Tentang Rere

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 23 December 2017

‘Nice morning’, begitulah bahasa asingnya. Pagi ini begitu cerah. Kicauan burung menambah ramai suasana pondok. Bagiku, pondok adalah muaraku tempat aku menimba ilmu, dengan bekal keuletan, kesabaran serta keseriusan, aku yakin bahwa aku bisa untuk menjadi orang sukses di masa depan. Pepatah pun mengatakan “man Jadda wa jada” kujadikan kata itu sebagai prinsip utamaku, seakan pepatah itu memacuku untuk terus berusaha dan tak mudah untuk putus asa. Walaupun bagiku dunia terasa keras, roda kehidupan tak henti-hentinya berputar, aku harus bisa meyakini bahwa aku harus jadi yang pertama, dan terbaik.

Aku pandangi sejenak dedaunan yang bergoyang dengan semilir angin. Fikiranku kembali teringat pada seseorang yang telah lama menghilang. Sejak aku masuk pondok ini, pondok dia juga, aku tak pernah lagi menerima surat biru berbintang, coklat Batang pita merah, dan permen Lollipop favoritku. Terkadang, aku menangis sendiri di pojok asrama, berfikir dirinya telah melupakan aku dan mencintai santriwati lain. Namun, kucoba beberapa kali menepis sangkaan buruk itu, dan aku gagal.

Abang. Ya, sebutan itu adalah panggilanku untuknya. Semenjak aku masih duduk di bangku SMP, kami selalu bersama, tertawa bersama, makan bersama, sedih pun dirasakan bersama. Tapi, semua berubah semenjak kami masuk pondok yang sama. Mungkin, hanya satu kali dia mengirimku surat, coklat dan permen favoritku. Entahlah, apakah di dunianya namaku sudah lenyap?!.

“Nea, kamu kenapa?” tanya sahabatku, Risma yang mungkin dari tadi menatapku. Kuakui, hanya dia sahabatku yang mengerti perasaanku. Sedari SMP, dialah kepercayaanku.
“Aku tidak apa-apa, Risma” jawabku berbohong. Dia hanya memandangi penuh tanda tanya.
“Ayolah Nea, ceritakan padaku apa yang sedang kau pikirkan, aku merasa sedih jika kamu terus seperti ini” desah Risma dengan rasa ingin tahunya. Sebagai sahabat, tugasku adalah menghargainya, walaupun sepertinya ingin kupendam sendiri masalahku, namun aku tidak bisa. Dengan begitu banyaknya mata pelajaran, hafalan kitab dan tugas-tugas lainnya membuatku tidak mampu memikul masalah hanya seorang diri.

“Aku teringat Abang, ris” kataku yang tertunduk lesu. Tetap kugenggam kitab alfiyahku tanpa menoleh sedikitpun pada Risma.
“Nea, ayolah.. lupakan sejenak abangmu itu. Kau tahu, secinta apapun kamu padanya, kamu tetap harus menomorsatukan cita-citamu, pelajaran kamu. Jangan sampai kamu menjadi orang yang gagal hanya gara-gara itu. Kalau jodoh, kamu pasti dipertemukan kembali oleh Allah” Risma menasehatiku. Nasehatnya merasuki jiwaku. Kuresapi baik-baik nasehatnya yang mirip sekali dengan seorang ustadzah.
“Terima kasih Risma, kamu selalu bersedia mendengarkan keluh kesahku. Aku bahagia punya sahabat sepertimu” ucapku seraya tersenyum. Kupandangi wajahnya yang sedikit sedih. Mungkin, ia juga merasakan apa yang aku rasakan.
“Nah, gitu dong, kembali tersenyum. Kamu kalo senyum cantik lho, kayaknya aku jadi tersaingi nih, hehe” kata Risma seraya mencolekku.
“Ihh enggak kok, masih cantikan kamu” sahutku seraya membalas colekannya. Kami berdua bergurau cukup lama. Hingga tak terasa jam sembilan tiba. Sebentar lagi aku sekolah, batinku.

Kulangkahkan kakiku menuju musholla. Kukerjakan terlebih dahulu sholat Dhuha, dimana hal ini telah menjadi rutinitasku semenjak masih SMP. Alhamdulillah.. masih kurasakan sejuknya udara yang khas ini. Suasana pondok yang begitu indah, terhias selalu oleh suara-suara indah yang membaca ayat-ayat Al-Quran. Seakan-akan hidup di surga. Usai shalat, aku segera mengambil buku-buku pelajaran dan kitab-kitabku. Kujalani masa-masa indah di pondok ini, sebelum aku menyesal.

Fyuh…!! Tak terasa siang pun berlalu. Kurasakan penat ini setiap hari yang mungkin hanya di hari Jum’at aku tak sesibuk ini. Tugasku sebagai ustadzah, santri begitu melelahkan namun, demi ilmu, aku akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Malam ini, adalah malam bebas bagiku dan bagi ustadzah-ustadzah yang lain. Kubaca novel yang kupinjam dari Risma seraya tengkurap di kamar.

“Kling.. kling..” handphoneku berbunyi. Sebagai seorang ustadzah, aku diperbolehkan membawa gadget ke pondok, guna berkomunikasi dengan ustadzah – ustadzah yang lain. Kuraih handphoneku dan kubuka satu pesan yang kuterima dari orang misterius (only number).

“Assalamu’alaikum adik sayang, apa kabar?” Isi SMS itu terbaca mesra. Aku merasa SMS itu tidak asing di telingaku. Ucapan sayangnya, seakan mengingatkanku pada Abang. ‘apakah dia Abang?!’ batinku tertuju kembali pada sosok yang kucintai dan juga mencintaiku. Namun kutepis pikiran itu, karena aku yakin dia pasti sudah mencintai gadis lain selain aku. Kuletakkan novelku dan jari jemariku membalas SMS dari orang tak dikenal itu. Selang beberapa detik kemudian, SMS pun terbalas.

“Alhamdulillah kalau adik baik-baik saja. Apakah adik masih ingat padaku? Di sini aku merindukanmu dan masih mencintaimu” SMS itu mengingatkan aku pada suasana-suasana saat bersama Abang. Aku kembali teringat disaat aku digendongnya di sebuah taman bunga, saat aku di kecup kecup, saat aku dinasehatinya di acara kelulusanku dimana waktu itu Abangku sudah tamat SMA. Walaupun umur kami berselisih jauh, namun kami saling mencintai. Dan saat yang paling berkesan bagiku, saat Abang mengecup keningku di malam lebaran.
“Abang sayang sama Adik. Jangan kecewakan Abang ya, Abang selalu mencintai adik. Walaupun nanti kita berjauhan cinta abang tetap untukmu” kata-kata itu masih tersimpan di otakku. sedikit demi sedikit air mata mengalir dari pelupuk mataku. Betapa manisnya suasana itu, batinku.

“Nea..” suara itu membuatku kaget. Segera kupalingkan wajahku sambil mengusap air mata.
“Kamu kenapa Nea? Kamu sakit?” Tanya Risma yang semakin mendekat. Aku hanya menggeleng.
“Apa.. tentang Abangmu?!”
“Iya”. Jawabku singkat. Aku menarik nafas panjang. Cukup sulit ketika harus mengulang kembali cerita manis yang entah kapan akan benar-benar terulang.
“Aku teringat saat Abang di sisiku, Ris. Saat Abang menasehatiku di acara kelulusanku waktu SMP, saat aku dikecupnya di malam lebaran tanpa sengaja. Apakah kelulusanku Minggu depan dia akan datang?” Tanyaku dengan suara serak. Risma mencoba menenangkanku.
“Nea, aku yakin Abangmu akan datang di acara kelulusanmu nanti. Yang terpenting sekarang, kamu belajar yang rajin. Ingat! Besok ujian pertama, kamu harus mempersiapkan segalanya. Tentang Abangmu lupakan dulu sejenak ya, ini demi masa depanmu” ujar Risma yang memelukku. Aku menangis. Kutumpahkan semua unek-unekku, sampai aku merasa sedikit lega dan ringan.

Malam kini menjelma. Hadirlah bintang rembulan yang setia menjadi hiasan malam yang jika tanpanya malam tak sesyahdu ini. Setelah mengajar santriwati lain, kulanjutkan dengan belajar. Kali ini aku memilih belajar sendiri, menyendiri dari keramaian, dari canda tawa kawan-kawan dan keusilan si Risma. Aku memaklumi peran dan sifatnya yang kocak namun dewasa. Mungkin dia tidak mau melihatku bersedih dengan masalahku.

Tepat pukul sebelas malam, ponselku berdering. Sejenak kupandangi layar ponsel, tertera nama Risma.
“Assalamualaikum Nea, kamu ada di mana? kamu kok menghilang? Kamu gak ngelakuin hal yang mudharat kan?” Suaranya yang lantang seakan menabrak gendang telingaku.
“Wa’alaikumsalam, ada apa Risma? Aku lagi belajar di mushola, aku tidak ngapa-ngapain kok, yakinlah Allah bersama kita oke” jawabku meyakinkannya. Terdengar desahan nafas lega diseberang.
“Syukurlah kalau kamu belajar. Apa belum selesai?”
“Alhamdulillah sudah kelar. Oya, udah dulu ya aku mau ke situ, aku sudah mengantuk, assalamu’alaikum”
“Bissur’ah! Wa’alaikumsalam” kuakhiri panggilanku dan segera menuju pondok.

Suasana pondok bagiku terasa tak pernah sepi walaupun ustadzah-ustadzah yang lain sudah terlelap. Risma bukanlah seorang ustadzah. Dia hanyalah seorang santriwati yang disayangi oleh Bu Nyai. Karena kepandaiannya aku kagum padanya. Namun anehnya, dia tidak mau diangkat sebagai ustadzah sepertiku. Ia lebih senang menjadi santriwati biasa, begitulah tuturnya. Aku hanya tersenyum geli mendengarnya.

Hari demi hari aku lewati. Otakku senantiasa diisi dengan pelajaran-pelajaran yang Insyaallah memberiku barokah. Untunglah, satu Minggu menjalani ujian, fikiranku tidak tersentuh sedikitpun oleh bayang-bayang abangku. Do’aku akhirnya terkabul. Allah menyelamatkanku dari hal-hal yang diam-diam mampu merusak akalku.

Dan tepat hari Minggu tanggal 8 Juli 2013, kelulusanku terlaksana. Pondok seketika itu juga ramai, dipenuhi wali dari santriwati-santriwati yang ada. Bias senyum dan tawa menghiasi wajah-wajah mereka. Subhanallah.. aku rasakan kembali kebahagiaan itu setelah tiga tahun lamanya. Ayah dan ibu turut hadir. Aku melihat raut bahagia di wajah mereka.

Akhirnya, pukul sepuluh siang acara sudah selesai. Aku menghampiri mereka dan menangis bahagia di pelukan mereka.
“Sehat kamu, nak?” Ibu mengelus lembut pipiku.
“Iya Bu. Nea, sehat kok. Ayah dan ibu sehat kan?”
“Alhamdulillah nak, kami sehat-sehat saja. Ohya, hari ini ada yang mau bertemu denganmu” kata ayah dengan senyum mengembang di bibirnya.
“Siapa yah?” Aku heran. Ayah hanya tersenyum. Kutatap ibu, juga tersenyum.
“Ya sudah, kamu tunggu di sini saja. Kami mau ke ujung sana, mau ketemu temen, ya” kata ibu yang berlalu meninggalkanku. Ayah membuntuti ibu dari belakang, meninggalkan aku yang termangu dan bertanya-tanya, siapakah dia?! Apa dia…

“Assalamu’alaikum” suara yang tidak asing lagi bagiku. Aku jawab salamnya sambil menoleh.
“Abang?!” Aku terkejut. Dia benar-benar datang hari ini. Dia terlihat jauh lebih tampan dari terakhir kali aku melihatnya.
“Adik hebat ya. Subhanallah.. Abang kagum sama adik” Seraya menepuk bahuku.
“Terimakasih, bang” jawabku sungkan. Lama tidak berjumpa membuatku semakin gugup untuk bicara.
“Adik kok jadi pendiam seperti ini? Keberatan ya kalau Abang ke sini?!” Tanya Abangku yang menyentuh daguku. Aku semakin gugup, sementara dari kejauhan ada Risma yang menatapku penuh kegelian. Ya Allah.. aku benar-benar malu.
“Aku… merindukan Abang” kata-kata itu tiba-tiba saja terlontar dari bibirku. Aku benar-benar tidak percaya, seberani itukah nyaliku pada laki-laki?.
“Abang juga rindu sama adik, bahkan sangat menyiksa. Abang pernah SMS sama adik, tapi kedua kalinya tidak dibalas” ujar abangku yang cemberut. Ah, dia semakin terlihat lucu ketika sedang cemberut.
“Aku minta maaf bang. Aku tidak tahu kalau..”
“Sudahlah, itu tidak penting. Sekarang rinduku sudah terobati kan?!” Tanya Abangku yang semakin mendekat. Mataku dan matanya hanya berjarak lima senti.
“Abang? Kita.. terlalu dekat. Orang-orang sedang melihat kita” kataku yang gugup. Risma di ujung sana terpingkal-pingkal melihatku. Awas kau Ris, batinku kesal.
“Astagfirullah, maaf dik. Baiklah, kita duduk sekarang” aku tidak sadar kalau Abang mengajakku duduk. Fikiranku melayang. Aku tidak berani melihat sekelilingku. Mereka mungkin berbisik-bisik tentangku atau…

“Dik, ayo duduk” panggil abangku sekali lagi. Akupun duduk tanpa bersuara sedikitpun.
“Abang punya dua permintaan” tutur abangku. Kali ini aku berusaha menatapnya.
“Apa bang?”
“Pertama, Abang mau kita kuliah bersama di kota. Permintaan yang kedua, Abang mau mengkhitbah adik. Adik mau kan?” Tanyanya dengan mata berbinar-binar, menunggu jawaban.
“Abang serius?”
“Abang serius! Ini sebagai bukti cinta Abang. Abang tidak mau lama-lama terpisah seperti ini, daripada timbul fitnah, Abang akan menikahimu. Adik mau?” Abangku memohon. Dia terlihat tidak sabar mendengar jawabanku. Matanya masih menatap lurus kearahku.
“Bismillah.. aku mau bang” Dengan senyum merekah aku menjawabnya. Terpancar senyum bahagia di bibir abangku. Dia terlihat amat bahagia, tidak bisa kubayangkan sebahagia apa dirinya.
“Alhamdulillah.. Syukron katsir habibati. Uhibbuki Fillah” senyumnya terus mengembang.
“Afwan” aku pun membalasnya dengan senyuman. Risma melihatku dari kejauhan. Aku mengedipkan mataku ke arahnya, dia pun membalasnya.

“Aku mengira Abang sudah melupakan aku. Atau Abang sudah punya perempuan lain” ujarku dengan nada sedikit kesal. Abangku malah tertawa geli mendengarnya.
“Abang tidak semudah itu melupakan, dik. Abang tetap setia sama adik, dan sekalipun kita jauh. Abang tetap mencintaimu karena Allah, ingat itu!” Abang mencubit kedua pipiku. Aku tersenyum lebar menatapnya. Dalam hati terbesit rasa syukur pada Allah. Dia punya rencana yang lebih indah. Dia mengembalikan abangku untuk menjadi yang halal, dan bukan hanya sekedar ‘abang’. Aku mencintai Abang karena Allah.. Allahu Akbar!!

Cerpen Karangan: Nuril Izza Afgarina
Facebook: Nuril Izza Afgarina
Kembangkan potensimu!

Cerpen Tentang Rere merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan Senja

Oleh:
Sore itu handphone yang ku taruh di atas meja belajar berdering tanda ada pesan masuk. Ternyata sahabatku naila, bukan kata-kata penting hanya kata iseng saja. Kubalas sms itu, hingga

Aku Mencintaimu Dengan Bismillah

Oleh:
Setiap rasa di setiap saat adalah cinta, selalu dan untuknya tak dapat tergantikan. Seperti hembusan angin membelaiku mesra, serasa terbuai meyakinkan tentang taburan mimpi yang bersahaja. Teringat, mengingat, menghayalkan

Jodoh Pasti Bertemu

Oleh:
“braak…”. Skuterku menyerepet seorang pemuda “Astagfirulloh dek! kamu gak papa kan.” Kuhampiri pemuda yang kutabrak tadi “Tidak apa apa kok mbak, hanya lecet saja.” Jawab pemuda itu sambil mengusap

Harapan Cinta Di Sepertiga Malam

Oleh:
Hari yang terik untuk fatimah, seoran siswa SMP yang rajin melaksanakan sholat dan taat akan agama. “Assalamualaikum fatimah” suara laki-laki yang mengejutkan fatimah. ditolehnya sumber suara dan ternyata itu

Pangeran Berhati Putih

Oleh:
Tetesan embun dan basuhan air wudhu’ itu terlihat dari wajah Aisyah. Dia bergegas menyapa dunia untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi agama islam di Jember,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *