Sketsa Indah Sang Fathir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 21 August 2017

Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB, persiapan kepindahan dua bersaudara ini sudah hampir selesai. “Aramiah cepatlah kemasi barang barangmu, mobil barang akan datang dalam waktu 30 menit” ujar pria bertubuh tegap berambut pendek itu, “Aa, memangnya kenapa kita harus tinggal di bandung, aku sudah nyaman tinggal di sini” ujar Aramiah sembari memasukkan barangnya ke dalam koper orangenya.
“Mia, Aa tahu kamu suka di jakarta, namun apa kamu tidak rindu dengan abi dan umi? Toh nanti kalau kamu sudah lulus SMA di sana pasti kamu akan ikut paman Ali di Rawamangun untuk belajar sastra arab di UNJ itu kan yang kamu mau? Toh bandung jakarta itu deket banget kok” ujar kebohongan kecil Yusuf untuk meyakinkan sang Adik agar mau tinggal di Bandung. Ia tahu betul perasaan saudari kecilnya ini, sejak kecil hingga sebesar ini ia sudah terbiasa tinggal dengan hiruk pikuk ibukota jakarta, namun apa daya jika tuntutannya sebagai kakak harus melanjutkan pendidikan S2 nya di ITB berdampak atas kelangsungan kehidupan sang Adiknya. Karena ia tak mungkin meninggalkan adiknya tinggal sendirian di Jakarta.

“Aa Yusuf, Aa udah bilang kak Khadijah?”, seketika perkataan Mia membuat mata Yusuf terbelalak lebar, jantungnya pun berdebar-debar kencang, pikirannya mulai kacau entah berpikir apa ia, bibirnya pun ingin merespon namun kekuatannya terbagi antara mengendalikan emosinya dengan menahan air mata agar tidak jatuh dari matanya. bagaimana tidak, wanita yang ingin di ta’arufin nya itu sudah keduluan dilamar anak walikota, mau tak mau ia harus merelakan wanita yang ia idam idamkan.
“Aa, kok bengong aja sih! Jawab dong, Mia penasaran tahu”, sontak Yusuf pun kaget dan menjawab “mungkin memang belom jodoh nya Aa, kan masih banyak wanita yang lebih baik” Mia hanya membalas dengan senyuman dan pukulan kecil untuk menyemangatkan kakak sulungnya.

“assalamualaikum” ujar suara lelaki yang menarik perhatian Yusuf, “waalaikumsalam, masuk pak, langsung diangkut saja ya barangnya, Cuma sedikit kok, ada rak piring dan kompor di dapur, peralatan masak dan makan sudah dikemas di kardus gambar magic jar, ada kulkas kecil, terus kasur 2 buah beserta bantal dan gulingnya, pakaian dan kain kain ada di dalam kardus gambarnya boneka, oh iya TV, CD dan barang elektronik masuk mobil saya saja ya, oh iya sama box, lemari, dan kursi meja serta motor yang ada di teras depan juga diangkut aja, sisanya kaya sendal sama ember masuk aja di mobil saya. buku buku juga masuk mobil saya” jelas Yusuf, Mia pun segera mengangkut koper dan bonekanya memasuki mobil kakak sulungnya. “Mia tunggu di mobil aja ya, Aa mau ngurus barang barang dulu Ok, atau gak Mia mau ke warung dulu beli minum, ini uangnya kembaliannya Mia pegang aja” perintah sang kakak. Mia pun meraih gadgetnya dan menuju ke warung depan Gg jalan kos kosannya.

“ibu beli teh nya 4 botol ya, sama chikinya 4 dan rotinya 2” ujar Mia, “semuanya jadi 18 000 neng” ujar si ibu warung, saat ia ingin membayar jajanannya, sontak mata Mia terbelalak karena melihat seorang wanita berkudung biru di ujung jalan, wajahnya yang tak asing membuatnya kaget setengah mati, ia bingung harus berbuat apa, semakin lama wanita itu mendekatinya hingga ia tak sadar bahwa kini wanita itu sudah berada di hadapannya.
“Assalammualaikum Mia, kamu cantik deh pakai gamis warna hijau, seleramu memang sama dengan Yusuf kakakmu” ujar wanita itu sembari melemparkan senyuman manis kepadanya, “kak… kak… kakak Khadijah? Kakak apa kabar kok bisa ada di sini?” ujar Mia terbata bata. “ooh nggak, soalnya kakak dengar kamu dan Yusuf mau pindah ke bandung ya?” ungkap Khadijah sembari tersenyum lebar, namun pernyataan itu sontak membuat kaget Aramiah yang membuatnya keheranan “lho kok kakak tau?”, Khadijah pun kembali tersenyum dan membelai kepala Aramiah

Sementara di garasi Yusuf yang sudah siap siap berkemas mulai khawatir karena adiknya yang tak kunjung pulang, namun dari pada menunggu dan berharap harap cemas ia pun segera menghubungi adiknya

“emmm, kak maaf ya, aku ada telepon dari Aa Yusuf, sepertinya mobil kita mau berangkat sekarang deh kak” ujar Aramiah di tengah keheningan. “iya gak apa apa kok sayang, oh iya, hati hati ya di sana salam untuk abi dan umi mu sayang” respon Khadijah, tanpa komando Aramiah langsung meraih tangan Khadijah dan menciumnya.
“sampai jumpa kak, assalamualaikum” salam perpisahan pun Aramiah ucapkan sambil berjalan membelakangi Khadijah, ia pun langsung berlari menjauhi Khadijah dan kembali ke rumah lamanya, atau mungkin bisa dibilang “mantan” rumahnya.

Sesampainya di rumah lamanya, ia melihat segerombolan orang orang yang sudah tak asing lagi baginya dan Aa nya, Aramiah pun segera menghampiri Aa nya dan mendekat ke belakang badan Aa nya
“ini yus, titipan buat ummi kamu di bandung, ibu masih banyak hutang budi sama ummi kamu yus, sebenernya kita semua ke sini mau kasih kenang kenangan juga buat kamu dan Aramiah, kalian selalu membantu kami dalam bermasyarakat, kamu dan Aramiah pun tidak pernah absen dari kerja bakti atau kegiatan kegiatan yang membutuhkan kerja sama” ujar sang ibu Rt
“iya yus, pakde juga merasa kesepian kalo kamu dan Aramiah pergi, pasalnya kalian sudah pakde anggap seperti sodara pakde sendiri yus, nanti kontrakan ini jadi sepi lagi to?” sambung pakde bejo sambil mengelus kumisnya yang rapi itu
“ya sudahlah, kalian ini jangan bikin yusuf dan Aramiah sedih lagi lah, nanti mereka jadi tak tega tinggalkan Rt kita ni, sudah sudah ini dari tulang, rawat baik baik ya! Jangan lihat harganya lah, yang penting kau manfaat kan dengan baik, paham kau yus” ujar tulang bonar sembari menyerahkan sebuah bingkisan yang ternyata di dalamnya adalah kain ulos khas sumatera utara
“makasih ya bapak bapak ibu ibu atas perhatian kalian kepada kami, kami juga sudah sangat menganggap kalian sebagai keluarga kami” ujar Yusuf
“yaelah yus, lu kan orang baek, lu pasti bakalan cepet dapet temen dah di sana, dah sono lu berangkat dah bukannya aye ngusir nih, masalahnye nanti macetnye kaga nahan dah” saran mpok indun
Aramiah dan Yusuf pun menyalami dan berpamitan kepada pakde bejo, tulang bonar, mpok indun dan yang lainnya dan memberikan salam perpisahan.
“kapan kapan main ya ke sini kalo kalian sempat” ujar dimas teman Yusuf saat di karang taruna kp. lemon
“sip deh dim, nanti kalo gue mampir ke sini gue bawain tanah dari sana hehehe” canda Yusuf
Aramiah dan Yusuf pun masuk ke mobil karena waktu yang semakin berjalan dan juga takut kemalaman saat sampai di kampung halamannya. Di dalam mobil Yusuf pun sempat membuka kaca jendela mobilnya agar dapat melihat senyuman tetangganya yang sudah berbaik hati mau mengurus mereka, tak lupa Aramiah pun melambaikan tangan penuh senyuman kepada mereka.

4 jam mereka lalui di perjalanan yang lumayan melelahkan, kemacetan tak luput dari perjalanan mereka hingga akhirnya mereka sampai di kediaman umi dan abinya, Mia dan Yusuf segera menghampiri umi dan abinya untuk melepas rindu selama 6 bulan terakhir. Mereka pun segera berbincang bincang ria di dalam kehangatan keluarganya, tak lupa Yusuf memberikan amanah berupa bingkisan dari tetangganya sebelum berangkat tadi.
“umi, perabotan dan barang barang yang lain akan datang jam 8 malam, soalnya tadi jalanan macet banget mi” ujar Yusuf, “ya sudah yus kamu makan dulu sana, sekalian panggil Mia di kamarnya, soalnya dia bilang tadi lagi mandi” perintah sang umi, Yusuf pun segera bangkit dari sofa dan menjalankan perintah uminya yang sedang menyiapkan hidangan bersama mbok iyem di dapur.

Yusuf pun menghampiri kamar sang adik, dari luar ia mengetuk pintu dan berkata “Mia, makan dulu yuk disuruh umi, mandinya jangan lama lama” teriaknya dari depan pintu.
“iya A, nanti aku ke sana, aku lagi pake baju soalnya” ujar Mia, “ya udah jangan lama lama, nanti abi yang turun tangan ya hehehe” sambil menggoda Mia dari luar.

“ya Allah, Aramiah bingung mau gimana kasih tau Aa soal tadi aku sama ka Khadijah, aku gak mau ya allah bikin Aa Yusuf jadi sedih dan marah, tapi Mia juga gak mau bohong” do’a nya dalam hati.
Dengan perasaan yang campur aduk, Mia tetap turun untuk makan malam bersama, ia tak sanggup melihat raut wajah Yusuf yang akan berubah drastis ketika ia akan berbicara dengannya, namun bagaimana lagi, amanah tetaplah amanah ia tak bisa berbohong atau menyembunyikan hal ini, Mia pun terus menerus meyakinkan dirinya agar mau berterus terang dengan Aa nya.

“Mia, kok bengong sih sayang?” tegur sang Abi, sontak Mia sangat terkejut dan mencoba mencari cari alasan “mm, tidak apa apa kok bi, tadi Mia hanya mikirin para tetangga kp. Lemon bi, mereka tadi pada sedih saat kita mau ke sini” pungkir Mia sembari melemparkan senyuman pada sang abi. Makanan di meja pun sudah habis dilahap seluruh anggota keluarga, Mia pun akhirnya kembali ke kamarnya dan mengambil sepucuk amplop dari ranselnya, ia pun beralih ke kamar Yusuf dengan jantung yang sangat amat bergemuruh dan keringat dingin yang menetes dari pelipisnya

“A.. Aa… Aa ada di dalam kan? Aku boleh masuk gak?” izin Aramiah. “masuk aja Mia, pintunya gak di kunci kok” respon dari dalam kamar, saat membuka pintu kamar Aa nya, yang pertama kali ia lihat adalah Yusuf yang sedang merebahkan tubuhnya sembari bermain game online kesukaannya.
“Aa, Mia mau ngomong serius sama Aa, tapi Aa jangan marah sama Mia ya?” ujar Aramiah secara tegas sembari mengacungkan jari kelingkingnya, Yusuf yang nampak kebingungan dengan sikap adiknya pun akhirnya mengangguk tersenyum sembari mengacungkan jari kelingkingnya untuk menyambut acungan kelingking Mia.
“ini dari kak Khadijah, tadi pas aku ke warung dia titip ini buat Aa, aku belum lihat isinya kok jadi masih original dan belum second kok hehehe” usaha Mia untuk mencairkan suasana hati kakaknya yang amat pelik. Ia pun berdoa dalam hatinya agar Aa nya tidak marah ataupun membentaknya. “syukron Mia” terima kasih Yusuf dalam bahasa arab “wa iyyaki” balas Mia dalam bahasa arab juga, Mia pun keluar dari kamar Aa nya untuk memberi waktu luang pada Aa nya.

Di kamar, Yusuf membuka titipan yang diberikan untuknya, saat ia membuka amplop itu, yang pertama kali terlihat olehnya adalah sebuah buku sketsa. “lho, ini kan buku kesayangan Khadijah, kok dia malah kasih ke aku sih?” ujarnya dalam kebingungan, ia pun memberanikan diri membuka buku itu. Saat lembaran pertama dibuka olehnya, ia terhenyuk sekali, karena gambar yang ia lihat adalah sketsa kejadian dimana Yusuf bertemu dengan Khadijah untuk yang pertama kalinya saat bertemu di organisasi universitasnya dulu, lembaran demi lembaran Yusuf lihat dengan seksama senyuman pun mulai terukir di wajah pria berumur 25 tahun ini, setiap lembaran yang ia lihat, semakin mengundang kembali ingatan lamanya terdahulu, hingga pada lembaran terakhir yang membuatnya keheranan, yakni sebuah sketsa bergambar seorang wanita yang meninggalkan seorang pria dan berbalik ke arah pria yang sering muncul pada gambarnya, “apa ini yang dimaksud dari ucapan Khadijah ya? Tentang ayahnyalah yang masih memilikinya?” pikir Yusuf dalam hati, “ah ilah ribet amat dah, fokus dulu Yusuf, fokus sama S2 kamu!” sugesti Yusuf untuk dirinya sendiri sembari menyimpan buku skets itu di rak buku besarnya bersama dengan buku bukunya yang lain, meskipun begitu bayangan wanita idamannya itu tak pernah hilang dari hati maupun pikirannya.

Pada sepertiga malam, Yusuf pun bangun dari hibernasinya. Ia mulai mendirikan qiyammul lail sebagai kebiasaanya yang sudah terjadi sejak 10 tahun terakhir, usai sholat ia pun mulai berdoa yang di dalam do’a nya ia berkata “ya Allah, andai ia yang terbaik untukku, maka dekatkanlah, jika bukan maka berilah yang terbaik untukku dan menurut kehendak mu ya Allah. Sungguh, hanya kepadamu lah aku memohon dan bersandar atas masalah yang kuhadapi kini, sertai aku dengan rahmatmu Amin”

Keesokkan harinya Mia dan Yusuf pun mulai beradaptasi dengan lingkungan mereka, berawal dari iklim dan suhu, masyarakat, cita rasa, maupun budaya, perlahan mereka coba untuk menerimanya, begitu pula dengan waktu, hari demi hari telah mereka lalui, kini Yusuf sudah memulai aktivitasnya di kampus, sedangkan Aramiah sudah masuk di salah satu SMA di Bandung.
Aramiah pun sudah mulai akrab dengan teman teman barunya, “Mia, kamu bisa gak ajarin aku kimia? Aku bingung atuh! Kalo nomor atom dari perak itu apa sih? 97? Atau 47? Aku lupa bawa tabel periodik soalnya” ujar rina salah satu teman baru Mia, Mia hanya tersenyum dan menjawab “47 rin” . Sedangkan Yusuf mulai sibuk dengan makalah, essay, dan tugas tugas kuliah lainnya.

“yus, nanti presentasi kamu yang bawa materi ini ya? Jangan lupa bawa miniatur jembatannya yang udah kita buat kemarin, ampe capek atuh cari tuh bahan kesana kemari” keluh ujang sembari memberi selebaran materi yang harus ia kuasai besok, saat Yusuf tertawa akibat ulah ujang yang mengeluh tiada henti, mata Yusuf tak bisa lepas dari seorang wanita yang tidak asing lagi baginya, benar yaitu wanita yang sempat membuatnya patah hati dan penyemangatnya juga “Khadijah!” teriak Yusuf yang membuat ujang terkejut dan spontan menutup telinganya yang berdenging akibat ulah Yusuf yang berteriak secara tiba tiba, ketika ia hendak menegurnya, Yusuf sudah berlari menjauh darinya.

“Khadijah! Khadijah!” panggil Yusuf berkali kali tanpa patah arang sampai akhirnya wanita itu pun menoleh ke arah Yusuf, “Yusuf” gumamnya. Yusuf kini sudah berada di hadapan Khadijah, namun nafasnya masih tersengal sengal dan kini Yusuf berusaha mengatur kembali nafasnya agar kembali normal. Beberapa detik kemudian Yusuf mulai bangkit dari posisi memegang sikunya dan mulai menatap Khadijah “apa yang kamu lakukan di sini Khadijah?” tanya Yusuf terheran heran, “menuntut ilmu lah” balas Khadijah dengan nada yang menunjukkan keheranan karena pertanyaan Yusuf yang mengejutkan dirinya. “bukannya kamu sudah dikhitbah dengan hendry?” tanya Yusuf kembali, kali ini Khadijah merubah raut wajahnya dan memalingkan wajahnya “aku sudah menolaknya, ia memiliki sifat yang kurang baik dan tidak terpuji, maka aku tidak menerima khitbahnya” ungkapnya kepada Yusuf.

Benar benar sebuah berkah dari Allah yang maha mendengar, hatinya serasa melayang keatas. Kini ia senang bukan main karena pengakuan Khadijah yang menolak khitbah hendry. mungkin benar tentang janji Allah bahwa ketika ia memberikan kesulitan, maka ia akan memberikan kemudahan baginya. Tanpa pikir panjang Yusuf berkata “aku tidak akan pernah mau berhubungan denganmu sebelum aku meminta izin dari ayah mu,” ujar Yusuf, kini Khadijah nampak kebingungan dengan ucapan Yusuf untuk kedua kalinya, meskipun begitu kini wajah Khadijah mulai memerah “maksudnya?” tanya Khadijah agar diberi penjelasan yang sejelas jelasnya dari Yusuf, “liburan panjang nanti, aku akan mengajukan permintaan kepada ayahmu agar aku dapat berta’aruf denganmu, tentunya aku akan membawa keluargaku ke sana” jelas Yusuf tanpa basa basi, Khadijah pun berbalik dan membelakangi Yusuf seraya berkata “seorang lelaki dapat bereporduksi kapan saja, bahkan hingga tua sekalipun, namun hal itu tidak berlaku untuk wanita yus, aku tunggu janjimu, namun tidak selamanya, kini keputusan ada di tanganmu, apakah kau akan mewujudkan sketsa indah sang fathir atau kau hanya berangan angan cemas saja”, Khadijah pun menatap lurus kedepan sambil tersenyum dan meninggalkan Yusuf. “mungkin ini adalah sketsa yang kau atur sedemikian rupa wahai sang pencipta” ucap syukur Yusuf dalam hati

tamat

Cerpen Karangan: saruma
Facebook: salma salsabilla
newbie yang mau coba coba hal baru
wanita tulen yang suka dibilang ganteng
berhijab itu pilihannya

Cerpen Sketsa Indah Sang Fathir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Yang Tak Pantas

Oleh:
“Cinta tidak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan, itulah keberanian atau mempersilakan.” (Ali bin Abi Thalib) Kutipan tersebut seakan menjawab keraguanku selama ini kepada seorang pria, sebut saja

Bintang Hati Ku (Part 2)

Oleh:
“benarkah?” “santri mana?” “jawa barat.” Aku terdiam, “haa jangan-jangan dia satu pondok denganku.” tanyaku dalam hati. “pondok modern di jawa barat bukan?” “yaaa benar.” Mendadak aku tersenyum dan hatiku

Tak Mampu Mengubur Rasa

Oleh:
Langkah akhir adalah ikhlas. Ketika sebuah ketulusan dipatahkan begitu saja. Saat lelaki idaman sejak kutahu apa itu cinta, tak hujung kuraih. Lara aku rasa, miris aku kenang, berbaur perih

Ana Uhibbuka Fillah

Oleh:
Hari minggu pagi yang cerah, Aisyah sedang menyirami tanaman hias yang ada di depan rumahnya itu. Terdengar alunan suara merdu dari bibir mungil Aisyah. Selain suaranya yang merdu, parasnya

Pacar Bukanlah Segalanya

Oleh:
Hari itu aku sedang mengikuti MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Aku berada di gugus 3 bersama sahabat karibku Putri. kakak pembimbingku adalah kak riko dan kak citra. Kak riko

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *