The Most Beauty Gift For You (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 19 December 2016

Hilang

“Hidup tanpa tahu apapun bagaikan sebutir pasir yang terbang bersama angin.”

Ini adalah hari ke 183, tepat enam bulan saat aku kehilangan sebagian memori ingatanku. Aku pun tak pernah tahu bagaimana peristiwa itu bisa terjadi. Mama hanya mengatakan bahwa aku mengalami kecelakaan. Tapi Mama tak pernah menjelaskannya secara jelas bagaimana alur ceritanya.

Aku juga pernah mendengar saat Dokter ganteng itu alias dokter Steven mengatakan bahwa kerangka tengkorakku mengalami benturan keras, hingga menimbulkan retakan-retakan kecil di sudut belakang kepalaku. Bukan hanya itu, benturan tersebut juga mengakibatkan aku divonis menderita amnesia. “Tapi setidaknya kamu masih dapat diselamatkan meskipun kamu sempat mengalami koma dalam beberapa hari,” Ucap dokter Steven padaku dengan sembilah senyum yang terukir di wajah orientalnya. Sebuah kalimat yang begitu menenangkan hati.

Kejadian itu membuat keluargaku memutuskan untuk pindah ke Singapura, agar aku bisa mendapatkan pengobatan yang terbaik. Entah mengapa, aku selalu merasa ada yang ganjal dengan sikap Mama, terutama saat mengingat kata-kata Mama yang memohon kepada Papa agar aku bisa mendapatkan perawatan di Singapura.

“Pah, kita bawa saja Iza ke Singapura ya, supaya ingatannya cepat pulih. Disana banyak dokter-dokter yang professional, pengobatannya juga berkualitas. Jadi Iza bisa lebih cepat sembuh. Papah setuju kan? Mamah mohon Pah, demi anak kita.” Ucap Mama pada Papa dengan nada memohon.
“Tapi Mah, bukankah seharusnya Iza tetap tinggal di Jakarta?. Singapura bukanlah tempat yang tepat untuk memulihkan ingatannya. Justru disana dia hanya akan memulai kehidupan baru dan akan sulit menemukan kembali masa lalunya.” Ucap Papa dengan nada bingung.

Buatku, ucapan Papa sangat tepat. Bagaimana mungkin aku akan sembuh bila aku berada di tempat yang baru. Bukankah seharusnya aku tetap berada di tempat pertama kali aku mengenal hidup. Tempat pertama kali aku bersahabat dengan tawa dan tempat dimana aku benci bertemu dengan rasa sakit, Namun akhirnya, Papa pun memenuhi keinginan Mama. Dua minggu setelah aku menjadi pasien dokter Steven, kami sekeluarga terbang ke Singapura dan menetap disana hingga saat ini. Papa pun terpaksa pindah tugas, agar bisa selalu menemani orang-orang tercintanya. Meskipun dengan berat hati, Papa harus melepas proyek kerja impiannya yang telah lama dia perjuangkan.

Kini aku mulai terbiasa menjalani kehidupanku di negeri orang. Bahkan saat ini aku telah menjadi mahasiswi pindahan di Melior International Collage. Aku pun memutuskan untuk mengambil kelas pariwisata agar bisa sejalan dengan hobby travellingku. Aku merasa beruntung saat tahu Singapura memiliki iklim yang sama dengan Indonesia. Jadi, tidak terlalu sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan di negara yang terkenal dengan icon patung Singanya. Singapura merupakan negara dengan daratan terkecil di Asia Tenggara. Mungkin hanya berkisar sekitar 716 km persegi atau kurang lebih setara dengan besarnya pulau Kalimantan. Singapura juga merupakan pusat keuangan terdepan keempat di dunia, sebuah kota dunia cosmopolitan yang memainkan peran penting dalam perdagangan dan keuangan internasional. Tak heran bila banyak kapal-kapal asing yang berlalu lalang di pelabuhan besar ini, mereka pun silih berganti layaknya orang-orang yang datang dan pergi dalam kehidupan kita.

Di Singapura juga terdapat banyak tempat-tempat menarik yang disediakan oleh pemerintah, dengan tujuan untuk meningkatkan kas negara dalam sektor pariwisata. Kelas pariwisata yang aku pilih, membuatku memiliki pengetahuan lebih tentang tempat-tempat hiburan terbaik yang ada di negara ini. Namun, hanya satu yang selalu menjadi tempat favoritku, yaitu saat bisa menikmati sentuhan lembut angin malam di pesesir pelabuhan. Sambil sesekali memandangi patung singa yang berdiri gagah di penghujung mata. Kemerlap lampu di sekitaran pelabuhan begitu memanjakan penglihatanku. Hilir mudik kapal-kapal wisatawan tak pernah lelah berlayar mengarungi arus air pelabuhan. Sejenak, kualihkan pandangan ke langir-langit kota dengan harapan kan kutemukan gambaran tentang masa laluku melalui symbol rasi bintang yang berhamburan di semesta. Namun ternyata sampai saat ini aku pun masih belum bisa mengingat apapun tentang kehidupanku beberapa tahun silam sebelum aku didiagnosa terkena amnesia. Berbagai usaha telah kulakukan, termasuk menanyakannya pada Mama. Namun sayangnya, aku tak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Singapura memang bukan tempat yang tepat untuk membuatku pulih dari amnesia. Justru tempat ini malah membuatku semakin tak bisa mengingat apapun. Bagaimana aku hidup di Jakarta? Bagaimana dengan persahabatanku, petualanganku, prestasi belajarku atau bagaimana dengan cinta yang pernah aku miliki? Semuanya masih sangat sulit untuk diungkap. Seakan aku sedang berada di dalam ruang gelap yang sunyi, tanpa cahaya dan tanpa arah. Aku hanya menemui titik buntu dan tak ada seorangpun yang bisa menyelamatkanku dari ruangan itu. Tak pernah tahu harus melangkah ke kanan atau ke kiri setiap kali berhadapn dengan persimpangan jalan. Tak pernah tahu harus melangkah maju atau mundur? Entah harus berlari tuk menemukan cahaya atau diam saja menunggu keajaiban? Harapan. Ya aku rasa memang hanya harapan yang masih setia menjadi tiang penyangga di dalam hatiku. Sebab buatku, harapan adalah do’a bagi sepotong hati yang rapuh.

Tepat pukul delapan malam, aku masih asik menikmati setiap belaian angin yang berlalu, seiring dengan detik waktu yang bergulir mengiringi langkah hidupku. Hembusan angin malam pelabuhan, membuat kain khimar yang menyelimuti tubuhku bergoyang mengikuti gerak angin. Seolah ingin mengajakku berjalan mengikuti arah kepergiannya. Pernah sesekali kupaksaan diri untuk mengingat kenangan itu, tapi yang terjadi justru malah sakit di kepalaku kembali kambuh. Entah dengan cara apa aku akan menemukan semua ingatanku. Tanpa jeda, syair-syair do’a selalu kulantunkan dalam setiap sujudku. Sebab hanya itulah yang menjadi kekuatanku. Dan aku pun tak pernah ingin hidup tanpa tahu bagaimana masa laluku. Meski pada akhirnya nanti, kisah itu merupakan kisah yang pahit. Aku akan tetap berusaha untuk mensyukurinya. Setidaknya dari pahitnya kisah itu, aku akan belajar untuk menjadi yang lebih baik lagi di hari-hari berikutnya. Agar kelak, aku tak pernah kembali jatuh ke dalam lubang kisah yang sama.

Drttt… Dering ponsel menimbulkan getar yang memecah lamunanku. Jemari tanganku mulai menjalar menyusuri seisi ruang tas kecil yang kukenakan. Saat kutatap layar ponsel, kudapati nama yang tak asing di dalam daftar panggilan masuk. “Sam”, itulah nama yang tertera di daftar panggilan masuk ponselku. Aku pun langsung menerima panggilan tersebut.

“Hai, Iza.” Suara khas Sam terdengar begitu hangat di telinga.

Tidak biasanya dia menyapaku dengan suara yang semanis dan selembut itu. Hahah wajar saja, sebab di kelas dia adalah mahasiswa yang selalu kasar dan menjadi biang masalah. Tak jarang pula dia sering mendapatkan nilai rendah dan menjadi peserta tetap kelas remedial. Bahkan, dia pun pernah hampir masuk ke dalam daftar mahasiswa yang akan diDrop Out dari kampus. Meskipun nilainya rendah, tetapi untuk mata kuliah History and Culture of Tourism dan Communication and Language, dia selalu menjadi yang terbaik. Tak jarang pula, dia selalu menjadi perwakilan kelas dan kampus dalam kegiatan pertukaran pelajar antar kampus dengan kategori bidang kebudayaan. Itulah yang menjadi bahan pertimbangan pihak kampus bila ingin melakukan DO.

“Hai, Sam” Aku pun membalas sapaan hangatnya.
“Apa kau sudah mempersiapkan semua kebutuhanmu untuk ujian besok?” Tanya Sam memastikan dan masih dengan kehangatannya.
“Hah? Ujian?” Aku pun balik bertanya kepadanya dengan nada bingung.
“Apa kau sudah lupa? Besok kita akan mengunjungi salah satu museum bersejarah sekaligus menyiapkan essai untuk penilaian mata kuliah History and Culture of Tourism.” Jawab Sam dengan nada yang meyakinkan.
“Kau tidak sedang bergurau, bukan? Seperti yang selama ini kau lakukan padaku dan teman-temanmu di kelas”.
“Hey, untuk mata kuliah favoriteku, tak pernah aku berminat untuk bergurau dengan siapapun”. Protes Sam.
“Buktinya apa? Bisakah kau memberikanku bukti, agar aku percaya bahwa kau tidak sedang menipuku?”. Aku pun menantang Sam.
“Baiklah, tapi aku harap bahwa kau tak terkejut saat aku menunjukan bukti itu padamu. Akan kukirimkan bukti tersebut melalui pesan singkat”. Sam pun tak mau kalah denganku.
“OK, aku tak akan terkejut”.
“Berani bertaruh?”.
“Hmmm… Begini saja, aku akan memberikanmu sebuah penawaran menarik. Bila nanti kau benar, aku akan mentraktirmu makan. Penawaran yang menguntungkan, bukan?”.
“Baiklah, aku bersedia. Tapi, aku yang akan memilih tempat makannya. Deal?”.
“Aku akan setuju, tapi dengan satu syarat”.
“Kau ini menyebalkan. Kenapa harus ada syarat?”. Ucap Sam dengan sedikit kesal.
“Agar aku tidak menjadi korban penipuanmu seperti yang selama ini kau lakukan”. Bujukku padanya
“Apa syaratnya?”.
“Aku mau tempat makannya nanti harus masakan Indonesia”.
“Kau ini benar-benar aneh. Kenapa tidak sekalian saja kau memintaku untuk makan bersamamu di Bali?”. Sam semakin kesal saat mengetahui permintaanku. Menemukan makanan Indonesia di negeri orang tak semudah menemukan masakan cepat saji yang menjamur di pinggiran Jakarta.
“Hahah, mau atau tidak?”. Aku pun semakin menantangnya.
“Ya ya ya, baiklah. Nanti biar kucari terlebih dahulu tempat makan yang menarik menurut seleramu itu. Dasar cewek aneh”. Kalimat terakhir Sam yang terdengar di ponselku.

Beberapa menit kemudian, ponselku kembali berdering. Kutatap kembali layar di ponsel. rupanya sebuah pesan singkat dari Sam.

Announcement!
For all students of tourism class, will be there visit to the “National Museum Of Singapore” as the requirement to follow final test. That activity conducted on Friday, August 19th 2016, in Stamford Road. Don’t forget to prepare your essai about your study tour and send your duty to my e-mail. I will wait your e-mail till 2 days. Good Luck
By: Prof. Chan

“Ya ampunnn, ternyata Sam benar dan dia memang sedang tidak bergurau. Bagaimana mungkin aku akan menyelesaikan tugas essaiku hanya dalam waktu singkat. Bahkan aku pun tak memiliki tema dan bahan untuk tugas kali ini.” Aku pun panik dan bingung harus berbuat apa.

Cerpen Karangan: Oryza Sativa
Blog: oryzasativa23.blogspot.co.id

Cerpen The Most Beauty Gift For You (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ustadzah Ririn

Oleh:
Ustadzah Ririn namanya, hidungnya yang lucu dan senyumnya yang ramah senantiasa membuatku terpikat pada pesonanya. Aku sering mencuri pandang padanya ketika melewati kelas dimaa ia sedang mengajar. Meski sekilas

Dilema Cinta Si Ukhtii

Oleh:
Hari semakin siang, panas tambah terik, kicau burung yang riuh seakan menertawaiku yang tengah resah, gundah gulana termangu di teras. Semilir angin sepoi-sepoi sesekali menghantam tubuhku, tak karuan batinku

Surat Cinta Biru

Oleh:
“Huuuft, telat deh ni. Telatt…!!” Aqilah menggerutu saat hendak memasuki gerbang sekolah. Dua menit lagi bel masuk akan segera berbunyi. Aqilah segera memarkir motornya dan berlari menuju kelasnya di

Kesetiaan Jiwa Penggugah Iman

Oleh:
Ku teguk secangkir teh hangat yang ku pesan di sebuah kafe dekat kampus, ku duduk di bagian pojok jendela yang bersebrangan dengan jalan raya, ini adalah tempat favorit buatku,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *