Sungguh Aku Percaya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 1 August 2020

Malam menyelimuti sepinya hari yang merubah segala keceriaan menjadi sejuknya ketenangan jiwa dalam peristirahatan. Indahnya rembulan bak bunga yang mekar di taman dan bintang bagaikan kumbangnya. Namun semua itu berubah saat dia meninggalkanku sendiri disini. Teringat janjinya yang membuai jiwa seakan hati ini terbelah dan dirinya dengan mudah masuk ke dalam jiwaku membawa sejuta harapan dan keinginan yang mendalam kepadanya. Sinar rembulan seakan ikut meratapi kesedihanku, ingin rasanya kucurahkan isi hatiku kepada rembulan namun apa daya ia bahkan lebih jauh dari yang kuharapan, membuat hati ini semakin merasa sangat kesepian dan membuatku seakan tak berdaya dengan semua kadaan ini.

Kususuri jalanaan malam dengan penuh kehampaan, kutinggalkan sejuta canda dan tawa teman-temanku dengan meninggalkan tanda tanya bagi mereka tentang perlakuanku akhir-akhir ini. Teringat saat ia mengatakan bahwa cintanya tak bisa dipertahankan untuk diriku dan dia memilih meninggalkan kenangan dan janji-janjinya yang telah ia ucapkan saat dulu. Tak kusadari ini begitu berat bagai memikul seribu serpihan hati yang telah remuk. Bahkan aku tak tau apa yang harus kuperbuat dengan keadaan ini, atau mungkin bertahan di kehidupan yang menurutku menyedihkan ini.

Kuhentikan mesin beroda dua ini di depan rumahnya, sengaja kumelewati depan rumah gadis pemilik rambut ikal itu, berharap ia akan menantiku di depan teras seperti yang selalu ia lakukan saat kami akan menuju sekolah bersama. Teringat saat awal ku mengenalnya, saat dimana dia belum mengenalku sepenuhnya hingga kami mengungkapkan perasaaan mendalam ini dan itu adalah kenangan dimana aku sangat bahagia dan kurasa tak ada lelaki sebahagia diriku saat itu, dan kini sebaliknya kurasa tak ada lelaki yang menyedihkan kecuali diriku sendiri. Entahhlah, mungkin ia benar-benar sudah tak mengharapkanku lagi.

Namun sesaat hati ini terasa menemukan semangat lagi sesaat kulihat terang lampu yang baru menyala di kamarnya, aku yakin pasti kini ia tengah mendengar deru suara motorku dan sesaat lagi ia akan turun dan memeluku sebagai mana yang ia lakukan saat ia merindukanku. Namun entahlah, lama sekali ku menunggunya untuk turun. Ku amati lagi jendela kamarnya yang kini terlihat terang. Tak ada yang kulihat kecuali hanyalah bayangan seorang perempuan yang kini hendak memakai kerudung yang panjang yang menurutku mungkin itu adalah mukena.

Pukul dua dini hari, oh tidak, kini baru kusadari bahwa ia memang benar berubah sepenuhnya. Kupejamkan mata ini serasa menahan rasa keputus asaan yang mendalam. Teringat saat itu ia memutuskan hubungan ini sesaat setelah ia mengikuti organisasi keagamaan di kampus. Awalnya aku tak mempermasalahkan urusan ini hingga setelah ia menunjukan hal yang menurutku bukan dirinya yang sesungguhnya. Mulanya ia memakai pakaian yang menurutku terlalu ribet hingga sifatnya kepadaku yang mulai menjauh dan hingga kini perlahan ia meninggalkanku.

Hari beganti, sinar mentari pagi menembus dedaunan yang terkena embun sisa indahnya malam. Kutarik nafas dalam-dalam berharap ia akan menemuiku seperti apa yang telah kujanjikan denganya. Tak lama diri ini menunggu, kini kulihat seorang gadis dengan gamisnya yang melambai begitu anggun. Sungguh hati ini tak bisa menahan diri untuk melambaikan tangan dan mengatakan, Sayang aku disini menantimu. Namun apalah, kurasa tak mungkin kulakukan dengan perubahanya saat ini. Kini ia telah berdiri persis didepanku. Tak banyak pergerakan darinya selain tundukan dan palingan mukanya dariku.

“Aku masih banyak urusan, dan aku harap kamu mengerti kesibukanku.”
Kurasakan begitu indah setelah beberapa minggu lamanya tak mendengar suara lembutnya, walau caranya yang mengagetkan lamunanku dan cara bicaranya yang agak kasar dengan sedikit cuek.
“Owh iya pasti… USTAZAHku yang cantik… Aku ngerti… Tapi sebelumnya kamu harus jelasin semuanya dulu.” Terang dan desakku dengan nada merayunya.
“Jelasin apa lagi si Zii, semuanya udah jelas kan, Islam melarang hubungan apapun antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom…”

“Sejak kapan kamu ngomong kaya gini Rey…” Kudesak ia dengan nada yang mulai kunaikan seakan ingin rasanya kuluapkan kemarahan dan kesedihanku padanya. Kulihat lekat-lekat kelopak matanya yang selalu ia sembunyikan, namun sesaat ia tersenyum seakan telah menemukan jawaban dan kecerahan yang mungkin hendak ia sampaikan kepadaku selama ini.
“Sejak aku mengenal keindahan menjadi seorang muslimah sejati, dan kamu tahu itu semua begitu indah, bahkan lebih indah dari apa yang kubayangkan sebelumnya.”
“Indah, kamu bilang ini semua indah dengan menyisakan tanda tanya untuku, Rey tiga tahun kita jalani bersama, tapi mengapa…”
Entahlah ku tak bisa meneruskan kata-kataku selain hanya gerakan tangan yang mengisaratkan ketidak puasanku atas perlakuanya dan caranya memutuskan hubungan ini.

“Ziiiii…, Kamu lihat siapa dirimu, Muhammad Hirzi anak dari seorang ustad terpandang yang saat ini mungkin masih tersesat dengan kenakalanya, namun siapa tau ziiii, kamu keturunan orang-orang yang alim… Dan banyak diantara mereka yang seperti dirimu lalu mereka mendapat hidayah dan menjadi orang yang alim sesungguhnya…”
Aku hanya tersenyum sesaat mendengar semua kata-katanya, kini ia hanya bisa menahan sesenggukan yang tak tau apa arti tangisan itu baginya.

“Terus kamu ngapain nangis, kalo emang seperti itu.”
Sahutku kepadanya penasaran. Dan sesaat kemudian aku melihat air matanya semakin deras, entah apa arti semua itu.
“Karena aku,”
Akhirnya ia pun bicara walau terpotong oleh tangisnya lagi, ingin rasanya memeluk dan menghapus air matanya, namun yang ku tau pasti ia akan menolak dengan keadaanya saat ini yang telah hijrah. Sesaat suasaana terasa semakin kaku karena tidak ada sepatah katapun dari kami, aku hanya bisa menahanya lekat seakan ingin rasanya kuluapkan semua perasaan rinduku kepadanya. Kulihat ia yang semakin gusar dan tak nyaman dengan keadaan ini. Kulihan tanganya yang lentik tengah mengusap sisa air matanya. Aku larut dalam suasana ini yang membuat tubuh terasa sulit tuk kugerakan. Ingin rasanya meraih dan menggenggam tanganya yang basah oleh air matanya.
“Karaena aku sayang sama kamu Zii.”

Yeah sudah aku duga akhirnya ia akan menyerah. Dan aku tahu ia pasti tengah mengatur kata-katanya untuk membujuku kembali kepadanya, seperti dulu saat aku dan dia masih menyandang status berpacaran.

“Kamu tau kan laki-laki yang baik itu pasti dapet istri yang baik, dan aku gak mau dapet laki-laki lain selain kamu, Jadi tolong Zii cukup kamu tau perasaanku, aku hanya ingin berusaha agar bias jadi yang terbaik untukmu nanti, Coba kamu bayangin, mungkin menurut orang lain kamu cowok yang nakal, suka mainin cewek, play boy, bad boy, tapi apakah mereka tahu kalo orang yang mereka anggap semua itu, adalah orang yang gak pernah ninggalin solat bahkan solat duha sekalipun, bahkan kamu sering SMS aku malem-malem dan aku yakin kamu pasti abis solat tahajud. Dan setiap kali malem jumat aku pasti selalu BT karena sms aku ke kamu ga pernah di bales, Walau alasan kamu selalu ketiduranlah atau apalah, tapi aku yakin kamu pasti gak lakuin itu justru malah, yah mungkin kamu suadah tau jawabanya…”

Aku hanya bisa terperanga mendengar penjelasanya. Tebakanku meleset tak kusangka dia bisa berpikir sejauh itu kepadaku bahkan ia bisa memahami semua aktifitasku yang mungkin hanya aku atau keluargaku yang tau semua itu. Entahlah saat ini bahkan aku tak bisa melakukan apapun selain menahan rasa kekagumanku kepadanya.

“Aku mohon Zii aku mencintaimu, tapi bukan berarti aku harus menodai cinta ini, ini anugerah terindah yang Allah titipin ke aku, dan aku percaya kalua emang kita berjodoh, pasti Allah akan mempertemukan kita dan mengumpulkan kita dalam satu atap kelak… Percayalah.”
Ujarnya yang semakin membuatku tak bisa berkutik lagi ditambah dengan senyum simpulnya yang semakin membuatku grogi..
“Oke, Dan… ya… Tapi…”
Bibirku terasa kelu untuk mengatakan apapun, seakan kata-katanya merasuk penuh kedalam hati dan jiwa ini. Bahkan otaku saja tak bisa berfikir sebagaimana kata-kata PLAY BOY yang selalu kulontarkan tanpa berpikir panjang kepada semua cewek, melainkan gerakan tangan dan mimik mukaku yang terasa membingungkan.

“Yaudah, Aku pamit dulu, sekalian aku ingin minta maaf tentang keputusanku ini, aku harap, kamu mengerti dengan keputusan yang kujalani saat ini Zii.”
“Assalamualaikum.”
“Wa… waalaikum…Salam.”
Jawabku terpatah seakan masih kalut dalam kebingungan, aku hanya bisa terdiam kaku dengan memikirkan seribu untaian kata-kata mutiaranya yang baru saja terurai di depanku.

Cinta, apakah ini yang dinamakan cinta sesungguhnya. Satu kata yang masih teringat di kepalaku, cinta bukan berarti harus menodai kesucianya. Ya Allah maafkanlah hambamu ini dengan kesesatan yang selama ini kuperbuat. Sungguh aku malu telah berada di hadapan gadis itu. Ia mencintaiku begitu dalam namun ia tak mau menodai kesucian cintanya yang telah engkau beri darinaya kepadaku, sedangkan diriku hanya bisa diperbudak oleh nafsu. Dan mungkin, ini saatnya aku mengikuti jejaknya, untuk menikmati indahnya menjadi muslim yang sejati yang mungkin lebih indah dari yang kurasakan saat ini.

Ya Allah terimakasih atas nikmatMu yang telah mempertemukanku denganya, kini aku mengerti apa arti kata cinta itu. Sungguh aku mencintainya ya-Rob jaga dia dan satukanlah kami kelak ya-Rob. Sungguh aku berharap dan percaya sebagaimana yang ia katakan, jika ia jodohku aku yakin Engkau akan mempertemukan kami kembali, sungguh aku percaya ya-Rab..

#Ketika curhatan teman dan sedikit bumbu bahasa menjadi inspirasi#

Cerpen Karangan: Firman Ashari
Blog / Facebook: cerita cinta islami

Cerpen Sungguh Aku Percaya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Balik Cadar Najwa

Oleh:
Wanita dengan sosok bercadar berlari ketakutan dalam rintikan hujan sampai ia tak sadarkan diri dan terjatuh tepat di depan gerbang pesantren. Udara sangat dingin ditambah hari yang mendung menambah

Semua Kehendak Allah

Oleh:
ALLAAHU AKBAR ALLAAHU AKBAR..!! pukul 04:40 pagi, aku membuka mata, mendengarkan lantunan adzan subuh yang begitu indah. Hati ini terasa tenang dan damai tatkala adzan berkumandang menandakan waktu sholat

Cinta Dalam Diam

Oleh:
Hari ini hari yang cerah hari dimana kumulai aktivitas kuliahku dengan penuh bahagia. Aku berjalan sembari ditemani oleh mentari yang tersenyum lebar dan embun pagi yang begitu menyejukkan. Terlihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *