Sebuah Prinsip

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 7 April 2018

Hidup, pasti pernah ada yang namanya masa galau. Masa dimana kita dihadapkan pada suatu keputusan, bingung untuk mengambil tindakan, terpuruk akan suatu hal, merasa ini adalah akhir dari semuanya. Pasti pernah. Dan setiap orang memiliki caranya sendiri untuk menjalani dan menyelesaikan masa tersebut.

Suasana damai, musik klasik, ruangan yang didominasi warna putih, dan secangkir coklat hangat yang tersaji di atas meja sesaat setelah aku tiba di tempat ini. Dia benar-benar tahu apa yang kusuka. Tempat yang tak akan membuatku bosan menunggunya, yang sepertinya akan telat karena macet.

Memikirkannya, entah kenapa membawa pikiranku kembali mengingat percakapan beberapa tahun silam yang mengaduk-aduk pendirianku.

“Nai, katanya Fahri nembak kamu, ya?”
“Iya,” jawabku lesu.
“Loh? Kenapa nggak semangat gitu? Udah jadian, kan?”
“Belum, dan nggak akan jadian.”
“Kamu tolak?” Raisa kaget dengan apa yang aku katakan. Aku pun masih bimbang dengan keputusanku sendiri.
“Nai, ini Fahri loh, cowok yang kamu idolakan dari jaman SMP. Jangan mengkhianati hatimu, kamu nerima dia, kan?”

Fahri, nama yang tidak sengaja kuketahui dari salah satu buku di perpustakaan. Buku yang membawaku pertama kali menemuinya, mengenalnya. Namanya, entah kenapa sudah menempel di otakku. Wajahnya, sering muncul dalam imajinasiku. Tapi aku tahu, semua itu salah, tidak boleh.

“Naila, Fahri itu cowok yang sempurna. Ganteng, pintar, kaya, baik. Dan yang terpenting dia itu sholeh. Jarang ada cowok paket lengkap seperti itu,” Raisa sedikit gemas karena aku tidak menjawabnya.
“Tapi kamu tau kan, Sa. Sejak tahun terakhir di SMA, aku jauh berubah. Aku sudah punya pegangan sekarang, punya prinsip. Aku udah janji sama diri aku sendiri untuk selalu mengikuti ajaran Allah. Salah satunya tidak berpacaran.”
Raisa mulai diam, dan seperti memikirkan sesuatu.
“Dan lagi, kalaupun Fahri se-sholeh yang kamu bilang, dia nggak mungkin ngajakin aku pacaran,” lanjutku.
“Kalian kan bisa ta’arufan.”
“Ta’aruf tidak menjamin semuanya berjalan lancar. Dan bagiku, ta’aruf sama saja dengan berpacaran, mendekati zina.”

“Kamu memang sudah berubah, Nai. Pandanganmu terhadap hidup sudah seperti ustazah yang berpengalaman.”
“Terima kasih, aku anggap kamu memujiku.”
“Tapi Nai, kamu beneran nggak mau?” Raisa mulai lagi.
“Raisa, pernahkah kamu mendengar kata-kata ini? ‘Wanita yang baik, untuk lelaki yang baik’. Jadi aku ingin memperbaiki diriku dengan berjalan di jalan Allah. Aku hanya ingin mencintai suamiku kelak. Dan masalah Fahri, aku menganggapnya sebagai ujian yang diberikan Allah. Jika memang dia adalah jodohku, kelak kita akan bertemu langsung di hadapan Allah mengucap janji suci, tidak dengan berpacaran atau semacamnya.”
Raisa tidak mendebatku lagi. Dia berusaha mencerna setiap kata yang dengan lancar kuucapkan tadi. Semoga saja dia bisa mengerti dan berhenti mengungkit masalah ini lagi.

Benar apa yang dikatakan ustazah dulu, jika kita berada di jalan baik, kita akan mendapatkan banyak cobaan. Karena lewat cobaan itulah, kita akan selalu belajar dan menjadi lebih baik lagi.

Ingatan-ingatan masa lalu itu terhenti ketika bel di pintu masuk restoran berbunyi. Seseorang masuk ke dalam restoran dan berjalan ke arah mejaku. Aku tersenyum saat mata kami bertemu. Seseorang yang kurang lebih satu tahun ini telah menjadi bagian dari hidupku. Suamiku, Refahri Fadriawan.

Cerpen Karangan: Yulia Pratiwi
Blog: allriseyuliaa.blogspot.com
Hanya penulis amatiran yang mencoba terus berkarya

Cerpen Sebuah Prinsip merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Untuk Kamu

Oleh:
Assalamualaikum wahai Kamu, Apa kabarnya hati dan iman mu saat ini..? semoga masih dalam kecintaan kepada Allah. Aku yakin saat kamu baca tulisan ini kamu masih belum mengenalku, walaupun

Bukan Sebatas Patok Tenda

Oleh:
Semburat senyumnya menyapa pagi. Meneteskan embun-embun yang bergantungan di pucuk dedaunan. Hari ini adalah hari yang akan sangat melelahkan bagi Melati. Karena sekolahannya akan mengadakan Perkemahan Tamu Ambalan (PTA)

Menunggu Ikhwan Yang Baik

Oleh:
Rasa gundah yang semakin hari semakin menggangguku. Menanti sebuah suara dering yang timbul dari handphone yang kuletakan di atas meja tepat di sebelah kursi tempat aku bersandar. Suara yang

Istikharah Cinta Uwais

Oleh:
Kota Semarang yang asri dengan sejuta kenangan dan keindahannya. Hamparan suasana perkotaan yang berada di pesisir lautan berombak, semilir angin subuh bertiup membawa hawa sejuk kedalam jiwa. Sebagian masjid

Qalbi Mustaqun Ilaika Akhi

Oleh:
Perkenalkan namaku adalah putri… Bukan putri dari seorang raja atau pun bangsawan. melainkan, putri dari seorang ayah dan ibu yang begitu menyayangiku. begitu sayangnya dia sampai-sampai dia mengirimku ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *