Satu Keinginan Yang Tak Terduga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 27 January 2016

Namaku Nia, aku sekolah di SMK swasta semester akhir, aku bercita-cita ingin masuk di salah satu universitas islam di bandung. Saat aku mengenalnya lewat akun facebook namanya Agung -nama panggilan- dia seseorang yang sangat pendiam bahkan aku yang aktif di sekolah jarang melihatnya karena dia selalu diam di kelas berbeda denganku. Aku mengenalnya dari temanku katanya dia itu sangat baik, pintar, dan ustadz? Waw aku tertarik kepadanya karena jarang pemuda yang aktif di masjid, sejak dulu aku selalu menanyakan kepada temanku, “J situ yang mana sih yang topi sekolah itu bukan?” temanku tertawa dan berkata, “kamu sering menanyakan ini itu temannya, Agung itu yang satunya lagi.” aku menggerutu karena aku tak bisa melihat wajahnya.

Saat itu aku memberanikan chat dia di facebook, “assalammualaikum Agung kelas dua belas bukan.” dia membalas.
“waalaikumsalam iya.” ternyata dia tak sombong dia membalas pesanku, kami saling menayakan hal-hal kecil, aku mulai dekat dengannya.

Senin pagi saat UAS teori aku dimulai aku berangkat sedikit siang aku melajukan kendaraan motorku dengan santai karena jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh. Sesampainya di sekolah aku mendorong motorku menuju tempat parkir, saat aku mendorong banyak yang menyapaku pagi itu sehingga aku tak fokus mendorong. Saat aku mulai fokus dan memandang ke depan di tempat parkir itu ada seseorang yang baru memarkirkan motornya tak jauh dariku. Dia senyum padaku aku gemetar dan masih memegang motorku yang belum di parkirkan, dalam hati aku berkata, “apakah dia? Apakah dia yang aku cari? Apakah dia Agung dia begitu mirip dengan foto di facebooknya iya itu dia.” baru kali ini aku berpapasan langsung dengannya, lalu aku memarkirkan motorku di sebelahnya, aku tak begitu memperhatikan wajahnya yang ku ingat hanya tas yang dipakainya. Saat Uas tiba aku tak begitu fokus dan selalu memikirkannya astagfirullah.

Saat di rumah aku menanyakan kepadanya lewat Bm, “apakah kamu yang tadi tersenyum kepadaku di tempat parkir tadi.” dia membalas, “iya.”
Akhirnya aku tahu dia yang mana saat aku bertanya, “apakah sebelumnya kamu tahu aku?”
“tentu saja kamu kan aktif kamu juga satu organisasi dengan temanku, sebenarnya aku ingin masuk ekskul yang SMA denganmu namun telat.”
“tak ada yang telat untuk masuk organisasi sekolah ini jika kau mau sabtu juga kamu bisa ikut kumpul bersamaku.”
“ah tidak terima kasih sudah terlambat bentar lagi kita lulus.”
“iya.” kataku. Aku bertanya tentang cita-citanya.

“apakah kamu ingin menjadi seorang TNI seperti Budi temanmu juga sahabatku?”
“iya tapi aku lebih tertarik menjadi polri.”
“apakah kamu tidak menginginkan kuliah?”
“tentu saja ingin.”
“kalau begitu mari kita mengejar impian kita bersama aku sudah join kepada guru-guru untuk ikut seleksi mahasiswa nanti, kamu ingin masuk jurusan apa?”
“benarkah ayo aku ikut, aku ingin masuk pakar dan politik, kalau kamu?”
“aku dulu sempat berpikir ingin masuk hukum tapi sekarang aku tertarik pada dunia pemasaran.”
“oh begitu.” sahutnya. “ternyata kamu asyik juga enggak pendiam.”
“ya kalau gini sih biasa kalau langsung aku menghindar.”
“hihihi pantesan..”

Ujian kompetensi, ujian sekolah, dan ujian nasional sudah kami lewati, aku berusaha mencari info tentang mahasiswa baru, lalu aku mengajak Agung untuk daftar di salah satu universitas islam bandung. Test dan interview kami lewati bersama walaupun sifatnya dingin aku bersyukur bisa dekatnya walaupun tanpa candaan. Saat pengumuman tiba aku melihat kertas pengumuman dan aku masuk jurusan yang aku ingikan, aku mencari dia aku ingin memberitahu kepadanya aku masuk. Saat aku melihatnya kenapa dia berwajah lesu tak bahagia sepertiku.

“Agung bagaimana hasilmu?” dia hanya terdiam dia mulai berkata, “bagaimana kamu?”
“Alhamdulillah aku masuk dengan apa yang aku inginkan.”
“Alhamdulillah barrokallah, aku aku gagal mungkin bukan di sini.” aku kaget dan menjatuhkan kertas pengumumamku.
“sabar yah mungkin bukan di sini kita memang punya keinginan yang sama tapi Allah berkata lain mungkin kamu tak berjodoh menjadi seorang mahasiswa di sini.”
“iya ayo kita pulang.”
“iya..”

Semester demi semester aku lakoni sekarang aku seorang mahasiswi semester 4 di usiaku yang baru 19 tahun, aku sangat senang dengan pencapaianku, lalu bagaimana dengan Agung? Sudah lama sejak pengumuman dua tahun lalu aku tak pernah lagi bertemu dengannya aku kehilangan teman yang mempunyai satu keinginan denganku ke mana dia? Kenapa dia pergi dariku, aku sering mengiriminya kabar melalui akun facebook, jarang sekali dia aktif sebenarnya ke mana dia? Apa dia sudah lupa denganku? Aku menangis mengingatnya.

Pada suatu malam aku sedang menyalakan netbookku dan membuka akun facebookku, ada pesan, subhanallah Agung mengirimi aku kabar setelah setahun lebih kita hilang kontak dia masih mengingatku. Aku ingin menangis aku rindu padanya, pesan itu tertulis, “assalammulaikum Nia, apa kabar? maaf selama ini aku tak pernah memberimu kabar bisakah kamu datang ke perkemahan tempat dulu kita di ospek saat SMK?” ada apa ini kenapa dia mengajak aku bertemu pikiranku kacau aku membalas, “waalaikumsalam baiklah aku tunggu sabtu jam 2.”

Sesampainya aku di sana tempat dulu aku menghabiskan camp masa SMK-ku di sini, di mana dia? apakah dia main main untuk bertemu denganku? aku coba mengirim pesan kepadanya, “kamu di mana? aku di kemah putri dekat barak.” lama sekali balasannya aku mulai putus asa, ketika aku ingin pulang, dan saat aku berbalik ada seseorang pemuda yang sangat gagah di depan mataku seketika aku ingin pingsan melihatnya. Aku gemetar dan kaku, seorang pemuda yang gagah itu adalah Agung? Teman yang ku rindukan yang selama setahun tak pernah memberiku kabar dan saat ini yang ada di depanku bukanlah Agung yang lesu karena gagal menjadi seorang mahasiswa, melainkan agung yang gagah dengan pakaian dan artibut polrinya, ya itu Agungku dia Agungku yang berhasil menjadi seorang polri seperti cita-citanya.

Kami duduk di sebuah kedai makanan aku masih kaget tanpa kata dia memberiku minum dan menyuruhku meminumnya, tak ada kata yang ku ucap aku sangat kaget dan tak percaya melihatnya, dia berkata, “kenapa kamu diam kamu tak seperti Nia zaman SMK dulu yang cerewet haha.” aku melihatnya dan ingin aku menangis tak sanggup aku berkata dan pelan-pelan aku berbicara, “ke mana kamu selama ini aku merindukanmu.” sambil menangis tak kuat menahan rindu, dia menatapku dan berkata. “jangan menangis mana Niaku yang kuat? Aku selama ini berusaha mengejar cita-citaku, menjadi mahasiswa memang keinginan kita namun Allah berkata lain dia membukakan jalan untukku mengejar cita-cita awalku, kamulah penyemangatku sehingga aku bisa mencapai cita-citaku.”
“aku lemah karena kau tinggalkan dan goreskan kerinduan yang mendalam di hatiku, jika aku penyemangatmu kenapa kamu meninggalkanku kemarin.”

“Ketahuilah setiap kali aku ingin mengabarimu aku malu karena aku seseorang yang gagal, setahun kemarin aku diam di pondok pesantren dan aku tak ingin mengecewakanmu lalu aku bertekad masuk test polri ini aku berusaha berjuang, karena kamu penyemangatku. Aku selalu memperhatikanmu sepulang kamu kuliah aku selalu ada di depan kampusmu untuk memastikan apakah kamu baik-baik saja, enam bulan kemarin aku fokus mengejar cita-citaku hingga aku berhasil.”
“seberarti itukah aku di matamu?” sambil meneteskan air mata, “iya lebih dari itu kamu adalah wanita yang sangat aku kagumi..” Aku menangis dan menghabiskan waktu sehari itu bersamanya untuk mengobati rinduku.

Hari demi hari kita lewati aku sibuk dengan semester akhirku dan dia sibuk dengan pekerjaannya, ketika wisuda tiba dan aku menjadi salah satu mahasiwa terbaik dan membuat orangtuaku bangga, tapi saat wisuda aku tak melihat dia ke mana dia apakah dia lupa? Tapi aku tak boleh bersedih ini hari bahagiaku. “Nia.” aku menoleh ke belakang dan itu dia yang ku tunggu Agung dengan balutan baju polrinya yang gagah membawakan rangkaian bunga untukku dan berkata, “selamat Ibu sarjana.” dan aku tertawa kecil dan membalas, “terima kasih kapten.” aku mengenalkan dia kepada kedua orangtuaku dan direspon dengan baik karena aku sering menceritakan dia kepada ibuku.

Wisuda telah berlalu aku menjadi seorang guru AP di SMK dulu aku belajar. Bertahun-tahun lamanya aku menyembunyikan perasaanku kepadanya kenapa dia tak menyatakan cinta kepadaku apakah dia hanya menganggapku hanya seorang sahabat? Di umurku yang sudah matang ini umurku sudah 22 tahun aku ingin menikah tapi dengan siapa? Agung tak berbuat lebih kepadaku hanya harapan-harapan saja aku mulai bersedih.

Sepulang aku mengajar sekitar jam 1 siang aku di-sms ibuku, “Teh kapan pulang? bisa pulang sekarang?” ada apa ibuku menanyakan hal ini mungkin dia cemas aku menjawab, “ya aku pulang.” dengan wajah lesu karena penantianku kepada Agung yang sia-sia aku pulang ketika aku di depan rumahku, “kenapa di rumah seperti banyak orang ah mungkin teman Mamah.” pikirku, aku buka pintu dan, “assalam…mualaikum..” Betapa kagetnya aku, Agung dan keluarganya berada di rumahku dan berniat mengkhitbahku?

“Nia inilah hasil penantianmu pada diriku aku sengaja tak memberitahumu dulu ini sebagai kejutan untukmu aku sangat mencintaimu ketika temanmu mengatakan padaku bahwa kau ingin menikah kita punya satu keinginan yang sama. Apakah kamu mau menjadi pendamping dan menjadi Ibu dari anak-anakku nanti?” sambil menyodorkan cincin emas putih yang sangat indah dan terukir tulisan arab K & A, aku ingin menangis terhatu dan mengangguk, “aku terima pinanganmu.” semua berkata, “Alhamdulillah..”

Ketahuilah ketika kita punya keinginan yang sama jangan kau sia-sia kan dia, mungkin bukan untuk saat ini tetapi nanti ingat janji Allah tak akan semu untuk hamba hambanya yang sabar.

Sekian

Cerpen Karangan: Kurnia Kartini
Facebook: Nia Kurnia Kartini / niagbmcd[-at-]gmail.com
Nama: Kurnia Kartini
Umur: 16 Tahun
TTL: Bandung, 21 April 1999
Hobi: Travelling, Menulis, Dan Berorganisasi
Tentang Cerpen: Ini adalah cerpen keduaku kisah ini mengangkat dua insan yang mempunyai satu keinginan dan selalu bersabar dan yakin terhadap janji-janji Allah yang indah.

Cerpen Satu Keinginan Yang Tak Terduga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Peluklah

Oleh:
“Kakak, bisa bantu aku kan?” tanya Waffa kepada Ahz “Bantu apa” jawab Ahz “Bikin video pembukaan untuk acara pentas seni, Nanti kakak kasih duit dah buat upah kerja” “Upah

Nugi dan Tita (Part 1)

Oleh:
Burung-Burung berkicau menebarkan keelokannya. Embun di pagi itu membasahi daun-daun dan ranting di pekarangan rumah. Rumput hijau terhampar luas di sana! Pagi yang menyejukkan. Kuhirup udara di sekitar rumah.

Istiqomah dalam Hijrah

Oleh:
Percakapan di dm Instagram… “Assallamuallaikum wr wb, Akhi Azri?”, dm ku di instragram Azri ikhwan yang disukai oleh wanita yang kucintai. “Wallaikumsalam wr wb, Iya Akhi. Maaf ini dengan

Inikah Hadiah Karena Keikhlasanku?

Oleh:
Malam ini Bulan terasa lebih Indah. Ia mulai memancarkan sinarnya hingga awan pun tak berani untuk menutupi kilaunya yang megah. Suara binatang malam pun ikut menari menambah lengkapnya suasana

Ketika Cinta Tersenyum

Oleh:
Belajar mencintainya? Kupikir tidak, karena cinta datangnya tulus dari hati. Kapan saja dia mau. Kupandangi wajahku di cermin yang memantulkan keadaanku yang kusut masai. Bukan. Bukan penampilanku, melainkan hatiku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *