Unexpected

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 June 2017

Matahari kembali hadir, meninggalkan peraduannya tersenyum ceria menyapa bumi. Meninggi dan semakin meninggi bersamaan dengan lembayung fajar di ufuk timur yang bergegas sirna.

Aku memasuki sekolah beriringan dengan beberapa siswa-siswi lainnya. Derap langkah memenuhi jalan gerbang sekolah yang sejak tiga puluh menit lalu sudah terbuka lebar menanti hadirnya para pelajar yang tak patah semangat menimba ilmu. burung kenari berkicau menari kesana kemari sembari menikmati sejuknya pagi. Aroma damai dari pepohonan yang tumbuh hijau meninggi seakan melengkapi sejuknya pagi.

Langkahku menyusuri koridor kelas sepuluh dan berhenti tepat di sebuah kelas yang di bagian atas pintunya terpampang angka romawi sepuluh berpadu alphabet A. Ransel toska di pundakku kutaruh di atas bangku. Di dalam kelas, kudapati banyak siswi sibuk berbincang dengan tawa yang sesekali menggelegar memenuhi kelas pemecah hening pagi ini.

“Afaf!” seseorang menyeru tepat di sampingku, mengagetkanku saat baru saja akan lanjut membaca sebuah novel.
“Yaa Allah.. Rit, kamu mau buat aku jantungan?” Aku menggerutu dengan hadirnya Rita yang tiba-tiba.
“Sorry.. hehe. Temenin aku ke kantin dong..”
“Kantin? Ini masih jam tujuh Ritaa.. Kamu enggak sarapan lagi?” Mataku masih tertuju pada novel yang kubaca.
“Malas sarapan di rumah.. Asikan di sekolah. Yukk!” Tanpa aba-aba, Rita menarik tanganku memaksaku mengikutinya. Selalu saja begitu.

Aku dan Rita memang baru saling kenal beberapa bulan lalu. Saat dimana kami ditunjuk oleh panitia MOS menjadi pasangan (teman) yang bertugas mencatat semua nama senior di kelas sebelas dan dua belas pada MOS beberapa bulan sebelumnya. Pertemuan kami yang belum lama ini, tak urung menjadikan kami teman karib. Bahkan kami pun sekelas, sebangku pula.

“Makannya 5 menit aja Ta.. beberapa menit lagi bel masuk bunyi.” Aku memperingati rita yang baru saja akan menyantap sandwich yang dipesannya.
“Kamu tuh ya.. Ini juga baru mau makan kok.” Rita kembali memasukkan sandwich ke dalam gigitannya. Sementara aku masih sibuk saja mempelototi novel yang tadi sempat terhenti membacanya.
“Duh Taa.. aku ke toilet dulu ya mau BAK.” Pamitku kemudian beranjak tanpa mempedulikan balasan Rita.

BRUK!
Baru saja aku keluar dari WC sekolah, tanpa sengaja menabrak seseorang yang kebetulan melintas di koridor wc.
“Eh maaf, maaf..” ucapku cemas pada seseorang yang entah siapa itu. Nabrak siapa aku?
“Kamu enggak apa-apa?” dengan suara serak orang itu menanya. Cowok? Aku terbelalak ketika mendengar suara serak khas pemuda dan sempat melirik sepatu yang dikenakannya.
“Eng? A-Ak Aku.. gak apa-apa kok. Kak?” dengan gugupku menjawabnya sembari melirik ke papan nama dan kelas di dada kanan seragamnya, namun aku tak begitu memperhatikan namanya hanya terfokus dengan kelasnya, XI IPA.
“Ma-Ma-Af ya kak..” Gumamku lagi. Dan masih dengan kegugupan. aku tidak sanggup menatap ke arahnya lagi. Kepalaku hanya bisa menunduk karena kegrogian yang pasti tergambar jelas di wajahku.
“Aku yang salah. Maaf ya.. dan lain kali, hati-hati dek. See you!” Ia berlalu.
DEG!
“apa? Kenapa jantungku seberdebar ini? Tidak biasanya aku merasa seperti ini. Biasanya pertemuanku dengan senior berefek biasa saja. Namun kali ini beda. Apa mungkin aku… ah, enggak mungkin.”

“Sekali lagi maaf ya Faf aku ninggalin kamu tadi.” Tutur Rita dengan rasa bersalahnya.
kali ini aku dan rita sedang menikmati kesejukan taman sekolah. Dua gelas lemon juice melengkapi taman yang dipenuhi pohon yang merindang.
“Harusnya kamu nyusul aku ke wc Taa..” ungkapku. Entah kenapa aku merasa kesal Rita kembali ke kelas tanpa menungguku kembali dari wc sekolah.
“Ya.. bel kan sudah bunyi. entar ada guru yang liat aku masih nongkrong di kantin, bisa kena marah kan aku,”
“Ya sudahlah faf.. semuanya sudah berlalu. Walaupun kamu kesal begitu sampai besok pun gak bakal terulang keadaanya.”
“Eh, Faf?! Kamu kok malah senyum-senyum gitu?” rita menyeru seketika menoleh ke arahku yang saat itu ia dapati aku tidak menghiraukan alasannya dan sibuk menyunggingkan senyum.
“Kamu gak dengar aku ngomong?!” lagi. Rita menyeru, kali ini lebih kuat ke arah telinga kiriku. Untung saja telingaku ini buatan Allah. Coba saja buatan China mungkin sudah rusak sejak awal kenal dengan Rita.
Aku menutup telinga dengan kedua tanganku, “Denger kok.. denger” Kucoba hilangkan kecurigaanya tentang aku yang sedari tadi mengulum senyum. “Kenapa? Apa karenaa… huf! Tidak-tidak.” Runtukku.
“Kamu kenapa senyum-senyum Faf?” Dan ternyata rita benar teman dekatku. Buktinya dia masih menyimpan penasaran tentang tingkahku yang (mungkin) sulit dimengertinya.
“Jangan-jangan…” Rita mengedar pandang ke sekeliling taman yang setiap beberapa beberapa meter terdapat pohon-pohon tinggi peneduh.
“Kamu kerasukan??!” tebaknya. Lagi-lagi berteriak sembari menggeser dirinya sedikit menjauh dariku.
Aku mengelak, “Apaan sih? Ada-ada saja kamu rit.. haha”
“Habisnya… kamu senyum-senyum sendiri begitu..”
“Trus? Kenapa memangnya kamu senyum-senyum seperti tadi. Heran aku..” penasaran rita masih belum mati.
“Enggak apa-apa kok” aku tertawa kecil sambil menyeruput lemon juice yang masih penuh.
rita bergumam tidak percaya, “Kamu bohong kan? Sudahlah.. kita kan berteman udah lama. Ya gak lama-lama juga sih.. setidaknya kamu cerita kek.” Lanjutnya.
“Ya udah. Tadi…” aku terdiam. Tak melanjutkan kalimat yang baru saja akan kuucapkan. Pandanganku tertuju pada sosok yang berjalan ke arah aku dan rita mendudukkan diri. Rita mengikuti arah pandangku. Ia turut menatapnya yang semakin mendekat.

“Kamu yang tadi gak sengaja aku tabrak bukan?” tanyanya mengawali dengan suara serak khasnya.
“D-Di-Dia? Perasaan aku yang nabrak. Lah kok?”
“Hey! Yang ditanya malah melamun?” serunya sambil mengibaskan tangan di depan wajahku. Membuatku kembali sadar dari lamunan. Kenapa lagi aku?
“Eh, eng? I-Iya kak.” Jawabku dengan gugup. Lagi-lagi kegugupan itu hadir.
“A-Ada apa ya. Kak?” Masih gugup, kucoba tanya perihal kedatangannya.
“Ini.. tadi kamu lupa.” Dia menyodorkan buku? novel bersampul cokelat kepadaku.
“Eh? Ya Allah! Ko-Kok bisa aku lupa ya?”
“Mungkin kamu tadi salah fokus. Ya sudah ya, bye!” dengan senyum simpul manisnya ia menyahut lalu beranjak. Ugghh.. semanis itukah?
Aku turut tersenyum ke arah dirinya yang telah berjalan membelakangi kami.
Ia berlalu meninggalkan aku dan rita yang… eh? dia tersenyum jahil dengan alis terangkat, what mean?

“Ohh.. aku sekarang ngerti Faf. Ngerti banget.” Rita mengangguk-anggukkan kepalanya menatapku dengan mata menyipit.
“A-Apaan sih!” kataku acuh, kemudian meraih gelas jus lemon dan kembali menyeruputnya hingga kandas.
“Gak usah disembunyiin merah pipinya, aku ngerti kok sis! Kita kan sama-sama cewek” elak rita dengan mengedipkan mata kirinya.
“Ceritalah..” Pinta rita memelas. Lah?
“katanya sudah tau. Sudah ngerti..”
“hm.. masih ragu sih. Dikit. Pokoknya kamu harus cerita sekarang. Ayo dong…” kini rita tersenyum lebar memamerkan gigi putih berpagarnya, berkawat gigi.
Teeet! Teeeeet!
bel pertanda berakhirnya jam istirahat berbunyi. Aku tersenyum merdeka, rita mendesah kecewa.

“have I fall in heart at first sight? Dia kan kakak kelas.. Senior. Masa iya sih Afaf? kenapa? Apa karena senyum menawannya yang membekukanmu? Emang ada senyum yang bikin beku? Ahh.. bukan-bukan.. hanya saja ada degup aneh gitu pas bertatapan langsung, ada rasa lain saat dia di dekatku. Duuhh.. afaf! semasa SMP kan kamu sudah belajar, kalau mikirin lawan jenis yang bukan mahram kan sama saja zina. Ya, zina hati. Sadar faf… sadar!! You are a Moslim, you can’t violate the rules of Allah.. your God!” Aku meruntuki diri sendiri dengan berceloteh sendirian di dalam kamar setibaku di rumah setengah jam lalu.

Ting!
notifikasi line mengalihkan pikiranku. Segera aku me-unlock hp-ku.
Rita Cania: Assalaamu’alaykum afaf cantik
Afaf Madeena: Wa’alaikumussalaam. Dih modus
rita cania: emang
afaf madeena: berdalih?
rita cania: curhatan dari sang puteri afaf
afaf madeena: asal ada maunya aja muji mulu si emak
rita cania: yee.. dipuji malah mengejek puji balik kek
afaf madeena: ogah sy nek
rita cania: wah parah lu. Anak aja belum ada kira2 dong kalo mau manggil aku nek
afaf madeena: jangankan anak, calon imam aja belum tiba sist wkwkwk
rita cania: eh, masa iya punya anak tp nggak ada yg ngimamin? Kadang2 ada benernya juga kamu ya
afaf madeena: emang kapan aku salah rit?
rita cania: tadi
afaf madeena: masa iya?
rita cania: SALAH TINGKAH PAS ADA KAKEL KECE
rita cania: do not blush pipinyaaa
afaf madeena: enggak koq
rita cania: iyaaa. Td aku liat. L a n g s u n g
afaf madeena: udah ah! Jadi kepikiran kan akunyaa
rita cania: kepikiran syp mbak?
afa madeena: kepikiran sama mas2 bakso di trotoar!
afaf madeena: pake nanya lagi
rita cania: wkwkwk peace!
afaf madeena: aku gak jadi curhat lah
rita cania: scr ga langsung udah kok. Tadi ;p
afaf madeena: zebel dehh x_x
rita cania: udh dulu yay kawan. Jgn sebel2 nanti kakel kece syuka. Aku do’ain kalian berperasaan sama deh:)) luph
rita cania: wassalaamu’alaikum
afaf madeena: jgn aneh2 deh rit
afaf madeena: wa’alaikumussalaam warahmatullaah

Aku tersenyum tipis membaca isi chat rita sebelum menutup dengan salam, “kamu kok tau sih yang aku rasa? Tapi segalanya hanya sekedar rasa. Dan itu sementara. Kamu tau hati? Segala rasa dapat ia rasa, tapi sepenuhnya bukan kehendak ia dengan rasa itu. Allah yang berkuasa mengubahnya bahkan menghilangkannya kapan saja Dia inginkan. Dan kadang, rasa dapat berubah karna keadaan dan suasana yang tak lagi sama. Namun kenapa tidak denganku?” kurasakan buliran mengalir di pipiku. Berjalan hingga ke ujung daguku, kemudian menetes. Kali ini aku mengingat hal lain. Pikiranku menostalgia. Tentang sesuatu. Jauh di belakang sana. Kenangan. Bersamanya. Dulu.

Cerpen Karangan: Alfiyah Ismail
Blog: hayifla.blogspot.com

Cerpen Unexpected merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sajadah Cinta

Oleh:
Pagi ini aku buru-buru untuk pergi ke pengajian di masjid. Ketika akan memasuki masjid aku merasa ada yang memanggil namaku. “Fatma, ma.” Aku pun melihat ke belakang ternyata dia

Bintang Yang Tak Mampu Kugapai

Oleh:
Namaku viola anggraini melsa. Sebut saja aku dengan nama viola, aku sekarang duduk di bangku sd dan akan melanjutkan ke smp. Hari pertama tes, aku sangat senang bisa memasuki

Di Atas Sajadah

Oleh:
Perbedaan. Mungkin, dengan perbedaan semuanya menjadi indah saling melengkapi satu sama lain dan saling menyempurnakan. Namun, bagaimana jika perbedaan itu menyangkut keyakinan kita, masihkah kita menyebutnya indah dan bisa

Rasanya Cinta

Oleh:
“hey… hey… hey, semuanya dengar. Kalian udah dengar gosip hari ini?” teriak sisi saat memasuki kelas “memangnya gosip apaan, penasaran gue” tanya linda. Linda memang adalah ratu gosip di

Keringat Darah

Oleh:
Remuk. Kurasa kata itulah yang pantas untuk melukiskan keadaanku saat ini. Hanya rasa nyeri yang menambatkan diri di seluruh tubuhku. Tulangku bagai dihunjam ribuan jarum, persendianku bagai kehilangan fungsinya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *