Setitik Asa Untuknya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Islami, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 22 March 2017

Lidahku kelu. Pikiranku kalut. Tepat seminggu yang lalu, kamu mengatakan hal yang sudah lama seharusnya kamu katakan. Tentang rasa, asa dan mimpi yang telah dirancang sedemikian rupa olehmu. Mungkin kamu telat. Atau mungkinkah masih ada secercah harapan yang tersisa untukmu? Entahlah. Aku juga tidak tahu pasti.

Kamu bagaikan zat toxic yang kerap meracuni pikiranku. Semua perhatianku tersita ketika kamu berbicara di depanku. Setelah sekian lama, kamu baru menyadari hal itu. Siang dan malam silih berganti. Aku dilema. Dalam sujud ku berdo’a, meminta petunjuk kepada-Nya, apakah kamu orang yang tepat untukku?

Hatiku gamang. Aku tidak ingin hal itu terulang lagi. Kala dimana kamu enggan berbicara sepatah kata pun denganku. Aku bahkan tidak mengerti apa salahku. Kamu menghindar dariku dan menganggapku seolah tidak ada. Kita seperti dua orang yang sebelumnya tidak pernah saling kenal. Jurang keegoisan antara aku dan kamu menjadi semakin nyata. Miris rasanya. Aku selalu tersenyum getir saat kamu melintas di hadapanku.

Hingga di suatu penghujung hari yang cerah, akhirnya kamu memulai percakapan itu lagi. Hatiku lega. Amat lega karena melihatmu berbicara dan tersenyum riang di hadapanku sudah menjadi satu kegemaran baru untukku. Mungkin waktu itu aku hanya terlalu berprasangka terhadapmu. Tidak seharusnya aku mengambil kesimpulan bahwa kamu marah denganku.

Semilir angin membuatku dapat berpikir jernih. Hatiku mulai tersingkap. Aku tidak ingin berdusta bahwa sebenarnya aku juga menginginkanmu, bahkan sejak awal kita bertemu.

Saat itu, tepat pada malam purnama di bulan Ramadhan, kamu datang ke rumah dan bertemu dengan kedua orangtuaku. Aku tidak mengira kamu seberani dan secepat ini mengambil langkah. Ya, kamu yang pada malam itu melamarku di depan kedua orangtuaku. Aku terkesima dengan ucapanmu. Tetapi, di sisi lain aku sangat senang karena artinya kamu tidak ingin kehilanganku. Kedua orangtuaku pun menyerahkan keputusannya padaku. Spontan aku menjawab iya dan kedua orangtuaku merestui hubungan kita. Kamu terlihat lega dan bahagia. Pun denganku.
Ternyata, rencana-Nya sungguh indah dan membekas di relung hatiku.

“Kalau setiap cerita hidup kita selalu indah, hati ini tidak pernah kenal dekat dengan kata sabar dan ikhlas.”
“Kalau setiap yang kita inginkan terus dikabulkan, kita tidak pernah tahu indahnya mendekati Allah bersama jutaan do’a dan harapan.”
“Kalau setiap harapan selalu berjalan sesuai rencana, kita tidak pernah belajar bahwa kecewa itu menguatkan.”
“Kalau kamu percaya takdir, aminkan dalam hati, kita bertemu suatu hari nanti…” (Dan aku percaya takdir itu)

Untuk kalian yang sedang dalam masa penantian…
Salam dari kota hujan

Cerpen Karangan: Oktrioza Handriyani
Facebook: Oktrioza Handriyani
Nama saya Oktrioza Handriyani, biasa dipanggil Oza. Sekarang saya sedang berkuliah di Politeknik AKA Bogor semester 1.

Cerpen Setitik Asa Untuknya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Tidak Ingin Jatuh Cinta

Oleh:
Bel alarmku berbunyi. Kring… kring… Kring… “Aira, bangun sayang,” panggil Bunda seraya menarik selimutku. Tepat pukul 04.00 itu tandanya aku harus bangkit dari tempat tidurku. Karena hari ini adalah

Antara Adik dan Calon Istriku

Oleh:
Aku sudah menjalin hubungan yang serius dengan Rio. Dia berjanji akan menikahiku jika aku sudah wisuda nanti. Dia sangat serius ingin menjadikanku istrinya. Aku pun bersyukur bisa mengenalnya dekat.

Ana Uhibbu Ilaik

Oleh:
Pagi hari yang sangat sejuk, matahari mulai menampakkan sinarnya. Sinar kekuningan mulai muncul di sebelah timur. Saat ini aku sedang menyiram tanaman yang ada di pekarangan samping rumahku. Sungguh

Sama

Oleh:
“Cinta adalah anugerah Tuhan, dari-Nya untuk insan ke insan lainnya.” Burung-burung tengah berkicauan di bangunan suci yang dibangun pertengahan 1987an. Matahari baru merekah di ufuk timur, memulai aktifitas harian

Loker

Oleh:
Pagi sendu, mendung.. bagai awan tak ingin menunjukan dirinya pada matahari, memperlambat langkah Rafsya, seorang mahasiswi di salah satu universitas terkemuka di kota Jakarta, gadis yang sedang merantau dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *