Taubatnya Lelaki Bertato

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 16 May 2016

Tak semestinya hidup ini berjalan lurus-lurus saja, setiap insan akan selalu didatangi beberapa masalah. Tak selalu yang baik-baik itu akan berakhir baik pula, dan yang buruk-buruk akan berakhir buruk. Setiap makhluk yang menghadapi kerasnya hidup ini akan mengerti betapa menyeramkannya dunia. Ia yang berpikir akan semakin mengerti apa arti hidup, ia yang berkecimpung dengan dunia hitam, dunia sampah yang di dalamnya penuh kotoran di mata orang-orang yang merasa baik.

Pagi ini aku harus melaksanakan tugasku sebagai manusia yang bersemangat untuk menuntut ilmu. Subuh yang menenangkan, ku lihat langit masih memejamkan mata, karena mentari belum menampakkan diri di ufuk timur. Aku berbincang dalam hatiku, “Ya Allah, ada keajaiban apalagi ya hari ini?” Tiap-tiap waktu aku selalu penasaran dengan apa yang akan terjadi setelah detik berganti detik, lalu menit berjalan menjadi jam, begitu seterusnya.

Aku memperhatikan setiap makhluk di sekitarku, itu hal yang menyenangkan bagiku, itu yang membuatku bisa mengenal karakter-karakter orang, tumbuhan, dan hewan. Aku selalu ingin tahu apa maksud dari gerak mereka, apa makna keindahan yang mereka miliki. Ku berjalan menelusuri bahu jalan, hari ini cukup ramai. Cuaca cerah, karena mentari pagi ini sedang bahagia, tak ada mendung yang menghalanginya, hanya beberapa kapas putih yang membalut langit biru yang sangat sejuk dipandang. Asap-asap kendaraan yang menghalangi penglihatanku, menggangguku saat menikmati oksigen yang Allah berikan secara cuma-cuma. Tapi itulah nyatanya, menurutku indah-indah saja.

“Hei, tunggu dulu!” tiba-tiba saja seseorang menghentikan langkahku. Suara laki-laki, sepertinya masih muda. Perlahan tapi pasti aku menengok dengan tenang. Oh tidak! Premankah ini? Hatiku semakin khawatir saja, menelan ludahku sendiri, menandakan aku sedang gugup. Ia mendekat, semakin dekat, berhenti sekitar 15 meter dari tempatku terpaku. “Maaf mengganggu jalanmu, bisa bicara sebentar?” Peuh! Laki-laki ini membuatku semakin gugup, aku bingung harus mengikutinya atau tidak. Lihat saja tampilannya, lengannya penuh tato, telinganya ada anting, rambutnya keren sih tapi. Entahlah! Aku harus bagaimana? Aku harus ngapain? Jantungku semakin berdebar saja. Nanti kalau aku diculik gimana, terus kalau… arrgghh! Bagaimana ini?

“Kau tak percaya padaku, gara-gara ini, ini juga?” ia bertanya padaku, mungkin tak tahan melihatku linglung dan gugup. Ia sadar style-nya buatku tak nyaman, menunjukkan beberapa sisi dari dirinya yang membuatku terdiam cukup lama. “Kau ini siapa? Mau bicara apa?” aku bertanya dengan wajah yang agak canggung. Yang benar saja, ia malah menyuguhkan senyuman. Aku malu. Kebetulan tak jauh dari tempatku berdiri ada tempat duduk, aku segera mengajaknya ke sana. Kami duduk, dengan jarak 2 meter kali ini.

“Perkenalkan, aku Dendy. Boleh ku tahu namamu? Dia menyodorkan telapak tangannya. Aku menoleh, tersenyum, dan mengangguk saja.
“Aku Nadine, ada apa kau menghentikanku tadi? Apa maksudmu?”
“Jangan berprasangka buruk dululah, aku tahu kamu pasti berpikiran kalau aku ini preman,” jelasnya dengan percaya diri, tersenyum dan alis kanannya terangkat benar-benar membuatku canggung, siapa laki-laki ini?

Setelah aku bertemu dengannya, membuatku bingung harus berbuat apa untuknya. Dia, laki-laki bertato di tangan sebelah kiri dan juga tindik di telinga kanan, yang membagi masa lalunya padaku. Bercerita, menangis, menangis? Ya benar, ia tersedu di hadapanku, ia sangat terpukul dengan hidupnya, tak tahu arah, tak tahu jalan pulang, ia tersesat di lingkaran neraka (baginya). Terlahir dari keluarga broken, menjadi seorang napi beberapa bulan, dan kehidupan ekonomi dan pendidikan yang sangat rendah. Malam itu aku berpikir, haruskah aku membantunya?

Bagaimana caranya, aku ini saja belum baik, mana bisa aku membantunya untuk bertaubat? Ia ingin bertaubat, entahlah! Setelah melihatku, ia pikir aku ini wanita saleha! Hah, saleha? Ya aku ini masih jauh dari kata itu, atau mungkin karena style-ku? Seharusnya ada perantara laki-laki yang harus membantunya untuk merubah dirinya, menyampaikan sesuatu yang baik, mengajarinya membaca Al-Qur’an. Yang benar saja, laki-laki berumur 22 tahun sama sekali belum bisa mengaji. Sama sekali. Geram, aku ingin membantunya. Memang tak ada jalan lain, “Bismillah, jadikan ilmu yang ku miliki, menjadi ilmu yang bermanfaat ya Allah.” memang aku yang harus membantu si lelaki bertato.

Hari demi hari berlalu, tiap seminggu 3 kali pertemuanku dengan Dendy semakin semangat ia belajar mengaji, semakin tenang pula kehidupannya. Namun tetap saja ia hidup dengan parasit (tato) yang masih menempel di lengannya, karena itu tato permanen maka tak bisa dihilangkan, kecuali disiram dengan air keras, jelasnya dulu. Sudah 2 bulan berjalan, saat di mana Dendy goyah keimanannya. Aku terkejut ketika ia mengatakan kalimat itu, tapi aku menyadari bahwa itulah resiko. Dendy mengungkapkan perasaannya. Ia belum mengerti bagaimana prinsipku, memang salahku tak memperingatkannya dari awal.

“Maaf aku menyukaimu Nadine,” ungkapnya sambil memandangku, aku hanya bisa Ghadul bashar (menundukkan pandangan).
“Aku ingin memilikimu, apa bisa Nadine?” Bismillah aku memberanikan diri.
“Aku tak bisa, aku tak ingin dimiliki siapa pun selain penciptaku, dan aku tak ingin mendengar ungkapan apa pun lagi darimu,” suaraku bergetar, aku mulai gugup.
“Hidayah datang darimu Nadine, aku sudah meraihnya, sekaligus aku mendapat perasaan ini, apa tidak bisa kita menjalin hubungan?”
“Alhamdulillah kamu mendapatkan Hidayah itu dan sudah kamu raih, tapi kamu salah mengambil sikap atas perasaanmu, aku tak ingin ada hubungan apa pun, aku hanya ingin hubungan yang halal, dan sekarang ini belum saatnya, aku tak bisa lagi bertemu denganmu setelah ini,”

“Apa karena tato dan tindik ini, kamu tak mau denganku?” Pertanyaannya membuatku semakin tak tahan berlama-lama dekat dengannya, aku menjawab sejelas mungkin, agar ia mengerti, “Belum saatnya aku dekat dengan seorang laki-laki, aku memang takut melihat tatomu itu. Bertaubatlah kembali, dengan sebenar-benarnya taubat, carilah seseorang yang bisa membagi ilmunya, seorang laki-laki, jangan seorang perempuan karena itu akan menyulitkanmu untuk fokus dalam menuntut ilmu, jagalah perasaanmu baik-baik.” Ia hanya terdiam, entahlah! Diam karena sudah paham betul dengan kalimatku, atau diam karena kecewa. Aku tak peduli. Dan aku segera beranjak pergi. Memang sangat singkat, aku hanya sempat untuk mengajarinya mengaji dan memberikannya wawasan-wawasan tentang Menjadi Seorang Muslim. Sedikit sekali, tapi semoga itu akan bermanfaat untuknya.

Beberapa bulan kemudian, 3 bulan berlalu tak ada kabar tentang Dendy. Aku juga tak ingin mencari tahu tentang dirinya. Sempat berpikir aku akan menemuinya, tapi tidak. Suatu saat jika dipertemukan, pasti aku bisa melihatnya kembali. Terakhir kalinya ia hanya mengirimiku pesan singkat, “Dalam malam aku sepi, dalam sunyi aku sendiri. Tak terlihat lagi sosok parasmu wahai Bidadari. Maafkan aku. Maafkan aku. Terima Kasih sudah menyadarkanku, membawaku pergi dari kegelapan duniaku. Memberiku obat, mengajarkanku tentang taubat, dan aku akan terus bertekad. Saat ini aku bisa berjalan sendiri, akan ku jaga semua yang kau beri. Ilmu yang tak akan pernah mati.”

Semoga saja ia tetap selalu konsisten dengan misi taubatnya. Karena bertaubat itu memang tidak mudah. Taubat adalah kembali ke jalan yang diridhoi Allah, meninggalkan jalan yang dimurkai Allah. Dan ada 3 cara untuk bertaubat : Introspeksi, Berhenti, dan Berazzam (Bertekad). Aku mau bertemu Dendy kembali, jika ia benar-benar sudah bertaubat, dan menjaga sikap atas perasaannya yang dulu diungkapkan padaku. Di mana ia sekarang? Apa sudah lebih baik dari kemarin?

Cerpen Karangan: Dyari Tsani
Facebook: Lisnadya

Cerpen Taubatnya Lelaki Bertato merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


One Heart

Oleh:
“Apa?” tanyaku pada Adit, cowok keren yang sekarang berdiri di depanku. “Iya, Lisa, maafin aku ya,” kata Adit lesu. “Jadi, kita harus bener-bener berakhir sampai di sini,” kataku lesu,

Cinta di Ujung Penantian

Oleh:
Sejauh mata ini memandang tak ada sosok itu. Ku arahkan mataku ke penjuru sekolah aku tak melihatnya hingga ada seseorang memanggil namaku dari arah belakang “syifa” panggilnya teryata sosok

Jagalah Aku Dari Cinta

Oleh:
“shodaqallahul ‘adziim” Alhamdulillah telah khatam aku mengaji ilmu al-Qur’an di pesantren sepuh ini, Pesantren Darul Qur’an namanya. Iya, di pesantren kecil yang bertembok kayu berwarna kuning sederhana dan berlantai

Tentang Rere

Oleh:
‘Nice morning’, begitulah bahasa asingnya. Pagi ini begitu cerah. Kicauan burung menambah ramai suasana pondok. Bagiku, pondok adalah muaraku tempat aku menimba ilmu, dengan bekal keuletan, kesabaran serta keseriusan,

Cinta dan Rahasianya

Oleh:
“La Tahzan” mungkin kalimat itulah jawaban Tuhan atas semua pertanyaanku. Jawaban atas kesedihan yang selama ini selalu menyesakkan dadaku, jawaban atas kegalauan hatiku, jawaban atas kebimbangan hatiku, dan mungkin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *