Sayang, Hiasi hidupku dengan ayat Al Qur’an

Cerpen Karangan: ,
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 30 December 2016

Kesibukan yang melelahkan, sudah biasa aku hadapi karena statusku sebagai seorang santriwati di pondok pesantren Baitur Rohmah. Mengaji, menimba ilmu sudah menjadi rutinitasku.

Di ponpes ini aku tinggal sendiri, maksudnya tanpa kerabat dekat. Semua yang ada di sini bukan saudara denganku. Ya sih kalau temen-temen bilang kita semua saudara dari nabi adam. Tapi lebih spesifiknya, di ponpes ini gak ada yang sehubungan darah denganku.

Dua tahun aku disini, suka duka telah kualami. Oh ya, sampai lupa, Teman-temanku biasa memanggilku Nina. Namaku sebenarnya Nila Nafira, tapi teman-temanku menyingkatnya menjadi Nina.

Setiap harinya aku di dalam pondok saja, tanpa ponsel atau sejenisnya. Kenapa aku bilang gitu? ya lah anak muda jaman sekarang mana ada sih yang bisa jauh dari yang namanya ponsel. Bahkan, karena saking nekatnya, ada beberapa temanku yang membawa ponsel ke pondok. Padahal sudah dilarang keras, tapi mereka masih aja nekat.

“Nina, besok kata bu nyai udah waktunya liburan” Kata temanku, memberi tahuku soal liburan besok.
“Alhamdulillah! Alhirnya waktunya telah tiba.” Ucap syukurku, seraya tersenyum pada teman-temanku. Ya, benar. Besok adalah liburan ponpes, sekaligus liburan sekolah.
Gak tau kenapa kalau liburan pondok itu rasanya seneng banget. Soalnya pulang ke rumah sendiri, mau ngapa-ngapain gak ada yang ngatur. Uppss!! Gak gitu juga sih maksudnya! Ah udah ah gak penting.

24 jam berlalu. Hari ini saatnya pulang. Tapi, orangtuaku mana yah, kok gak datang-datang buat jemput aku? Heerrggh “Lho suara mobil siapa tuh gays?” Tanyaku pada teman-teman yang satu kamar denganku.
Tak ada yang menjawab satu pun, mereka hanya nampak kebingungan. Beberapa menit kemudian Bunyai dan seorang pria tampan datang ke kamarku. Kaget? Iya lah kaget banget. Spontan aku mencium tangan bunyai.

Ternyata, pria itu adalah orang yang diperintahkan ayah untuk menjemputku. Dan akhirnya ia pun mengantarku sampai rumah dengan seamat. Hehehe. Kan aku bingung tuh ceritanya, Aku langsung nanya aja ke ayah sama ibu.
“Yah, ini siapa?” Bisikku pelan pada Ayah. Ayah hanya tersenyum dan tak memberi jawaban sehuruf pun. Ibu pun begitu, hanya tersenyum padaku. Dan anehnya ibu mendorongku untuk duduk di kursi yang bersebelahan dengan pria itu.

Rasa penasaran memenuhi jiwaku. Ya tuhan, apa-apa an ini?. Ayah dan ibu pun duduk bersebelahan di depan kami. “Lha buk! Kayak gini kan cocok ya?” Candaan ayah sambil menatapku dengan tersenyum.
“Lho, Ayah, ibu maksudnya apaan sih?” tanyaku dengan penuh kebingungan. “Gini loh sayang, kan kamu bentar lagi udah mau wisuda MA. Jadikan gak ada salahnya kalau dipercepat” Jelas ibu yang membuatku makin penasaran.
“Nila, kamu kan udah besar, bentar lagi udah mau lulus sekolah juga kan? Jadi, ayah sama ibu ingin kamu ta’arufan dengan keluarganya nak Fandi” Jelas ayah panjang.
Tanpa rasa sungkan sedikitpun aku menolak anjuran ayah dan ibu. “Yah.. Bu.. Nila tau kalau Nila udah besar, bentar lagi mau lulus, tapi asal ibu dan ayah tau. Nila masih pengen ngerasain yang namanya bangku kuliah. Nila pengen ngeraih apa yang Nila cita-cita kan selama ini” Jawabku pada ayah dan ibu seraya meneteskan air mata.
Ayah dan ibu hanya terdiam. “Emm, Nila, kalau misalnya kamu pengen kuliah, kita bisa kok kuliah bareng setelah ta’aruf” Tutur Fandi kepadaku.
“Enak, kalian bilang gitu. Tapi apa kalian tau selama ini kehidupan di pondok seperti apa? Apa aku salah kalau sesekali aku ngerasain yang namanya kebebasan? Yah! Bu! Nila hidup dua tahun modern, Yah, bu Nila bukan Siti Nurbaya.. Apa ayah dan ibu pernah bertanya siapa yang lagi deket sama Nila? Apa ayah dan ibu tau kalau Nila udah punya kekasih? Nila sayang sama dia yah, Nila udah terlanjur nyaman sama dia bu.. Apa cuman gara-gara hal ini Nila harus mengakhiri hubungan sama dia?” Celotehku panjang dengan segala amarahku.
Fandi tersenyum lalu menjabat serta mencium tangan ayah dan ibu dan pergi begitu saja. Selepas Fandi pulang ayah dan ibu memarahiku habis-habisan. Bahkan, sampai tiga hari mereka enggan bicara denganku.

Hari itu, tepat pukul 20.00 kubuka ponselku dan kuberanikan untuk menelepon Tama, kekasihku. Nekat… ya saat itu aku benar-benar nekat dan entah iblis apa yang meracuni fikiranku.
Kulepas jilbabku dan aku pergi ke tempat dugem bersama Tama tanpa sepengetahuan ayah dan ibu. Disana aku menangis dan menceritakan semua masalahku kepada Tama. Beberapa kali Tama memberiku minuman beralkohol yang memabukkan. Hingga aku tak sadar.

Di sebuah hotel kota, kami menginap. Dan saat itu aku tersadar, ternyata pagi sudah menyapa. Ya tuhan, apa ini. Tama tidur seranjang denganku tanpa busana.
“Astaghfirullohal’adzim..” Teriakku teramat kaget. Tama terbangun lalu memelukku dan berkata “Maaf ya! aku gak bilang-bilang. Tapi makasih, malam itu sangat indah”
“Ya alloh dosa apa yang telah ku perbuat? Dimana hijabku? dimana semua ilmu yang aku punya? kenapa semua jadi seperti ini? Ya alloh aku tidak suci lagi… Lantas siapa yang mau menerimaku?” Keluhku hari itu.

Selepas hari itu aku menceritakan semua pada ayah dan ibu dengan nafas terputus-putus dan air mata yang terus bercucuran. Hampir satu minggu aku mengurung diri di kamar.
Tepatnya di hari ketujuh setelah hari kotor itu, Fandi datang ke rumahku. Ia mengetuk pintu kamarku dan mencoba menenangkanku. Aku malu dengan Fandi. Benar-benar malu.
“Nila Nafira, biasa dipanggil Nina yang terkenal ceria, gak suka nangis, tapi kenapa sekarang malah kayak gini? Ayo dong bangkit lagi!” Candaan Fandi menyemangatiku.
“Aku tuh malu. Aku udah gak suci lagi! Terus kenapa kamu masih mau ketemu aku? kamu gak jijik ngeliat aku? hah?” Bentakku pada Fandi.
“Sudahlah Nina, cukup jangan bahas soal itu! Aku tau semuanya, dan aku siap terima kamu apa adanya!” Respon Fandi dengan santainya.
Ya tuhan… inikah jawaban atas semua pertanyaanku? Dia kah yang kau takdirkan untukku? Yang sanggup menerima kekuranganku dan mengisi lembaran hidupku?

Sebulan setelah kejadian itu, Aku dan Fandi melangsungkan ta’aruf. Mungkin aku terlalu bodoh, dan terlalu berpikir singkat. Yang kupikir Fandi dari keluarga biasa. Ternyata ia adalah kerabat dari Bunyai Pondok Pesantren yang pernah kutinggali.
Ya alloh, aku sungguh tidak menyangka. Inikah yang disebut garis sang ilahi? 3 bulan berlalu, setelah wisuda aku menunggu pengeluaran ijazah. Dan setelah pembagian ijazah, satu minggu selanjutnya aku dan Fandi melangsungkan pernikahan.

“Subhanalloh, Sayang kamu cantik sekali dengan kebaya putih ini” Puji Fandi kepadaku dengan membelai selendangku. Aku hanya tersenyum kepadanya karena aku kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan kebahagiaanku ini.

Beberapa jam setelah kami bersiap-siap. Penghulu datang dan akad nikah akan segera dimulai. “Bismillahirrahmaanirrahim.. Asyhadualla ilaaha illalloh…” Ucap pak penghulu. “Saya terima nikahnya…” Jawab calon imamku.
Kujabat tangannya lalu ku cium dengan segala hormat. Ia belai mesra pipiku lalu mengecup keningku dengan penuh kasih.
“Sayang, terima kasih telah menerimaku, tolong perbaiki akhlaqku dan hiasi hidupku dengan ayat-ayat Al-Qur’an” Pintaku pada Fandi.
“Insya allah dengan segenap cinta, kupertaruhkan jiwa raga, kubangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah bersamamu sayang” Sahut Fandi.
Inilah cerita cintaku yang berakhir dengan sebuah pernikahan bersama orang pilihan ayah dan ibu.

Cerpen Karangan: Khoirun Nisak & Siti Ainun
Facebook: Nasyira Keseleo & Nuun Aiinun Azisain

Cerpen Sayang, Hiasi hidupku dengan ayat Al Qur’an merupakan cerita pendek karangan , , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Frekuensi Cinta 24.26

Oleh:
Petang itu di sebuah kamar asrama, sepasang earphone menyetubuhi sepasang telinga Ian. Didengarnya lantunan ayat Qur’an oleh seorang penyiar radio dakwah milik kampusnya. Tinggi rendah bacaannya seakan terbangkan Ian

Senyummu Salsa

Oleh:
“Sal, gue sayang sama lo,” kata Rio. Salsa berhenti berlari. Pasir-pasir yang ia injak ia rasakan semakin halus dan seperti ingin menghisapnya hidup-hidup. Salsa berbalik dan menatap Rio dalam.

Aku, Cinta Dan Sepeda Ontel

Oleh:
Pagi ini sungguh harum sekali dengan mekaran mawarku yang berada di depan halaman yang begitu indah. Memang tanahnya tak cukup untuk menanam sebuah bunga apalagi sampai bercocok tanam. Namun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *