Simpan Saja Dulu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 16 August 2013

“Aku mohon maafkan aku…”
Viby melingkarkan jemarinya di tangan Husna. Dengan spontan Husna mencoba menghindari pegangan tangan itu, elakkan tangan husna memisahkan dua insan, Husna dan Viby. Tak disangka dan tak seperti di sinetron yang biasanya seorang laki-laki berlari meredakan gejolak amarah di hati wanita idamannya, viby sendiri berlari ke koridor sekolah, menjauhi husna dengan gemercik air di mata, tak dapat dibendung, asanya terlalu kuat hingga ia harus membasahi pipinya.

“Cowok ko nangis, banci lo…!” suara di ujung koridor itu memecahkan gejolak hati viby, disertai hentakan sepatu hijau lumut yang mengerikan layaknya dikubur jutaan tahun lamanya.
“Siapa kamu?” mata sipit viby semakin mengecil mencoba menajamkan penglihatannya kepada orang yang hanya terlihat silhuetnya, terbentuk dari cahaya menyilaukan mata.
“hahaha… Viby, inget posisi lo di sekolah ini tuh ketua OSIS mau dikemanain tuh wibawa lo kalo sampe anak-anak sesekolah pada tahu kalo ketua OSIS nya cengeng kaya lo…”
“Tommy… itu lo kan?” suara lelaki itu mulai tidak asing di telinga viby, ya Tommy teman terdekat viby.
“Yoi masbro, kenapa lagi luh? Bisa kacau reputasi seorang Tommy kalo sahabat gua ketauan obral air asin,”
“Apaan lu tom, jadi lu gengsi ceritanya punya sahabat kaya gue?”
“jiah elu vib, ga tau gue ngerangkai kata itu susah banget supaya elu kaga nangis. Bro lu tu cowo men, inget!!! Seorang sahabat ga bakalan rela dan ga bakalan tahan liat sahabatnya sendiri terpuruk kaya gini.”
“Tumben lo, dapet kosakata tentang sahabat dari mana? Haha, bicara aja lu gagap,”
“eits jangan salah men, susah payah gue nyari kata-kata itu dari buku yang dipenjemin Husna, yang itu loh The secret apa lah itu susah… tadinya sih itu buat gombalin cewek-cewek kenalan gue, hahaha,”
“Parah luh…” senyum getir terlukis di bibir viby yang kembali terlihat murung saat terlontar nama Husna dalam ucapan Tommy.
“Nah loh, napa lo murung lagi. Mahal amat ceria lo saat ini. Apa jangan-jangan karena nama Husna?”
“Tuh lu tau,”
“Yah mamen, kenapa lagi si lu? Belum juga lu ungkapin perasaan lu ke Dia?”
“Justru itu…”
“Di tolak? Hemm… gue ikut ngenes bro!” tommy menepuk pundak viby.
“Kalo gue ditolak, gue ga bakal kaya gini-gini amat.”
“La terus?”
Viby mulai menceritakan semuanya pada Tommy diawali dari kisahnya di malam minggu dengan sekotak bugis.
“Semenjak satnight itu, waktu gue memberanikan diri dateng ke rumahnya bawa sekotak kue bugis sikapnya jadi berubah, meski waktu itu yang nerima Ibunya, jadi dia ga keluar. Dia mulai menjauh dari gue, ya meski ga keliatan sih. Secara kita satu organisasi, tapi sikapnya ga bisa bohong. Seperti biasa kita masih suka sms-an, dan seminggu itu bener-bener fase yang ga nyaman buat gue, di dunia nyata dia mulai jaga jarak sama gue, padahal itu baru permulaan gue ngasih signal dengan ngasih dia kue. Di sms pun dia beda. Dan tiba saatnya malem sabtu kemarin gue beraniin sms dia tentang perasaan ini. Gue nunggu semenit dua menit, sejam dua jam akhirnya rasa ngantuk mengantarkan gue ke alam mimpi.”
“stop stop, to the point aja lagi, jadi gimana akhirnya. Jangan bilang lo mau cerita dulu mimpi lo lagi,”
“santei dong masbro… please sabar dengerin gue,”
“oke. Terus gimana lagi tuh?” Tommy mencoba menguatkan pertahanan matanya agar tak tertidur, antisipasi viby cerita kesana kemari, kebiasaan viby kalau lagi curhat. Viby melanjutkan ceritanya tentang hal yang terjadi di minggu paginya, saat matanya terbuka hal yang pertama dia lakukan jelas, tanpa berpikir panjang tangannya langsung merayap-rayap mengelabui wilayah di sekitar ranjangnya, YA! Yang dilakukannya adalah mencari Handphone, jantungnya berdegup kencang seakan besar harapan ada nama Husna di Inbox handphonenya.

Hem… buka kunci lalu tekan bintang. Taraaaaaa… muncul gambar wallpaper bendera merah putih di HPnya, tidak tumpang tindih dengan message apapun. Malang, tak ada balasan dari Husna. Gelisah, malu, sedih, kecewa mulai memenuhi pikirannya saat itu. Tombol off ditekannya sekuat tenaga, melayanglah HP itu dan mendarat di antara bantal-bantal yang berserakkan. Berfikir keras, ia tak ingin Husna menjauhinya, yang ada di fikiran viby, Husna tak menginginkan keberadaan hati viby untuk singgah di hati husna. Sudahlah… desah kecil dari hatinya. Beranjak bangun dan mengambil Air wudlu adalah hal untuk mengobati rasa pedih di hatinya.

“Assalamu’alaikum… Assalamu’alaikum…” ucapan salam seusai shalat terdengar dari mushala kecil di dekat kamar viby, alat penunjuk waktu yang setia berbunyi kembali, menandakan tepat jam tiga dini hari. Viby berjalan ke luar dari mushala itu, dikerumuni rasa penasaran untuk membuka HP nya. Barangkali Husna semalam sudah tidur dan di waktu tahajud ia selalu terbangun. Selangkah, ah dia mengurungkan niatnya. Bayangan kekecewaan menghantui pikirannya. Dia masih ingat saat pertama kali HP nya berdering tepat pukul 02.30 wib, hari itu baginya begitu istimewa saat akan mengikuti kejuaraan basket sewilayah Bandung dia mendapat sms dari Husna untuk pertama kalinya saat duduk di bangku kelas VII SMP, yang isinya “Sholat tahajud dulu yu, biar dapat kelancaran saat tandingnya…” sungguh gembiranya bukan main. Sms pertama dari Husna, seorang wanita yang mereka sebut muslimah idaman para ikhwan. How sweet! Muslimah itu sekarang menjabat sebagai ketua sekbid kerohanian di OSIS. Dia juga koordinator sekaligus penggerak ROHIS bagian keputrian di SMPN 23 Antapani, Bandung. Betapa tidak, dari mulai kelas VII, viby sudah menyimpan perasaannya kepada Husna. Semua ingatan itu sungguh menyayat hatinya. Sampai akhirnya di bangku kelas VIII inilah viby mengungkap isi hatinya yang tiada balasan dari Husna.

Tommy mengangguk-anggukan kepalanya,
“woy Tom, tidur lo..? gue cerita panjang lebar ga lu dengerin,”
“huaa… viby masbro, seperti firasat gue. Cerita lo bonusnya kebanyakan. Ngantuk gua,”
“tega bener luh,”
“yowis, tetep positive thinking viby masbro, mungkin belum saatnya dia membalas cinta lo. haha”
“Dia memang berbeda…”

Sms balasan dari husna tak kunjung datang, tentulah HPnya di off oleh viby. Namun,
Minggu, 9 juli 2009 pukul 16.43 WIB. Ibu jari viby menekan tombol power menandak turn on untuk Handphone viby yang kemudian masih menginizialiting SIM. 2 menit berlalu viby terus memandangi wallpaper handphonenya. *tuttenenettt* begitulah kira-kira suara HP Viby yang mengisyaratkan ada sms masuk. Viby bergegas membuka kunci tombol hp nya, terpampang dengan jelas ada nama husna di layar hp viby, sungguh kehebohan jantungnya mengalahkan gerakan harlem shake sekeren apapun itu. Perlahan namun pasti, ibu jari viby melakukan tugasnya untuk membuka sms itu agar diketahui isinya oleh mata. Dan terbukalah sms itu, sms dari husna:
“Bismillah…
Viby maafkan husna.”
Meski viby tau maksud Husna yang meruntuhkan harapannya itu, dia M E N O L A K V I B Y .
Namun, viby tetap membalas sms Husna :
“iya husna, aku mengerti. Maaf jika aku telah lancang. Kenapa husna minta maaf? Husna tidak perlu meminta maaf. Harusnya viby yang minta maaf ke Husna, aku mohon maafkan aku, aku tak ingin Husna menjauh, maafkan aku L”
Muncul lagi balasan Husna,
“maksudmu apa vib? Lancang? Memangnya kenapa? Ngga, husna minta maaf karena dengan berat hati esok husna tidak bisa ikut terjun di acara peski, padahal itu tanggung jawab husna. Husna tak sehat, dan husna harus ke dokter. Jadi sampaikan juga permohonan husna ke teman yang lain, afwan (maaf),”

Viby tak mengerti, kenapa Husna tak sedikitpun berbicara tentang sms yang viby kirim tadi malam. Viby mulai kecewa, marah dan salah tingkah. Dia langsung mematikan HPnya kembali. Sampai di senin pagi, di sekolah viby tak melihat Husna, dalam hati kecilnya dia mendo’akan semoga Husna lekas sembuh. Sore dan malam pun tak ada sms dari Husna. Resah terus menerus dipikiran viby, matematika pun sebagai pelajaran favoritnya ia tinggalkan sejenak, karena matematika tak bisa dikolaborasikan dengan kegalauan yang mendalam. *JLEB

Selasa pagi, viby berangkat sekolah dengan tak terpancar semangat di wajahnya. Adik kelas yang mengaguminya pun kehilangan keceriaan sang ketua OSIS di sekolahnya itu. Viby menundukan kepala, terus dan terus sampai akhirnya ia tiba di kelas. Kelas viby bersebelahan dengan kelas Husna. Pagi itu viby ada tugas razia. Husna bisa masuk sekolah dan ikut andil dalam tugas itu, mereka berpapasan. Husna memberikan senyum namun hanya senyum getir dari wajah viby.
Selasa siang, saat seluruh OSIS berkumpul rapat wajib rutinas setiap minggunya.
“Assalamu’alaikum…” husna dan meymey nampak terlambat menghadiri kumpul OSIS itu.
“Wa’alaikumsalam, dari mana saja kamu?” Tanya viby terlihat lebih sinis.
“Maaf viby kami tadi dipanggil bu dewi untuk evalusi acara kemarin peski,” jawab Husna.
“Viby ga nanya Husna, tapi viby tanya meymey. Lagian Husna ga ikut acara peski kemarin. Kenapa harus ikut-ikutan terlibat evaluasi, husna istirahat saja, kalo sakit kan nanti repot,” mata viby tak sanggup melihat husna.
Husna tak mengerti mengapa sikap viby seperti itu kepada Husna, jelas saja perkataan itu membuat hati husna compang-camping. Husna hanya terdiam, matanya tertuju ke lantai.
“Vib, maaf kalo gara-gara kemarin husna sakit terus ga ikut acara, haruskah viby semarah itu? Husna tak ingin viby marah, sekali lagi mohon maafkan Husna” [berhasil dikirim ke Viby 085220230620, Senin 10 Juli 2009 pukul 15.45] Sesaat kemudian balasan sms dari viby…

“Husna maafkan viby telah bersikap seperti itu tadi disekolah, ada hal yang ingin viby tanyakan, boleh?”
“ya… tapi semua itu membuat husna tidak mengerti dan sedih saat sikap viby tidak seperti biasanya”
“maaf ya, husna sehat? emmm… husna, waktu itu ada sms dari viby?”
“waktu yang mana? Alhamdulillah sehat”
“malam minggu kemarin, benarkah husna tidak tahu tentang itu?”
“sms yang mana vib? Maksudmu apa? Tentang apa?” Husna semakin tidak mengerti. Viby justru lebih tidak mengerti, di kotak terkirim padahal dikatakan berhasil terkirim pesan malam itu.
“kamu yakin husna? Tidak ada sms dari aku? Atau kamu hanya berpura-pura tidak tau? Aku tau aku tak seperti yang kau harapkan L”
“Husna semakin ga faham vib, tentang organisasi kah? Waktu malam minggu husna tak memegang handphone, handphonenya ada di Ayah”
Digenggamnya erat Handphone viby, ayahnya? Mungkinkah sms itu terhapus? sejenak matanya melihat langit-langit yang penuh tempelan bintang karet berwarna-warni. “Haruskah ku ulangi? Malam itu saja butuh keberanian yang tinggi” tersirat dalam benak viby.
“husna… aku pernah membaca buku hadist nabi disitu diterangkan bahwa Rasulullah berkata kepada seorang pria: jika kau mencintainya maka katakanlah” Viby hanya membalas pertanyaan husna seperti itu.
Begitu membaca kata-kata itu, mata husna menajam. JANGAN-JANGAN? Hati husna menduga-duga sesuatu akan diungkap oleh viby. Dia berusaha menstabilkan perasaannya.
“Lantas apa artinya viby memberi tau tentang hadist itu?”
Dengan tak berfikir panjang lagi, viby segera membalas sms Husna dengan penuh keberanian.
“Viby … menyukai husna, viby sayang sama Husna dan rasa cinta ini sungguh tenggelam dalam hati viby selama ini, semenjak Husna masih berseragam merah putih dengan pita dijilbab husna saat MOS. Aku masih ingat ketika guru komputer kita mengatakan kita punya kesamaan. Husna rasa ini sungguh tak mampu kubendung lagi, bahwa viby benar-benar menyayangi husna dari hati viby yang sedalam-dalamnya hanya untuk husna seorang, wanita yang begitu berbeda.”
Huh… akhirnya dia ungkapkan juga.

Sementara itu Husna termenung, konflik batin yang melanda hatinya laksana perang meteor dan benda langit lainnya, begitulah imajinasinya setelah membaca buku luar angkasa miliknya. Wajahnya memerah, suhu tangannya turun drastis. Misteri hatinya masih belum terkuak, dia begitu takut. Astagfirullah, menepuk pipinya. “Husna, ayolah… manage hatimu” Husna berusaha menstabilkan. “Aku tak mempercayaimu Vib” ucapnya ketus dalam kesendiriannya di ruangan 5 x 6 meter itu. Segera ia membalas pesan viby.
“Terus husna harus bagaimana viby?” tanya husna polos.
“masa husna tidak mengerti, seperti remaja lainnya. Bagaimana husna menanggapi perasaan viby? L maaf viby telah lancang dan terlanjur mengatakan ini.”
“Aku mengerti maksudmu, viby… aku pun menyukaimu. (*wajah viby bersemangat, awal yang baik. Viby melanjutkan membaca sms dari Husna*…) Namun, sukaku terhadapmu sama halnya dengan sukaku terhadap Tommy, Indah, Fauzy dan teman lainnya. Apalagi mengenai dirimu dengan prestasi akademik maupun nonakademik. Husna suka semua itu. Ya tapi, suka husna hanya sebatas itu, husna tak bisa melebihi semua itu. Viby sahabat Husna selama ini, husna menyayangi semua sahabat husna.”
Husna menghentikan pembicaraannya sampai disitu.
“…” Speechless, viby tak mampu berkata-kata lagi, dengan kata lain Husna menolaknya.
Uhuh… Husna menghela nafas. Matanya berbinar, ditebalkan oleh air. Penyakit ukhuwah yang selama ini dia takutkan membayang-bayangi hatinya. “Aku tau bukan imanmu yang rombeng, namun pasti mengerdilnya imanku yang lebih utama,” tutur kata husna mengiringi pengairan di sekitar wilayah pipinya yang memerah.”
“terimakasih Husna atas tanggapanmu. Wassalam…” jawab viby singkat. Husna tahu, viby pasti kecewa, perhatian viby yang selama ini husna rasakan, sikap viby yang terkadang aneh, tingkahnya tidak wajar, TERNYATA? Itu cinta. Cinta, rangkaian lima huruf yang berbeda. Jangan pernah mencoba merangkai semua huruf-huruf itu jika kau belum memahami bagaimana menyikapi kata yang dihasilkan saat semuanya telah terangkai.

“Woy Vib, jiah malah ikut-ikutan tidur. Btw sampai mana ya dia cerita. Bangun woy vib, udah mau Ashar nih,”
Semilir angin yang lembut masih setia lalu lalang di koridor itu. Viby yang tertidur lelap melepas semua ingatannya tentang husna setelah mereka berdua tak saling sapa juga kejadian lepas tangan di awal tadi merupakan terakhir kalinya mereka komunikasi di hari itu.

“Shodakallahul’adzim…” Husna menutup Al-qur’annya seusai kajian duha pagi itu. Meymey mendekatinya.
“Na, mau nulis apa kamu?” melihat husna yang mengeluarkan binder bergambar Angry Bird dari tasnya.
“Surat” Jawabnya singkat.
“Hah? Firasatku itu diperuntukan kepada Viby, apa kau berubah fikiran atas perasaanmu? Awas na, jangan sampai hatimu mendekati zina,” tak disangka meymey melontarkan perkataan seorang sahabat yang dimaksudkan untuk mengingatkan Husna. Meymey memang lebih polos dibanding husna, sifat kekanak-kanakan masih melekat pada dirinya, namun untuk urusan agama ia begitu semangat untuk mendalaminya.
Husna menoleh dan melihat meymey, husna merubah posisi kepalanya yang dari tadi menunduk. Hanya tatapan kosong dilemparkan husna, tak kuasa melihat meymey. Sampai akhirnya dia menyelesaikan tulisannya. Isi surat Husna:

Teruntuk viby
Di Tempat

Bismillah…
Viby, ada beberapa hal yang ingin aku katakan.
Pertama,
Mengenai hadist itu, aku pun pernah membaca, namun ada keterangannya. Rasulullah pada saat itu posisinya bersama seorang pria, dia mengatakan “ya rasulullah, sahabatku itu sangatlah dekat dengan Allah. aku sungguh mencintai dia karena Allah” sedangkan yang dia sebut sahabat ialah seorang pria juga. Jadi intinya, seorang muslim boleh mengatakan perasaannya dan jika dia mencintai seseorang maka katakanlah padanya. Cinta disitu bukanlah cinta nafsu, namun cinta atas rasa kagum tentang kesalihan. Boleh mengatakan cinta, tetapi misal dari Ikhwan (laki-laki) ke ikhwan, dari akhwat ke akhwat (perempuan). Kalaupun ingin mengatakan rasa cinta itu ke lawan jenis, katakanlah kepada banyak orang tidak tertuju hanya pada si dia.
Kedua,
Di kedalaman hatiku, tersembunyi harapan yang suci, tak perlu engkau menyaksikannya. Tak perlu dengan kata-kata. Menjauhimu adalah caraku membalas desakkan pedih dari hati kecilku. Sungguh walau kukeluh tuk mengungkapkan perasaanku, memang seharusnya perasaan itu harus tetap tenggelam disini, di hati kecilku, namun penantianmu pada diriku selama ini, sangat ku hargai. kalau memang kau pilih aku tunggu sampai waktunya datang. Kini belumlah saatnya, aku membalas cintamu. Sungguh dan sesungguhnya hanya Allah yang mengetahui isi hati setiap hamba-Nya. Nantikanku dibatas waktu.

Bandung, 12 Juli 2009
Husna

Husna melipat surat itu, dan bergegas beranjak pergi. Meymey menghentikan langkah husna,
“apa Mey? Aku hanya ingin memberikan surat terakhirku untuk memperbaiki silaturahmiku dengannya,”
“Tidakkah perkataan itu merupakan sebuah signal atau kode bagi viby bahwa secara tidak langsung kau pun mengungkapkan perasaanmu?”
Husna terhentak. Meymey melanjutkan perkataannya “Akankah kau biarkan perasaan terus membunga-bunga di hati viby, memikirkan dirimu yang belum halal baginya dalam penantian viby? Kita masih SMP na, jauh sekali pemikiran kesana, perasaan kita masih tepat disebut cinta abal-abal yang sangat minim manfaatnya. Sanggupkah penantian yang amat panjaaang sekali?”
Husna memeluk meymey, dan menyelipkan surat tadi di diarynya, biarlah tersimpan disitu saja. Sementara itu Viby dengan bola basketnya menguasai lapangan, Husna dan Meymey melewati lapangan basket.
“Husna…!” teriak viby menghentikan drible bola basketnya. Husna melihat ke arah viby,
“Segera buatkan proposal LCC ya,” ucap viby dengan keringat menghiasi senyumannya yang riang gembira.
“Iya siap laksanakan…”
“tampaknya dia pun tak begitu terpuruk, kenapa kau harus terpuruk na,” bisik meymey memberi kode untuk Husna melupakannya.
“Husna? Anti Galau. Haha” J sambil berlari.
“Hemm… gayamu Husna Ar-rayan.” Mengejar husna. Viby menyembunyikan senyumnya.

Amalia, Selasa Rabu 16-17 April 2013

Cerpen Karangan: AMD
Facebook: www.facebook.com/amalia.alhusna
gemar menulis yang masih membutuhkan saran

Cerpen Simpan Saja Dulu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hanya Terlukis Pedih

Oleh:
Berawal dari tempat kerja, kami memulai komunikasi ini, komunikasi awal yang masih jelas tersimpan dalam ingatanku adalah saat dia meminta tolong padaku untuk menemaninya pergi merujuk pasien ke rumah

Hurt

Oleh:
Ya siapa lagi kalau bukan dia. Dia adalah cowok ganteng yang pertama kali gue liat sejak pertama kalinya gue masuk kelas X IPB. Awalnya gue cuma deket biasa, ehh

Ketulusan Dini

Oleh:
“Diniiii…” Suara keras dan tepukan tangan di bahunya memgagetkan sekaligus membuyarkan lamunanya seketika. “apa seh may, ngagetin aja” sewot Dini “udah lah Din kamu lupain aja si Rangga, kamu

Cinta Yang Sederhana (Part 2)

Oleh:
Ruang tamu.. “Nahh.. akhirnya udah siap. Cantik banget anak umii.. Subhanallah, yu berangkat” “Hmm umii bisa aja,” “Habis pulang wisuda kita makan siang dulu yaa di rumah makan deket

Kamu, Cuma Kamu!

Oleh:
“Aku nggak tahu mesti gimana nanggapin kabar itu, Dit. Kenapa harus sejauh itu? Kenapa nggak di Jakarta saja?,” protes Indah disela-sela tangisnya. Tak ada jawaban yang terdengar, hanya sebuah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *