Takdir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 17 January 2017

“SEMUA tidak akan begini kalau aku tidak menyukai orang yang tak mungkin bisa kuraih,”

“FAY, kamu ngapain disitu?” Suara teguran dari temanku membuatku berbalik cepat dari apa yang kuperhatikan sejak tadi.
“Kaget, ya ampun! Nggak apa-apa. Aku cuma lagi cari udara segar aja kok,” Aku tersenyum.
“Oh,” Kurasakan Azizah duduk di sebelahku. “Kak Raihan tambah cakep aja ya,” Azizah memandang sosok di seberang dengan raut wajah memuja.

Raihan Zakaria merupakan Wakil Ketua OSIS di sekolah. Dia pintar, supel, dan -yang bikin semua cewek kelepek-kelepek- dia tampan. Walaupun sikapnya cuek dan ‘agak’ menyebalkan, tapi itu cukup diimbangi dengan segudang kelebihannya. Aku tahu banyak? Tentu saja, bisa dibilang aku rada ‘gedeg’ sama dia. Jadi aku adalah salah satu orang yang ‘kurang suka’ sama dia.

Sekarang dia lagi ada di seberang. Mainin gitar dikelilingi Kak Reno, Kak Ade, Kak Aldo, dan beberapa anak OSIS lain. Kegiatan mainin gitar emang hal yang biasa dilakuin saat kemping.

Kemping kali ini merupakan kemping yang diadain sama OSIS dan khusus buat OSIS untuk acara pembuka liburan. Ketua OSIS bilang kalau OSIS akhir-akhir ini bekerja keras dengan hasil fantastis dan kemping ini merupakan hadiah sekaligus refreshing atas apa yang kita lakukan akhir-akhir ini.

“Lah, terus Kak Aldo dikemanain Za?” Aku menyebut gebetan Azizah.

Azizah tertunduk menutupi wajah memerahnya. Kurasa dia agak malu.

“Lagipula apa yang kamu lihat dari dia sih, Za? Kak Raihan itu? Kurasa masih seratus kali lebih baik Kak Reno,” ucapku.

Aku memang benar. Kak Reno tampan dan baik. Walaupun agak usil dan jahil… Tapi imannya gak usah diragukan! Bahkan suara ngajinya pun bagus banget! Buat aku terpukau. Dan itulah yang aku cari, iman.

“Jangan kayak gitu loh, Fay! Ntar kamu malah suka sama Kak Raihan loh…” Azizah menunjuk-nunjukku dengan jarinya.

“Cie, Fayya! Jadi cowok idaman kamu Kak Reno?” Seorang temanku lagi, Sofia, muncul dari dalam tenda. Kerudung ungu panjangnya berkibar tertiup angin. “Gak salah sih. Dia itu kan sholeh banget! Cocok sama kamu yang shalihahnya kebangetan! Dia aja kalo ngobrol sama cewek kayak nyari koin. Nunduk mulu!”

Aku hanya menghela napas sambil menggeleng tegas. “Apa sih kalian. Aku emang kagum tapi gak suka sama dia. Lagian dia bukannya nyari koin, tapi menundukkan pandangan. Seperti yang terdapat pada Al-Qur’an,” Aku merapikan kerudung putihku.

Mereka nyengir.

“Tapi ada gak sih yang kamu taksir di sekolah? Kayaknya kamu anti banget sama cowok? Terutama Kak Raihan,” Sofia mengambil biskuit di tangannya dan memakannya.

“Bukannya anti. Tapi kan Allah memang membatasi pergaulan antara Ikhwan dan Akhwat. Jadi aku cuma mengikuti perintah Allah. Soal taksir? Aku sih belum ada. Tapi gak tahu nanti. Dan soal Kak Raihan, dia kan anaknya emang ngeselin,” jelasku sambil nyengir.

“Tapi kata kakak kelas lain, sebenernya Kak Raihan itu asyik dan baik. Cuma selama ini dia pura-pura gak peduli aja,” Azizah yang punya banyak temen kakak kelas memberi pembelaan.

“Masa? Tapi menurut aku dia emang ngeselin banget kok. Fayya punya alasan tepat banget buat gak suka sama dia,” bela Sofia.

Aku cuma tersenyum kecil mendengar pembelaan Sofia.

“Tidur yuk. Udara udah dingin banget. Kalau kalian mau mati beku sih gak masalah,” kataku sambil mendahului sambil melirik seberang.
“Yah, tunggu dong Fay!” Sofia berseru.
“Fayya mah tegaaa!” Azizah merengek.

Mungkin aku memang gak mempunyai orang yang di’taksir’. Tapi aku punya orang yang aku ‘suka’.

“Ih, ngeselin banget sih! Pagi-pagi udah ngajak ribut,” Aku bergumam menahan amarah.

Bayangin aja, pagi-pagi aja Kak Raihan udah ngajak debat di salah satu games yang diadain OSIS tadi pagi. Emang sih, tentang cerdas cermat. Tapi cara ngomongnya itu sok banget seakan dia adalah yang terpintar.

~ “Lo jangan sok cuma karena peringkat satu seangkatan lo! Gini-gini gue juga kelas 12 yang wawasannya pasti jauh lebih luas daripada lo,” ~

Ngeselin kan? Akhirnya kita debat cerdas-cermat. Aku keluarin semua kemampuan aku. Dan siapa yang menang?

Tentu saja aku.

Bukannya aku sombong atau apa, tapi dalam hal ‘debat-mendebat’ aku memang jagonya.

“Tahu gak, tadi perdebatan kalian berdua nyita perhatian seluruh OSIS loh!” Azizah menyampaikan informasi yang sayangnya udah aku tahu. Bukan rahasia lagi, kalo aku sama Kak Raihan itu ‘musuh bebuyutan’.

“Terus?” Aku bertanya cuek.

“Tapi debat kalian emang seru banget! Ahli Debat Kelas 8 versus Ahli Debat Kelas 7. Pernyataan yang kamu ungkapkan emang sesuai dan akurat. Pernyataan dia juga menggigit. Bahkan ada beberapa pernyataan yang dia ciptakan sendiri. Tapi untung kamu bisa nembak ke kelemahannya secara tepat, kata-kata yang akurat dan gak memedulikan pernyataan karangan. Kalo nggak, aku gak tahu kalian bakal debat sampai kapan,” Sofia malah mengomentari debat antara aku dan Kak Raihan.

Aku membuang pandanganku. Mataku memandang langit dan tersenyum getir.

Debat itu seharusnya gak terjadi…

Karena aku menyukainya karena engkau, Ya Allah…

Kenapa semua ini bisa terjadi?

“Ya Allah, hamba ingin sekali mendapat calon imam yang baik seperti Kak Reno. Walaupun hamba selalu berharap orang itu adalah… Kak Raihan,” Doa yang selalu aku alunkan setiap sholatku kembali terdengar lirih dari mulutku.

Setelah dzikir dan membaca Al-Qur’an, aku melipat mukena putihku.

Berandai-andai dalam hati…

“Andai aja aku menyukai orang lain. Semua tidak akan begini kalau aku tidak menyukai orang yang tak mungkin bisa kuraih,”

Berandai-andai dalam hati. Berharap Allah menetapkan takdirku dengan baik.

“SEBAIK-BAIKNYA sutradara adalah Allah SWT. Karena Dia dapat membuat sesuatu yang tak mungkin terjadi menjadi mungkin,”

BRUK!

Buku-buku kedokteranku berjatuhan karena tersenggol anak-anak lain. Dengan cepat aku mengumpulkan buku-buku itu sebelum terinjak.

“Dasar gadis aneh! Mungkin kepalanya botak, karena itu dia menutupinya dengan kain panjang yang mereka namakan kerudung,”

“Astagfirullah…” Aku bergumam lirih. Sekilas tanganku berhenti mengumpulkan buku.

Aku sudah tahu resiko melanjutkan pendidikanku di Eropa. Tapi aku tak tahu seperti ini resikonya. Oke, aku memang sudah tahu masalahku disana hanyalah kultur budaya dan… agama. Aku pikir aku sudah siap, ternyata…

Tapi tiba-tiba setumpuk buku terulur kepadaku. Aku mendongak dan mendapati seorang laki-laki tampan yang berwajah Asia sama sepertiku. Namun anehnya, wajahnya terasa familiar.

“Jangan dengarkan mereka. Mereka hanya iri dengan kehebatanmu. Ini bukumu, terimalah,” Laki-laki itu berbicara lembut. Matanya tak menatap ke arahku melainkan ke bukuku yang baru dipungutnya.

Aku menerima buku milikku sambil menggumamkan terimakasih yang lirih.

“Iam moslem, too. Mau ikut ke cafe sebagai saudara sesama muslim? Sekedar berbicara singkat?” ajaknya tetap tanpa menatap ke arahku. Melainkan menatap arah lain.

Aku sedikit ragu. Pergi dengan orang asing apalagi itu laki-laki yang baru ditemui? Terdengar tidak cocok. Tapi kata ‘saudara sesama muslim’ menggugahku. Apa aku harus menerimanya?

“Sebagai saudara sesama muslim, oke,” jawabku mantap.

“…Eropa memang negara yang masih samar-samar dalam beragama. Disini kebanyakan orang beragama, tidak terlihat beragama. Jadi Ukhti harus membiasakan diri. Kutebak, Ukhti merupakan mahasiswi baru?”

“Ya, Akhi. Memang agak sulit. Tapi alhamdullilah, saya bisa menyesuaikan kondisi di sini. Justru saya kira, inilah salah satu ujian saya untuk menjadi seorang muslim,” ucapku.

“Memang benar. Dan kota inilah yang membuat temanku bertobat. Dia menyadari bahwa dia takkan kuat berada di kota ini tanpa iman yang kuat. Karena itu bahkan imannya sekarang jauh melampaui saya. Padahal saya yang terlihat ‘alim’ lebih dulu,”

Aku tertawa kecil bersama pemuda itu.

“Nama kamu siapa? Sepertinya kita sepantaran,”

“Fayya Asyifa Khoirun,” jawabku mantap.

Orang itu terlihat kaget dan menaikkan alis. “Lulusan SMA Permata? Anak kelas 10 IPA-2, 11 IPA-1, dan 12 IPA-1?”

Sejenak aku menaikkan alis mengingat semua informasi yang dia beberkan sangat benar.

“Namaku Ahmad Reno Fauzi. Lulusan SMA Permata. Anak IPA juga. Ah iya, kamu pasti gak kenal aku karena aku emang gak populer,” Reno tertunduk ke bawah.

‘Dia gak tahu aja gimana populernya dia sehingga aku kagum,’ batinku jengkel.

“Aku kenal kok. Kak Reno yang dapat julukan Boy was born Heaven kan? Malah aku kak yang gak populer,”

“Kamu gak nyadar ya? Kamu itu salah satu bintang yang menyaingi Raihan. Dan aku juga dapat kabar kalo kamu itu suka banget nolong, dan dapat julukan ‘White Angel’, yang populer banget saat aku kelas 12. Apalagi saat kamu ngalahin Raihan, kamu tuh ibarat cewek idaman di antara para cowok. Tapi aku denger kamu anti banget sama cowok,”

Sejenak aku kaget. Aku kira semua anak cowok yang aku tanyain itu marah karena aku ngalahin salah satu kaum Adam, Kak Raihan. Ternyata mereka ‘salting’.

“Oh ya kak? Kakak juga terkenal kok di golongan cewek-cewek dengan ke agamaisan kakak. Aku kagum sama kakak,” ungkapku jujur. “Omong-omong, gimana kabar Kak Raihan, kak? Rasanya gak ngisengin dia itu gimanaaa gituu…”

Reno dan aku tertawa.

“Ya itu. Temen yang aku bilang tadi itu dia. Kamu bakal kaget kalau lihat dia sekarang,” Reno melirik jam tangannya dan berdiri. “Mau shalat dhuha dulu? Baru kita silaturahmi sama Raihan,”

Aku terperangah. Kak Raihan? Kak Raihan yang jarang sholat itu?! ‘Sebaik-baiknya sutradara adalah Allah SWT. Karena Dia dapat membuat sesuatu yang tak mungkin terjadi menjadi mungkin.’ Kak Raihan kan kayaknya paling males banget sholat…

“Iya kak,” Aku berdiri sambil hendak meletakkan uang ketika Kak Reno melarangnya dengan mata.

Secepat kilat, Reno menaruh beberapa koin di meja dan berjalan duluan. Karena wanita memang lebih terhormat berjalan di belakang.

“TAK pernah sia-sia doaku selama ini… Allah memang akan selalu mengabulkan apa yang diminta hambanya selama hambanya itu bekerja keras mewujudkan keinginannya,”

“Reno…”

Fayya berbalik ke arah suara dan mendapati wajah familiar yang akrab.

“Kak Raihan?!”

“Kamu… Fayya?!”

Reno tersenyum membiarkan mereka berdua sementara dia agak menyingkir.

“Cie, yang sudah berubah,” buka Fayya canggung.

“Ini berkat kamu. Kalo kamu gak mengingatkan aku di hari itu, mungkin aku gak akan bisa jadi seperti ini,” sahut Raihan lembut.

– flashback on –

“Kenapa lo bisa ngalahin gue?!” tanya Raihan jengkel dikalahkan oleh adik kelas yang menurutnya tak ada apa-apanya.

Oke, Fayya memang cantik dan sangat baik. Dia juga cerdas, dibuktikan dengan dirinya sebagai peringkat satu seangkatan. Tapi, dia bahkan tak kalah dari Fayya kan?

“Karena gue percaya sama Allah SWT,” Saat itu Fayya udah sebodo dengan status adik kelasnya.

“Cuma itu?” tanya Raihan tak percaya.

Fayya mengangguk tak sabar. “Selama ini lo selalu bangga dengan apa yang lo miliki. Sehingga lo tinggi hati. Seharusnya lo sadar, lo begini karena Allah dan gunakan untuk kembali ke jalan Allah!”

Raihan terdiam mendengar ucapan Fayya. Dia menyadari bahwa dia memang jarang shalat. Berbanding terbalik dengan gadis di depannya yang bahkan rutin melaksanakan shalat tahajjud dan dhuha. Apalagi shalat fardhu?!

“Suatu hari lo akan menyadari, pentingnya arti agama. Karena agamalah yang membentuk kita menjadi pribadi yang baik dan menuntun kita ke jalan yang benar,” Suara Fayya melembut.

– flashback off –

“Nggak, kak,” Fayya menggeleng lemah. “Kakak yang membentuk pribadi kakak sendiri. Aku cuma mengarahkan kakak ke sosok kakak yang sejati. Keimanan. Dan inilah sosok kakak yang sebenarnya!”

Raihan tersenyum kecil. “Sekarang aku tahu kenapa aku selalu mengganggumu,”

Tiba-tiba wajah Fayya berubah kesal mengingat kenangan mereka saat SMA yang tidak ada manis-manisnya. Padahal saat itu dia ingin kenangan manis karena dia menyukai Kak Raihan, bahkan sampai sekarang. “Lupakan saja kak,”

“Nggak, nggak. Aku baru menyadari bahwa aku mencintaimu. Aku mencintaimu karena Allah. Allah sudah mempertemukan kita dan takdir yang menjadi perantaranya,”

Fayya terperangah.

“Aku ingin kau menjadi halal bagiku. Maukah kau menjadi pendamping hidupku?”

“Untukmu, ‘iya’lah yang akan kukatakan. Karena aku memang menyukaimu- tidak, mencintaimu karena Allah,” Fayya tersenyum penuh haru. Akhirnya, doanya terbalas.

Reno tahu saat ini akan terjadi. Dia berusaha merelakan Fayya. Walaupun rasanya sulit.

Oke. Dia menyukai Fayya Asyifa sejak pertama kali melihatnya. Rasanya seperti ada kharisma keimanan yang melekat pada diri Fayya.

Walau begitu, dia akan berusaha mengikhlaskan Fayya untuk sahabatnya, Raihan. Dia yakin dia akan mendapatkan yang lebih baik.

“Permisi, Kak Reno. Ada apa dengan kakak? Maaf mencampuri urusan Akhi. Tapi, sebagai saudara sesama muslim kita harus saling membantu kan?” Seorang gadis berjilbab syar’i menunjukkan raut cemas.

Reno menoleh dan mendapati wajah familiar yang selalu memandangnya memuja saat SMA. “Tidak apa, Sofia,”

‘Sofia Nitasya Azzahra,’ Reno menggumamkan nama itu dalam hati dan tersenyum kecil.

Mungkin Reno sudah menemukan pengganti Fayya.

Cerpen Karangan: Mia Yumi
Blog: ayudiamimi.blogspot.com
Hanya seseorang yang sangat suka menulis cerpen di kala senggang. Selalu ingin terus mencoba cara menulis yang berbeda dan fresh. Salam 🙂

Cerpen Takdir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Biksah Bersama Ilham

Oleh:
“Fel, gue boleh nanya sesuatu nggak?,” tanya Bram dengan hati-hati di tengah latihan mereka untuk mempersiapkan turnamen nasional band terbaik. Felly mengangguk. Tetap memetik senar gitar dan melihat partitur

Tentang Aku Kamu dan Ta’jil

Oleh:
“Huhhhhh” Aku menarik nafas panjang setelah lelah dengan kegiatan seharian ini. Aku meluruskan kakiku dan bersandar di dinding. Ya Aku sedang menikmati malam dingin menanti kabar. “Tau gak puasa

My Friend Is My Love

Oleh:
Dia, ya dia yang sangat manis dan anggun dengan kerajinannya selama ini. Dia dikagumi oleh banyak orang. Bahkan, tidak jarang seseorang memiliki perasaan yang lebih padanya. Dia adalah Afanin,

Kado Terindah

Oleh:
“Lo mau kemana, Fel?,” tanya Riska. “Gue ada janji dengan seseorang.” “Udah punya speakan, nih?!,” duga Bram dengan tetap memainkan stik drumnya. “Biarin aja lah, guys! Toh, kali aja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *