Zaujati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 27 September 2018

Ceritanya dimulai dari sini. Ana dengan suara indahnya dan Ahmad dengan suaranya yang sangat merdu. Mereka dipertemukan di bawah gubuk ilmu pondok hufadz Daarul Qur’an. Pertemuan pertama mereka mungkin tidak sedramatis seperti yang ada di drama-drama Korea. Mereka pertama mengenal pada saat harlah ke-40 pondok mereka, kebetulan pada saat itu grup rebana Ahmad mengisi acara tersebut.

“Subhanallah.. Suaranya.. Merdu sekali, orangnya ganteng lagi” kata Salma yang duduk di samping Ana.
Ana hanya tersenyum kecil, mengisyaratkan jawaban “iya”
“Pasti wanita yang disukai Ahmad beruntung sekali.. Soalnya udah pinter, suaranya merdu, juga ganteng..” kata Salma.
“Gak usah dibahas lagi deh, Ma..” sahut Ana sambil menggandeng tangan Salma dan mengajaknya pergi dari keramaian itu. Mereka terus berjalan hingga sampai ke masjid, dan duduk di serambi masjid yang tidak terlalu ramai orang itu.
“Boleh saja kita mengagumi seseorang, tapi bukan berarti kita harus menuruti hawa nafsu kita untuk selalu memandangnya..” kata Ana pelan.

Suasana tiba tiba berubah menjadi hening. Mereka duduk berdua dengan tenang hingga ada segerombolan pemuda yang datang dan lewat didepan mereka. Entah itu siapa Ana tidak tau, karena ia hanya tertunduk tanpa melihat mereka.
Ahmad yang saat itu berjalan bersama kawanannya tak sengaja melihat Ana yang tertunduk di serambi masjid.

“Subhanallah..” kata Ahmad spontan.
“Kenapa, Mad? Apanya yang subhanallah?” kata salah seorang temannya.
“Nggak.. Nggak papa, ayo.. Kita kan mau ke dalam masjid..”
Ana yang saat itu berada di sana dengan Salma langsung pergi menghindar menuju tempat lain.
“Kenapa, An? Tadi kita di sana kamu ngajak ke sini, sekarang kamu malah ngajak ke sana, mau ke mana sih kita??”

Beberapa bulan setelah kejadian itu akhirnya mereka saling mengenal, hingga muncul sebuah janji, untuk menghalalkan hubungan di antara mereka.
“Saya merestui kalian berdua. Jika memang Ahmad sudah siap dhohir bathin, untuk apa ditunda, malah akan menimbulkan dosa..” kata Pak Yai pondok merestui mereka.
Ahmad sangat mencintai Ana, begitu juga Ana sangat mencintai Ahmad.
“Apakah kamu mau berjanji, jika kita menikah nanti aku ingin kamu menyanyikan lagu Zaujatii untukku…”
“Jika memang Allah menghendaki, maka aku akan menyanyikannya..”

Hingga suatu hari orangtua Ana menyuruh Ana kembali ke rumahnya, Ana tidak mengatakan apapun kepada Ahmad, dan ternyata.
“Nduk.. Besok kamu akan dilamar anak sahabat bapakmu..” kata Bu Ngatiem dengan suara pelan.
Ibu Ana memang sudah sepuh. Usianya sudah tua, dan ayahnya telah meninggal dunia 2 tahun yang lalu, ibunya tinggal bersama adiknya.
Ana pun tak bisa menolak keinginan ibunya itu, dia hanya ingin membahagiakan ibunya.
“Ya Allah.. Harus bagaimana aku?”

Dengan penuh kebimbangan Ana sholat istikharah. Berharap Allah menjawab pilihannya, hingga pilihannya adalah pilihan dari Allah.
“Ya Allah.. Siapapun orang yang akan menjadi imamku, jadikanlah dia orang yang akan menjagaku, dan menjaga kalamMu yang telah melekat dalam ingatku, jadikanlah dia orang yang akan membawaku menuju ridhoMu…” rintihan Ana dalam doanya.
Dia bingung harus mengatakan apa kepada Ahmad, dia tidak mungkin mengatakan semuanya pada Ahmad.

Dan akhirnya Allah mentakdirkan Ana berjodoh dengan pemuda pilihan ibunya. Ana akan menikah dengan pemuda itu, dan sudah menjadi tradisi di pondok mereka, apabila ada santri yang menikah pasti akan mengundang grup rebana pondok mereka. Dan benar, Ana mengundang grup rebana di mana Ahmad menjadi vokal utama dalam grup itu.

“Mad, besok kita dapat undangan ngisi di acara pernikahan temen kita..”
“Lhoh.. Temen kita ada yang mau menikah tha.. Siapa?”
“Nggak penting siapa, lagi pula bukan akhi kita, tapi ukhti kita..”
“Ooo… Ya ya, kalo gitu ayo mulai latihan..”
Ahmad tak tau kalau ternyata yang akan menikah itu adalah Ana. Temannya tau, tapi mereka lebih memilih menyembunyikannya dari Ahmad.
“Kasian Ahmad..” pikir salah seorang temannya.

Dan hari itu pun tiba. Hari di mana Ana tak akan lagi bisa melihat Ahmad, hari di mana Ana tak bisa lagi berangan menikah dengan Ahmad. Dan ketika akan akad nikah, pemuda itu hanya sendiri, tak ada calon istri di sampingnya.
“Subhanallah… Kok masih ada perempuan yang seperti ini di jaman sekarang, dia akan memperlihatkan wajahnya setelah dia halal bagi si calon suaminya..” kata Ahmad.
“Iya ya mad..” kata temannya.
“Seandainya kamu tau, perempuan itu adalah Ana, calon istrimu…” kata temannya dalam hati.

Ketika si mempelai wanita keluar. Tiba-tiba suasana memecah, Ahmad yang tadinya sumringah, kini wajahnya mengerut, matanya mulai basah, dan senyumnya pun hilang.
“Astaghfirullah… Ana,” hanya kata itu yang diucapkan Ahmad, dan dia langsung pergi tanpa menghiraukan acaranya.
“Ahmad…” teriak temannya sambil berlari mengejarnya, hingga Ahmad sampai di musholla dekat rumahnya Ana.
“Ayolah mad.. Jangan seperti ini, mungkin kamu dan Ana memang tak berjodoh..” kata temannya menghiburnya.
“Tapi apakah harus dengan cara seperti ini? Dia tak pernah mengatakan apapun padaku, dan sekarang aku melihatnya sudah bersama orang lain, harus bagaiman aku?”
“Sabarlah, Mad.. Mungkin ini ujian untuk hamba yang sholeh sepertimu..”
“Tapi aku juga manusia biasa, aku juga punya hati..”
“Sudahlah, kita kan sudah diundang mengisi acaranya, jadi apakah kamu akan diam di sini terus, dan tak memenuhi undangan itu.”
“Aku tak kuat melihatnya..”
“Ayolah… Allah tidak suka dengan hambaNya yang seperti ini..”

Dan Ahmad kembali ke tempat itu, air matanya masih mengalir deras dan membasahi pipinya.
Dan dia ingat ketika itu, Ana pernah mengatakan dia ingin Ahmad menyanyikan lagu Zaujatii untuknya.
“Zaujatii… Anti habiibatii antii..” suara Ahmad begitu merdu, dia menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan, dan air matanya mengalir bagaikan banjir bandang.

Ana yang saat itu hanya bisa melihat Ahmad, air matanya pun ikut menetes. Dulu dia ingin Ahmad menyanyikan lagu itu sebagai suaminya, sedangkan sekarang Ahmad menyanyikan lagu itu, dan dia bersama orang lain.
“Bukankah aku sudah memenuhi janjiku, untuk menyanyikan lagu itu. Tapi sayangnya bukan untukmu yang sebagai istriku, tapi untukmu yang saat ini sudah menjadi milik orang lain..”

Cerpen Karangan: Alaiyya Ayu
Blog / Facebook: Alaiyya Ayu

Cerpen Zaujati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lukisan Salah Penerima

Oleh:
Dina sangat semangat mempersiapkan selembar kertas karton putih dan kotak berisikan pensil warna yang baru saja dibelinya dari mini market saat pulang dari sekolah, ia bukanlah seorang pelukis dan

Dia Yang Tak Pernah Peka

Oleh:
Hai, namaku Sonia Angelina. Aku biasa dipanggil angel. Aku adalah seorang gadis berusia 15 tahun dan sedang mengenyam pendidikan di tingkat kelas 3 SMP atau sering disebut kelas 9.

Datang Terlambat

Oleh:
Stepy terduduk di atas koridor di depan kelasnya. Dia terlihat sedang membaca, tapi pada nyatanya dia tak membaca, dia hanya memandangi novelnya itu, sedangkan pikirannya sedang tertuju pada sesosok

Waiting

Oleh:
Pagi yang indah, sinar mentari mulai menghiasi bumi ini. Nyanyian burung yang terdengar sangat merdu di pagi ini membuat hati ini sangat tentram. Syukur tak hentinya aku ucapkan kepada

7 Years of Love

Oleh:
Ku pandangi langit malam ini yang menyembunyikan indahnya cahaya rembulan melalui jendela kamar ku yang ku biarkan terbuka, terdengar sayup lantunan lagu Kyu Hyun “7 Years Of Love” dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *