Tamu Spesial

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 24 February 2019

Seorang gadis tengah dalam perjalanan menuju ke kampusnya. Namun, dalam hatinya ia terus saja menggerutu. “Aku menyesal, aku menyesal, aku menyesal! Kenapa dulu aku bisa terjebak dalam hubungan yang terlarang itu,” ia menyebutnya hubungan terlarang karena dalam agama islam pacaran di luar pernikahan itu di larang. “Huh… Ya Allah ampunilah aku atas segala dosa yang telah aku perbuat,” ucapnya kembali dalam hatinya. Kemudian gadis ini turun dari angkot, bak seorang putri yang turun dari kereta kencana ia mengangkat bagian bawah gaunnya. Kemudian berjalan dengan anggunnya. Tapi seketika ia menjerit, ternyata oh ternyata jalannya becek. Gaun yang ia kenakan pun kotor deh.

“Assalamu’alaiku Tiana,” sapa seorang teman dari belakangnya. Ia pun membalikkan badannya. “Wa’alaikumsallam Sarahku sayang,” jawabnya dengan manis. “Ya ampun bajumu kotor Tiana,” ucap Tiana. “Sudahlah tidak apa-apa, ini kan sebagian dari ujian hidup” jawabnya cengengesan. “Oh iya gimana, kamu sudah hafal surat Ar-Rahman?” tanya Sarah penasaran. “Hmmm… gimana yah?” jawabnya mulai mengajak sahabatnya bercanda. “Ayolah, kamu kan bilang akan menghafal surat tersebut dalam dua minggu. Sekarang sudah hafal belum?” tanyanya lagi semakin penasaran. “Akan kujawab setelah kita sholat dhuha.” Tiana pun mengajaknya masuk kelas.

Seusai sholat dhuha Tiana mengatakan bahwa ia sudah hafal. “Masyaallah, kamu hebat Tiana. Juz 30 saja aku masih belepotan,” puji temannya tersebut. “Alhamdulillah, man jadda wa jadda kan,” jawab Tiana. “Oh iya si Ikbal gimana, masih suka ngechat kamu?” tanya Sarah. “Iya sampai sekarang dia masih suka ngechat. Tapi tak pernah aku balas, padahal aku sudah bilang kalau aku tidak mau pacaran kecuali jika dihalalkan,” jelas Tiana. “Kamu benar Tiana laki-laki seperti dia beraninya cuma ngajak pacaran, dan belum tentu ujungnya dia mau nikahin kita kan. Kalau ditanya masalah nikah wahhh seribu alasan,” tutur Sarah. “Ya sudah tenggelamkan saja!” perintah Tiana. “Siapa? Ikbal dan sejenisnya?” tanya Sarah menuntut penjelasan. “Bukan… tenggelamkan pikiran-pikiran buruk kita tentang laki-laki. Lebih baik kita fokus memperbaiki diri saja,” jawab Tiana sembari memasukkan mukena ke tasnya.

Tiga tahun kemudian…
“Sebentar lagi skripsi nih, tapi aku masih saja malas-malasan. Ipk aku juga pas-passan beda jauh sama kamu,” tutur Sarah. “Hmmm…” Tiana hanya menjawab dengan gumaman singkat. Ia terlalu fokus menulis novel. “Kamu mendengarku tidak? aku kan sedang curhat,” tanya Sarah. Tiana pun mematikan laptopnya. “Sarah… kamu harus berjuang lebih keras. Lawan rasa malasmu dengan begitu kamu pasti akan sukses,” tuturnya sembari meminum jus alpukat kesukaan mereka. “Oh iya, ini sudah sore Ibuku pasti sedang menungguku pulang. Aku kan harus membantunya menyiapakan pesanan kue untuk besok,” lanjut Tiana. “Oh iya, ini sudah sore aku kan harus menutup gorden sebelum Ibuku marah-marah karena aku terlalu sibuk memainkan hp” balasnya tersenyum. “Ah… iya-iya. Kenapa juga kita selalu lupa menutup gorden dan membuat Ibu kita marah karena kelakuan kita,” mereka pun tertawa.

Di rumah ibunya terus saja membahas masalah jodoh. “Setahun lagi kamu kan wisuda, berarti jodoh kamu sudah dekat Nak,” ucap ibunya. “Kiamat kali Bu sudah dekat. Bu… Insyaallah jodoh itu akan datang di waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat,” jawab Tiana. Setelah pekerjaan mereka selesai Tiana memijati ibunya. “Tiana… Ibu senang kamu jadi anak yang sholehah. Padahal ibu tidak pernah sekental itu mengajarkan ilmu agama. Tapi kamu berhasil tumbuh menjadi gadis yang sholehah dan cerdas,” puji ibunya. “Ibu… ini semua karena Ayah. Ibu kan tahu Ayah sudah seperti bapak ustad di tv-tv” kemudian Tiana mengajak Ibunya berwudhu karena sebentar lagi magrib.

Besoknya Tiana tidak pergi ke kampus, karena baru selesai UAS jadi kuliahnya libur. Saat ia kembali melanjutkan menulis novel, dari kamarnya ia melihat seorang laki-laki yang sangat ia kenal. “Ya Alah… itu kan Adit,” gumamnya. Adit adalah temannya sewaktu SMP. Bisa dibilang Adit ini adalah cinta pertama Tiana. Tapi Tiana selalu berusaha menyingkirkan Adit dari pikirannya. “Ya Allah meskipun sesekali aku suka teringat tentang dia, aku tidak ingin terlalu mengharapan dia menjadi jodohku. Tolong lindungi aku dari hal-hal yang mengarahkan pada zinah ya Allah. Semoga suatu saat aku mendapatkan jodoh yang sholeh, seorang laki-laki yang mampu menjadi imam dan membimbingku menuju surga-Mu.”

Setahun kemudian…
Tiana sedang berfoto-foto bersama keluarganya begitupun dengan Sarah. Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi mereka, karena hari ini mereka wisuda. Tampak rona kebahagiaan terpancar dari wajah mereka. Akhirnya perjuangan mereka berbuah manis.

Sudah sebulan Tiana bekerja sebagai guru honor di salah satu SMA. Setelah selesai dengan semua pekerjaanya ia pun pulang. Di rumah tampak Ibu dan Adik perempuannya sedang menyiapkan pesanan kue untuk acara tunangan anak sahabat Ibunya. “Assalamu’alakum,” sapanya. “Wa’alaikumsallam. Tiana kamu sudah pulang. Ya sudah sana kamu mandi dan sholat ashar dulu!” perintah ibunya. Tiana pun mandi dan sholat ashar. Tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi. Wulan, Adik perempuan Tiana membukakan pintu untuk tamunya dan mempersilahkan mereka duduk. Lalu kembali ke tempat Ibunya bekerja. “Siapa Nak?” tanya Ibunya. “Wulan tidak tahu Bu, tapi kayanya itu teman ka Tiana waktu SMP deh. Wulan sempat bertemu dia dulu waktu ka Tania ngajak Wulan ke sekolahnya,” jelas Wulan. “Ya sudah kamu panggilkan Ayah yah,” Ibu pun langsung bergegas ke ruang tamu.

“Maaf membuat kalian menunggu,” ucap Ibu. Ayah pun datang disusul Wulan yang membawakan jamuan makanan. “Maaf kalau kami mengganggu aktivitas keluarga Bapak. Maksud kedatangan kami kesini kami mau mengkhitbah anak Bapak yang bernama Tiana,” jelas Ayah dari seorang pemuda yang bertamu ke rumah mereka. Tiana sempat mendengarkan ucapan Bapak tersebut, ia pun segera mengenakan hijabnya dan pergi menuju ke ruang tamu. Betapa terkejutnya ia melihat Adit ada di sana. “Tiana sini Nak,” panggil Ayahnya. Tiana pun duduk di samping Ayahnya. Tiana berusaha menundukkan pandangannya begitupun dengan Adit. “Jadi bagaimana Pak, Bu?” tanya Ayahnya Adit. “Jujur saya pribadi sangat bahagia, karena ada laki-laki yang tak disangka-sangka datang ke rumah mau mengkhitbah Anak saya. Tapi jawabannya tergantung Anak saya” jawab Ayah Tiana. Terlihat Ibu dan Wulan saling menggenggam, menunggu jawaban Tiana penuh harap. “Bagaimana Tiana, apa kamu mau menerima pemuda ini?” tanya Ayahnya. Tiana pun terdiam beberapa saat kemudian ia memantapkan hatinya “Aku bersedia menerimanya Ayah,” jawabnya berkaca-kaca. “Alhamdulillahirrabbil’alamiin.” Semuanya mengucap puji syukur kepada yang Maha Kuasa.

Begitulah, kisah cinta yang sangat romantis telah dimulai dalam kehidupan Tiana dan Adit. Adit sangat mencintai Tiana, makannya ia mau menghalalkan Tiana sebagai istrinya. Ia tak mau kecantikan Tiana dinikmati oleh orang lain. Ia menikahi Tiana karena ia mau menjaga dan memuliakan Tiana sebagai seorang wanita muslimah.

Cerpen Karangan: Atina Sabila Khodijah
Blog / Facebook: Atina Sabila Khodijah

Cerpen Tamu Spesial merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Aku Memilih Hatinya

Oleh:
Tidak hanya sekedar “Beautiful”, tapi “Pretty.” Zahra perempuan 25 tahun ini tidak hanya sekedar cantik, tapi dia mempunyai hampir semua yang ingin dimiliki oleh kaum hawa. Hampir semua orang

Kutinggalkan Dia Karena Dia

Oleh:
Aku sangat bahagia saat ini. Bagaimana tidak bahagia, orang yang aku sukai ternyata menyukaiku. Dan aku juga sudah resmi menjadi pacarnya pada hari ini. Orang itu adalah adit, dia

Bukan Rasa Tertinggal

Oleh:
Di depan almari lusuh yang jarang dibuka, aku duduk ternganga melihat tumpukkan buku menyambut dengan penuh kerendahan hati. Walaupun aku telah mengucilkan buku-buku ini sampai berdebu, kumal, bau, bahkan

Hati Yang Luka

Oleh:
Namaku Annisa. Sekarang aku duduk di kelas XI SMA. Aku terlahir dari keluarga yang agamis. Tak heran jika aku juga memakai pakaian tertutup serta hijab di keseharianku selain di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *