Salam Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 25 January 2016

Mungkin, bagi mereka yang membaca tulisanku ini ada yang akan tersenyum-senyum sendiri. Karena sudah mengetahui alur cerita ini. Untuk keluargaku, sahabatku, yang selama ini selalu mendengarkan curahan hati dan sekaligus menjadi saksi perjalanan sampai detik ini. Tulisanku ini aku buat seraya mengabadikan kisah yang tak akan berhenti untuk berputar di poros otak memoriku. Tulisan ini, ku tulis karena terinspirasi oleh sebuah rasa. Sebuah rasa yang berjalan karena Allah, dan berharap dapat menginspirasi para pembaca. Karena ku tahu, kalau membahas soal rasa, maka tidak akan ada habisnya. Ya, tidak akan ada habisnya. Begitu pula dengan apa yang aku rasakan saat ini.

Hidupku berjalan, tidak selamanya lurus, mulus dan terus baik. Namun, aku selalu ingin istiqamah di jalan-Nya. Hati tersentak, termotivasi ingin menjadi lebih baik, setelah seorang lelaki mampu menyentuh kalbuku dan banyak mengubah pola pikirku. Aku memiliki seorang abi yang merupakan seorang ulama. Keluargaku cukup dikenal dengan keluarga dipandang karena agama kami. Namun, dulu ku rasa hidup menjadi orang baik dengan sesama, bisa membaca al-qur’an dan salat 5 waktu saja sudah cukup.

Berawal dari ketika aku masuk SMA, mereka teman-temanku menganggapku adalah perempuan baik, yang salehah. Aku dikenal sebagai seorang qari’ah, sering pepatahku dengar, sejahat apa pun lelaki, ia akan mencari perempuan yang baik. Kata-kata itu membuatku merasa puas diri, karena banyak yang memuji dan mencoba mendekatiku. Saat itulah, pola pemikiranku berubah. Kulihat di sekelilingku, tak sedikit yang memiliki pacar, bahkan satu kelasku saja hanya 1 atau 2 orang saja yang tidak memiliki pacar. Ditambah lagi, banyak kaum Adam yang mencoba mendekatiku. Di saat itu, aku mengenal seorang lelaki yang pintar, aktif, dan ku lihat ia baik agamanya. Singkat cerita aku pun mulai mengenal pacaran.

Ketika itu, aku bergabung dengan oragnisasi islam, ROHIS (Rohani Islam) namanya. Aku dijadikan sebagai pengurus dan menjabat sebagai SEKRETARIS. Mereka mempercayaiku yang dianggap baik dan dapat diemban amanah. Padahal setiap kami mentoring (berkumpul), tausyiah soal haramnya mendekati zinah (pacaran) tak pernah tertinggal. Kerap kali aku menunduk setiap pembahasan itu. Namun apa daya, hatiku membangkang, tertutupi oleh nafsu cinta. Hal itulah yang membuatku sering bolos mentoring karena sudah tertutupi hati dan pikiranku, dan berdosanya aku, sampai akhir masa jabatan itu aku masih tetap pacaran.

Ketika itu, aku baru pulang dari sekolah, ku lihat banyak berderet motor di depan rumah. Aku masuk, dan ternyata siswa Abi sedang berkumpul di ruang tamu. Abi memperkenalkan aku dengan 4 ikhwan muridnya. Saat itulah untuk pertama kali ku mengenal seorang lelaki yang sampai saat ini menjadi pencerah kalbuku. Sebut saja namanya bang Fathur. Saat itu handphone sama sekali tak lepas dari tanganku. Aku sangat menikmati masa pacaranku. Mengumbar sms cinta. Benar-benar terhanyut dalam dunianya. “Adek pacaran ya?” Tegur bang Fathur yang saat itu menuju dapur ingin menambah minuman.

Saat ia berbicara seperti itu, aku langsung terkejut dan langsung bertingkah gagu. Aku takut ia akan mengadukan kepada abi, namun karena kekesalanku dengan kekepoannya aku pun sigap pergi dari hadapannya. Seusai itu, aku tidak pernah lagi melihat bang Fathur main ke rumah. Padahal banyak anak-anak murid abi main ke rumah. Hari pun berlalu,tamat SMA tamat juga kisah cintaku. Hancur hati, tapi tidak untuk masa depan. Karena ada Abi dan Umi yang terus berada di sampingku.

Saat itu, aku sangat mengimpikan dunia kedinasan. Namun apa daya BMKG tidak berhasil kutembus. Asik mengobrol dengan Abi, Abi tercetus bahwa bang Fathur sudah setahun kuliah di IPDN. Ternyata bang Fathur masih sering berkomunikasi dengan Abi. Entah kenapa, aku sangat riang sekali mendengar nama bang Fathur. Sudah setahun lebih tidak mendengar kabar bahkan bertemu dengannya. Kini takdir menjawab, aku lulus di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Sumatera Utara. Ku terima takdirku yang sudah gagal untuk masuk dalam dunia kedinasan. Bagiku, pilihan ini sudah yang terbaik.

Malam itu, handphone-ku berdering. Ku lihat nomor tak dikenal masuk. Aku pun mengangkatnya,dan ternyata..bang Fathur. Entahlah, rasanya ingin teriak kegirangan, bang Fathur menelepon menggunakan ponsel temannya. Karena yang aku tahu, nomornya dan nomorku berbeda. Saat itu, banyak obrolan yang ku ingat, dia banyak menginspirasiku. Satu hal yang membuatku terkejut, ia pernah menjadi seorang murobbi (pementor ROHIS). “Dek, masih pacaran?”

Aku heran, ia masih ingat dengan masalah yang lalu. Akupun jujur padanya, bahwasanya aku pernah pacaran dan kali ini aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku ingin istiqomah untuk tidak pacaran. Bahkan bang Fathur meyakinkanku bahwa pacaran bukanlah hal yang baik. Komitmenku semakin mantap rasanya. Logika bagiku. Pacaran? Sebuah status, yang menurutku gak ada manfaat lama, menambah kesesakan dada, menambah masalah yang seharusnya belum pantas ada, di saat waktunya menuntut ilmu. Tooooh halal juga belum kalau belum halal berarti apa dong? Haram kan? Oke haram is dosa. Oke gak? Simple.

Entahlah,dari sebait kata saja sangat menggugahku. Aku mulai mengagumi. Rasa kagum semakin besar, walaupun tanpa komunikasi. Ya tidak bisa dipungkiri, aku sangat mengaguminya. Hanya dari sebuah rasa yang berjalan karena Allah ini, aku selalu termotivasi untuk menjadi yang terbaik, demi mendapatkan orang yang terbaik. Apalagi ingin mendapatkan yang seperti bang Fathur. Bang Fathur orang hebat, Abi sering bercerita tentang kegigihannya bahkan sikap yang jarang ditemui pada banyak laki-laki. Untuk itulah aku semakin mantap untuk memperbaiki diri. Karena agama saja menyatakan bahwa jodoh adalah cerminan diri.

Benar saja, kini aku mewakili Universitas untuk mengikuti MTQ tingkat Nasional di UI (Universitas Indonesia) untuk cabang Tilawah putri, dan menjadi Mahasiswi 2 terbaik di Fakultasku. Abi dan Umi menangis haru. Kegigihan, kefokusan terbalas. Karena apa yang kita tanam akan kita tuai. Kini kebahagiaan sangat puas di mata kedua orangtuaku. Tifa dan adikku Naya dengan gengsi mengucapkan selamat padaku. Ku harap mereka bisa mengikuti jejak kakaknya. Aku pernah berangan-angan, “Ketika aku wisuda, seorang akhi, ikhwan datang menemuiku dan orang tuaku, untuk melamarku.”

Finally.. seperti mimpi, di hadapanku bang Fathur hadir dengan baju dinasnya. Lama tidak komunikasi, seperti kejutan dan percaya tidak percaya, ia hadir dan bukan padaku ia mengatakan, namun langsung pada orangtuaku. Ia meminta izin untuk menghalalkanku. Allah memang Maha besar, Maha Kuasa. Jangan takut membangun cinta, jangan takut merasakan cinta dan berharap pada cinta. Etsss.. namun, berharaplah pada yang menciptakan cinta. Karena cinta sudah digariskan Sang Maha Kuasa. Jika sudah dijodohkan Allah, ke mana pun jasad ini pergi, akan dipertemukan di suatu titik. Jika tak dipertemukan di dunia ini, akan Allah pertemukan di Akhirat kelak dan kekal selamanya. Syukuri cinta, manfaatkan cinta, Salam Cinta.

Cerpen Karangan: Nurul Fadhilah Ananda
Facebook: Nurul Fadhilah Ananda
Nama: Nurul Fadhilah Ananda
TTL: Langkat,20 Juni 1996
Alamat: Binjai Sumatera Utara
Pendidikan: Mahasiswi UNIMED
Facebook: Nurul Fadhilah Ananda
Soundcloud: Nurul Fadhilah Ananda
IG: Nurul Fadhilah Ananda
Line: Nurul.f.ananda

Cerpen Salam Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Yang Sederhana (Part 3)

Oleh:
Esok hari pun tiba, hari dimana Aisyah akan dipersatukan oleh seorang ikhwan yang akan mendampingi hidupnya. Dia adalah ikhwan yang dipilihkan umii. Sungguh sangat berat hati Aisyah ketika ia

Kapan Bertamu?

Oleh:
Perkenalkan namaku Pratiwi orangtua dan sahabatku biasa Memanggilku Tiwi atau wi saja. Umurku 24 tahun, aku mempunyai cita-cita menjadi seorang penulis muslimah terkenal dan Alhamdulilah aku sudah lulus kuliah

Pacar Bukanlah Segalanya

Oleh:
“Naya, aku jadian sama Riko,” ucap Mira kegirangan. Mira adalah sahabatku dari kecil, kami selalu bersama-sama ke mana pun. Kami juga aktivis pengajian. Di usianya yang remaja ini Mira

Aku dan Senja Sahabatku

Oleh:
Ra, hampir di setiap saat teringatmu, hanya satu wejangan Umi yang selalu menyuruhmu bersabar di setiap kali kau pulang dengan wajah muram penuh akan kesedihan, lantas berucap Alhamdulillah, sebab

Adzan Indah Mas Faiz

Oleh:
Namaku Ika umurku baru 18 tahun, aku baru saja lulus Sekolah Menengah Atas. Kini aku melanjutkan belajarku menjadi santriawati di sebuah pondok pesantren kecil tua yang berlantaikan keramik berwarna

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *