Sebatas Mencintai

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 20 December 2017

Pagi itu, hari Senin tepat pertama kalinya aku memasuki sekolah yang tingkatannya lebih tinggi dari sebelumnya. Ya, kini aku telah menjadi seorang siswi SMA. Pagi itu cerah sekali, tetapi berbeda dengan perasaanku apa yang kurasakan saat ini. Namaku Dianty Ramadhani “hai Di, lo masuk sini juga?” Sapa Riyan dengan sedikit mengejutkanku yang baru saja sampai di depan gerbang sekolah, “hei iya gue masuk sini, lo masuk sini juga? Gak nyangka gue ada temen dari sekolah yang dulu” balasku sejadinya. “Gak cuma kita aja kok, banyak juga alumni lulusan SMP kita masuk di sini” sambung Riyan membalas “Oh ya? Gue baru tau. Mungkin karena sekolah ini dekat dengan SMP kita kali ya jadinya pada masuk ke sini” jawabku lagi “Bisa jadi sih, eh by the way bukannya lo dulu waktu SMP didaftarin masuk MAN sama Bu Yuni ya? Kok lo malah jadinya masuk sekolah umum sih?” “Eee iya gue tadinya daftar di MAN” jawabku sedikit sedih “Terus kenapa lo di sini? Apa lo gak di terima di MAN?” tanya Riyandi penasaran “Enggak gitu, dugaan lo salah. Jadi waktu itu gue udah daftar online via internet di MAN 1, MAN 3 sama MAN 14 Jakarta. Dan gue lolos di MAN 1 Jakarta” jawabku tegas. “terus? Kalo bukannya udah lolos udah gak bisa daftar di mana-mana lagi yah?” tanya Riyan lagi. “ih dengerin gue cerita dulu jangan motong aja” jawabku sedikit sensi “eh iya di maaf abis gue penasaran hehe” jawabnya sambil meringis “Gini ceritanya, waktu itu setelah gue dapet surat pemberitahuan bahwa gue lolos test online di MAN 1 gue girang gak karuan, karena itu sekolah, sekolahan gue incer dari kelas 8, ya you know me so well, terus kan di bawah surat itu ada pemberitahuan juga kalo minggu depan ada test tertulis, lisan sama test kesehatan gitu. Dan selang sebelum hari test dimulai penyakit gue kambuh, dan gue dirawat di RS selama seminggu. Dan untuk test-test kayak gitu cuman diberi waktu sampai 2 hari aja, dan gue yang masih lemas berbaring di kasur RS mau maksain buat ke sana juga gak diizinin sama dokter gue. Ya udah gue terima, mungkin ini salah satu takdir-Nya Dia. Jujur aja sih gue masuk ke sini juga gak niat, ya tapi gimana lagi semua MAN yang gue tuju udah ditutup semua pendaftaran siswa baru. Dan gue agak down mental juga karena harapan gue kandas gitu aja padahal tadinya gue udah ngebayangin sekolah jauh dari rumah, terus bisa ngerasain sekolah kayak di pesantren cuman beda versi aja, ini versi anak pesantren pulang ke rumah. Tiba-tiba gue sakit dan gitu lah pokoknya” jelasku panjang lebar dengan raut wajah yang sedikit menyesal. “Oh iya gue sempet ngedenger lo kemarin masuk RS kira gue itu bohongan, kalo ngedenger cerita lu sih agak nyesek juga di haha tapi pasti ada sebab dan maknanya juga kenapa Allah nakdirin lo masuk ke sekolah umum lagi” Jawab Riyan. “ya begitulah kehidupan, sulit ditebak kedepannya, pahit juga kalo dilihat ke belakang” “that’s right! Ya udah ayo masuk udah pada ngumpul tuh di lapangan” balasku dengan mengalihkan pembicaraan.

Keesokan harinya, hari kedua masuk sekolah tetapi aku tidak masuk sekolah karena aku jatuh sakit kembali. Dan ketika hari ketiga hari dimana pemilihan ekskul semua ekskul yang ada di sekolah ini ditampilkan, semua ekskul di sini cukup bagus dan keren, aku menyukainya. Tetapi entah mengapa aku sendiri pun enggan untuk memilih beberapa ekskul yang ditampilkan. Dan ketika penampilan ekskul terakhir semua terdiam sejenak, penampilannya begitu sederhana namun menyentuh hati para pendengar yang membaca lantunan ayat itu. Dengan 2 orang yang fokus terhadap kitab suci di hadapannya. Ya, itulah Demo ekskul terakhir yaitu ekskul ROHIS. Entah mengapa tiba-tiba aku langsung mencentrang pilihan ekskul ROHIS pada lembaran yang di bagikan oleh kakak OSIS. Aku tertarik dengan itu, sungguh lantunan ayat yang di keluarkannya begitu menarik hatiku. Aku terpana melihat kakak-kakak yang sedang membacakan Kalamullah itu. Siang itu, berakhir sudah kegiatan MOPD ku, dan aku pun resmi menjadi anak SMA yang berpakaian rok berwarna abu-abu.

Tiada terasa sudah 5 hari aku sudah menjadi siswi SMA dan pada hari Jum’at yang cerah ini aku dipanggil kakak kelasku yang kebetulan hanya memberi informasi kepada murid baru sepertiku untuk mengikuti kajian sehabis pulang sekolah. Menyenangkan, entah kenapa aku kagum dengan kakak yang belum ku tau namanya siapa. Dia begitu baik, sosok yang menjadi pacuan penyemangat ibadahku. Tiba saat adzan Dzuhur sudah berkumandang, dan sekali lagi, kakak itu kembali ke atas untuk mengajak siswa laki-laki untuk segera melaksanakan ibadah Sholat Jum’at. Begitu menawan bagaikan malaikat, alisnya yang tebal, bulu matanya yang lentik, dan pastinya ibadah kepada Tuhan selalu diutamakan. “Astagfirullah”, langsung saja mulutku bergumam dan pikiranku kubuang jauh-jauh.

Tepat jam 14.00 WIB bel pulang sekolah berbunyi, langsung sigap aku melangkahkan kakiku ke Masjid sekolah untuk mengikuti kegiatan ROHIS, bersama dengan temanku Zakia “Di, jadi ikut ROHIS?” Tegur Zakia ketika aku sedang merapihkan semua bukuku dari meja. “eh iya ki, jadi dong. Kamu jadi? Bareng aku yuk” balasku sembari meminta berangkat bersama ke Masjid “okeey, santai.” Jawab Zakia yang tersenyum sumringah. Telah selesai aku membereskan semua bukuku ke dalam tas “ayo ki berangkat” ajakku kepada Zakia. Lalu kami pun langsung ke Masjid untuk mengikuti kegiatan ekskul ROHIS.

Sesampainya di Masjid, aku begitu berdecak kagum menikmati suasananya, suasana yang menurutku jarang sekali kutemukan di beberapa Masjid wilayah rumahku. Semuanya berkumpul duduk dengan manis membentuk shaf rapat dan baris ke belakang. Mulai dari kakak kelas 12, kelas 11, dan juga siswa-siswi yang baru sepertiku bergabung dalam suatu lingkaran yang di pisah untuk tempat duduk khusus laki-laki yaitu sebelah kiri dari arah kiblat, dan untuk perempuan di sebelah kanan dari arah kiblat. Dan satu lagi yang paling istimewa, sosok laki-laki yang duduk di shaf pertama paling pojok dekat mimbar, dengan senyum khasnya, bulu matanya, alis nan tebal membuatku tampak lebih semangat untuk hadir ke sini

Hari ini di awali dengan Ta’aruf para anggota dan juga siswa baru sepertiku. Dan ta’aruf para anggota ini diawali oleh pembina ROHIS sekaligus guru Pendidikan Agama Islam di sekolahku, pembina Rohisku itu yaitu ialah bernama Pak Junaedi, yang akrab disapa Pak Jun. Sebelum anggota ROHIS memperkenalkan masing-masing biodatanya Pak Jun lah yang membuka Majelis Ilmu ini. Lalu, dilanjutkan dengan perkenalan dirinya. Kemudian, kakak itu memperkenalkan dirinya. Yang aku ketahui ia adalah anak kelas 12 IPA, dan ternyata ia pun sendiri ketua ROHIS di sekolah ini! Begitu mengagumkan, rasanya makin menjadi rasa kagumku terhadapnya. Dan hari ini aku sudah tau siapa namanya, dan dimana kelasnya. Tetapi tetap saja aku tidak bisa dekat dengan kakak itu, mungkin karena dia itu kakak kelasku dan aku hanya sebatas adik kelasnya.

Hari pun berlanjut dan berjalan begitu cepat, tiada terasa kakak itu pun akan meninggalkan sekolah ini dan juga aku. Mungkin memang ia tidak tau menau soal aku menyukainya, karena mungkin aku yang masih menjadi pendiam dan jaim di depan kakak kelasku. Tiba saatnya sebelum hari Ujian Nasional yang akan ia hadapi, ia menghadiri kajian untuk terakhir kalinya di sekolah ini. Hari itu sebenarnya tidak kajian melainkan hanya sekedar mengucapkan permohonan maaf kakak-kakak kelas yang akan menghadapi Ujian Nasional, mereka pun meminta doa kepada kami adik-adik kelasnya, begitu sedih rasanya perasaan baru kemarin aku mengenalnya, aku melihat senyumannya, aku mengaguminya secara diam hingga hari ini.

Setelah Ujian Nasional kakak kelas 12 pun tidak ada yang aktif kembali, mungkin karena mereka sudah diliburkan dari sekolah sehingga tak satupun mereka datang untuk kajian. Tetapi tiba-tiba ketika aku ke kantin untuk membeli air mineral ada sesosok yang menegurku dengan sopan “Assalamu’alaikum Di” “eh iya kak wa’alaikummussalam, ada apa kak?” jawabku sambil terbata-bata. “kamu anak ROHIS kan? Bagaimana ROHIS sekarang? Apa ada kemajuan?” tanya kakak itu masih dengan gayanya yang calm. “hmm iya ka, Alhamdulillah ada kemajuan” jawabku dengan polos seadanya. “Alhamdulillah, oh iya kamu kelas berapa? Aku lupa. Maksudku kamu jurusan apa?” tanya kakak itu yang mulai mengalihkan pembicaraan. “10 IPA 3 kak” jawabku seadanya. “Oh iya IIS 3 ya, setelah ini kamu mau ke mana? Ke Masjid lagi kah? Atau kamu mau langsung pulang?” tanya kakak itu lagi. Jleb rasanya! Mulai jadi salting aku dibuatnya “enggg, itu kak aku mau, mau… iya kak aku mau ke Masjid lagi sambil menunggu Ashar” jawabku dengan gagap. “Oh okeyy, yukkk ke Masjid saya ingin berbicara sesuatu sama kamu” jawabnya santai. “Berdua kak?” tanyaku heran. “di sana kan rame, gak memungkinkan untuk menimbulkan fitnah tenang aja” jawabnya lagi dengan senyum khasnya.

Masih canggung rasanya pertama kalinya aku jalan berdampingan dengan sosok orang yang kukagumi secara diam-diam. Sesampainya di pekarangan Masjid “Nah duduk di sini, kita jarakin dengan dua tas ya. Tas saya dan tas kamu” ucapnya santai. “gini, aku mau ngomong dan memberi beberapa saran ke kamu, mungkin juga saya sedikit curhat sama kamu. Kamu bersedia mendengarkan semuanya?” tanya ia dengan mantap. “emmm iya kak, silahkan aku akan mendengarkannya” jawabku lagi dengan polos. “Oke yang pertama mungkin saya mau ngasih saran ke kamu, tapi sebelumnya saya mau bertanya juga. Kamu kalau di rumah lepas atau masih memakai hijab?” mulainya dengan dilontarkannya suatu pertanyaan. “di rumah? Dalem atau di luar rumah kak?” jawabku diselingi pertanyaan. “keduanya”. jawabnya singkat. “kalau di dalem rumah atau udah di dalem kamar aku lepas kak, tapi kalau mau ke warung atau keluar sekalipun aku langsung memakai hijabku. Memangnya kenapa kak?” tanyaku penasaran. “Alhamdulillah, nampaknya kamu sudah istiqomah memakai hijab ya Di, jadi gini Di. Aku punya saran beberapa ke kamu saya dan harap kamu melakukan itu. Dan juga maaf, saya sejauh ini sering memperhatikanmu secara diam dan tanpa satu orang pun yang tau, mungkin juga kamu yang tidak pernah tau bahwa saya memperhatikan kamu” jawabnya yang membuatku tertegun “dan saya pun tau tentang kamu menyukai saya haha” tambahnya dengan sedikit tertawa kecil “Bagaimana kakak tau bahwa aku menyukai kakak? Bahkan menurutku teman-temanku, orangtuaku pun tidak tau akan perasaanku ini” jawabku dengan cepat karena gugup. “Dari matamu, ketika melihat saya, dan saya merasakan itu walau kamu sendiri gak pernah senyum atau sekedar menegur jika bertemu saya. Sebenarnya itu pertanyaan jebakan eh ternyata kamu terpancing dan jawab dengan jujur hahaha” Jawabnya dengan tawa yang makin jadi. “abaikan guyonan saya tadi, suka atau kagum itu relatif Di, tapi saya kagum sama kamu, kamu gak pernah yang namanya caper di depan saya. Yang saya tau kamu gadis lugu, polos dan pendiam. Padahal kamu anak IIS saya heran kenapa kamu pendiem berbeda dengan Zakia dan teman-temanmu yang lain.” Jelasnya yang membuatku makin kaget. “apa ada hal lain yang kamu gak suka dari sekolah ini? Sehingga membuat kamu menjadi introvert? Yang saya tau dari teman saya yang kebetulan dulu satu sekolah sama kamu, katanya dulu kamu orangnya cepat bergaul. Lalu kenapa di sini kamu tidak memiliki banyak teman? Apa yang kamu gak suka dari sekolah ini?” tanyanya panjang lebar.

Aku dibuat tambah shock mendengar penjelasan itu. Semakin membuatku terdiam seribu kata, karena aku masih memutar otak untuk memilih bahasa yang tepat untuk jawaban pertanyaan yang dilontarkan kakak ini. “kamu jangan tanya kenapa saya intel kamu, mencari tau tentang kamu. Dan mungkin ini saat yang tepat saya menjelaskan semuanya sebelum saya lulus dari sini. Di, saya pribadi jujur. Saya menyukai kamu, tapi saya sadar jika saya mendekati kamu, mengajak kamu berpacaran rasanya saya telah menjatuhkan harga diri kamu sebagai Muslimah yang taat, saya tidak mau seperti itu, saya tidak mau merusak kamu, saya juga tidak mau membuat kamu tak fokus Ibadah. Kenapa saya berkata secara mendadak seperti ini? Supaya kamu tau, bahwa saya pernah mencintai kamu. Walau mungkin saya tidak akan pernah menikahi kamu” jawabnya panjang dan akhirannya begitu menyakitkan. “maksud kakak apa? Kakak kenapa ngomong kayak gitu? Kenapa jadi terlalu serius seperti ini pembicaraan kita?” jawabku bingung dan sedikit meng-gas pertanyaan yang aku lontarkan. “Jadi gini, saat ini saya mencintai kamu. Mungkin ini saatnya saya mengungapkan, tapi maaf, saya tidak bisa menikahi kamu nanti. Karena orangtua saya menjodohkan saya. Dan setelah lulus dari sini pun saya akan diterbangkan ke Padang, untuk mengurus proses pelamaran dengan calon Istri saya”. DEG! Rasanya, sejadinya aku dbuat senang dan dibuat sesak oleh pernyataan kakak itu. “kakak udah ada calon Istri? Kapan kakak akan melangsungkan pernikahan?” jawabku sedikit ragu. “Iya, saya udah ada calon Istri. Saya telah dijodohkan oleh orang tua saya, orangtua saya masih memegang teguh adat istiadat yang sudah ada dari nenek moyang kami yaitu menikahkan anak putra/putrinya dengan suku asli asal kami berada. Dan saya juga tau, kamu tidak satu adat dengan saya, justru itu kenapa saya berbicara seperti ini.” Jelasnya dengan lantang dan sedikit mata berkaca. “Seperti itu kah adat orang Minang? Seperti itu kah mereka memaksakan kehendak-Nya? Seperti itu kah mereka yang menyiksa batin para anak-anaknya? Seperti itu mereka membahagiakan keturunannya? Semoga dengan ini, kuharap kakak begitu bahagia, terima kasih pernah mencintai saya, terima kasih pernah mencari tau tentang saya, kakak begitu baik. Aku tidak salah pernah menyukai kakak.” Jawabku dengan sedikit senyuman. “Aamiin, doa mu begitu tulus, saya tau kamu terasa sesak. Tapi saya minta maaf, kamu tau saya begitu bangga dicintai oleh muslimah seperti kamu, saya juga merasa gak menyesal mencintai kamu sekarang. Saya yakin kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari saya, terus mengupgrade diri ya Di, mungkin sangat beruntung sekali orang yang berjodoh denganmu.” Jawabnya dengan tenang dan lurus. “Oh iya satu lagi di, tebalkan dan panjangkan hijabmu ya, kalau bisa hari Senin nanti kamu memakai jilbab yang didouble agar gak tembus pandang, tetap istiqomah di ROHIS dan Hijabmu ya semoga makin baik.” Penjelasannya sedikit membuatku makin haru. “Aamiin, saya juga bangga dicintai oleh seorang pemuda yang begitu taat kepada aturan orangtuanya, insya Allah kak saya akan Istiqomah, terima kasih atas saran-sarannya. Saya merasa begitu bahagia di hari ini dan begitu haru tau tentang semua ini. Semoga dengan ini menjadi pacuan buat saya untuk kedepannya terima kasih kak. Semoga kakak bahagia selalu, berkah pernikahannya dan jangan pernah lupain aku ya kak. Kalau bisa sehabis menikah kakak ke Jakarta dan bawa Istri kakak kesini dan kenalin ke aku hihi” jawabku sedikit meledek “hahahaha, iya insya Allah Di, kamu jaga diri baik-baik, jaga kesehatanmu juga, saya tau kamu punya penyakit yang begitu mengerikan. Doa saya akan menyertai kamu, semoga kamu mendapatkan seorang laki-laki yang lebih baik. Intinya kamu jangan memikirkan jodoh dulu. kamu kembangin diri terus aja. Insya Allah jodoh kamu akan persis sifatnya kayak kamu. Aamiin”

“Aamiin. Insya Allah kak. Oh iya kak udah adzan saya mau wudhu dulu, saya izin pamit. Asssamu’alaikum” izinku langsung berdiri “Wa’alaikummusssalam Warahmatullahi Wabarakatuh”. Jawabnya sambil ikut berdiri juga.

Setelah hari kelulusannya benar saja ucapan kak Nanda ketika itu hari ini benar-benar terjadi. Yang ku tau dari teman seangkatannya setelah ia selesai menghadiri acara Graduate 2 hari yang lalu ia langsung di terbangkan ke Padang kampung halamannya. Masih tersisa, masih dengan perasaan yang sama, dengan orang yang sama. Seiring berjalannya waktu aku pun kini hanya mengikuti alur, terus memperbaiki diri menjadi yang lebih baik bukan ingin menjadi yang baik diantara yang lain. Senyumannya, tawa khasnya, perkataan dan ketegasan ia yang kurindukan saat ini. Aku mengenangnya begitu indah, kadang di dalam doaku aku berharap sosok seperti dia dibuatkan 2 di dunia ini, namun aku sadar saat ini aku tidak yakin dengan rencana-Nya. Astagfirullah…

Dua bulan berlalu, aku mendapatkan kabar dari teman seangkatannya bahwa ia telah menikah, aku tersenyum lalu kutitipkan salam untuknya via teman seangkatannya. Sempat pula kami berkomunikasi via twitter dan rasanya sudah berlalu hanya sebatas menanyakan kabar. Yang ku tau sekarang ia sudah menjadi Imam keluarga orang lain, dan juga Mahasiswa di salah satu Universitas di sana bersama Istrinya. Aku mendengar kabar itu begitu bahagia tersendiri. Dan kini aku yang sekarang yang terus menerus berubah menjadi yang lebih baik. Dan juga ada sebab akibat dari campur tangan orang lain terhadapku mengapa aku menjadi lebih baik dari yang dulu. Termasuk kak Nanda. Ya dia, karena dia salah satunya kenapa aku harus berhijrah.

– Terkadang Allah menitipkan Hidayah melalui orang lain, mungkin aku juga di beri Hidayah melalui mu. –

Cerpen Karangan: Dessy Andarwati
Facebook: Dessy Andarwati
Nama: Dessy Andarwati
Status: Pelajar (soon) Mahasiswi
id line: Dessyandrwt_
e-mail: Andarwatidessy[-at-]gmail.com
ask. fm: Dessyandrwt

Cerpen Sebatas Mencintai merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menyapa Heningmu

Oleh:
Hujan yang mengguyur kota kecil ini yang membuat perasaan gembira pada anak-anak yang menjadikan setiap hujan merupakan balasan dari Tuhan atas doa mereka, dan membasahi jiwa-jiwa yang tandus dengan

Gempa di Ujuang Tahajud

Oleh:
SALWA memperlihatkan riak wajah buram saat pertama kali menginjak kaki di lembaga pendidikan pesantren Budi di bawah kaki gunung Geurutee Lamno, kabupaten Aceh Jaya. Ia memang gadis anggun yang

Aku Mencintaimu Karena Allah

Oleh:
Kala matahari keluar dari peraduannya, penduduk dunia akan menikmati kilauan sang fajar. Kala matahari beranjak kembali ke peraduannya, maka seluruh penduduk dunia akan menikmati kilauan jingga sang mentari. Begitulah

Cinta Dibalik Kerudung Biru

Oleh:
Ketika subuh tiba aku membuka mata yang telah beristirahat cukup lama ini untuk melaksanakan perintah allah yang maha esa setelah aku membaca doa, setelah tidur aku menuju ke tempat

Cinta Ku Cinta Mu

Oleh:
Kata orang cinta pertama itu sulit dilupakan. Aku percaya pada serangkai kata itu. Karena cintaku pada Allah pun cinta pertamaku yang tak pernah ku lupakan sampai akhir zaman. Tapi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *