Tulang Rusukku Seorang Bidadari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 13 February 2018

Namaku Ahmad Muhammad. Kuinjakkan kakiku di kota ini untuk pertama kalinya. Cita-cita dan orangtua itulah alasanku merantau meninggalkan kampung halaman. Aku berjalan memasuki kosku, duduk sebentar kemudian bangkit lagi untuk membereskan semua barang-barangku. Terdengar suara adzan berkumandan di mesjid dekat kosku. Kulihat jam di tanganku, ternyata sudah masuk waktu shalat ashar. Aku bergegas mengambil air wudhu lalu pergi ke mesjid untuk shalat berjamaah sekaligus bersilaturahmi dengan warga di sini.

Esok hari, aku bangun untuk shalat subuh dan kemudian bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Hari pertama masuk kampus dan pastinya bertemu dengan orang-orang baru. Tiba di kampus, aku bergegas pergi mencari kelasku. Tiba-tiba aku tidak sengaja menabrak orang dan buku yang dibawanya jatuh berserakan di lantai. Aku langsung saja membantunya mengambil buku-buku itu. Kulihat sebentar orang itu, ternyata seorang wanita. Kucubit sedikit lenganku, ternyata sakit. Kukira aku sedang bermimpi melihat seorang bidadari. Tapi ini nyata, bidadari di depanku yang baru saja kutabrak sungguh sangat cantik dengan balutan jilbab panjang berwarna biru. “Masyaa Allah, sungguh indah ciptaanmu ya Allah” kataku dalam hati. Aku kaget setelah mendengar ada suara orang memanggilku. Astaghfirullah ternyata aku tadi melamun. Kulihat sejenak orang yang berdiri di depanku, lalu kuberikan bukunya dan meminta maaf.

“afwan ukhti, ana tidak sengaja menabrak anti. Sekali lagi ana minta maaf, karena gara-gara ana buku anti terjatuh”
“iya tidak apa-apa, ana juga minta maaf karena ana yang salah tidak lihat jalan”
Itulah pertemuan singkatku dengannya. Setelah ia pergi, aku baru teringat dengan tujuan awalku untuk mencari kelas. Lalu aku pun beranjak dari tempatku berdiri sekarang.

Setelah muter-muter, aku menemukan kelasku. Kemudian aku memasuki pintu, aku kaget lalu terdiam sejenak. Ternyata aku satu kelas dengannya. Melihatku berdiri di pintu, dia pun sepertinya kaget. Namun sesaat kemudian ia kembali menunduk. Kemudian aku masuk ke dalam kelas karena dosen telah datang. Hari ini hanyalah perkenalan dulu, dan ternyata bidadari itu bernama Aisyah. Nama yang cantik seperti orangnya. Usai perkenalan, dosen keluar dan menyuruh kita untuk pulang.

Hari-hariku kulalui seperti biasa, mengaguminya dalam diam adalah pilihanku. Akhir-akhir ini, aku sering melihatnya di perpustakaan kampus. Kadang mengerjakan tugas, kadang juga membaca buku atau hanya sekedar mengobrol dengan sahabat-sahabatnya. Bukan hanya itu, ia juga sangat aktif dalam beberapa organisasi kampus. Ia juga sangat rajin beribadah, aku sering melihatnya pergi ke musholla kampus saat memasuki waktu shalat.

Suatu hari, aku tidak sengaja mendengarnya mengaji di musholla itu. Kebetulan aku baru saja menunaikan shalat duhur waktu itu. Suaranya sangat indah, ia sangat tartil membaca kalam ilahi. Rasanya aku tidak ingin beranjak dari tempatku hanya sekedar ingin mendengar suara indahnya. Tapi sayang, saat itu aku ada urusan penting. Jadi, kupaksakan kaki ini untuk melangkah pergi dari musholla itu. Semakin jauh langkahku hingga tak terdengar lagi suaranya di telingaku.

Tidak terasa, wisudaku akan dilaksanakan minggu depan. Aku bahkan lupa kalau aku sudah semester akhir. Semua itu karena aku terlalu sibuk memperhatikannya, dan untungnya aku bisa menyelesaikan skripsiku dengan nilai sempurna dari dosen.

Tibalah dihari ini. Hari dimana aku dan dia di wisuda. Orangtua kami tentunya datang, dan tidak sengaja aku melihatnya berbincang-bincang bersama ayah dan ibunya dengan diselingi sedikit canda tawa mereka. Dia sangat cantik hari ini, dan kulihat ia memakai jilbab warna biru lagi. Mungkin ia memang suka dengan warna biru, karena waktu kami kuliah pun ia sering sekali memakai pakaian warna biru. Tidak terasa, kini berada di penghujun acara. Aku dan orangtuaku pulang ke kosku untuk istirahat dan rencananya besok aku pulang ke kampung halamanku. Aku tidak akan lagi melihat wajah ayu bidadariku, kecuali jika Allah mentakdirkan kita untuk bertemu kembali.

Hari ini adalah hari dimana aku akan berangkat ke kampung dan mencari pekerjaan di sana. Kuucapkan selamat tinggal kepada kota Jakarta dan juga kepada Bidadariku.

Sudah sebulan aku berada di kampung kelahiranku. Aku sudah mendapatkan pekerjaan dan mengajar di salah satu Madrasah yang jaraknya tidak jauh dari rumahku. Namun, pada suatu malam ketika selesai shalat magrib. Ayah tiba-tiba menanyakan sesuatu yang sama sekali belum terpikirkan di benakku.

“nak, kapan kamu akan menikah?” tanya ayah tiba-tiba.
“iya nak, usiamu kini sudah cukup dewasa untuk menikah.” Lanjut ibu dengan muka berharap.
Saat ini aku bingung dan tiba-tiba aku teringat dengan Aisyah bidadariku. Namun, aku langsung menepis semua pikiranku tentangnya. Mungkin saja ia sudah menemukan lelaki yang pantas untuknya.
“Aisyah terlalu sempurna untukku, mana mungkin juga ia suka dengan laki-laki seperti saya ini” kataku dalam hati.

Tiba-tiba ayah memanggilku “nak, kamu kenapa?”
Aku langsung gelagapan di buatnya “ehh tidak kok pak. Saya tidak apa-apa”
“jadi gimana nak, apakah kamu sudah mempunyai calon untuk dijadikan istri?” kata ayah yang bertanya lagi.
“belum yah. Kepikiran tentang menikah saja aku belum kepikiran sama sekali. Lagian mana ada wanita yang mau dipersunting dengan laki-laki sederhana seperti saya ini yah.” Kataku dengan muka pasrah sambil menunduk.

Lalu ibu ikut berbicara juga “nak, jangan berpikir seperti itu. Wanita yang baik itu tidak melihat laki-laki dari segi penampilan atau kedudukannya. Lagian juga, kamu itu baik nak dan sholeh. Pasti ada wanita yang suka sama kamu meskipun kamu sederhana.”
“tapi buk, bagaimana aku bisa menemukan wanita yang benar-benar bisa menerimaku apa adanya. Sedangkan aku saja tidak memiliki teman wanita.” Kataku.
Ayah kemudian angkat suara juga “bagaimana kalau kamu minta tolong saja sama Ustadz tempat kamu mengajar, untuk dicarikan wanita yang ingin berta’aruf. Barang kali aja ada.”
“baik yah, besok saya akan bicara kepada ustadz di sekolah” kataku dengan tersenyum.

Sedikit mendapat pencerahan dari Ayah dan Ibu tadi malam. Aku terbangun setelah mendengar kumandang adzan subuh menggema di jagat raya. Aku kemudian bergegas pergi ke mesjid yang tidak terlalu jauh dan tidak pula terlalu dekat dari rumah. Setelah aku pulang dari mesjid, aku segera bersiap-siap pergi ke sekolah untuk mengajar sekaligus meminta bantuan ustadz fahri tentang percakapan aku dengan ayah dan ibu tadi malam.

Selesai mengajar, aku segera mencari ustadz fahri untuk meminta bantuannya. Setelah menceritakan niatku itu, ternyata ustadz fahri siap membantuku. Katanya, kebetulan kemarin ada teman istrinya yang juga meminta bantuan istri ustadz fahri untuk dicarikan pasangan ta’aruf. Aku sangat bahagia mendengar berita itu.

“semoga saja Allah mengirimkanku pasangan hidup yang bisa menerimaku apa adanya dan yang pastinya sholehah. Aamiin.” Kataku dalam hati.

Keesokan harinya, aku ditelepon oleh ustadz fahri agar membawa ke rumahnya berkas-berkas yang berisi biodata serta pas foto satu lembar. Aku segera pergi ke sana, dan setelah kuberikan berkas itu, biodata wanita itu juga diserahkan kepadaku serta satu lembar pas foto untuk aku lihat. Aku kaget saat melihat foto wanita itu, ternyata dia adalah Aisyah Bidadariku. Setelah melihat biodatanya, ternyata dia juga asli orang sini. Aku sangat bahagia, rasanya semua ini adalah mimpi.

Proses ta’aruf pun sudah selesai, dan hari ini adalah hari dimana aku akan mengkhitbah bidadariku. Proses khitbah lancar. Pernikahan kami akan dilaksanakan bulan depan.

Tidak terasa, sudah satu bulan berlalu. Hari ini adalah hari dimana aku dan bidadariku akan menikah, dan mengucapkan janji suci sehidup semati di depan ayahnya. Allah tahu bagaimana bahagiannya hati ini sekarang, dan aku berharap dia pun bahagia menikah denganku. Ternyata, tulang rusukku adalah seorang bidadari.

THE END

Cerpen Karangan: Nur Ayu Dewi
Facebook: Nur Ayu Dewi

Cerpen Tulang Rusukku Seorang Bidadari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menunggu Ikhwan Yang Baik

Oleh:
Rasa gundah yang semakin hari semakin menggangguku. Menanti sebuah suara dering yang timbul dari handphone yang kuletakan di atas meja tepat di sebelah kursi tempat aku bersandar. Suara yang

Cinta Dalam Takdir-Nya

Oleh:
“Aisyah..” panggil seseorang yang suranya sudah tak asing lagi bagiku. Akupun menoleh ke belakang dengan senyuman hangat yang ku persembahkan hanya untuknya. “Kamu kapan kembali lagi kesini?” tanya lelaki

Cinta dan Kesabaran

Oleh:
Jika mendengar alunan lagu jawa serta musiknya aku kembali teringat dia, ya dia yang selalu menyanyikan lagu itu untukku. Merdu, lembut, nyaman, mendengarnya bagaikan dihembuskan angin pagi yang sejuk.

Renungan Terhebat

Oleh:
Siang bolong, ketika mentari berdiri di atas ubun, waktu itu pula aku biasanya pulang sekolah, berjumpa dengan padi yang menari dan angin yang menyejukan panasnya bumi. “ehh ehh ehh

Hakim Cinta

Oleh:
“Mendadak santri. Haha” Sekilas celotehan itu melintas di pendengaranku begitu cepatnya, aku yang sedang mencoba untuk menambah Hafalanku di teras langsung berlari ke teras belakang, tempat di mana santri

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *