlahan wajah mereka semakin jelas dan yang paling depan yang berlari gontai wajah itu wajah orang yang melahirkanku dengan penuh rasa sakit. Namun aku merasa sedih karena seseorang yang membuatku merasakan cinta dan rindu yang luar biasa selama 7 tahun silam tidak datang menjemputku. Mungkin dia sibuk menyelesaikan skripsinya atau ada urusan lain.

Mobil melaju dengan cepat hanya membutuhkan waktu 4 jam dari bandara untuk sampai kerumah. tepat jam 02:12 siang mobil sudah sampai di depan rumah. Saat aku turun dari mobil aku memandangi sekelilingku semuanya masih seperti dulu hanya saja, ayunan tempatku menghafal saat masih SMP dan kursi tempatku belajar bersama dengan Habibi yang terbuat dari kayu yang berada di depan rumah sudah tidak ada lagi mungkin sudah lapuk dimakan waktu, tapi sifat ramah tamah penduduk kampung ini masih seperti dulu

Dua hari setelah kedatanganku dari Kairo aku mencoba menelepon Habibi nomornya aktif tapi tidak dijawab. Aku mencoba menelepon temannya tapi dia bilang tidak tahu. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benakku. Ada apa dengan Habibi apakah terjadi sesuatu dengannya kenapa dia tidak menjawab teleponku padahal pernikahan tinggal 2 minggu lagi atau dia belum datang dari Kediri tapi.

Abi bilang kuliahnya sudah selesai satu tahun yang lalu dan kembali ke kampung tiga bulan yang lalu. Sudah lima hari aku mencoba menghubungi Habibi tapi tidak ada jawaban jadi, aku mencoba ke rumahnya sekalian untuk silaturrahmi dengan keluarganya. Sesampai di sana keluarga Habibi menyambutku dengan ramah apalagi ibunya yang sebentar lagi akan menjadi mertuaku. Tanpa bertanya nenek Ati menyela pembicaraanku dengan sepupu Habibi yang masih SMA nenek Ati ini adalah nenek Habibi.

“Habibi tadi ke luar sama Ana dia ke pasar katanya mau beli sesuatu yang penting.” kata nenek Ati.
“oh, iya Nek.” jawabku singkat. Aku kaget bukan main ada apa Habibi dengan Ana, bukankah Ana adalah orang pernah taarrufan dengan Habibi terus kenapa mereka jalan berduaan?

Pikiranku kacau mendengar kata nenek Ati. Aku memutuskan pulang ke rumah. Aku semakin khawatir sudah berapa minggu sejak kedatanganku dari Kairo Habibi belum pernah menghubungiku, aku semakin khawatir karena besok adalah hari pernikahanku. Apakah janji suci itu akan berjalan sesuai rencana seperti yang telah disepakati 7 tahun lalu sedangkan Habibi tidak pernah menghubungiku sekali pun? Aku semakin khawatir apakah janjinya akan dia tepati atau tidak. Aku tidak bisa tidur memikirkan Habibi hingga aku salat sunnah berkali kali hingga aku ketiduran dalam keadaan memakai alat salat.

Paginya aku pun dihiasi secantik mungkin tapi, perasaanku campur aduk di sisi lain aku merasa tegang karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri. Tapi di sisi lain aku juga merasa khawatir karena sampai sekarang Habibi tidak memberiku kabar. Hingga jam menunjukkan pukul sepuluh aku mendengar suara dari luar kalau mempelai pria sudah datang seketika jantungku memompa dengan sangat cepatnya.

Setelah akad nikah mempelai pria dipersilahkan menemui mempelai wanita. Sepupuku pun berlari ke kamar pengantin di mana tempatku menunggu mempelai pria masuk ke kamar dia memberitahuku untuk bersiap-siap karena Habibi akan masuk. Tidak lama kemudian pintu telah terbuka. Ku tatap wajah Habibi yang 7 tahun lamanya tidak pernah ku lihat ternyata wajahnya masih seperti dulu.

Setelah selesai resepsi kami dibawa ke sebuah hotel yang ada di Makassar. Hotel yang menjulang tinggi terdiri dari 20 lantai, dan kami tinggal di lantai ke-17. Selama satu bulan lamanya, ternyata alasan Habibi tidak pernah memberiku kabar karena dia menyiapkan ini semua. Dari atas tampak jelas mobil lalu lalang, gedung berjejer rapi.

Aku heran kenapa bisa Habibi mengetahui kalau aku menikah nanti aku ingin saat malam malam pertama pernikahan aku ingin melihat pemandangan kota dari atas seperti kisah ayat-ayat cinta yang bernostalgia memandang keindahan sungai nil dari atas. Saat ku pandangi pemandangan kota Makassar dari atas tiba-tiba Habibi memanggilku.

“Fatma ayo istrahat, kamu pasti kecapeaan.”
“Iya nanti dulu aku tidak bisa tidur, kamu tidur duluan aja.”

Tiba-tiba Habibi mendekat padaku sambil membawa dua buah kursi untuk kami duduki. Kami pun mulai bercerita tentang masa SD kami sampai sekarang. Hingga aku tidak bisa lagi menahan rasa kantuk ini aku pun menyandarkan kepalaku pada bahu Habibi hingga aku tertidur. Ku rasakan belaian tangan hangat dari Habibi yang kini sudah sah jadi suamiku. Ternyata benar janji Allah selama kita masih bisa menahan hawa nafsu kita maka kita akan merasakan indahnya pernikahan.

Cerpen Karangan: Hesti Ainun
Nama: Hesti Ainun
TTL: 07 juni 1999
Email: hestyainun15[-at-]gmail.com
Yang sudah baca cerpen in mohon koreksi atau komentarnya ya.

Cerpen Sajadah Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semua Kehendak Allah

Oleh:
ALLAAHU AKBAR ALLAAHU AKBAR..!! pukul 04:40 pagi, aku membuka mata, mendengarkan lantunan adzan subuh yang begitu indah. Hati ini terasa tenang dan damai tatkala adzan berkumandang menandakan waktu sholat

Hijabku

Oleh:
Matahari di hari ini, bukan seperti matahari yang seperti biasanya, panas. Namun hari ini sinarnya begitu cerah dan bersahabat. Aku yang dari tadi duduk-duduk santai di depan halaman sekolah,

Kupu-Kupu Kertas

Oleh:
Tujuh tahun telah berlalu namun aku masih mengingatnya. Wanita yang tampak begitu sederhana di mataku. Wanita yang sering mengiringi langkahku dengan semangat juangnya yang tinggi. Wanita itu menganggap hidup

Kusimpan Kau Dalam Doaku

Oleh:
Yang kuingat dari dirinya adalah wangi bunga disela rintik hujan. Senyum secerah kelopak bunga basah, dan suara yang kudengar bagai senandung gerimis lemah, aku ingat dia dan selalu mengingatnya

Terimakasih Untukmu

Oleh:
Pagi yang sejuk. Udara masih terasa dingin. Bahkan embun masih bertebaran di setiap ruang udara. Jam menunjukkan pukul 05:45 wib. Aku pun memohon restu kedua orangtuaku dan bergegas berangkat.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Sajadah Cinta”

  1. Chintia Wardhani says:

    subhanallah ukhti …cerpen ini menjadi inspirasi buat anak muda seperti saya,syukran ya ukh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *