Surat Wina

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 29 September 2017

Sore yang cerah, lembayung di barat tampak memerah, karena bayang-bayang mentari yang kian tenggelam. Meninggalkan hari ini, dengan segala ceritanya. Besok mungkin ia kembali dan datang dari tempat yang berbeda menulis cerita baru yang belum tahu apa kisahnya.

Aku duduk seorang diri di bawah naungan pepohonan. Bangku yang kududuki ini adalah saksi bisu kepiluanku, kegamanganku, dan beribu rasa di hati. Kukhayali, kufikirkan seluruhnya apa yang tampak di penglihatan. “Maha Suci Engkau ya Allah.” Tak sadar mulutku berucap. Kuingat kisah-kisah masa laluku yang kelam, penuh kesalahan. Dunia hitam yang pernah kutemui ia seakan terus mengikuti. Ada rasa malu dan takut dalam hati ini jika mengingatnya. “Astaghfirullâh”.

Mungkin setiap anak muda selalu ingin menikmati keadaanya. Gaya hidup yang keliru selalu jadi bagian dalam hari-harinya. Aku pun sama seperti mereka. Keadaanku saat itu begitu hina dan rendah. Setiap hari kulewati waktu hanya untuk kenikmatan dunia yang samar dan palsu. Tak perlu aku merinci semuanya, karena aku malu, aku muak mengingat itu semua.

Suatu hari aku mengendarai sepeda motor. Terkejut, seketika aku rem sepeda motor dengan perasaan kesal dan hampir marah. “Hey, kalo jalan lihat-lihat dong! Gimana kalo ketabrak, siapa yang repot?” Seketika aku terpana melihat orang di depanku yang hampir tertabrak itu. “Maaf Kang, saya buru-buru mau ke pengajian, gak lihat kalo ada sepeda motor yang lewat.” Katanya, sambil menundukkan kepalanya dan kelihatan kaget juga dia.

Wanita yang kulihat menawan, membuatku jatuh hati padanya. Wina nama perempuan itu, seorang santri pesantren yang ada di desa tempat aku tinggal. Begitu berita yang aku dengar dari orang-orang tentang perempuan itu. Hari-hariku selalu dilewati dengan hura-hura bersama teman-teman sebaya. Ugal-ugalan di jalan, yah, pokonya ngeselin orang deh gitu.
Hingga pada suatu hari tanpa sengaja aku lewat pondok dimana para santri mencari ilmu agama di sana. Aku dengar suara merdu seorang yang sedang membaca Al-Qur’an. Hatiku sedikit tersentuh, lama sekali aku tidak mendengar alunan-alunan bacaan Al-Qur’an. Terakhir aku mengaji itu ketika masih kelas 2 SMP, sekitar kurang lebih 6 tahun yang lalu. Setelah itu aku malah sering bermain tak jelas, kewajiban 5 waktu awalnya tidak pernah alpa. Namun semakin lama semakim ditinggalkan. Astaghfirullâh..

Sejak mendengar bacaan Al-Qur’an waktu itu hatiku merasa sedikit menyesal dan ingin berubah. Aku beranikan diri untuk datang ke pondok yang kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Dengan perasaan malu, aku mulai belajar tentang Islam, agama yang sudah dianut turun temurun oleh orang tuaku dari dulu. Aku semakin rajin datang ke pondok, belajar dan belajar lagi. Aku ingin merubah hidupku, hidup yang lurus, di jalan yang Allah ridhai. Setelah sekian lama hidup dalam ketidak pastian.

“Assalâmu’alaikum, kang.” Tiba-tiba suara seorang perempuan terdengar. “Wa’alaikum sallam,” jawabku sambil menoleh. “Sedang apa atuh, kang?” Dia kembali bertanya. “Ini, lagi, siapin kasih makan ikan buat di kolam Pak Kiyai, Néng.” Sahutku agak kikuk. “Dipanggil Pak Kiyai, kang!” “Oh, iya, sebentar, Neng.” Perempuan itu, dia adalah Wina yang hampir tertabrak tempo hari, suaranya pula yang kudengar melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an waktu itu. Dia memang mempunyai suara yang bagus dan fasih juga bacaan Al-Qur’annya. Wanita yatim dari kampung desa sebelah yang kini mondok di pesantren ini. Usianya beranjak 20 tahun lebih muda dua tahun dariku. Kasihan sekali dia, yatim dan jauh dari ibunya yang pergi meninggalkannya ke luar negeri jadi seorang TKW. Adiknya masih sekolah di bangku kelas 1 SMA. Mungkin alasan itulah yang membuat ibunya harus pergi meninggalkan ia dan adiknya yang sama-sama tinggal di pondok.

Suatu hari aku sempat mengobrol dengan Wina. Sekedar bersua, untuk lebih dekat sebagai seorang teman. Aku yang memang tidak menginap di pondok, aku ikut mengaji waktu malam saja, dari sholat maghrib sampai sekitar jam 9 saja, jarang bertemu dengan para santri, walaupun pernah sekali dua kali aku menginap di pondok.

Hari demi hari aku jalani dengan perubahan pada hidupku. Malam hari aku pergi ke pondok untuk menuntut ilmu. Pagi hari aku membantu keluarga jaga warung. Begitulah keadaanku, tidak lagi membuang-buang waktu untuk hal yang kurang bermanfaat. Walau suatu kali aku pernah diajak jalan oleh teman-temanku. Tapi dengan tegas aku menolak.

Tentang Wina, kian hari aku kian memikirkan gadis itu. Kami pun semakin sering bertemu di pondok. Saling menyapa dan sedikit bercakap-cakap bukanlah hal yang aneh lagi bagi kami. Lambat laun muncul perasaan di hati, perasaan sesama makhluqNya yang berlainan jenis. Setiap orang pasti pernah merasakan apa yang sedang kurasakan. Hingga pada suatu hari aku coba diskusikan tentang hal ini kepada bapak dan ibuku. Tidak ada hal yang berat ketika aku berbicara kepada mereka. Mungkin mereka pun mengerti bahwa aku sudah sewajarnya memikirkan untuk berumah tangga.

Pagi itu hari begitu cerah. Sehabis shubuh aku pun pergi ke warung membantu bapak yang kebetulan sedang kurang sehat. Aku sendiri saja sambil membaca-baca buku aku duduk di pojokan. Tiba-tiba suara salam terdengar, “Assalâmu’alaikum, kang!” Ucapnya. “Wa’alaikum sallam, eh, kamu, Win. Ada keperluan apa?”.
“Ini, kang, biasa untuk keperluan dapur pondok.”
Perasaan ini berkecamuk, sesekali aku memperhatikan gadis itu. Benar, aku jatuh hati padanya. Semakin aku memikirkannya, niatku untuk memjadikannya penyempurna agamaku semakin bulat. Aku ingin melamarnya dan menjadikannya istri untuk diriku.

Waktu terus saja berlalu, aku terus membulatkan tekad untuk meminang Wina. Aku pun berdiskusi dengan orangtua, saudara, bahkan dengan Pak Kiyai. Aku ceritakan semua niatku kepada mereka. Mungkin ini sudah ketentuan Yang Maha Kuasa, begitu mudahNya Ia menentukan apapun pada makhluNya. Mereka yang tau ceritaku begitu sangat mendukung keinginan ini untuk meminang gadis itu. Tinggal satu langkah lagi, aku pun mempersiapkan diri, mental dan fisik, hanya untuk menyatakan perasaan dan mengungkap niat baik ini.

Pagi itu, Wina yang sudah ku beri janji untuk bertemu di halaman pondok. Aku memilih tempat itu bukan berarti aku tak ingin memilih tempat yang sekiranya bisa leluasa untuk mengungkapkan perasaan seperti orang lain, di cafe misalnya. Tapi rasanya halaman pondok akan lebih aman dari fitnah dan gunjingan orang. Dia sudah duduk di bangku halaman, sebelum aku dekati dia kuhela nafas ini, aku mencoba menegarkan diri, walau sebenarnya tetap saja kikuk.

“Assalâmu’alaikum, Win, tidak sedang sibuk, pan?” Kataku.
“Wa’alaikum salam, tidak, kang, kebetulan lagi senggang. Yang kebagian piket hari ini ada Hani, kang.” Jawabnya. “Ada apa atuh, kang, saya dari semalam jadi kepikiran. Kenapa akang ngajakin saya untuk ngobrol berdua begini?” Lanjutnya lagi.
“Begini, Wina, akang tuh dulu orangnya bangor, ga bener lah istilahnya. Namun ketika akang mendengar suara kamu mengaji waktu akang lewat sini, akang begitu tersentuh. Akhirnya akang mencari tau siapa yang dengan bagusnya melantunkan ayat-ayat al-qur’an waktu itu. Akang cari informasi kesana-kemari, hingga akang yang dulu tidak pernah mau pergi ke pondok ini, jangankan untuk ngaji, lewat saja akang rasanya risi. Tapi kamu, ternyata kamu bisa merubah keadaan akang jadi seperti sekarang. Kamu begitu baik, selalu memaafkan orang lain dengan mudah, seperti waktu itu kamu maafin akang yang hampir membuat kamu celaka ketabrak motor akang. Padahal akang marah waktu itu. Tapi sikap kamu membuat akang malu.” Berhenti sejenak, gadis itu diam saja menyimak ceritaku dengan sikapnya yang santun. Aku seperti kehabisan kata-kata untuk melanjutkan ini semua. Ah, tapi aku harus tetap melanjutkannya. Aku semakin jatuh hati pada gadis ini.

“Win, kamu dengar kan?”
“Iya, kang, saya dengar. Sudah beres ceritanya?” Katanya.
“Belum, Win, masih ada.” Aku pun melanjutkan pembicaraanku. “Dari situlah, Win, dalam hati akang ada perasaan yang lain dari biasanya. Semakin lama perasaan akangpun semakin menjadi. Tidak, akang tidak bisa menghindari perasaan akang ini. Akang ingin merubah jalan hidup akang agar lebih baik dimasa depan. Akang..”
Seolah bibir ini terkunci untuk berucap. Namun hati terus berkecamuk tak terbendung lagi. Bibir dan hati ini sejenak bernegosiasi, agak lama aku terdiam.

“Saya tau maksud akang.” Tiba-tiba Wina memecah kebisuanku. Aku tercengang dan hampir malu. Gadis itu menunduk saja sedari tadi. Perlahan ia mengangkat wajahnya, aku menilainya sebagai gadis yang kuat dan berjiwa pemimpin. Yah, karena kelak ia harus memimpin dan membimbing anak-anaknya. Sudah terlihatlah sejak saat itu. Ia pandangi halaman ini, ia seakan memikirkan sesuatu yang aku tak tau apa yang ada dalam benaknya. Yang aku tau aku begitu kagum pada gadis ini. Gadis yang berada di dekatku saat ini, berharap ia akan menjadi pendamping hidupku.

“Kang, saya ini yatim, ibu saya jauh di negeri orang, saya hanya gadis biasa, apa yang akang harapkan dari saya?” Ia pun beruara. “Saya bukan apa-apa, saya tidak merasa membuat hidup akang berubah. Yang merubah adalah akang sendiri atas bimbingan dari Alloh. Hidayah dan taufik hanya milik Alloh. Tapi dari pembicaraan akang tadi, saya bisa menyimpulkan tujuan akang apa.” Ya Alloh, hati ini seperti meledak. Semakin tak karuan dan aku seperti semakin lemah.
“Sebelumnya saya minta maaf, kang. Saya bukan tidak peduli sama akang. Saya juga bersyukur kalau memang saya bisa jadi jalan untuk kebaikan hidup akang.” Ia menghentikan pembicaraannya.
“Sebab itulah, Wina, akang hari ini memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan akang padamu. Akang tidak akan bicara panjang lagi. Intinya akang jatuh hati. Maukah kamu jadi istri akang?” Kataku dengan sangat hati-hati.
“Hak akang menyukai siapapu dan wanita manapun, kang. Tapi apakah akang yakin untuk memilih saya?”
“Yakin. Akang sangat yakin. Akang juga sudah bicarakan hal ini dengan keluarga akang, bahkan sama Pak Kiyai. Akang benar-benar mengharapkan kamu, Wina.” Kataku dengan sedikit memelas untuk meyakinkan gadis itu.
“Baiklah, kang, sebelum saya jawab, bolehkah saya tanya beberapa hal?”
“Eeu, boleh. Silahkan!”
“Akang berubah karena apa?” Tanyanya.
“Karena, kamu.” Aku menjawab
“Kenapa akang ingin menjadikan saya sebagai istri akang?”
“Karena kamu baik, kamu cantik, dan kamu, ah, ga ada alasan lain lagi. Pokonya akang cinta sama kamu.”
“Apa itu benar dari hati akang yang tulus?” Pertanyaan ini sedikit menyentuh hati.
“Benar, Wina, perasaan akang tulus dari hati.” Jawabku meyakinkannya.
“Jika tulus benar hati akang, akang pasti tidak akan kecewa jika saya belum bisa menerima akang.” Jawabnya. Ada rasa kecewa dalam hati ini mendengar perkataanya itu. Aku tau arah pembicaraannya kemana. Mungkin dia memang bukan jodohku. “Ya Alloh, aku berharap gadis ini mengerti perasaanku.” Dalam hati berkata demikian.

Berhari-hari berlalu sejak pertemuan itu. Di pondok aku tidak melihatnya lagi. Ke mana gadis itu? Dimana dia? Pertanyaan itu selalu datang dalam benak ini ketika aku berada di pondok.
“Wina pergi beberapa hari, katanya sih dua atau tiga minggu dia akan balik lagi ke pondok. Bibinya sakit, jadi dia harus diam dulu di rumah bibinya sampai bibinya sembuh. Dia menitipkan surat ini pada saya untuk akang.” Kata Hani. Teman Wina itu memberikan secarik kertas untukku. Surat dari Wina. Intinya isi surat itu untuk meyakinkan aku. Cinta dan niat yang tulus hanya karena Allôh.

“Bagaimana jika suatu saat saya tidak memenuhi kehendak akang. Saya sadar jika sudah menjadi seorang istri, suami haruslah dituruti. Rasululloh pun menganjurkan, bahkan jika saja boleh dilakukan, Rosululloh menyuruh seorang istri untuk sujud pada suaminya. Saya wanita pasti tidak selalu sempurna. Akan ada kesalahan dan kelemahan sebagaimana Alloh mentakdirkan wanita. Saya tidak ingin akang kecewa olehnya. Maka jika tujuan akang adalah ridho Alloh. Saya akan sangat bahagia. Datanglah kembali dengan hati hanya untuk Alloh, kang.” Begitulah penggalan kata dari surat Wina untukku.

“Allohu Akbarullohu Akbar.” Terdengar suara adzan, seakan menyadarkan lamunan ini.
Nawaitu lillâhi ta’ala, ridhoilah wahai Robb Yang Maha Agung, apapun niat baik ini. Segalanya adalah ladang pengabdian untukMu.

Sekian.

Cerpen Karangan: Dian Sopian Rahmat
Blog: diansopianrahmat.blogspot.co.id
Takokak

Cerpen Surat Wina merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tangisan Hati

Oleh:
Keindahan pada sore hari ini bagai gambaran dari hati dua insan yang sedang jatuh cinta, cinta kasih yang amat sangat indah dalam sejarah hidup mereka berdua. Hamparan pasir yang

Mencintaimu Dalam Diam Karena-Nya

Oleh:
Aku memang tak seperti kebanyakan lelaki di seuisaku, namaku yoga, aku memang terlahir tidak untuk menjadi cogan (cowok ganteng) ataupun cowok hits yang selalu diidamkan para perempuan sosialita, tapi

Adzan Indah Mas Faiz

Oleh:
Namaku Ika umurku baru 18 tahun, aku baru saja lulus Sekolah Menengah Atas. Kini aku melanjutkan belajarku menjadi santriawati di sebuah pondok pesantren kecil tua yang berlantaikan keramik berwarna

Ramadhan in Love

Oleh:
Sifa adalah seorang pelajar di sebuah SMA favorit di daerahnya, ia berhijab semenjak menduduki bangku MTs, ia adalah gadis desa yang ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja. Pengetahuan

Maafkan Aku Manis

Oleh:
Ba’da asar, aku masih termenung sendiri di taman ini. Melihat beberapa pasang muda mudi bercengkrama, mengisi setiap sudut-sudut taman. Termenung menghitung dedaunan yang berguguran dari pohon mahoni tua di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *