Sarwani

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 15 April 2016

“Afwan akh, ana tidak bisa menerima khitbahnya. Ana…”
Sarwani tak mampu lagi melanjutkan membaca pesan itu. Membaca awalnya saja sudah membuat hatinya remuk redam tak karuan. Dia menghela napas berat.
“Ya Allah, kuatkan hati hambamu yang lemah ini,” lirihnya penuh kecewa. Air matanya membuncah ruah, tetesan bening tumpah tak terkendali. Membuat sembab wajahnya.

Ini kali kedua dia mengalami kegagalan dalam proses ta’aruf. Lenyap sudah harapannya untuk membina mahligai rumah tangga dalam waktu dekat. Dia duduk terdiam merenungi kejadian barusan. Kelebat masa lalu melintas di benaknya, semakin menoreh luka dalam di hatinya. Dia teringat kejadian dua tahun yang lalu, saat dia masih jahiliah. Kala itu dia bekerja di puskesmas di desanya, ada seorang perawat perempuan yang juga bekerja di puskesmas yang sama. Awalnya mereka tidak begitu dekat. Namun, karena seringnya bertemu, membuat mereka saling mengenal satu sama lain.

Benarlah kata orang, “Cinta itu bisa hadir karena seringnya bertemu.” Tertawalah hatinya kepada si perawat, dan ternyata gayung pun bersambut. Terjalinlah hubungan di antara mereka. Hingga satu tahun berlalu, mereka memutuskan untuk ke tahap yang lebih serius, yaitu pernikahan. Bertamulah Sarwani dan keluarga mengajukan lamaran serta menentukan jumlah jujuran. Beruntunglah dari pihak wanita memberi lampu hijau persetujuan, sedangkan jujurannya berjumlah 20 juta. Tanggal pernikahan telah ditentukan, satu bulan setelah lamaran itu. Seminggu menjelang pernikahan. Uang jujuran telah diantar, pernak-pernik pernikahan sudah disiapkan, semua keluarga bersuka cita. Namun dari situlah petaka bermula, peristiwa yang tidak pernah dia lupakan dalam hidupnya.

“Assalaamu’alaikum..” samar terdengar ucapan salam dari balik pintu, disusul ketukan tiga kali berturut-turut.
“Assalaamu’alaikum!” nadanya meninggi.

Sarwani yang berada di dapur baru ngeh setelah mendengar salam yang kedua, sembari meninggalkan cucian piring. Dia menengadah melihat jam kotak kusam berwarna biru tua tertempel sekenanya di dinding kontrakan. Pukul 08.30 WITA. Siapa ya, jam segini udah bertamu? Ini kan hari minggu, rasa-rasanya nggak ada janji. Sarwani merutuk dalam hati sambil menuju ruang tamu. Suara ketukan pintu kembali beruntun diiringi salam yang ketiga kalinya, Sarwani bergegas menuju asal suara.

“Daud!” Sarwani memekik, ketika menguak pintu kontrakannya. “Ada berita apa, ente kok pagi-pagi udah nyasar ke sini? Masuk gih.” Sarwani tak memberi kesempatan bicara.
“Ada berita apa, hah? Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba ente nongol depan ane, pasti ente bawa sesuatu ni.” Cerocos Sarwani penasaran. Sedangkan Daud dari tadi hanya senyam-senyum cengengesan tanpa menjawab sepatah kata. Daud membuka tasnya lalu mengorek-ngorek sesuatu. Sarwani yang dari tadi penasaran tingkat dewa memicingkan mata layaknya detektif ke arah sahabatnya.

“Nih…”

Sarwani menghempaskan badannya ke kasur lapuk tipis yang sudah menyangga berat tubuhnya selama tiga tahun lebih. Seprainya yang sudah kucel tak sedap di pandang mata, rembes. Dia tak hirau. Matanya tertuju ke surat undangan yang teronggok bisu di atas bantal putih lusuh kekuning-kuningan. “Jangan nyerah akh, masih banyak akhwat di luar sana. Hem, coba tujukan lamaran untuk teman pondok kita. Ada Aisyah, Meysa, sama Rahma tuh yang masih lajang. Siapa tahu salah satunya ada yang nyantol.” Masih terngiang kata-kata Daud di telinganya. Dan itu membuat pikirannya mengambang entah ke mana.

Lagi. Matanya melirik ke surat undangan itu. Bersampul hijau tua, dipadu dengan ornamen unik kaligrafi khat tsuluts, ditambah foto grayscale dua sejoli yang akan memadu kasih dalam belantara cinta pernikahan. Sederhana, tapi terlihat indah dan mewah. Pantas saja disebut majestic green. Namun, bukan itu yang dia perhatikan sejak tadi. Melainkan sepasang nama yang tertera di atasnya. Hamzah dan Hafsah. Dua-duanya adalah teman seperjuangannya setahun yang lalu. Dia tidak habis pikir ketika teringat sosok Hamzah maupun Hafsah bagaimana bisa bersatu. Hamzah yang hanya menghabiskan harinya bergumul dengan buku, dan tidak pernah sedikit pun berbicara tentang wanita. Sedangkan Hafsah pribadi dengan tatapan dingin tak peduli.

“Ah, hidup memang misterius,” gumamnya.

“Ane OTW.” Sarwani membaca pesan ringkas dari Daud tanpa mengerakkan bibir. Hari ini dia telah memutuskan untuk mendatangi salah satu kandidat yang direkomendasikan oleh Daud. Meskipun hatinya harap-harap cemas dengan apa yang akan terjadi. Dia melantunkan beberapa ayat-ayat al-Qur’an untuk mengusir gundah sembari menunggu kedatangan Daud.

“Assalaamu’alaikum.” suara salam menghentikan tilawahnya. Dia bangkit bergegas meraih gagang pintu.
“Gimana udah siap?” Daud langsung bertanya ketika pintu terbuka.
“Insyaa allaah..”

“Mas Daud! Mas Wawan!” Meysa memekik kaget setelah menguak daun pintu.
“Aa-a…ada apa Mas, kok ke rumah tiba-tiba?” Meysa tercekat.
“Bapak ada?” Tanya Daud tanpa peduli dengan pertanyaan Meysa.
“Aa-aada.. Si-sii-lahkan masuk,” ucap Meysa sambil terbata-bata.
“Siapa Mey?” Tanya Ibunya ketika Meysa memasuki dapur. Meysa tidak menyahut. Kepalanya masih dipenuhi tanda tanya, semerawut.

“Siapa Mey?” Meysa tetap diam mematung di depan rak piring. Mey! Ibu Mey menyentuh bahunya, membuyarkan lamunan yang berkelebat di benaknya.
“Siapa yang ngobrol sama Bapakmu di depan, sepertinya laki-laki?”
“Itu Mak, teman Mey waktu di pondok dulu.” Jawab Mey datar.
“Hayyooo.. Jangan-jangan datang untuk ngelamar kamu tuh.” Goda ibunya.
“Iiiissshh, Mamak nih.” Sergah Mey.

Jam 04:30 WITA. Sarwani terbangun dari tidurnya mendengar bunyi alarm hp yang menyala keras. Mau tidak mau dia harus bangkit menyudahi mimpi indahnya di atas kasur yang swprainya kusut masai. Dengan malas dia meraih hp-nya untuk membunuh suara alarm yang mengudara di pagi buta. Namun, sayap matanya langsung melebar ketika mendapati sebuah pesan belum terbaca. “Maaf Mas, Mamak tidak setuju saya menikah dengan orang jawa.”

Sarwani yang masih setengah sadar belum memahami isi pesan itu, dia membaca isi pesan tanpa melihat pengirimnya. Dia menyorotkan mata ke layar dengan seksama. Meysa. Jleb. Kesadarannya yang tadinya segera pulih seketika hilang. Dia termangu di tepi kasur. Pikirannya mengenang kepergiannya tiga hari lalu bersama Daud. Dia harus menempuh perjalanan sekitar dua jam untuk sampai ke rumah Meysa. Lalu memasang muka tebal untuk mengatakan keinginannya mengkhitbah Meysa di depan Bapaknya. Kenangannya buyar ketika adzan subuh berkumandang. Dia bangkit terhuyung mengambil air wudhu.

“Sudahlah, jangan terlalu dipikirin, berarti bukan jodoh. Masih ada dua kandidat lagi, coba si Aisyah.” Ujar Daud dari seberang sana.
Sarwani terdiam. Mencoba mencerna apa yang di katakan karibnya.
“SMS aja dulu si Aisyah, tanya apa udah ada yang melamar belum. Jadi kita nggak perlu ke rumahnya kalau dia sudah ada yang khitbah.” Jelas Daud panjang lebar.
SMS? Hah, SMS?” Sarwani setengah tidak percaya apa yang didengarnya.
“Ane liqo’ dulu. Assalaamu’alaikum.” tut. Daud memutuskan telepon tanpa menanggapi.

Hhssh. Sarwani menghembuskan napas sebal dengan ulah temannya. Dikira SMS sama akhwat nanyain tentang khitbah itu perkara gampang. Dia melemparkan hp ke kasur rentanya. Lalu merebahkan diri sekenanya. Pandangannya mengitari langit-langit kontrakan lalu sorot matanya menangkap sebuah tulisan besar merah di kertas buram yang terekat dengan isolasi bening. “MENIKAH TAHUN INI”

“Ah, kenapa harus sesulit ini? Begitu beratkah perjuangan untuk menikah muda?” Tanya Sarwani dalam hati. Sarwani mengusap wajahnya. Titit. Titit. Hp-nya mengeluarkan bunyi suara pesan masuk. Sarwani menyambarnya dengan malas. “Siapa juga yang SMS siang-siang begini?” celetuknya dalam hati. Bola matanya membesar setelah melihat pesan itu. Bagaimana tidak? Belum lagi dia mengirim pesan kepada Aisyah untuk bertanya, apakah sudah ada orang yang mengkhitbah? Undangan pernikahannya sudah masuk duluan menyambangi hp-nya. Sarwani terdiam membisu. Serasa tak memiliki tenaga untuk menegakkan diri dari kasur. Dia pupus. Pikirannya kembali menerawang masa lalu. Jauh di dalam dada, masih ada nama seseorang yang tersimpan rapi. Yang tak bisa dia gapai, karena keterlambatannya untuk menyampaikan maksud hati. Seseorang yang kadang berkelebat membisikkan aroma kerinduan untuk bersama. Nostalgia yang penuh dengan sesal.

“Gimana hatinya, udah baikan?” Tanya Huda. Yang malam itu tidak biasanya menyuruh berkumpul di warung makan.
Sarwani hanya tersenyum lesu. Itu sudah cukup memberikan jawaban pada Huda.
“Sudahlah bro, nggak usah baper. Namanya juga belum rejeki. Pasti ada yang lebih baik buat ente.” Daud menimpali.
Sarwani menanggapi dengan tersenyum kecut.
“Galau badaaaaiii nih orang satu, mau nikah nggak bisa-bisa.” Hahaha.. seloroh Huda diikuti tawa Daud membahana tanpa peduli lirikan mata tamu lain yang memperhatikannya.

“Eh, ane punya kejutan nih buat antum berdua, jangan kaget yaa.”
“Apa? Apa?” Daud penasaran. Sedangkan. Sarwani masih dengan ekspresi dinginnya menyimpan rasa penasaran diam-diam.
“Nih..” Huda melayangkan sebuah kertas merah muda di atas meja. Daud menyambarnya dalam hitungan detik. Kemudian mulutnya ternganga setelah melihatnya.

“Serius?” Daud dengan ekspresi heran menatap Huda.
“Iyalah.” Ucap huda menyeringai.
“Apa sih?” Akhirnya Sarwani membuka mulut, tak mampu menyembunyikan rasa penasarannya.
“Huda sama Salwa nikah minggu depan.” Ucap Daud datar. Dia tau bagaimana perasaan Sarwani.

Deg. Mendengar nama Salwa hati Sarwani serasa ditikam beribu-ribu sembilu. Ada rasa nyeri di segenap tubuhnya. Rasa sakit menyusuri setiap sendi-sendi tulangnya. Dia terkulai lemas mencoba menahan luapan air mata di wajahnya. Mulutnya diam seribu bahasa. Namun pikirannya terbang menelurusi memori ingatan yang terjadi beberapa bulan lalu.

Pagi-pagi dia bersama Daud berangkat menyusuri jalanan kota. Tujuan mereka bukanlah rekreasi melainkan menuju ke rumah harapan hati Sarwani untuk menyampaikan maksud mengkhitbah sang bidadari yang tinggal cukup jauh dari jantung kota. Tidak lain rumah tujuan mereka adalah rumah Salwa. Perlu waktu lima jam untuk sampai ke tempat yang dituju. Bukan perjalanan yang sebentar. Sesampainya di sana mereka disambut dengan terbuka. Sang ayah pun memiliki respon positif. Hingga sampailah kepada pokok pembicaraan yang di maksud. Tanpa basa-basi Sarwani mengungkapkan keinginannya untuk mengkhitbah Salwa meskipun dengan sedikit grogi.

“Jika Bapak berkenan, sa sayaa.. Ingin mengkhitbah Salwaa,” ungkap Sarwani kandas.
“Saya mengerti maksud baik Nak Sarwani, tapi saya belum bisa memberikan jawaban. Keputusan saya serahkan kepada Salwa. Berilah waktu satu minggu untuk Salwa berpikir. Saya harap Nak Sarwani mengerti.” Jelas ayah Salwa.
“Baiklah Pak saya mengerti. Saya akan menunggu keputusan Salwa.”

Sarwani menjatuhkan diri di atas kasur lepeknya. Selepas membaca surat undangan Huda dia langsung undur diri. Tak peduli dengan kedua temannya. Dengan jari bergetar Sarwani membuka hpnya melihat pesan kiriman Salwa yang belum dihapusnya. “Afwan akh, ana tidak bisa menerima khitbahnya. Ana sudah dikhitbah sehari sebelum kedatangan akhi. Dan ana minta maaf atas Bapak ana yang tidak berterus terang kepada akhi. Karena beliau tidak sanggup mengatakan itu melihat akhi yang datang jauh-jauh ke rumah ana untuk menyampaikan khitbah. Akhi pasti mendapat yang lebih baik dari ana, sekali lagi afwan…”

Cercahan masa lalu kembali berkelana di kepalanya. Dia ingat dengan jelas bagaimana kisah dengan perawat berakhir karena perselingkuhan. Serpihan memoar dengan Salwa pun jelas terekam jejaknya. Kemudian Meysa lalu Aisyah. Dia menepis keinginan untuk untuk bertamu ke rumah Rahma. Karena jelas terekam di otaknya, Rahma adalah musuh bebuyutannya di pondok dulu. Matanya pun kembali menatap ke arah tulisan itu. “Mungkin aku akan menikah tahun depan.” Bisiknya dalam hati.

Cerpen Karangan: Paidil Mursalin
Facebook: Faydiel story fhadiel
Nama: Paidil Mursalin
Tempat, Tanggal lahir: Kahala, 08 Januari 1993
Agama: Islam
Alamat rumah: Jl. Rungkut Asri Timur RT 03 RW 10 Surabaya
Email: Faidilm3[-at-]gmail.com
Facebook: Faydiel story fhadiel
Motto: Tidak ada yang mustahil selama aku berusaha mewujudkannya, semua hal itu mungkin
Mata pena: Fmstory

Riwayat Pendidikan
Pendidikan Formal:
2015 sampai sekarang : Ma’had Umar bin Khattab Surabaya
2012 sampai dengan 2015 : Ma’had Hasan bin Ali Samarinda
2011 sampai dengan 2012 : Pondok Pesantren Kulliyatul Muballighiin Balikpapan
2007 sampai dengan 2010 : SMA Negeri 1 Kenohan
2004 sampai dengan 2007 : SMP Negeri 1 Kenohan
1998 sampai dengan 2004 : SD Negeri 005 Kahala
Demikian Curriculum Vitae yang dapat saya sampaikan. Untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.

Cerpen Sarwani merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Dalam Diam

Oleh:
Hidupku biasa aja datar nggak ada hal yang istemewa yang bisa kubagi sama sahabat, teman-teman, termasuk bapak dan ibu ku. Aku kurang pengalaman dalam segala hal seperti organisasi, travelling

Gamophobia

Oleh:
Tercium bau aroma terapy menyengat masuk ke dalam lubang hidungnya, namun ia terus berjalan mengikuti arahan kekasihnya, kemudian mereka berhenti dan membuka penutup mata yang kekasihnya kenakan pada Silvia,

Melepas Adalah Puncak Mencintai

Oleh:
Hidup adalah gerakan dari sebuah lembaran takdir yang tertulis di lauhul mahfudz jauh sebelum kita dilahirkan. Tak terkecuali takdir tentang cinta, tentang manisnya pertemuan atau pahitnya perpisahan. Jika aku

Datang Terlambat

Oleh:
Stepy terduduk di atas koridor di depan kelasnya. Dia terlihat sedang membaca, tapi pada nyatanya dia tak membaca, dia hanya memandangi novelnya itu, sedangkan pikirannya sedang tertuju pada sesosok

Dia Kembali Bukan Untukkku

Oleh:
Pagi yang sangat cerah, aku memandangi seluruhnya gedung sekolahku saat ini masih sangat sepi, wajar saja aku memang datang lebih awal dari biasanya. Perlahan aku melangkahkan kakiku menuju kelas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *