Senandung Muharram

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 20 May 2017

Besok adalah deadline terakhir pengumpulan cerpen lomba dalam rangka merayakan tahun baru Islam. Namun, belum ada sedikitpun ide untuk menulis, sampai kertas halaman dokumen di laptopku masih putih bersih sekarang. Kuhela nafasku entah untuk yang ke berapa kalinya dalam satu jam ini. Kutatap sendu layar laptopku. Ya Rabb, sesungguhnya hambamu ini membutuhkan sedikit saja ide agar bisa menuntaskan amanat dari kawan-kawan.

“Assalammu’alaikum”
Suara salam membuyarkan lamunanku. Kutengokkan kepalaku saat sebuah tangan menepuk ringan bahuku. Kulihat seorang lelaki muda berperawakan tinggi tersenyum ke arahku. Membuat pipiku terasa panas sekarang. Rasa malu hinggap di diriku.
“Wa’alaikumsalam. Siapa ya?” tanyaku padanya.
Ia tak menjawab. Malah duduk di depanku dan tersenyum lagi ke arahku.
“Saya Alim. Dulu kita pernah berjumpa di Toronto. Kamu ingat?”
“Alim siapa?” tanyaku bingung. Aku tak memiliki gambaran siapa lelaki yang berada di depanku kini. Apa betul kita pernah bertemu? Atau hanya berpapasan saja? Tapi jika berpapasan, tidak mungkin dia mengenalkan dirinya padaku. Ah, sungguh pelupa sekali diriku ini.
“Hahaha” tawanya terdengar merdu di telingaku. “Wajar kamu lupa. Pertemuan kita memang sudah lama sekali.”
“Maaf” ucapku tulus.
“Sudah tak masalah. Kamu terlihat sedang kalut. Ada yang bisa kubantu?”
“Ah ini, besok hari terakhir pengumpulan cerpen untuk lomba tapi aku belum menemukan ide”
“Memang apa temanya?”
“Muharram”
Ia tersenyum miring mendengar kata ‘Muharram’. Aku mengerutkan dahi melihat responnya. Apa ia bisa memberiku sedikit ide?

“Aku mempunyai sebuah kisah yang terjadi di bulan Muharram. Hanya kisah sederhana. Jika kamu mau menuliskannya, aku akan berterima kasih namun jika tidak, itu bukan masalah besar” ucapnya. Senyuman masih terlukis di wajahnya. Kenapa lelaki ini tak berhenti tersenyum? Apa ia berniat membuatku malu terus-terusan? Astaghfirullah. Apa yang kupikirkan ya Rabb.
“Alhamdulillah jika kamu mau membantu. Bisa ceritakan padaku bagaimana kisahnya?” tanyaku sembari mempersiapkan jari-jariku ke atas keyboard laptop.
“Ketiklah dengan kata-kata indah setiap yang kuceritakan” ucapnya.

“Sepi sekali malam tahun baru ini, kang. Berbeda dengan malam pergantian tahun yang biasanya” ucap Rayhan sembari menatap sendu langit Toronto yang berhiaskan bintang itu.
“Jelas lah, Ray. Kita kan sedang berada di negeri orang yang mayoritasnya adalah non islam. Jadi nggak mungkin kita merasakan malam tahun baru Islam seperti di pesantren dulu” sahut Alim.

Rayhan menghela nafasnya. Hatinya menangis. Betapa ia merindukan suasana malam tahun baru di Pondok Pesantren Gontor beberapa tahun lalu. Merindukan ayat-ayat suci Allah yang dilantunkan dengan merdu. Merindukan makan bersama dengan wadah nampan di masjid besar. Ia merindukan semuanya.
Berada di negeri orang untuk menuntut ilmu bukanlah hal yang mudah. Apalagi, mereka berada di negeri yang mayoritasnya adalah orang non islam. Masjid pun bermil-mil jauhnya dari tempat mereka tinggal. Butuh waktu beberapa jam untuk sampai ke masjid itu. Di tempat mereka kuliah pun, tempat ibadah antar agama dijadikan satu tempat.

“Andai dulu aku mendaftar ke Al-Azhar ya, kang. Mungkin tidak seperti ini rasanya”
“Hush. Nggak baik berandai-andai seperti itu. Nggak bersyukur ya kamu” ucap Alim tegas. Tak lupa tangannya memukul kepala Rayhan yang sedang melankolis itu.
“Astaghfirullah, maafkan hamba ya Rabb”
“Sudahlah. Ayo kita masuk ke dalam saja daripada disini terus kamu malah melankolis nggak jelas”
Alim beranjak dari tempatnya dan menarik tangan Rayhan. Mereka beriringan memasuki pintu apartemen dan berjalan menuju ke kamar mereka tinggal.

“Kang, sholat hajjat terus tadarus yok” ajak Rayhan sesampainya mereka di kamar. Alim tersenyum mendengar penuturan Rayhan. Tumben anak ini ngajak begituan, biasanya sholat aja harus diingetin dulu, batin Alim.
“Ayo ayo” sahut Alim semangat.

Mereka pun bersama merayakan malam tahun baru Islam dengan yang seharusnya umat muslim lakukan. Ayat-ayat suci Al-Quran dilantunkan secara bersahutan dari mulut keduanya. Air mata tak terbendungkan dari mata mereka berdua. Mereka bersyukur karena masih diberi umur panjang sehingga akan melewati hari-hari di tahun baru dalam ketaatan kepada yang Maha Agung.

Rayhan dan Alim sedang berbaring sembari menatap langit-langit kamar mereka. Di kasur yang terpisah mereka memikirkan hal yang berbeda. Alim memikirkan tugas yang belum juga kelas padahal deadline sudah lusa sedangkan Rayhan masih dalam pikiran rindunya pada Pondok Pesantren. Suara handphone Rayhan membuyarkan lamunan mereka. Rayhan bergegas membuka handphonenya dan membaca pesan yang masuk. Iapun terduduk saking senangnya setelah membaca pesan yang masuk.

“Kang! Tanggal 10 Muharram nanti komunitas ‘Love Allah’ dari perkumpulan muslim di kampus bakal ngadain acara amal” ucap Rayhan pada Alim.
Alim memiringkan badannya dan berkata, ”Acara amal apa?”
“Kita bakal ke masjid yang ada di ujung selatan Toronto ini. Tau kan, kang?”
“Widih, apa nggak kejauhan tuh?”
“Ya nggak tau kang. Soalnya cuma masjid itu satu-satunya yang ada panti asuhan sekaligus asrama tahfidz bagi orang muslim di Toronto”
Alim mengangguk paham.
“Akang ikut kan?” tanya Rayhan penuh harap.
“Nggak tau ya. Kalau nggak sibuk sih” jawab Alim sembari kembali menatap langit-langit kamarnya.
“Ayolah kang! Masa akang mau melewatkan acara seperti ini”
“Kamu kan tau, Ray. Aku sedang diburu tugas sekarang”
“Ah akang, jadi sekarang akang menomor duakan Allah?” ucap Rayhan sarkastik.
Alim bangun dan duduk di kasurnya. Ia mengusap wajahnya lalu menghela nafas. Selalu saja Rayhan pintar memojokkannya seperti ini.
“Bukan begitu, Ray. Aku—”
“Alah sudahlah, kang. Lama di negeri orang jadi gini kau, kang. Padahal biasanya akang nomer pertama di acara amal saat di Pesantren” cibir Rayhan.
Ia pun membanting handphonenya ke sebelah bantal.
“Astaghfirullah, Ray. Bukan begitu maksudku” sergah Alim.
“Sudahlah kang, tak usah mengelak. Aku ngantuk”

Rayhan membaringkan kembali badannya dan menutup mukanya dengan bantal. Ia merasa kesal dengan sahabat seperjuangannya itu. Bisa-bisanya sahabatnya itu masih mempertimbangkan acara penting seperti ini. Padahal ia yang sering lupa sholat dan bersedekah. Tapi yang menomor duakan acara amal malah sahabatnya. Dunia ini memang membingungkan.

“Apakah kisahnya sesederhana ini?” tanyaku setelah menghentikan jari-jariku menari di atas keyboard.
Alim menyesap minumannya dan tersenyum lagi. Lelaki ini sungguh tidak pegal daritadi tersenyum terus.
“Ya memang sesederhana itu. Kenapa? Apa kisah ini tak bisa membawamu pada kemenangan?” tanya Alim.
“Hm, bukan seperti itu. Hanya saja—”
“Ayo lanjutkan. Aku tak sabar menceritakan bagian selanjutnya”
Alim mengusap cangkir kopinya dan menatapku intens. Senyuman tak luntur dari wajahnya. Aku yang ditatap begitu hanya bisa menunduk menatap layar laptopku dan mulai mendengarkan kembali kisah Alim di Toronto.

“Alhamdulillah kang, akhirnya akang mau ikut juga” ucap Rayhan sembari merangkul bahu Alim. Alim hanya membalas ucapan itu dengan senyuman.
Mereka berjalan beriringan keluar dari kampus menuju ke tempat ibadah. Di sana sudah berkumpul banyak mahasiswa muslim, dari Indonesia maupun dari Negara lain.

“Assalammu’alaikum” kata Rayhan mengucapkan salam dengan suara keras. Semua mata tertuju ke arah mereka. Membuat Alim merasa malu namun hanya di pendamnya dan diperlihatkannya senyumannya.
“Wa’alaikumsalam” sahut mereka.
“Jam berapa kita akan berangkat?” tanya Rayhan pada ketua panitia acara amal ini, Axel.
“Hm, sekarang. Sebenarnya tinggal menunggu kalian saja” jawab Axel membuat Rayhan merasa kaget.
“Astaghfirullah, maaf membuat kalian menunggu” ucap Rayhan kepada Axel. Mungkin kalian berfikir bahwa Axel adalah seorang bule. Namun nyatanya memang benar, ia seorang bule yang memiliki ayah orang Indonesia. Jadi jangan heran jika ia bisa berbicara bahasa Indonesia.
“Ayo kita berangkat”

Seluruh rombongan berjalan menuju ke bus yang sudah disiapkan. Barang-barang yang akan disumbangkan untuk anak yatim disana sudah disiapkan di dalam bagasi. Di dalam bus, mereka melantunkan sholawat bersama. Bahkan, canda tawa juga tak terelankan diantara mereka. Rasa kekeluargaan terasa sangat kental. Walau mereka dari jurusan yang berbeda-beda namun agama mempersatukan mereka. Membuat mereka terjalin dalam ukhuwah.

Butuh waktu 7 jam sampai akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Sekarang sudah jam 2 siang di Toronto bagian selatan. Merekapun turun dan menyiapkan barang-barang yang akan diberikan pada pihak panti asuhan dan masjid tersebut. Mereka jalan berbondong-bondong masuk ke dalam masjid dan disambut oleh banyak anak yatim serta tahfidz sudah duduk di dalam masjid. Begitu pula pengasuh-pengasuh anak-anak tersebut.

Usai menaruh barang-barang tersebut di tengah. Acara penyambutan dan pengajian kecilpun di mulai. Acara ini dipimpin oleh ketua panitia serta seorang pengasuh tempat tersebut. Ayat-ayat suci Al-Quran di lantunkan dari mulut mungil para tahfidz di tempat tersebut. Doa-doa juga dipimpin oleh anak-anak disana. Subhanallah, sungguh betapa indahnya ciptaan Allah.

“Ssst kang” bisik Rayhan pada Alim setelah doa selesai.
“Apa?” sahut Alim.
“Cantik sekali wanita itu kang” ucap Rayhan dengan mata berbinar membuat Alim mengerutkan dahinya.
“Yang mana?”
“Itu” tunjuk Rayhan pada salah satu wanita bule berjilbab besar di ujung barat. Wanita itu berperawakan kecil dan hidungnya sangat mancung.
“Keliatan dia mu’alaf”
“Iya ya kang. Jadi ingin meminang rasanya”
“Hush. Jangan ngawur”
Alim memukul pelan kepala Rayhan. Membuat Rayhan mengaduh kesakitan.
“Akang ini, hobi sekali memukul kepalaku. Makin bodoh nanti aku bagaimana” protes Rayhan.
“Sudah ayo berdiri” ajak Alim ketika ia melihat kawan-kawannya yang lain berdiri. Ah, ini acara salam-salaman dengan anak-anak.

Anak-anak pun berputar menyalami satu persatu mahasiswa yang datang kesana. Para mahasiswa itu tak melewatkan hal tersebut untuk mengelus rambut mereka. Seperti yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Bahwa baik adanya mengelus rambut anak yatim di bulan Muharram.
Acara tersebut berlangsung sampai ba’da isya’. Mereka melewatkan buka bersama serta sholat jama’ah maghrib dan isya’ disana. Acaranya berlanngsung lancer dan menyenangkan. Setelah acara usai, Axel bergegas menyuruh kawan-kawannya untuk berpamitan ke pengasuh dan anak-anak di sana.

“Maaf tunggu sebentar”
Alim menghentikan langkahnya yang hendak naik ke atas bus. Ia menoleh ke belakang saat dirasa seseorang menepuk bahunya. Alim terpana melihat wanita yang memanggilnya. Ia terdiam cukup lama sebelum wanita itu akhirnya berkata,
“Ini milikmu kan?” tanyanya sembari menyodorkan sebuah handphone pada Alim. Alim hanya bisa mengangguk pelan karena masih terkagum dengan ciptaan indah Allah yang berada di depannya.
“Ini ambil”
Alim mengambil handphonenya dan wanita itu langsung melenggang pergi. Alim secara tak sadarpun berteriak, “Tunggu! Siapa namamu?”
“Salwa” sahut wanita itu.
“Salwa. Aku alim” teriak Alim namun wanita itu keburu masuk ke dalam panti asuhan. Hatinya berdegup kencang tiba-tiba saat wanita itu meneriakkan namanya.
“Kang, ayo masuk” tegur Rayhan pada Alim yang masih terdiam di pintu bus.
“Eh iya, ayo ayo”

Aku menghentikan jariku yang menari di atas keyboard. Aku terdiam setelah Alim menceritakan bagian ini. Sekarang aku ingat siapa Alim ini. Mendadak hatiku berdegup kencang mengingat kejadian yang sudah 2 tahun berlalu itu.

“Kenapa berhenti?” tanya Alim.
“Aku sekarang ingat siapa kamu” jawabku tanpa berani menatapnya.
Dari sudut mataku, kulihat ia tersenyum lalu meletakkan cangkir kopinya setelah menyesap air kopi tersebut.
“Kalau begitu, tanpa aku pandu, kamu bisa meneruskan sendiri cerpen tersebut kan?”
Aku terdiam. Memang betul aku bisa meneruskan jika yang diceritakan adalah kisahku. Namun, yang diceritakan di sini adalah kisahnya. Jadi aku tak bisa.
“Sebenarnya aku menghampirimu hanya untuk memberi ini”
Alim mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih dari tasnya dan memberikannya padaku. Aku mengambil amplop tersebut dan hendak membukanya namun suara Alim menahanku.
“Bukalah setelah aku pergi dari sini” ucapnya. Ia menutup tasnya dan menggendongnya lalu beranjak dari kursi itu.
“Assalammu’alaikum” ucapnya kemudian ia melenggang pergi begitu saja.
“Wa’alaikumsalam” jawabku pelan.
Aku meraba amplop itu. Menimang-nimang dan berfikir apakah isi dari amplop tersebut. Sebenarnya aku terlalu takut melihat. Aku takut jika itu ternyata surat undangan pernikahan atau sejenisnya. Kenapa aku takut? Kalian bisa menebak sendiri bagaimana perasaanku. Namun akhirnya, dengan mengucapkan basmalah aku membuka amplop tersebut. Isinya bukan surat undangan namun kertas yang diatasnya ditulis dengan tulisan tangan. Aku membacanya dengan seksama dan tanpa kusadari air mata menetes dari sudut mataku.
“Alim…” Lirihku.

Teruntuk Salwa,
Assalammu’alaikum Salwa. Aku yakin jika kau lupa denganku. Aku sudah menunggu dua tahun untuk bisa bertemu denganmu lagi. Mungkin kau memang tak mengenalku tapi aku sudah banyak mencari tau tentangmu. Namun, aku masih ragu untuk menghubungimu sekalipun aku memiliki kontakmu. Aku masih terlalu takut dan malu. Hari ini aku tak sengaja melihatmu dari sudut café dan kutulis surat ini untukmu.
Salwa, aku hanya ingin mengatakan. Maukah kau menjadi pelengkap agamaku?

Alim

Cerpen Karangan: Ayodhea Wibowo
Blog: frappeoreo.blogspot.com

Cerpen Senandung Muharram merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Calon Imam Ku

Oleh:
Kring.. kring.. hp-ku berdering. “Riska.” nama yang tampil di layar hp-ku, aku langsung mengangkatnya. “Hallo.. Assalamualaikum..” “Waalaikumsalam.. hai Fan, lagi ngapain?” tanyanya. “emm.. lagi baca-baca buku aja hehe tumben

Terikat Dalam Sajadah Cinta

Oleh:
Siang ini matahari enggan tersenyum kepadaku. Ia lebih senang menutup diri di balik gumpalan kapas putih di langit. Aku pun enggan beranjak dalam aktivitasku. Aku yang setiap hari selalu

Cinta Atas RidhoNya

Oleh:
“San, kamu sudah cukup umur Le. Apa belum ada wanita yang sreg di hatimu?” tanya Ummi Husna pelan. “Masih belum siap lahir batin Ummi. Hasan ragu, apakah ada wanita

Satu Keinginan Yang Tak Terduga

Oleh:
Namaku Nia, aku sekolah di SMK swasta semester akhir, aku bercita-cita ingin masuk di salah satu universitas islam di bandung. Saat aku mengenalnya lewat akun facebook namanya Agung -nama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *