Sang Pemilik Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 27 December 2017

Cinta… Lima huruf yang membentuk sebuah kata, memiliki makna terdalam bagi setiap insan. Apa itu cinta? Sebenarnya aku tidak terlalu paham dan mengerti apa itu cinta. Kebanyakan orang mengartikan bahwa cinta adalah, saat makhluk yang berbeda jenis saling jatuh cinta dikarenakan pandangan pertama yang mempu membuat getaran di hati dan menimbulkan rasa nyaman. Cinta tak selalu berakhir dengan indah, cinta tak selalu abadi dan cinta juga tak kan selalu berakhir dengan buruk. Cinta tak sekejam apa yang kita pikirkan dan cinta juga tak seindah yang kita bayangkan.

Aku pernah merasakan apa yang namanya cinta. Tepatnya disaat aku masih kelas IX pada semester satu. Berawal dari rasa kagum, aku kagum akan kepribadian pria itu. Melihat sosoknya yang lembut, penyayang, dan ta’at beribadah. Selain itu ia juga memiliki suara yang merdu ketika melantunkan ayat suci alqur’an. Dia adalah rafiq, seorang pria yang berkulit putih tidak terlalu tinggi dan memiliki gaya yang khas tersendiri.

Dia terlihat sangat polos ketika ingin berbicara denganku. Hal yang sangat aku suka adalah ketika melihatnya berbicara dengan wanita, ia sangat gugup. Aku tak tahu pasti kenapa dia seperti itu jika bicara dengan perempuan. Awalnya aku merasa dia gugup karena diriku, tapi setelah aku perhatikan, dia gugup bukan hanya kepadaku saja tapi, juga ke semua orang. Terkadang dia juga terlihat gugup ketika bicara dengan temanya laki-laki. Hanya saja dia lebih gugup lagi ketika bicara dengan perempuan termasuk aku.

Kepolosannya itu yang membuatku tertarik padanya bukan saja kepolosannya, tapi juga sifatnya yang suka ngehibur. Aku menyukai pria itu, pria itu juga menyukaiku. Dia termasuk pria terfavorit, Sehingga tak jarang kalau banyak para kaum hawa yang jatuh hati kepadanya.

Suatu ketika sekolahku mengadakan kegiatan lomba dalam rangka Gema Muharram. Aku dan rafiq ditunjuk sebagai perwakilan dari kelasku untuk mengikuti lomba MTQ. Alhasil semua teman-temanku pada menertawakan diriku dan dirinya. Aku dibuat malu dengan tawaan mereka. Hampir sebagian teman-temanku mengatakan jika aku dan rafiq itu cocok banget karena, mereka menilai aku dan dirinya sama-sama pandai di bidang ilmu agama dan juga sama-sama mempunyai suara yang merdu.

Mereka sering menertawakan aku dan rafiq dengan panggilan “Buya dan ustadzah” tapi, juga ada di antara temanku yang mengatakan jika aku dan rafiq itu memiliki kemiripan. Jika dilihat-lihat memang aku dan dirinya memiliki sedikit kemiripan. Akhirnya aku dan rafiq mengikuti perlombaan itu. Setelah proses perlombaan itu selesai, aku dan teman-teman keluar dari ruang perlombaan. Tiba-tiba ketika aku hendak meninggalkan ruangan itu aku mendengar seseorang yang memanggil namaku, sontak aku pun berbalik arah dan aku mendapatkan orang yang memanggil namaku dan ternyata dia adalah rafiq. Hatiku berdegup kencang, badan ini terasa panas dingin, serasa jantung ini ingin copot.

Aku sangat kikuk di depannya, tapi aku berusaha agar tidak tegang saat berbicara dengannya. Memang sih aku sangat jarang berbicara dengannya. Seketika dia menatapku, dengan penuh selidik, sontak aku pun lansung memulai pembicaraan.
“ada apa..?” tanyaku
“hmm.. Aku boleh minta pin mu nggak?” balasnya
“Ahh… Iya boleh kok, ini….” balasku sambil memberikan handphoneku padanya
Setelah beberapa menit ia pun mengembalikan handphoneku
“thank’s ya..” ucapnya sambil memberikan handphoneku
Aku hanya membalasnya dengan senyuman..
“ehem!! ehem..!!” seru temanku yang sedari tadi memerhatikan diriku dan rafiq. Aku jadi makin kikuk dengan sorakkan teman-temanku itu dan juga membuat pipiku serasa memerah..
“ihh.. Apaan sih kalian..” sahutku sambil berlalu dari sana..

Seiring berjalannya waktu membuatku kini lebih bisa terbuka dengannya karena sejak dia meminta pin ku, dia selalu memberiku perhatian lebih. Entah sebagai apa aku juga tak tahu. Yang jelas aku dan dia dekat waktu itu. Aku selalu dibuat nyaman jika selalu melihatnya.
Hal itu membuat hubunganku dengannya semakin erat. Aku yang dulu sangat malu untuk bertemu dengannya kini telah berani untuk berbicara bersamanya. Ia masih gugup, tapi aku sudah terbiasa dengan kegugupannya itu, karena hal itulah yang aku suka darinya.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun kini hubunganku dengannya tetap erat. Dia yang selalu menemani hari-hariku, dia yang selalu memberiku perhatian yang lebih. Aku sangat bahagia jika selalu bisa berhubungan dengannya. Suatu hari ia mengungkapkan apa yang ia rasakan terhadapku selama ini. ia mengatakan kalau ia sangat menyayangiku, ia tidak ingin aku pergi untuk meninggalkannya, dan ia ingin aku menjadi makmumnya di suatu saat nanti.
Aku yang mendengar hal itu merasa sangat bahagia, karena hal inilah yang aku tunggu tunggu darinya. lalu sekejap mata aku pun juga mengatakan hal yang sama padanya. Hingga kami sama-sama membuat janji “untuk tidak saling meninggalkan dan akan selalu bersama sampai akhir hayat..”

Aku tidak percaya jika ia akan menepati janjinya itu karena, yang aku tahu semua laki-laki itu sama. Jika membuat janji di ingkari itulah yang aku tahu. Tapi dia meyakinkan diriku dengan kata katanya “jika aku mengingkari janji yang telah aku buat, maka kamu boleh memotong telingaku” terlihat konyol dan mustahil untuk dipercaya, tapi karena ia terlihat sungguh-sungguh maka aku pun mempercayainya.

Waktu silih berganti, akhirnya penantian lama pun sudah tergantikan dengan nampaknya celah celah masa depan yang lebih cerah. Kini aku dan teman-temanku sudah berada diujung perpisahan, kami sudah melalui berbagai macam ujian. Mulai dari ujian semester akhir, USEK, UAMBN, dan yang terakhir UN.
Kami merasa akan berpisah sangaat jauh..
Mungkin hanya kenanganlah yang tersisa untuk mengobati rasa kerinduan akan hal hal yang konyol di saat masa-masa sekolah dulu. Aku dan rafiq sudah berniat untuk mengambil sekolah yang sama agar kami tak terpisahkan oleh jarak dan tetap selalu bersama.

Hari perpisahan kelas IX, merupakan hari dimana semua rasa akan tercurahkan. Sedih, senang, canda, dan tawa di sekolah ini akan segera berakhir. Karena kami pun tak ingin selalu ada di sini. Ada saatnya kami pun harus pergi. Di hari itu aku menampilkan berbagai macam penampilan..
Aku merasa sangat bahagia di hari spesial itu. Karena saking bahagianya rasa penat pun tak terasa di badan. Beberapa hari setelah acara perpisahan, aku merasa sangat bosan. Hari kelulusan masuk SMA/MA sudah berlalu. alhamdulillah aku lulus di sekolah itu dengan urutan namaku yang ke 2. aku bangga dengan kemampuanku sendiri, aku bernekad agar suatu hari nanti aku bisa menjadi yang pertama. Sejak hari kelulusan itu, aku dan dirinya sudah jarang bertemu. Karena, aku yang memutuskan untuk berdiam dirumah. Aku tidak terlalu suka untuk keluar rumah tanpa ada suatu hal yang sangat penting.

2 hari kemudian ..
Aku harus kembali ke sekolah baruku, untuk mengikuti instruksi kegiatan MOS (masa orientasi siswa) yang diadakan esok hari. Di sekolah baru itu, aku tak terlalu sering berkomunikasi dengan banyak orang. Karena aku tak mengenal mereka, tapi ada sebagian yang aku kenal. Setelah lama menunggu akhirnya kakak pengurus OSIS pun datang dan ia memerintahkan agar kami membawa semua perlengkapan MOS tersebut.

Di akhir kegiatan MOS tak diduga aku terpilih sebagai “QUEEN” di sekolah itu. aku tak menduga kalau aku bisa mendapatkan gelar tersebut. Dia merasa cemburu karena aku terpilih sebagai queen, karena ia tak tahan melihatku di pasangkan dengan orang lain. Seketika ia sempat marah, lalu aku pun menjelaskan padanya “hanya dialah yang ada di hatiku” setelah aku berkata seperti itu barulah ia kembali sepeti biasa.
Aku bahagia bisa memiliki seseorang yang sangat menyayangiku tulus seperti dirinya. Ia selalu rewel jika berkomunikasi denganku dan Ia selalu khawatir akan terjadi sesuatu terhadapku.

Selama 6 bulan hubunganku dengannya tetap hangat. Walau ada beberapa bulan yang menyebabkan kami terpisah, karena sebuah perkara. Aku egois saat itu. Aku tak lagi bisa berfikir dengan baik. Sehingga menyebabkan hubunganku retak seketika. Waktu pun membantuku untuk menyelesaikan masalah, karena berjalannya waktu kini hubunganku dengannya sudah mulai membaik seperti dulu lagi.

Tapi, hubunganku dengannya membaik hanya beberapa bulan saja. Di bulan januari, februari, hingga sekarang maret bisa dikatakan hubunganku 100% pupus sudah. Awal mulai renggangnya hubunganku dengannya karena perobahan sikapnya terhadapku. Dulu kami yang biasanya selalu tertawa bersama, saling ngasih kabar, dan tak pernah meningalkan kebiasaan yang sudah kami buat. Kini semua itu sudah menghilang begitu saja. Entah apa yang menyebabkan dirinya menjadi seperti itu. Aku selalu mengatakan padanya akan hal-hal yang aku takutkan akan terjadi di hubunganku tapi, ia menanggapinya bahwa hal itu tak akan pernah terjadi.

Aku tak pernah lelah untuk memperbaiki dan mempertahankan hubunganku dengan orang yang tulus aku sayangi. Walaupun aku sudah berulang kali berusaha untuk menghubungi dirinya, tapi hasilnya nihil. Pernah terbesit di benakku “untuk apa menungu orang yang tak pernah mengharapkan penantian kita” tapi, aku tak ingin pikiran buruk itu selalu membuatku lemah.

Awal dari penantian panjangku, aku hanya mendapat sebuah kabar bahwa, handphonenya rusak. Aku tetap kuat, tegar, dan sabar dalam menghadapi itu semua. Setelah aku mengetahui akan kerusakan handphonenya aku merasa sedikit kecewa karena aku tau berita itu bukan darinya, melainkan dari temannya.
Beribu-ribu pertanyaan muncul di benakku, tapi aku berusaha selalu berpositif thinking terhadapnya. Mungkin saja ia terlalu sibuk sehingga tak sempat memberi tahu diriku.

Pikiranku selalu dihantui rasa curiga, begitu banyak kata-kata yang masih terpendam lama, dan begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang membutukan jawabannya. Setengah hatiku merasa sangat “KECEWA” akan hal yang sudah terjadi. 2 hari sudah berlalu, setelah mendapatkan kabar itu aku mulai membiasakan diriku tanpa kehadirannya. Hingga suatu hari ia datang menemuiku dan mengatakan tentang handphonenya yang rusak, aku menanggapinya dengan keadaan hatiku saat itu. Ia meminta maaf padaku akan hal tersebut. Dengan segera aku pun juga memaafkan dirinya.

Waktu pun berlalu dengan cepat seketika itu hubungan ku pun mulai membaik, aku merasa sangat bersyukur akan hal itu. Tapi, lagi-lagi hubunganku dengannya mengalami keretakan. Secara tidak lansung dia telah membuktikan kepadaku bahwa dia bukanlah dirinya yang dulu. Ia telah menunjukkan keputusannya kepadaku, aku tak pernah lelah untuk selalu memperbaiki hubunganku dengannya. Berbagai macam cara telah aku lakukan tapi hasilnya sama sekali nol besar. Usaha yang telah aku lakukan selama ini hanya terbuang sia-sia. Ia sama sekali tak menghargai pengorbanan dan usahaku selama ini. Ia tak lagi bisa memandang pengorbanan yang aku lakukan. Dan Ia tak bisa lagi mengerti akan apa yang aku rasakan.

Di saat itu aku merasa sangat terpukul. Usaha, penantian, pengharapanku selama ini ternyata sia-sia. Aku dan dirinya tak lagi ada komunikasi sedikitpun, dan bahkan yang dulunya aku selalu bertemu dengannya tapi kini, ia tak pernah lagi menampakkan dirinya di hadapanku.

Hari-hariku lalui dengan rasa kepedihan yang terdalam, aku hanya bisa diam dengan keadaan seperti ini. Begitu banyak kenangan yang telah ia ciptakan.
Boneka yang ia berikan dihari ulang tahunku akan menjadi sebuah kenangan terdalam yang takkan pernah dilupakan. Ada suatu kejadian yang membuatku tak bisa lagi menahan dan mempertahankan hubungan kami. Aku begitu sangat kecewa padanya, aku begitu putus asa akan hubungan ini aku begitu tidak kuat menahan tubi-tubian masalah dan perubahan sikapnya terhadapku. Aku begitu terluka, orang yang selama ini sudah sangat aku cintai kini sudah tidak bersamaku lagi. Aku begitu marah, begitu benci, begitu murka, tapi aku tidak tau ke siapa aku menujukan rasaku itu. Aku diambang kebingungan yang memuncak, aku merasa hidup ini tidak adil dan perasaan-perasaan kacau lainnya yang aku rasakan.

Aku mencoba merenungi apa yang telah terjadi, aku berfikir bahwa aku harus bangkit dalam kesedihanku, aku harus bisa mengejar kesuksesanku dan satu hal yang aku tahu bahwa hidupku bukan untuknya, melainkan untuk pencipta alam ini yaitu ALLAH SWT sejak kejadian itu aku tak lagi ingin mencari kebahagiaan di dunia fana ini.

Seiring berjalannya waktu aku yakin aku pasti bisa melupakan, merelakan, dan melepaskan dirinya untuk orang lain. Hanya waktu yang bisa mengobati luka ini, hanya waktu yang bisa membawaku agar pergi dari masa lalu itu. Janji yang telah ia buat biarlah ia pertanggung jawab kan dengan tuhan nantinya. Aku selalu berusaha untuk membenci kehadirannya, tapi awal dari kebencianku tak berhasil. Waktu pasti akan membawaku ke pada kebencian yang mendalam terhadap dirinya. Aku selalu berharap dan berdoa agar ia bisa berubah seperti dulu lagi. karena perobahan seseorang hanya akan terjadi bila yang maha kuasa menghendakinya.

Semakin hari aku mencoba untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon kepada Sang Pemilik Cinta untuk membantuku dalam menghapuskan segala perasaanku terhadap seseorang yang bukan mahramku dan Alhamdulillah sedikit demi sedikit perasaan itu pun memudar. Kini aku merasa lebih tenang. karena aku sudah mulai bisa merelakannya untuk orang lain. Walau dia berulang kali menampakkan kemesraannya dihadapan ku, aku sudah bisa untuk tidak sedih lagi. Ia bisa tertawa bahagia bersama teman-temannya. Maka aku pun harus bisa bahagia tanpa dirinya, dan aku sudah bisa tertawa bahagia bersama teman-temanku, sahabatku dan keluargaku.

Aku sangat bersyukur karena akhirnya aku menyadari bahwa ALLAH memisahkan aku dengan rafiq karena ALLAH terlalu cemburu melihat perasaanku yang begitu besar dengan makhluk yang ALLAH ciptakan. Kini aku hanya ingin menyerahkan segala perasaan cinta dan sayangku hanya kepada ALLAH SANG PEMILIK CINTA. Aku sadar bahwa semua yang telah aku lakukan selama ini adalah salah. Sekarang aku akan memperbaiki semua kesalahan yang telah aku perbuat. Jika aku mencintai orang lain maka aku akan menitipkannya saja kepada sang pemilik cinta, karena hanya ALLAH lah yang menentukan siapa rekan hidup ku disuatu hari nanti. Sampai pada akhirnya Allah menaruhkan rasa cintaku ini kepada orang yang tepat, disaat yang tepat dan dalam sebuah ikatan suci.

Thank’s to ALLAH. Engkau telah membuatku sadar akan hal salah yang telah aku lakukan selama ini. Ya allah selalulah engkau arahkan dan tunjukkan aku ke jalan yang benar, agar aku tak salah dalam mengambil langkah untuk masa depan nanti.

Cerpen Karangan: Zilva Gusri Novita
Facebook: Zilva Shauqiyahullah
nama: zilva gusri novita
kelas: X
Asal sekolah: MAN 1 PADANG
Agama: Islam
email: zilvagusri10[-at-]gmail.com

Cerpen Sang Pemilik Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Arti Cinta Karena Allah

Oleh:
Hari ini begitu indah, mungkin karena cuaca atau memang ada sesuatu yang mempengaruhi sehingga hari ini begitu indah. Sepoy anginya pagi ini dan pancaran mentari pagi entah kenapa begitu

Objek Terbaik Dan A3

Oleh:
Namaku… A treeple, alias Alexi Adrian Akhbar, biasa dipanggil Alex. Aku tidak tau kenapa orangtuaku menamakanku dengan A treeple seperti itu, yang pasti ku tau papa adalah asli Warga

Ikhlas Dalam Duka

Oleh:
Sudah tiga hari ini aku menjalani hidup dengan dan tanpa penuh gairah hidup sedikit pun, makan, minum, bahkan kuliahku pun tak ada yang benar. Sebelum kejadian pada hari minggu

Rona Bening (Part 1)

Oleh:
Hari ini panas banget, mana harus desek-desekan sama penumpang bis lainnya yang nggak dapet tempat duduk lagi, terpaksa harus menikmati perjalanan 20 menit menuju almamater tercinta dengan berdiri. Tak

Cinta Di Atas Sajadah

Oleh:
Malam ini masih seperti biasa, aku hanya ditemani rasa sepi dan gelisah hati yang tak berkesudahan. Hatiku terasa sesak, air mataku pun mulai menetes tanpa kusadari. Kubiarkan tubuh ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *