Tahukah Engkau?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 12 July 2016

Tahukah engkau bagaimana rasanya menunggu si pelengkap hati?
tahukah engkau bagaimana rupa yang akan menjadi penghias mimpi?
tahukah engkau bagaimana rasa hati yang digenggam enggan pergi?
tahukah engkau bagaimana rasanya ketika tangan itu mengusap airmata rindu ini?

Yah itulah sepenggal puisi yang ditujukan untuk imamnya kelak. Gadis itu disetiap sujudnya tak pernah berhenti bermunajat kepada Sang Maha Cinta agar kelak diberikan penuntun yang baik baginya. Bahkan ditengah diamnya sebagai muslimah ia selalu saja diuji oleh cinta yang lain. hingga suatu ketika…

“aku sayang kamu Intan, maukah kamu menjadi kekasihku?”
Intan berkata lirih… “aku mengerti tentang perasaanmu dan terima kasih untuk itu. Tapi maaf, untuk saat ini aku belum bisa membalas cintamu”
“kenapa Intan? Aku sejak dulu memperhatikanmu, aku selalu menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku”
“Sekali lagi aku minta maaf, Farhan. Aku lebih mencintai Rabb-ku” meski berat, Intan harus menyampaikan alasan atas ketidaksiapannya untuk menerima Farhan sebagai kekasihnya. Farhan adalah seorang mahasiswa tingkat lanjut jurusan administrasi di salah satu kampus negeri. Masa studinya sudah hampir berakhir tapi dia masih saja jalan di tempat. Meski begitu, dia adalah orang yang sangat perhatian di mata Intan.
Dengan nada yang agak sedikit lantang pria itu menjawab… “Rabb-mu? Bukankah Dia mengajarkan kepada kita untuk saling menyanyangi dan mencintai terhadap sesama? mengajari cinta kepada umatnya? Dan berbagi kasih sayang?”
Terlihat senyuman kecil yang menghiasi wajah sang gadis. Tak ada sedikit pun rasa ingin marah ketika mendengar jawaban sekaligus pertanyaan dari pria tersebut. Gadis itu hanya mengangguk kecil lantas pergi meninggalkan percakapan mereka sebab ia tau kemana arah pembicaraan itu akan berakhir. Ia tak ingin merusak jalinan silaturahim yang sudah ada.

Sesampainya di rumah gadis itu terdiam, memikirkan ucapan lelaki tersebut sambil menuju ke arah sudut ruangan tepat dimana hanya ada meja dan kursi, lampu yang sedikit gelap dan tampak poster dinding yang bertuliskan ayat-ayat suci Al-Quran. di atas meja itu ada sebuah buku yang sedikit kusam. Dia membukanya dan melanjutkan puisi sebelumnya.

Apakah kau tau rasanya hati menggebu-gebu yang takut akan kuasaNYA? Wahai Sang Khalik yang mebolak-balikkan hati tetapkanlah hatiku pada lelaki yang mencintaiMU, temukan daku dengan imam yang mau bersama meraih jannahMU, jikalau aku harus mengukir takdirku sekarang maka perkokohlah kesiapanku.

Sekali lagi Intan menangis di atas kertas putihnya. Mengadu kepada Sang Maha Cinta tentang hatinya yang lemah oleh cinta yang fana. Sungguh ia ingin menjadi muslimah yang taat. Seorang muslimah yang akan bergetar ketakutan ketika melakukan larangan Tuhannya. Tak peduli bagaimanapun cerita miring tentangnya, Intan hanya peduli pada Rabb-nya.

Keesokan harinya ba’da ashar, Farhan menemuinya lagi.
Intan sendiri mengakui bahwa lelaki yang ada di hadapannya saat itu adalah orang yang pantang sekali menyerah. Entah sudah berapa kali dalam dua minggu belakangan ini Farhan terus memintanya bertemu. Dan parahnya lagi, Intan tak pernah bisa menolak jika tanpa alasan yang kuat. Jadilah sore itu mereka berada disatu waktu dan tempat yang sama.

Waktu itu Farhan meminta bertemu di pandopo sebuah taman. Farhan cukup mengerti bahwa mereka tak bisa berduaan di tempat sepi.
“Intan, aku tidak ingin basa-basi lagi. Aku sungguh-sungguh mencintai dirimu” ucap sang pria itu dengan tegas, terselip di antara nada itu harapan besarnya bahwa Intan akan luluh hatinya.
Intan yang sudah menduga ucapan itu lantas menjawab dengan pasti.. “jika kau sungguh-sungguh, temui kedua orangtuaku dan katakan pada mereka, Farhan. Katakan kalau kau hendak menikahiku” meski sempat beradu tatap, Intan segera memalingkan wajahnya yang sudah dipenuhi luapan emosi. Mendengar jawaban sang pujaan hati, pria itu tertegun seakan habis mendengar musibah besar.
“Tapi nikah tidak semudah itu, tidak segampang yang kau katakan, nikah itu harus benar-benar siap untuk semua hal Intan, dan aku belum pada tahap itu”
“Lalu apa bedanya denganmu, dengan mudahnya kau mengatakan mencintaiku. Cinta juga tidak seringan yang sering kau ucapkan, Farhan. Bagiku, cinta itu perihal Rabb-ku. Aku ingin kita dalam ikatan yang suci dalam ikrar yang halal”
“karna itu aku mengatakan ini. aku ingin kita saling terikat sebelum ke pelaminan. Tidak ada salahnya kan saling mengikat hati agar kita lebih mengenal satu sama lain. Ini seperti komitmen, Intan. Itu saja” Farhan tampak susah payah menjelaskan maksud tindakannya selama ini.
Intan menahan nafas tersengal di antara rongga hidungnya. Ia mengatup bibirnya rapat-rapat kemudian berkata lirih.. “aku tidak melihat hal itu sebagai usahamu mendapatkan aku, Farhan. Hanya satu yang aku minta, jika kau bersungguh-sungguh maka aku akan menunggumu dirumahku. Bersama kedua orangtuaku, Farhan. Itu saja” Intan beranjak dan berlalu pergi.

Yaa Rabbi, bagaimanakah aku di hadapan-MU saat ini?
Sudah benarkah atau aku berlaku terlalu jauh dari yang seharusnya.
Jangan biarkan langkahku goyah oleh cinta yaa Rabb
Cinta yang kucari hanya padanya yang mencintai-MU dan dengan cara yang Engkau ridhoi pula
Duhai hati, kuatlah.

Dua bulan kemudian..
Tok.. tok.. tok..
“Assalamualaikum..” terdengar ucapan salam dari balik pintu. Suara yang sudah lama tidak terdengar di telinga. Suara yang membawa rindu dan cinta bagi gadis berwajah bulat itu.
“Waalaikumusalam..” doa pemilik suara itu tersahut oleh ibu intan yang beranjak membuka pintu.
“wah, Tante kira suara siapa kok merdu sekali” ibu Intan menyambut hangat kedatangan pria itu.
“ahh, Tante bisa saja”
“ayo duduk. Sebentar Tante panggilkan Om Idris ya” lelaki itu memandangi sosok yang sangat ia hormati selama ini dari belakang. Ia tersenyum bahagia memandangi seisi rumah berukuran sedang itu. Lalu matanya melihat sosok lain yang menjadi panutannya.
“wahh, ini dia orangnya” suara besar ayah Intan cukup membuat lelaki itu tersenyum lebar. Ada sesuatu di antara mereka. Seperti pertemuan anak dan orangtua yang telah berpisah lama. Sambil menyalami mereka satu persatu lelaki itu tak henti melukis senyum.
“lama baru kelihatan ini, nak Andi” sahut sang Ayah.
Andi Rahman nama lelaki itu. Anak yatim piatu yang sempat dibesarkan oleh orangtua Intan sewaktu sekolah dasar dulu. Hingga akhirnya ia memilih masuk pesantren semenjak SMP dan sekarang telah menempuh pendidikan Masternya di luar pulau.
“iya Om, baru menyelesaikan study beberapa hari yang lalu. Om dan tante bagaimana kabarnya?” Andi tampak berbinar.
“Alhamdulillah baik. Salut ya bu, masih muda begini sudah sekolah S2. Master agama pula. Jadi bagaimana setelah ini?” ucapan itu terkesan seperti ingin segera menghabiskan percakapan.
“saya berencana rehat dulu, Om. Setelah beberapa minggu baru saya putuskan akan melakukan apa”
“kamu bingung mau melakukan apa? Menikah saja” di ujung ucapannya itu
Ayah Intan sedikit meninggalkan gelak tawa. Terselip maksud disana meski Andi belum memahaminya. Lelaki berkemeja putih itu hanya tersenyum sumringah.
“menikah apanya, Om. Lah saya ini belum bekerja” Andi menjawab dengan sedikit enggan.
“nak Andi pasti tau sendiri, orang setelah menikah itu rejekinya nomplok hehehe..” Ibu menambahkan dengan raut wajah lucu. Andi hanya tersenyum malu dan mengangguk pelan.
“oh iya Om, saya tidak melihat Intan” Andi memandangi wajah kedua orang itu dengan penasaran.
“dia sedang keluar. Masih melanjutkan penelitian katanya” sahut Ibu.
“benar. Dia menargetkan dua bulan lagi akan wisuda” Om Idris melanjutkan dengan bangga.
“benarkah? Syukur kalau begitu, semoga segera lulus buat Intan” Andi berkata pelan. Di ruangan yang hanya ada mereka bertiga itu, sepertinya mereka sedang memikirkan hal yang sama. Ayah dan ibu bertatap bergantian. Andi hanya duduk diam dan menunduk.
“nak Andi rajinlah main kemari. Daripada di rumah saja” Om berkata pelan.
“iya Om, akan saya lakukan. Oh iya, ini saya membawa oleh-oleh dari jawa. Buat Om dan Tante sekeluarga” Andi menyerahkan bingkisan terbungkus kertas kado dengan motif boneka beruang.
“aduh, kok repot sih..” Ibu menyambut pemberian itu.
“tidak apa, Tante. Saya senang bisa berbagi begini, lagipula ini belum seberapa dengan kebaikan Om dan Tante pada saya. Kalau begitu, saya permisi dulu ya. Tolong sampaikan salam saya pada Intan” sekali lagi Andi melukis senyum.
Lesung di pipi kirinya menambah kesan ganteng di wajah Andi.
“ah, baik nak Andi. Nanti akan Om sampaikan ke Intan kalau kamu mampir” ujar sang Ayah sambil menepuk pelan bahu lelaki itu.
“baik Om, Tante. Assalamualaikum..”
“Waalaikumslaam..”

Waktu itu adalah hari Maulid Nabi Muhammad S.A.W, Intan yang tinggal dekat dengan masjid segera bersiap untuk menghadiri acara peringatan tiap sekali setahun itu. Ditemani kawan masa kecilnya ia berjalan kaki dengan mengenakan gamis berwarna biru laut senada dengan khimarnya. Intan dan kawannya masuk. Sudah banyak tamu yang hadir. Masjid dipenuhi oleh muslimin dan muslimah yang ingin menyaksikan kemeriahan acara malam itu. Mulai dari persembahan seperti nyanyian-nyanyian, hingga pameran pohon telur yang dihiasi sedemikian rupa agar menarik.

Gadis itu mengambil tempat di sisi ruangan dekat dinding. Acara dibuka. Pembawa acara setelah melantunkan surat Alfatihah kemudian menyebutkan satu persatu agenda acara. Semua yang hadir tampak antusias mengikuti jalannya acara. Hingga tiba di agenda pembacaan doa.
Seorang lelaki masuk dengan mengenakan pakaian serba putih. Kopiah hitam dan sorban hitam pula. Ia duduk di atas mimbar. Dan ayat suci dilantunkan. Semua yang mendengar tampak enggan berpaling. Wajah lelaki itu tampak hangat. Suaranya merdu. Lagu untuk bacaannya pula enak didengar. Intan mengangkat wajah dan memandang si pembaca doa itu. Bibir Intan terbuka untuk sesaat. Wajah itu tidak asing. Ia sangat mengenalinya. Tepat setelah kitab suci ditutup, mata lelaki itu menangkap tatapan Intan.
Untuk beberapa miliseken, mereka saling memandang meski dari jarak yang tidak dekat. Keduanya tak henti memandang hingga sang MC mengacaukan keduanya dengan ucapan terima kasih itu. Mereka akhirnya sadar akan sesuatu.

Sebulan kemudian..
Hari itu sangat cerah. Waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Matahari bersinar sangat terang. Menyilaukan mata yang memandang. Di sebuah ruangan kecil, seorang gadis tengah membenahi kamarnya. Ia meraih sebuah foto kemudian meletakkannya dalam bingkai.
Ia tersenyum begitu foto itu tergantung di dinding kamarnya. Disana ada dia dan kedua orangtuanya. Mengenakan toga dan memegang sertifikat kelulusan. Senyum bahagia saat itu begitu jelas. Intan pun merasa bahagia hingga pagi itu. Ia telah menyelesaikan studinya.
Ia teringat ketika sedang duduk di tangga kampus. Secara tak sengaja bertemu dengan seorang teman. Ia bertanya tentang Farhan. Sudah beberapa bulan semenjak pertemuan terakhir mereka, Farhan tak pernah tampak. Begitupun di kampus. Tak ada yang tau dimana dia berada saat ini. intan seketika merasa gelisah.

Ia cemas jika hal itu disebabkan dari sikapnya yang mungkin keterlaluan terhadap Farhan. Intan khawatir dengan apa yang akan terjadi. Dia pun tak punya siapa-siapa untuk ditanyai mengenai Farhan.

Keesokan paginya, Intan memutuskan untuk berjalan-jalan kaki selepas waktu subuh. Ia mengenakan pakaian olahraga meski tetap syar’i. Dia mulai berjalan sepanjang jalan komplek rumahnya. Mencoba melepas beban fikirannya tentang lelaki itu.
Intan melepas sepatunya agar bisa berjalan di atas kerikil kecil. Ia beranggapan itu akan membuat peredaran darahnya lancer. Sambil memegang sepatunya ia berjalan lurus menunduk. Langkahnya terhenti ketika matanya melihat sepasang kaki di depannya. Intan mengangkat wajah dan begitu kaget.

“assalamualaikum..” orang itu menyapa dengan senyuman khas. Senyuman dari lesung pipi kiri itu.
Intan terpaku. Ia tak percaya dengan yang dilihatnya. Lelaki itu hanya tersenyum melihat ke bawah.
“apa Intan baik-baik saja? Melihat kaki tanpa sepatu begitu, apa sedang banyak masalah?” ia lagi-lagi melempar senyum.
Andi membawa Intan untuk duduk beristirahat di sebuah bangku panjang.
“minum ini..” ia menyodorkan sebotol air mineral. Intan masih terdiam.
Mereka duduk bersebalahn memandangi jalan yang masih lengang. Matahari mulai menampakkan dirinya. Intan meletakkan botol air itu.
“kenapa kakak disini bukannya di jawa? Sudah selesai kuliahnya?”
“hmm, Om dan Tante belum bilang ya..”
“sudah sih. Lalu kenapa bisa ada disini?”
“kebetulan saja ingin melihat suasana di daerah sini. Sudah lama juga”
“Intan baik-baik saja, kak. Kakak bagaimana?”
“Alhamdulillah masih sehat, Intan bertambah tinggi ya. Dulu begitu kecil”
“dulu juga kakak kecil daripada sekarang” Intan menahan tawanya.
“haha, namanya juga waktu SD”
“sudah berapa tahun ya kak baru bertemu begini”
“sudah lama sekali ya. Dulu kakak pernah bilang begini kalau sudah dewasa
aku ingin menjadikan Intan sebagai rumahku untuk pulang, karena ayah dan ibu tak ada disana untukku”, lalu Intan kecil menjawab “kalau begitu kakak cepatlah dewasa” masih ingat?”
Intan yang mendengarnya spontan terbelalak. Begitu kaget dengan ucapan itu.
“menurut Intan bagaimana?”
Keduanya diam. Saling menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut mereka.
Intan tampak ragu. Sementara Andi begitu antusias menunggu.
“Intan.. sebenarnya..”
“hm?”
“Intan merasa tidak berhak memilih, kak. Semuanya Intan serahkan pada ayah dan ibu. Intan minta maaf jika kurang berkenan”
“benar. Kita sebagai anak mana boleh memaksa kehendak sendiri. Intan sudah benar kok”

Beberapa bulan kemudian..
Kabar bahagia mengusik telinga para tetangga. Proses ta’aruf telah dilaksanakan. Penetapan tanggal pun demikian. Acara yang direncanakan sepertinya akan cukup megah.
Di hari yang dinanti, rumah Intan sudah penuh dengan sanak keluarga. Pagi selepas subuh, Intan menyempatkan diri mengaji. Di dalam kamarnya yang sudah dihiasi dengan kain berwarna pink campur ungu.

Prosesi akad nikah dilaksanakan pukul 10 pagi itu. Jemari yang sudah dilukis dengan henna itu mengalihkan pandangan Intan. Rasa tak percaya menjamuri pikirannya. Seorang yang telah dia tunggu selama ini akan segera menjadi imamnya. Lelaki dalam seriap puisinya kini telah datang meminangnya.

30 menit menjelang akad, Intan segera diboyong keluar untuk dinikahkan. Adat bugis tak begitu kental dengan syar’i. intan didudukkan di ruangan bersebalahan dengan posisi sang calon lelaki. Wajah orang-orang terdekatnya begitu ramah mengucapkan selamat kepadanya. Doa dan ikhtiarnya selama ini terjawab. Di tengah semua mata memandang, Intan merasa melihat sesuatu disana. Di balik pintu. Seseorang berdiri memandangi dirinya. Orang itu mengenakan kemeja biru muda dengan tatanan rambut yang rapi. Yang lebih membuat Intan kaget adalah apa yang dipegang ditangan orang itu. Sebuah kita suci Alquran. Mereka saling memandang untuk waktu yang lama. Tampak rasa sesal dan pasrah dalam tatapan mereka. Dada Intan serasa hendak meledak. Ia tak percaya yang dilihatnya.

Janji suci telah diucapkan. Intan resmi menjadi istri dari lelaki yang dicintainya. Semua yang hadir mengaminkan segala doa. Semua yang hadir memberi ucapan selamat pada keduanya.

Airmata Intan jatuh. Bibirnya bergetar. Matanya yang sembab masih memandangi sosok itu. Seorang lelaki yang pernah lama pergi dan mendadak kembali. Menemuinya dengan cara seperti ini dan dalam keadaan begini. Mereka berdua menangisi diri masing-masing. Dari kejauhan.
“maaf, Farhan. Aku telah menjadi miliknya. Selamanya hanya akan ada dia. Aku berdoa untukmu agar kelak menemukan wanita seperti Aisyah” Intan berkata lirih disertai tetesan air dipelipis matanya. Ia menutup matanya rapat-rapat. Berharap tak ada yang tersakiti karna ini.

Cinta, lindungi aku dari buasnya nafsumu
Halalkan aku dengan nikmatnya rasamu
Aku hanya ingin cinta seperti cintanya Adam kepada Hawa
Satu untuk selamanya. Kekal sepanjang masa
Saat cinta menyambutmu, maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kau dustakan?

Cerpen Karangan: Bintun Nahl
Facebook: Kadijah Khaa

Cerpen Tahukah Engkau? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengganggu Yang Menyukaiku

Oleh:
Namaku Samira, aku bersekolah di sebuah SMA negeri yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Setiap berangkat sekolah selalu saja ada laki-laki yang menggangguku namanya Rangga, dia teman sekelasku tapi

Sesal Hadir Tak Tersambut Manis

Oleh:
Aku adalah seorang anak yang terlahir dari keluarga yang serba kecukupan, aku anak tunggal yang setiap keinginanku pasti harus terpenuhi. Aku memang anak desa, terlahir dari seorang ayah yang

A Cup Of Longing Please! (Part 1)

Oleh:
Kuhirup secangkir moccachino pertamaku. Aromanya yang wangi membiusku agar terjaga sore ini. Sekedar melepas penat usai bekerja di kantor seharian, ditambah persiapan ujian di kampus besok. Kupikir mampir di

Tuhan Selamatkan Aku Dari Zina

Oleh:
Di luar sangat menakutkan. Angin bertiup kencang. Berdiri bulu romaku melihat pepohonan terpontang panting tumbang di dekat rumah. Kucoba mengalihkan perhatian, mengambil headset kemudian memutar musik sekeras-kerasnya. Suara gemuruh

Kacamata Bergaris Hitam (Part 3)

Oleh:
Tak sanggup aku menghentikan bayang-bayang Irman dan Irfan, siapa mereka? Ku putuskan untuk memberitahu Sinta, sahabatku. Siapa tahu ia mempunyai solusi untuk memecahkan masalahku ini. Ku jelaskan semuanya dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *