Yakin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 4 January 2016

“Kukuruyukk…”

Terdengar suara ayam membangunkanku dari tidur yang nyenyak. Aku bangun dari tempat tidurku dan mengambil hp yang berada di meja belajar. Aku melihat jam yang berada di dalam hp-ku sudah menunjukkan setengah 6. Aku bergegas untuk mandi, setelah mandi aku langsung bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Setelah semua sudah siap seperti biasa aku berangkat menggunakan sepeda motorku yang berwarna hitam. Setibanya di sekolah aku langsung masuk ke kelasku, ternyata kelas masih sedikit yang berangkat hanya ada Aisyah dan Nely. Aku langsung menyapa mereka.

“hai, selamat pagi,”
“selamat pagi,” jawab mereka.
“tumben berangkat pagi yo? biasanya telat, haha,” ledek Nely.
“diam ah, lagi kepengen aja berangkat pagi,” jawabku sabil menaruh tas di mejaku.

Tidak selang lama kelas mulai penuh dan pelajaran pertama dimulai. Aku baru ingat bahwa pelajaran hari ini adalah Pendidikan agam islam, hal yang ditanya sebelum pelajaran pasti siapa yang tadi pagi salat subuh. Padahal tadi pagi aku bangun jam 6, “gawat, pasti aku kena hukum lagi,” ucapku dalam hati.
“siapa tadi pagi yang nggak salat subuh?” tanya guru PAI sambil menghadapku seakan dia tahu bahwa aku tidak salat subuh tadi pagi, karena aku sering tidak salat subuh.
“saya Pak,” jawabku sambil mengacungkan tangan, “busyet, hanya aku saja hari ini yang nggak salat subuh?” pikirku dalam hati.

“sampai kapan kamu nggak salat subuh yo? setiap pelajaran PAI pasti selalu kamu yang tunjuk tangan,” tanya guru PAI padaku terheran-heran.
“anu… Pak, aku sudah mencoba bangun pagi, tapi tidak bisa, padahal sudah di-alarm,” jawabku takut.
“aduh, kamu tahu nggak kalau orang yang nggak salat subuh berarti orang itu sedang dikencingi setan dan blablabla,” akhirnya pelajaran PAI hari ini adalah ceramah tapi ada untungnya juga aku jadi tidak dihukum. Saat istirahat aku pergi ke atap sekolah untuk merenungi apa yang tadi guru PAI katakan, aku terkejut ketika sesampainya di atap sekolahan di sana sudah ada Aisyah yang sedang berdiri melihat pemandangan.

“hai ca (panggilan Aisyah)?” sapaku sambil menghampiri Aisyah.
“oh, hai yo,” jawab Aisyah.
“kamu lagi ngapain di sini ca?” tanyaku penasaran.
“aku selalu ke sini untuk menenangkan pikiranku saat aku ada masalah, kalau kamu ngapain ke sini?” jawab dia sambil tersenyum.
“oh begitu yah, aku sih sebenarnya baru pertama kali ke sini, aku berpikir tempat ini bisa menenangkan pikiranku,” jawabku sedih.

“oh, emang kamu lagi ada masalah apa yo?” tanya Aisyah penasaran.
“aku masih kepikiran kata-kata guru PAI tadi ca,” jawabku.
“oh, kalau itu sih dari diri kamu aja yo, kalau kamu yakin bisa melakukannya pasti kamu bisa melakukan apa yang kamu inginkan,” balas Aisyah menasihatiku dengan kata-kata yang lembut.
Degg…. hatiku tiba-tiba berdetak begitu cepat ketika mendengar perkataan dari Aisyah tadi, sehingga membuatku bertambah cinta pada Aisyah. Aku hanya berdiam diri setelah mendengar perkataan Aisyah.

Aku terus memikirkan kata-kata Aisyah tadi. Aku akhirnya mencoba untuk bangun pagi dengan cara memasang alarm lebih awal lagi. Biasanya aku pasang alarm jam 5 sekarang aku pasang alarm jam setengah 4 pagi. “mungkin dengan cara ini, aku bisa mengutarakan perasanku pada Aisyah,” pikirku dalam hati. Seminggu menggunakan cara itu aku masih tetap saja bangun siang. Aku mencoba untuk menyerah saja dan membiarkan diriku dihukum saja saat pelajaran PAI. Aku kembali diceramahi oleh guru tapi sekarang berbeda dari sebelumnya. Aku dibawa ke musala sekolahku dan ceramahku dimulai. Setelah ceramh selesai aku kembali pergi ke atap sekolah dan bertemu dengan Aisyah lagi.

“hai ca?” sapaku dengan wajah lesu.
“oh, hai yo, diceramahi lagi?” Tanya Aisyah.
“iya ca, seperti biasa,” jawabku.
“emang kamu nggak pernah mencoba untuk bangun pagi?”
“aku pernah mencoba ca, tapi selalu gagal,” jawabku kesal.
“jangan menyerah yo, yakinlah pada diriku,” ucap Aisyah sambil tersenyum.

Aku mulai berpikir kenapa Aisyah selalu mengatakan itu padaku. Tiba-tiba pikiranku berubah yang tadi sedang memikirkan ceramah dari guru menjadi niat untuk menembak perasaan Aisyah
“ca?” tanyaku, memulai rencana. “iya yo,”
“em, sebenarnya selama ini aku mempunyai perasan padamu, bukan hanya sebagai teman tapi sebagai orang yang sepesial, aku nyaman saat di dekat dirimu seperti ini, maukah kamu jadi pacarku?” ucapku.

Aisyah menghadapku dan berkata, “maaf yo, aku tidak bisa, karena di dalam agam islam tidak ada yang namanya pacarn di agama islam hanya ada taaruf,”
Aku hanya menunduk dan diam saja, “tapi jika kamu berusaha untuk bangun pagi dan selalu salat 5 waktu, aku bisa taarufan dengan kamu,” jawab dia sambil tersenyum.
“beneran ca?” tanyaku meyakinkan. Aisyha hanya mengangguk.

“kalau begitu aku akan berusaha, demi kamu ca,” ucapku semangat.
“bukan karenaku yo, karena allah,” balas dia sambil mendekatiku.
“aku juga punya perasaan yang sama sama kamu yo. Aku juga menunggu kamu mengucapkan ini. Kamu orangnya baik, kamu hanya kurang dalam hal beribadah. Jadi terimalah pemberianku ini,” lanjut Aisyah sambil memberikanku tasbih.
“baik ca, aku akan terus berusaha,” jawabku sangat gembira.
“semoga berhasil sayang,” ucap Aisyah.

Hari itu hatiku sangat berbunga-bunga, rasanya ingin berteriak sekeras mungkin. Setelah kejadian itu, aku terus berusahan Aisyah juga selalu kirim pesan agar aku salat subuh, walau tidak berjalan begitu cepat. Tapi lama kelamaan aku bisa bangun pagi dan menjadi kebiasaan. Aku berpikir aku tidak akan bisa bangun sepagi ini jika tanpa dorongan dari orang yang dicintai. Dengan kata lain keinginanku tidak akan tercapai jika tidak ada yang memotivasi, menyemangati dan memperhatikanku.

Cerpen Karangan: Adi Waluyo
Facebook: adhyie.elluyo[-at-]facebook.com

Cerpen Yakin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jangan Kau Sujudkan Hatimu Kepadaku

Oleh:
“Vinda !” “Ada apa?” Kata Vinda seraya menatap Ardi yang ada di depannya yang mengajak untuk mengobrol, Vinda menghadapi obrolan Ardi yang mengajak serius. Akhirnya Vinda berusaha mengerti apa

Mencintaimu Dalam Diam

Oleh:
Aku tidak tahu kenapa perasaan ini bisa datang? Dan kapan perasaan ini berakhir? Mungkin ini cinta pertamaku? Atau hanya cinta monyet? Yah karena umurku masih sangat remaja, yakni hanya

Hujan Senja

Oleh:
Sore itu handphone yang ku taruh di atas meja belajar berdering tanda ada pesan masuk. Ternyata sahabatku naila, bukan kata-kata penting hanya kata iseng saja. Kubalas sms itu, hingga

Halalkah Kita Pacaran

Oleh:
Seminggu sudah Arini mendapatkan surat dari Rangga, yang isinya gak jauh beda, so pasti ungkapan cinta. Arini males membalasnya, tapi hanya disimpan di bawah kasur. Karena dia tidak punya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *