Tak Mampu Mengubur Rasa

Judul Cerpen Tak Mampu Mengubur Rasa
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 4 July 2014

Langkah akhir adalah ikhlas. Ketika sebuah ketulusan dipatahkan begitu saja. Saat lelaki idaman sejak kutahu apa itu cinta, tak hujung kuraih. Lara aku rasa, miris aku kenang, berbaur perih memukul batin yang tak kian redam. Bukan maksud untuk memaksa hanya tak mampu untuk mengubur rasa dan cinta yang telah melekat. “Inilah fikir kecilku”.

Sebut saja namaku fani. Ketika itu aku duduk di bangku salah satu perkuliahan di daerahku. Sebenarnya aku adalah wanita yang jarang keluar dan lebih banyak di rumah. Aku mungkin juga merupakan tipe wanita yang mudah mengagumi atau tertarik kepada sesuatu. Tapi bukan berarti aku murahan. Tidak dong.. He He. Aku hanya sedikit ramah, karena pada prinsipnya ramah belum tentu murah. Dan aku bisa membedakan mana hal yang berkualitas dan yang tidak, aku juga bisa membedakan mana yang pantas digemari dan mana yang tidak.

Saat itu aku mengagumi seorang lelaki yang jarang sekali kutatap wajahnya secara langsung. Namun aku mengenalnya sudah sejak lama. Artinya kita berdua sudah saling mengenal, hanya jarak kita sedikit jauh.

Ada orang mengatakan perasaan mengagumi itu tidak bertahan lama. Kata siapa?, Ini buktinya hingga kini aku tetap mengaguminya. Aneh kan? Memanglah sungguh aneh kisah cintaku.

Sebenarnya aku rada lupa kapan tepatnya aku mulai mengaguminya sampai aku jatuh hati kepadanya. Mungkin saja waktu bbm pertama kali dengan dia yang awalnya aku sedikit grogi seraya dag, dig, dug entah pesan apa yang akan kukirim kepada dia.
“Assalamu’alaikum.. Ton?” Sapaku.
“Waalaikum salam, siapa?” Balasan Toni.
“Ini aku fani” Sahutku lagi.
“Oh fani” Balasan Toni dengan cueknya.
“Iya” Balasku.

Hanya sebuah bbm sederhana, yang aku yakin semua pun pernah melakukan dan mengalaminya. Entah itu melalui bbm ataupun sms. Kala itu bergerumuh dalam hatiku, “Mungkinkah ini awal percintaanku dengan Toni? yang memiliki nama panjang Toni Al-Amal”. “Jika memang dia adalah jodohku, lantas mengapa Toni harus cuek?” Entahlah aku tidak tahu.

Toni adalah sosok pria yang sholeh, prestasi di kampusnya tidak diragukan lagi juga aktif dalam organisasi. Itulah sepintas yang aku tau tentang seorang toni. Mana ada wanita yang tak terkesima dengan lelaki model seperti ini. Apalagi di zaman sekarang para wanita lebih banyak menginginkan pria yang bisa mengayomi dan bertanggung jawab tentunya. Maka aku fikir tak ada salahnya bila sedikit berusaha untuk mengenal lebih dekat dan kalau boleh malah meraihnya. Sejujurnya bukan karena pilih-pilih dalam mencari pasangan hanya saja aku takut salah pilih. Karena pria adalah orang yang akan menjadi pemimpin kelak. Jadi aku coba sedikit untuk selektif dalam memilih pasangan. Sosok seperti toni lah yang aku impi-impikan yang menjadi pria idamanku sejak kecil.

Pagi dalam gelap, selepas berkumandang adzan, suara ayam jantan bagaikan bernyanyi riang, dengan alunan irama suara burung nan ramai. Subuh itu, Aku bangun lebih cepat kutunaikan ibadah seusainya kuberikan sedikit perhatian kepada Toni.
“Pagi Ton, udah sholat?” Sapaku.
“Pagi juga, udah” Balas Toni.
“Lagi ngapain?” Balasanku lagi.
“Baca buku aja,” Balas Toni.
“Oh iya dah, selamat belajar ya” Sahutku dengan sedikit sebal.

Kala itu, lagi-lagi aku harus sakit hati dengan balasan yang tetap cuek. Padahal awalnya aku berharap dia asyik bbman denganku. Aku memang sengaja tidak terlalu banyak bertanya supaya tidak terkesan murah di mata toni. Tapi dia tetap saja cuek. Namun meskipun aku sedikit kecewa dengan setiap balasannya tapi tetap saja hatiku senang seakan jantung detaknya lebih kencang karena bisa berhubungan dengan toni dan aku tak pernah berhenti perhatian kepadanya. Sebab mencintai toni adalah hal yang membuatku merasakan hidup yang sebenarnya. Mengapa? Karena toni merupakan pria yang luar biasa yang tak pernah meninggalkan ibadahnya dan teguh pendirian. Wajahnya pun wajah indonesia asli, karena aku lebih senang hal-hal yang bersifat lokal bukan sok-sok korea.

Sore beranjak malam matahahari hilang ditelan bumi, azdan pun memanggil aku bergegas melaksanakan perintah Allah, selepasnya aku bersila di depan TV sambil lalu kusempatkan untuk bbm Toni dengan mulai sedikit bertanya lebih dalam lagi dan akhirnya ada sedikit perubahan dari Toni.
“Sibuk apa?” Tanyaku.
“Aku lagi nyiapin berkas kemahasiswaan untuk besok, kalau kamu?” Jawab Toni.
“Lagi duduk aja, aku gak ganggu kan?” Balasku.
“Nggak kok kenapa?” Balas Toni.
“Gak apa-apa, siapa tau kamu mau nelfon ceweknya” Tuturku berisi pancingan.
“Haaah? Cewek? Belum ada, santai aja” Kata Toni.
“Oh.. Kirain punya cewek He He…” Balasanku sambil tersenyum karena toni tak punya pacar.
“Nggak, aku single kamu sendiri?” Balasnya.
“Sama single juga, Emang gak pengin punya pacar?” Tanyaku dengan hati berdebar.
“Dulu pernah, tapi kalau sekarang kayaknya belum ada keinginan, nanti aja kalau udah lulus kuliah” Jawabnya.
“Ohh.. Gitu” Balasanku dengan sedikit manyun alias sebal sebab dia tak ingin pacaran sebelum lulus.

Hemmmm.. Sesak dada ketika aku baca bbm terakhir dari toni dan aku merasa serasa tak ada harapan untuk memilikinya. Kurang lebih 3 bulan aku ta’arufan di bbm dengannya. Telah banyak hal-hal konyol serta lelucon bersama toni di bbm, kirim lagu, kirim gambar dan lain-lain. Tapi sayang selama itu juga aku berkomunikasi dengan toni tidak pernah mendengar suaranya. karena tak tahan keinginan untuk mendengar suaranya waktu itu aku berpura-pura tidak tahu bagaimana cara mengirim pesan suara di bbm. Berharap dia mau menelfonku, ehh.. Ternyata dia malah mengirim pesan suara saja. Tapi gila suaranya teramat santun. Aku semakin cinta saja dengan dia. Terkadang seketika rasa kepercayaanku teramat tinggi kalau cintaku akan diterima oleh dia. Sebab kita nyambung, asyik setiap kali sharing apa saja dan aku selalu berusa mengimbanginya meskipun aku tau dia lelaki pintar. Bahkan rasa sayang dan cintaku kian tumbuh. Akhirnya aku mencoba untuk menyatakan perasaanku dengan harapan aku bisa legah setelah mengungkapkannya karena aku tak ingin menjadi wanita munafik. Harus menahan sakit tiap hari karena terbelenggu cinta tak sampai. Akan tetapi semua hanyalah dugaanku semata, dan semuanya tak sesuai harapan dan keinginanku.

“Ton? Kita kan udah saling kenal lama dan kita juga udah sering kali share, aku tau kamu orang pintar mestinya kamu paham, apa maksudku selama ini, perhatian sama kamu, sebetulnya aku kagum sama kamu Ton, aku mencintai kamu, dan pengin memiliki ikatan cinta denganmu, aku bangga sama kamu, Bagaimana? kamu kan juga single Ton?” Ucapku dalam bbm.
“Makasih selama ini kamu udah nemenin aku, udah sharing, udah suka, udah sayang sama aku, Tetapi selain aku memang belum ingin pacaran, aku juga memang belum ada rasa sama kamu, Tolong ya.. maafin aku, aku berharap kamu mengerti” Ujar Toni.
“Iya Ton, Makasih atas kejujuranmu, insyaallah aku mengerti, walaupun aku takkan bisa berhenti memikirkanmu, Ton kalau suatu saat kamu berubah fikiran, aku siap mengisi hari-harimu Ton, aku bakal tetap menantimu” Balasanku dengan sedikit rasa tak percaya.
“Iya makasih juga, sekali lagi maafin ya, aku gak nerima, karena aku jujur, hatiku gak bisa dipaksakan, dari pada jalin ikatan tanpa dasar cinta lebih baik kita berteman biasa” Ujar Toni.
“Iya Ton” balasku dengan kesedihan.

Jujur saja aku masih tak percaya. Bagaimana mungkin ketulusanku, perhatianku selama itu dipatahkan begitu saja oleh toni, dadaku sesak, kepalaku sakit, mataku buram saat mengetik, kurasakan sakit yang sungguh dalam waktu itu. Bahkan sempat kuteteskan air mata kecil karena sepotong luka di relung. Malam, pagi siang dan sore aku terus terfikirnya dan masih bertanya-tanya. Untuk lebih meyakinkan diriku, apakah aku benar-benar ditolak. Kucoba mengirim bbm terakhirku kepada Toni.
“Ton, Apakah itu udah keputusan bulat?” Tanyaku.
“Iya, Maaf ya” Jawaban Toni.
“Apa gak ada kesempatan buat mengisi namaku di hatimu?” Balasanku lagi.
“Nggak.. Sebaiknya kamu lupain aku, hapus semua tentang aku dan kalau bisa hapus kontak bbmku di bbmu.. Maaf.” Balasan Toni dengan kesan bosan pada sikapku.

Itulah bbm terkhirku bersama toni dan hingga kini aku tak menghubunginya lagi karena permintaannya. Sebagai wanita tentu tak pantas rasanya bila harus memaksa. Karena mungkin terkesan murah. Meski sakit, kecewa dan sedih yang kurasa. Tapi sejujurnya aku tak pernah bisa berhenti mencintainya.

Hari-hari kulalui tanpa kabar Toni, aku hanya bisa melihat rutinitasnya di dunia maya, dan aku tetap berharap suatu saat nanti dia berubah fikiran lalu datang padaku lagi dan menerimaku. Ingin sekali rasanya bisa memiliki lelaki seperti toni yang begitu rajin beribadah.

Pagi yang indah, matahari mulai menyongsong ke arah barat, diiringi gerimis-gerimis kecil, kupandangi dedaunan masih muram saja. Aku lakukan akitfitas pagi seperti biasanya. Kubaca info pagi melalui internet secara online dan tak sengaja aku menemukan sebuah artikel kecil berisikan nasehat-nasehat menyentuh hati yang isinya;

Seorang Wanita Mengatakan;
“Sungguh sulit mencari lelaki sholeh zaman sekarang?”
Seorang Lelaki Mengatakan;
“Sungguh sulit mencari wanita sholehah zaman sekarang?”
Alangkah baiknya bila kalimat itu kita tujukan kepada diri sendiri, sebelum diucapkan kepada orang lain.
Sudah menjadi Wanita baik kah kita?
Sudah menjadi Wanita Sholehah kah kita?
Begitulah seharusnya kita bertanya.

Kadang kita terlalu sibuk untuk menilai orang lain sehingga kita lupa untuk menilai diri sendiri. Kadang kita terlalu sibuk mencari sosok yang baik. Kadang kita terlalu sibuk mencari sosok yang menurut kita soleh atau solehah. Sehingga kadang kita sendiri lupa untuk berusaha menjadi sosok yang soleh atau solehah.

Muncul satu pertanyaan..
Sudah pantaskah kita berharap untuk bisa mendapatkan sosok yang soleh atau solehah? Jawabannya berpulang pada diri kita masing-masing. Jangan bermimpi mendapatkan lelaki soleh kalau belum mampu menjadi wanita solehah. Jangan terlalu bermimpi mendapatkan wanita solehah kalau masih belum mampu menjadi lelaki soleh.

Tak perlu bersusah payah untuk mencari yang soleh atau solehah. Tapi menjadilah soleh atau solehah terlebih dahulu.
Karena apa?
Karena Allah telah menyiapkan pasangan yang sesuai dengan jati diri kita. Yang sesuai dengan kepribadian kita. Yang sesuai dengan kadar keimanan dan ketakwaan kita. Yang sesuai dengan potret kita sendiri.

Ingat, lelaki baik untuk wanita yang baik. begitu juga sebaliknya. Itulah ketetapan Allah yang sudah pasti kebenarannya!

Masih mau menunggu apa lagi?
Mari kita memulai dari diri sendiri dahulu untuk menjadi baik. Tak perlu menunggu orang lain menjadi baik. Dan tak perlu terlalu sibuk untuk menilai orang lain yang pada akhirnya kita lupa untuk menilai diri sendiri. (Ustadz)

Itulah artikel kecil dari seorang Ustadz yang membuat aku mengikhlaskan toni. Memang benar, mungkin aku terlalu sibuk menilai seorang toni, mungkin aku terlalu banyak memuji toni. Sampai aku lupa menyadari siapa diri ini? Aku yang sebenarnya tak bisa apa-apa dan masih banyak kekurangan. Terlalu berharap lebih bisa memiliki toni.

“Untukmu Toni..
Maafkan aku yang tak pernah menyadari siapa aku.
Maafkan aku yang terlalu berharap banyak kepadamu.
Maafkan aku yang takkan selalu bisa memandang wajah indahmu.
Maafkan aku yang begitu mencintaimu hingga kini.
Padahal ada Allah yang lebih tau dengan siapa aku berjodoh, dengan siapa kamu berjodoh.
Dimanapun kamu berada, dan dengan siapa pilihan kamu nanti. Aku disini akan terus mencintaimu dan mengagumimu, Entah sampai kapan rasa ini akan ada, rasa yang tak mampu kukubur, Aku tidak tahu.

Cerpen Karangan: Irfandi
Blog: irf15nof.blogspot.com
Twitter: @irfan15nof

Cerita Tak Mampu Mengubur Rasa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Dalam Karung

Oleh:
Matahari baru saja muncul dari balik awan gelap, mengintip perlahan malu untuk menampakan wujud aslinya. Awan gelap masih menguasai sebagian besar langit hari ini, sinar mentari yang cerah pun

Teman Saja

Oleh: ,
Hari ini adalah hari 1 syawal 1437 tahun hijryah, Dimana semua umat muslim merayakan dengan kebahagiaan dan saling bermaafan. “Ma, Dewi ke rumah Lian dulu ya”. “Iya, hati-hati pulangnya

Buku Catatan Vania

Oleh:
Sabtu pagi yang cerah. Di sekolah aku biasa dipanggil Vania. Semua berawal saat aku duduk di tangga sekolah bersama sahabatku yang bernama Dina. Aku cukup populer di sekolah. Sahabatku

Tembok Kilometer

Oleh:
Orang bilang, cinta adalah anugrah terindah bagi manusia. Dengan bertemunya sepasang manusia yang tidak saling kenal awalnya, menciptakan pertemanan, menjalin kasih, lalu berpisah. Orang bilang, cinta adalah hal terkuat

Email Misterius (Part 1)

Oleh:
Rian, adalah sosok kekasih hangat yang sangat ku cintai. Berawal dari perkenalan saat satu kelas dulu dan menjadikan kami dekat namun saat ini kami sudah lulus dan Rian kuliah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *