Takdir Yang Menentukan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 6 June 2018

Hari ini, tepatnya pada tanggal 11 juli, awal pertemuanku dengan dia, ya dia seorang pria yang bernama Ali. Pertemuan kami dimulai ketika aku sedang membaca al quran di musholla sekolahku.
Dia mendengar lantunan suaraku, dan pada saat itu, dia juga sedang mencari seorang untuk mewakili sekolahan kami dalam lomba seni membaca al-quran. Dia mendengar suaraku dan akhirnya setelah aku selesai membaca al-quran dia menghampiri, dan…

“assalamualaikum, maaf aku tadi nggak sengaja mendengar kamu mengaji dan aku suka akan suara kamu, apa kamu mau ikut lomba seni membaca al-quran?” tanya ali langsung kepadaku
“aku? apa kamu nggak salah?” tanyaku bingung
“enggak aku nggak salah kok, kamu mau ya, kalau kamu mau aku akan bilang ke kepsek biar kamu yang jadi temen aku buat ikut lomba baca al-quran”
“iya insyaallah aku mau kok” jawabku setelah beberapa saat memikirkan hal itu
“ya udah, nanti kelanjutannya aku bilang ke kamu ya, assalamualaikum” dan sebelum aku jawab, dia sudah pergi menginggalkanku sendiri lagi di musholla.

Itu adalah awal pertemuanku dengan ali. Dan beberapa hari kemudian memang benar, aku dipanggil ali untuk menghadap kepsek dan membahas syarat-syarat yang harus aku penuhi, dan 3 hari kemudian, aku, ali, kepsek dan guru keagamaan pergi bersama untuk mengikuti lomba tersebut, dan tak lama kemudian, aku dipangil untuk seni membaca al-qur’an yang kemudian langsung dilanjutkan oleh ali. sungguh begitu indah suara ali, suara emas mubgkin pantas diberikan kepadanya.

Dan mulai saat itulah aku mulai menyukainya. seusai lomba dilaksanakan, pengumuman pemenang langsung dibacakan, dan alhamdulillahnya, aku dan ali sama-sama mendapatkan juara pertama.

Setelah lomba itu, antara aku dan ali tidak ada hubungan sama sekali. dan dua bulan kemudian diadakan pemilihan pengurus osis, dan lagi-lagi aku dan ali tergabung dalam organisasi osis seksi keagamaan.
Mulai saat itu, aku dan ali mulai ada ikatan, yaitu ikatan persahabatan, kami semakin dekat, hingga ada suatu rasa yang tumbuh yaitu rasa cinta.

Hingga suatu hari, ali bicara kepadaku “queen, sebenarnya udah lama aku memendam perasaan ini ke kamu, sebenarnya semenjak aku denger suara kamu pertama kali di musholla aku udah mulai menyukai kamu, apa kamu, apa kamu juga merasakan hal sama ke aku?” ungkap perasaan ali kepadaku.

Deg, tiba-tiba jantungku seperti berdegup lebih kencang. dan secara perlahan aku menganggukkan kepalaku, dan tidak lama kemudian kami menjadi semakin dekat, tapi di antara kami tidak ada hubungan yang mengikat, kecuali persahabatan, walaupun ali telah mengutarakan perasaannya kepadaku.

Dua tahun telah berlalu, dan hubungan kami tidak lebih dari persahabatan, dan entah tanpa sengaja waktu aku pewat depan kelasnya, aku melihat dia dengan seorang perempuan, yang tidak lain adalah sahabatku, aku melihat dia duduk berhadapan, aku melihat mereka sedang berbicara dengan santainya, awalnya aku hanya menganggap mereka hanya teman biasa, tapi banyak teman-temanku yang bilang kalau mereka semakin dekat, dan perkataan teman-temanku semakin diperkuat dengan adanya aku melihat mereka berjalan berdua menyusuri lorong-lorong kelas menuju ke kantin sekolah sembari berbicara dan sesekali mereka bergurau tanpa melihat orang-orang di sekitar.

Deg, jantungku seketika langsung berubah menjadi berdetak semakin cepat, kakiku langsung terasa lemas, entah mengapa aku merasa seperti ini, bukankah di antara kami tidak ada hubungan apa-apa kecuali persahabatan? Lalu kenapa ada rasa cemburu, apa memang benar aku menyukai ali? apakah memang benar anggukanku beberapa tahun yang lalu?

Aku merasa lemas, aku langsung pergi menuju ke mushola, walaupun nantinya harus berpapasan dengan ali dan ratna, tapi aku langsung pergi ke musholla tanpa mebghiraukan itu semua, dan tanpa kusadari ternyata ali dan ratna ternyata melihatku dan mereka memanggilku, tapi aku tidak menghiraukan mereka, aku langsung pergi ke musholla, tanpa berhenti.
Di musholla aku menangis, aku mencurahkan isi hatiku kepada-Nya.

Setelah kejadian yang kulihat, aku mulai menjauhi ali, aku nggak mau kalau rasa sakit ini akan semakin parah jika aku melihat mereka berduaan. tapi aku nggak menyimpan rasa jengkel, dendam, kepada mereka.

Satu tahun kemudian, dan tetap saja rasa ini masih ada kepada ali, rasa yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kataku.
Hari purnawiyata, sekaligus hari perpisahan antara aku dan teman-temanku, termasuk ali. tetapi aku tetap menjauhi ali, walaupun ali sudah sering membujukku, tapi aku tetap saja menjauhi ali.

Enam tahun kemudian, usiaku sudah menginjak 23 tahun, kedua orangtuaku sudah mulai mendesak agar aku segera menikah, tapi aku masih mencintai ali, aku tidak bisa mengelak akan hal itu, dan akhirnya aku oleh orangtuaku dijodohkan, aku nggak mau mengenal orang itu, dan orang yang dijodohkan untukku pun nggak mau mengenal aku, akhirnya kami sama-sama nggak mengenal, kami menikah pada tanggal 11 juli, dimana hari itu adalah hari pertemuan dan perpisahan antara aku dan ali, semua orang tidak tau akan hal itu, kecuali aku, aku yang memutuskan hal itu, dan semua orang pun setuju akan hal itu.

Hari pernikahan akan dimulai Beberapa menit lagi, aku berharap bahwa ali akan datang, dan dialah yang menjadi imamku, tapi itu nihil bagiku, karena itu tidaklah mungkin, dan aku masih belum mengetahui siapakah imamku, karena kami sepakat kami akan saling mengenal saat pernikahan dilaksanakan, awalnya orangtua kami saling melarang akan hal itu, tapi kami saling yakin, bahwa kedua orangtua kami telah memilihkan jodoh yang terbaik untuk kami.

Dan akhirnya…
Kami mengenal setelah aku membaca al-quran dengan nada yang aku gunakan saat awal aku bertemu dengan ali, dan…
“queen…” sebut laki-laki yang akan menjadi imamku.
Aku langsung berhenti melantunkan ayat-ayat suci al-qur’an, dan aku langsung menyebut nama seseorang yaitu..
“shodaqallaahuladziim” langsung kututup al-quran yang aku pakai. dan setelah itu, aku langsung berdiri dan berbalik badan, “ali” sebutku dalam hati.
“kamu ngapain di sini? bukannya kamu udah bahagia sama ratna? terus ngapain lagi kamu ada di sini?” tanyaku sambil meneteskan air mata yang selama ini selalu aku pendam.

Ali diam beberapa saat, dan saat itu juga aku langsung pergi meninggalakannya sambil menangis, seperti yang aku lakukan ketika aku melihat ali dengan ratna dulu. tapi langkah kakiku terhenti karena ada genggaman tangan yang menghentikanku pergi.

Sembari menangis aku berkata “apa kamu belum puas udah nyakitin aku?, apa kamu belum puas udah memberi aku harapan palsu? apa kamu belum puas Ngebuat aku nangis gara-gara ngeliat kamu selalu bersama ratna? apa kamu belum puas ngebuat aku nangus setiap malam karena ingat kamu dulu pernah bilang kalau kamu suka sama aku, terus kamu tiba-tiba deket sama ratna, apa kamu fikir, aku nggak sakit hati ali?” tanyaku sembari masih menangis dan, aku pun langsung jatuh duduk karena tidak kuat berdiri lagi, kakiku langsung lemas, lagi -lagi aku menangis, tangisanku terisak, aku menangis sambil menundukkan kepala.

“queen, sekarang lihat aku, tatap wajahku, sebenarnya, aku dan ratna itu saudara, aku dan dia itu satu paman, apa kamu cemburu?” goda ali kepadaku sambil tersenyum, tapi aku masih menangis, bahkan tangisanku semakin terisak, dan ali pun semakin bingung dibuatku, dan akhirnya..
“baiklah queen, aku sekarang minta maaf, bisakah sekarang kita melangsungkan akad nikah?”
“akad nikah?” tanyaku keheranan sembari mengusap air mataku
“ya queen, apakah kamu mau menjadi ibu dari anak-anakku kelak? aku mencintaimu queen, aku yang menjadi imammu nanti”
“benarkah?”
“iya, cepatlah, kita sudah dipanggil oleh kedua orangtua kita.”

Dan akhirnya, aku dan ali menikah Dengan kebahagiaan.

End

Cerpen Karangan: Queen Qurrota

Cerpen Takdir Yang Menentukan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Balik Cadar Najwa

Oleh:
Wanita dengan sosok bercadar berlari ketakutan dalam rintikan hujan sampai ia tak sadarkan diri dan terjatuh tepat di depan gerbang pesantren. Udara sangat dingin ditambah hari yang mendung menambah

Surat Maaf Untuk Rafaeyza (Part 3)

Oleh:
Sejak saat itu kebersamaan mereka semakin erat, lambat laun Rafa mulai menemukan semangatnya lagi. Mereka berjuang bersama, tertawa bersama, tak peduli selelah apa pun, mereka selalu berusaha bersama. Itulah

Kutitip Cinta Pada Adzan Terakhirmu

Oleh:
Entah sampai kapan aku akan terus seperti ini, menikmati rindu yang menghancurkan perasaanku. Menjalani penantian yang mengoyak hatiku. Adakah kamu tahu, aku adalah pengingat yang hebat. Aku bahkan masih

Dia Yang Kembali

Oleh:
Hujan deras yang membasahi kota mengingatkanku kepada kenangan lama yang pernah aku jalani dengannnya. Sebut saja dia adalah Muhammad fadhli dengan sapaan akrab Fadhli. Kita pernah menjalin hubungan spesial,

Cintaku Bukan Untuknya

Oleh:
Saat ini aku adalah murid kelas 12 SMK di sebuah desa. Aku seorang yang biasa-biasa saja dengan seribu kekurangan yang aku punya. Aku sangat bahagia dan bersyukur dengan kehidupanku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *