Bas (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama
Lolos moderasi pada: 30 January 2018

Ini mungkin terlihat aneh atau terdengar aneh… aku suka Bastian? Kalau teman-teman tahu aku mungkin diceramahi habis-habisan. Tapi mau gimana aku sudah terlanjur suka. Awalnya karena Bastian menolong aku saat terserempet mobil saat itu. Selama ini aku nggak pernah perhatian padanya. Kata teman-teman dia si kutu buku yang nggak pernah gaul. Temannya adalah buku. nggak asyik, nggak tajir, nggak populer, nggak menarik en’ nggak keren.. Tapi menurutkuku dia nggak seburuk itu deh, dia baik. Kalau bicara juga nyambung, nggak suka gosip dan lumayan menarik secara fisik. Cuma tu.. kacamatanya yang besar itu dan rambutnya yang kadang menutupi sebagian wajahnya membuatku risih. Satu lagi kalau didekati selalu aja menjauh, nyebelin banget. Aku suka ngobrol dengannya, dia pintar dan obrolannya menyenangkan. Aku suka liat matanya yang bersinar saat bicara tentang mimpi-mimpinya. Tapi Bas tidak mau terlalu akrab denganku dan dia selalu mengajak Puri teman sekelasnya pulang bareng kalau aku mengajaknya pulang bareng. Apa di matanya Puri terlihat lebih menarik dan menyenangkan? Selalu bikin sebel.

Mentari pagi bersinar cerah hari ini, aku berjalan menuju ruang kelasku. Aku menatap sekeliling sekolah, tinggal beberapa bulan lagi. Lalu aku dan teman-teman akan pergi dari sekolah ini untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Rasanya sedih meninggalkan SMU ini. Ruang kelasku sudah ramai, sebagian asyik belajar. Pasti membahas soal untuk ujian akhir dan persiapan ujian masuk perguruan tinggi. Aku duduk di bangkuku di sisi bangkuku duduk Kania yang sedang ngobrol dengan Sania dan Jean yang duduk di bangku belakang kami. Di mejanya tergeletek beberapa buku yang pasti membuatnya pusing sehingga dia beralih ke bangku belakang untuk ngobrol. Aku tersenyum kecil, Kania.. Kania..

“Hei, Starla dah datang…” sapa Kania. Aku senyum.
“Ntar sepulang sekolah kita rapat mading ya..” ucap Jean dari belakang.
“Iya..” jawabku, aku dan Jean memang pengurus mading.

“Yah.. padahal aku mau ajak kalian ketemu sepupuku yang keren itu, hari ini mereka ada latihan basket.” ucap Sania.
“Sekalian mau pedekate dengan Barly kan..” ucap Jean. Sania cengengesan.
“Bareng Kania aja..” ucapku.
“Kalau berdua nggak seru..” ucap Kania.

“Hati-hati ntar dijambak cewek-cewek sekolahan mereka kalian..” ucap Jean, aku tertawa.
“Mana berani mereka, Aldy sepupuku pasti belain kami.” ucap Sania.
“Hati-hati aja sob, tau lah cewek kalau sudah kalap.. wuih.. serem..” ucap Jean, sambil memperagakan kalau macan mengaum dengan kedua tangannya. Jean mempraktekkan cakar-cakar macan mau mencakar wajah Sania… Aku tertawa.
“Sudah Je.. jangan ditakut-takutin ah.. biar aja mereka berkembang..” ucapku sambil menoleh pada Jean yang sedang tersenyum.

“Dasar lo Je..liat aja kalau ntar kami berhasil dapat pacar, kamu pasti iri..” ucap Sania, cemberut.
“Ngapain iri, kan aku bisa cari pacar juga wek..” ucap Jean. Ada-ada aja teman-temanku ini.
“Hus.. pak Doni sudah datang.” ucapku pelan. Semua langsung diam. Suasana kelas juga langsung sepi.

“Pagi anak-anak..” sapa pak Doni.
“Pagi pak..” balas kami kompak.
“Hari ini kita belajar tentang DNA..” ucapnya. Terdengar suara-suara buku yang di buka, lalu pelajaran pun dimulai.

Sepulang sekolah aku dan Jean ke ruang mading sekolah. Rapat kami cuma sebentar hanya membahas tentang kapan pergantian pengurus karena kami sudah kelas tiga jadi harus lebih fokus pada ujian akhir. Masalah mading di serahkan aja sama adik kelas. Jean mengajakku ke toilet, aku menunggunya di depan toilet. Aku bosan lalu berjalan ke belakang sekolah.. Eh siapa itu yang asyik main basket sendiri. Loh sepertinya itu bas deh.. aku semakin mendekat. Bas bermain dengan bagus, kenapa dia nggak gabung di team basket sekolah aja ya. Ternyata ada tempat main basket di sini walau sederhana, cuma sebuah ring yang di gantung di pohon. Dia terlihat semangat banget dan terlihat berbeda di banding Bas yang biasanya kalem dan selalu memegang buku. Saat asyik main, bola Bas terjatuh dan mengelinding ke arahku. Bas melihatku dia terdiam sejenak, lalu berjalan mendekatiku. Aku meraih bola di dekatku.

“Permainanmu bagus..” ucapku. Bas diam aja.
“Kok nggak gabung ke team basket sekolah..” ucapku saat Bas sudah di depanku. Bas meraih bola di tanganku.
“Melihat orang diam-diam itu tidak baik..” ucapnya.
“Aku nggak sengaja tadi jalan kemari dan ngeliat kamu lagi main basket.” ucapku sepertinya Bas nggak suka aku melihatnya main basket.

“Kok kamu belum pulang? ” tanyanya.
“Tadi ada rapat pengurus mading.” jawabku. Bas berbalik dan berjalan meninggalkanku. Ih.. ngak sopan banget main ninggalin aja..
“Pulang gih sudah sore..” ucapnya sambil jalan.

“Hei Starla.. di sini rupanya dari tadi aku cariin..” ucap Jean yang sudah ada di belakangku. Aku noleh, aku lupa kalau tadi aku lagi menunggu Jean, Aku senyum pada Jean.
“Sorry Je.. tadi aku mau keliling-keliling sambil nungguin kamu.” ucapku.
“O.. yuk pulang..” ajak Jean aku ngangguk. Lalu aku dan Jean pulang sebelumnya aku noleh ke arah Bas.. nggak ada lagi. Ke mana dia?

“Liat apa?” tanya Jean. Aku melihat ke arah Jean.
“Mm.. nggak ada.” ucapku.
“Eh.. tadi kayaknya kamu baru bicara dengan Bas.” ucap Jean.
“Iya..” ucapku pelan. Kenapa Bas dingin gitu ya..emang sih biasanya nggak hangat juga tapi setidaknya lebih ramah. Apa karena aku tadi ngeliat dia main basket? Ah.. entahlah…

Etalase di depanku berisi beberapa macam jam yang bagus banget. Jam cowok..aku suka ngeliatnya. Pasti kalau di pakai Bas bagus. Aku memang mau membeli sesuatu untuk Bas. Kenang-kenangan saat perpisahan nanti. Berharap Bas nggak akan melupakanku. Jam ini cocok banget, jadi setiap dia melihat jam semoga dia mengingat siapa pemberinya.. yaitu aku hehe.. Aku tersenyum kecil. Mudah-mudahan Bas suka. Lalu aku membeli sebuah jam tangan sport. Dengan wajah puas aku keluar dari toko jam. Dan berjalan pulang. Waktu rasanya berjalan begitu cepat. Ujian sudah selesai dan sekarang malam perpisahan.. sedih banget pisah dengan teman-teman.

Aku menjauh dari keramaian, aku nggak ada ngeliat Bas, apa dia nggak datang. Aku berjalan keluar ruang aula sekolah tempat pesta perpisahan. Aku memegang kotak kecil hadiah perpisahan buat Bas. Aku berhenti berjalan saat mendengar ada yang ngobrol di samping aula. Aku berjalan mendekat dan kaget saat tahu siapa yang sedang ngobrol di samping aula. Bas.. dengan Puri.., dan Puri mengungkapkan perasaannya pada Bas… Aku bersandar di dinding.. pupuslah semua… aku menatap kado kecil di tanganku. Untuk apa lagi ini…, aku berjalan kembali ke dalam aula.. suasana meriah ini terasa hampa.. teman-teman pada asyik cerita dan bercanda. Tidak ada satu pun yang masuk ke otakku..

“Kamu kenapa?” tanya Jean, aku menggeleng. Aku lalu duduk di sudut ruangan. Kutatap kado kecil di tanganku. Kupermainkan dengan tanganku. Aku mendesah pelan.
“Kenapa?” suara seseorang mengagetkanku. Aku menaikkan wajahku Bas.. Aku langsung menyembunyikan kado kecil di tanganku.
“Terlalu sedih meninggalkan sekolah ini?” ucapnya aku tersenyum kecil.
“Kamu akan lanjut ke mana?” tanya Bas setelah duduk di sisiku. Malam ini Bas terlihat lebih ramah.

“Ke salah satu perguruan tinggi di kota ini..” ucapku. Bas senyum, manis banget senyumnya malam ini.
“Kamu?” tanyaku
“Aku akan keluar kota tempat pamanku. Pamanku bersedia membiayai kuliahku, tapi aku harus sekolah di sana.” ucapnya. Bas akan keluar dari kota ini..? Kutatap Bas dia tersenyum..

“Jadi ini pertemuan terakhir kita?” tanyaku.
“Kok terakhir, kayak nggak akan pernah ketemu aja..” ucap Bas.
“Tapi kamu akan pergi ke luar kota.” ucapku. Bas senyum.

“Kalau kamu mau kasi kado sama seseorang kasi aja ini saat yang tepat sebelum perpisahan.” ucap bas, tanpa menggubris perkataanku.
“Kado..?” ucapku heran.
“Iya kado yang dari tadi aku liat dari jauh, kamu liatin terus.” ucap Bas. Eh.. Bas ngeliatnya dadaku berdesir halus.
“Mmm.. sudah nggak penting lagi..” ucapku.

“Kenapa?” tanya Bas heran.
“Mmm.. nggak apa-apa..” ucapku lalu berdiri.

“Mau ke mana?” tanya Bas.
“Pulang” jawabku singkat.
“Loh cepat banget, ini hari terakhir lo di sekolah ini..” ucapnya. Aku diam aja.

“Starla..” Kania memanggilku. Aku noleh lalu..
“Aku pergi ya… semoga sukses..” ucapku, Bas hanya diam. Aku lalu berjalan meninggalkannya. Lalu mendekati Kania dan yang lainnya.

“Eh.. sejak kapan lo akrab sama si kutu buku itu..” ucap Sania.
“Namanya Bastian..” ucapku.
“Ya Bastian atau siapa pun namanya.” ucap sania cuek.
“Emang kenapa?” ucapku.

“Yah nggak kenapa-kenapa sih tapi.. apa nggak ada teman yang lain..” ucap Sania. Aku tau teman-temanku nggak pernah tertarik dengan Bas.
“Dia teman yang baik kok..” ucapku, Sania mengeditkan bahunya. Bagi Sania cowok seperti bas tidak masuk levelnya.. tapi aku nggak peduli. Aku suka Bas meski saat ini aku begitu hancur.
“Yuk pulang Je..” ucapku.
“Cepat banget..” ucap Kania.

“Aku nggak enak badan.” ucapku emang tiba-tiba rasanya badanku sakit semua nih..
“Sudah kalian di sini aja, aku pulang duluan bareng Starla..” ucap jean.
“Ya okelah kalau gitu..” ucap Kania. Aku dan Jean keluar dari aula.
“Kok kadonya masih sama kamu katanya mau dikasi sama orang spesial..” ucap Jean.

“Nggak jadi..” ucapku.
“Kenapa?” tanya Jean.
“Ngak apa-apa Je.. dia mungkin juga nggak akan peduli dengan kado ini.” ucapku teringat saat Bas dan Puri lagi ngobrol di samping aula. Saat dekat tong sampah aku mebuang kado itu.

“Loh.. Star kok dibuang.” ucap Jean.
“Biar aja, aku pun tak ingin menyimpannya.” ucapku.
“Tapi kamu bilang itu dari hasil tabunganmu selama ini.” ucap Jean aku diam aja. Lalu mengajak Jean pulang. Perpisahan memang menyedihkan…

Langit biru telihat cerah..aku duduk di taman kampus sambil menatap langit. Disisiku Jean masih asyik dengan angka-angka di depannya.. biasa anak matematika..
Sudah tiga tahun berlalu semenjak perpisahan itu, sekarang kami sudah kuliah di semester enam. Aku, Jean, Kania dan Sania satu kampus tapi beda fakultas. Dan meski sudah tiga tahun berlalu masa-masa SMU, tapi Bas nggak pernah terlupakan. Padahal di kampus ini seabrek cowok-cowok yang keren, pintar.. Tapi kenapa Bas begitu melekat. Padahal mungkin saja Bas tidak mengingatku lagi.

“Menatap langit sambil melamun lagi..” suara Jean mengagetkan aku.
“Langit itu indah Je..”ucapku.
“Dan membawamu kembali ke zaman SMU..” ucap Jean. Kok dia tau..
“Kok kamu bisa bilang gitu..” ucapku.

“Iya soalnya kemarin aku liat kamu mencoret-coret bukumu dengan nama SMU kita..” ucap Jean. Aku mendesah pelan.
“Seharusnya waktu itu kamu kasi aja kado itu sama orang itu..” ucap Jean. Aku diam aja.

“Aku penasaran siapa sih cowok itu..” ucap Jean. Aku diam aja. Apa yang akan dikatakan Jean kalau aku bilang cowok itu adalah Bas…
“Nah lo melamun lagi..” ucap Jean aku senyum.
“Yuk pulang, dari pada kamu melamun terus.” ucap Jean lalu berdiri dari duduknya. Aku pun ikut berdiri lalu kami pulang.

Otakku rasanya panas membaca terus di kamar. Aku keluar dan duduk di ruang TV. Lalu muncul sepupuku, Yoga.

“Eh.. di rumah rupanya kak, kirain tadi pergi abis nggak keliatan dari tadi.” ucap Yoga sambil duduk di sisiku. Di tangannya chitato sebungkus besar. Aku mencomotnya lalu mengunyah chitato yang renyah di mulutku.
“Aku di kamar pusing sudah otakku dari tadi baca.” ucapku.
“Untuk bahan proposal ya..” ucapnya.
“Iya..” jawabku. Aku lalu menghidupkan TV. Yoga sepupuku tinggal di rumahku karena orang tuanya tinggal di luar kota ini. Yoga kuliah di kampusku.

“Kak tau ngak, bang Tian bakalan datang ke kota ini..” ucap yoga.
“O..” ucapku. Tian adalah pelatih basket Yoga di SMU-nya dulu..
“Ntar aku kenalin sama kakak, pasti kakak senang berteman dengannya..” ucap Yoga. Aku senyum, Yoga suka cerita tentang pelatih basketnya Tian padaku, dia sepertinya kagum banget dengan Tian. Katanya Tian itu jago banget main basket dan orangnya pintar.

Aku bernapas lega karena tugas makalahku sudah selesai dan sudah kukumpulkan barusan. Aku berjalan di koridor kampus. Dan..sesorang menabrakku upss..

“Sorry..” ucapnya.
“Ngak apa-apa..” ucapku. Dia menatapku lama, aku jadi risih.
“Aku Lio..” ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
“Aku Starla..” ucapku sambil menerima uluran tangannya.

“Aku kayaknya nggak pernah lihat kamu..” ucapnya.
“Kamu mahasiswa di sini?” tanyaku yang juga sepertinya tidak pernah melihatnya.
“Iya.., Aku anak semester 10 seharusnya, tapi aku cuti setahu jadi sekarang semester 8..” ucapnya
“O..aku anak semester 6.” jawabku.

“Kamu mau pulang?” tanyanya.
“Iya..” jawabku.
“Yuk bareng..” ucapnya. Lio menawarkan mengantarku pulang tapi aku menolak. Aku juga baru kenal dia, sepertinya dia cowok baik tapi kami kan baru kenal.

“Hai..” Lio muncul di kantin saat aku bareng teman-teman asyik ngobrol di kantin.
“Eh.. bang Lio..” ucapku.
“Siapa Star..” ucap Sania.
“Teman-teman ini bang Lio senior kita..” ucapku.

“Ku dah kenal kok..” ucap Jean. Bang Lio tersenyum.
“Tetanggaku dia..” ucap bang Lio sambil duduk di dekat kami.
“Kok kami nggak pernah ketemu abang ini, waktu main ke rumahmu.” ucap Kania.
“O.. dia tu si kutu buku en selalu di kamar..” ucap Jean.

“Tapi dari tampangnya kayaknya nggak gitu deh..” ucap Sania.
“Emang kenapa tampangku.. nggak cocok ya jadi anak pintar..” ucapnya bercanda. Semua tertawa.
“Iya cocoknya jadi anak nakal..” ucap Jean kami senyum. Dari cara mereka bicara mereka pasti tetangga yang akrab.
“Itu juga boleh..” ucap bang Lio. Bang Lio orangnya ramah, hangat dan lucu. Akhirnya bang Lio ngobrol bareng kami, teman-teman kelihatan nyaman bicara dengannya seperti sudah lama kenal aja. Selain itu bang Lio itu secara fisik ganteng. Dia nggak sungkan tuh ada di antara kami, dan tidak peduli dengan kata-kata Sania yang kadang sombong. Mungkin ini pertanda akan tambah satu lagi sahabat kami. Aku tersenyum.

Cerpen Karangan: Imelda Oktavera

Cerpen Bas (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dan Jiwaku Tertambat Pada Bulan

Oleh:
Dulu sekali, entah kapan tepatnya aku tidak bisa mengingatnya lagi. Tepat di persimpangan itu, persimpangan Jalan Tentara Pelajar tempat sekolahku dulu tegak berdiri aku berpapasan dengan seorang gadis yang

Salah Paham

Oleh:
“Apa? Lo jadian sama Rival?”, suara Ribkha membuat semua pengunjung menoleh ke kami berdua. Kami hanya bisa cengar cengir melihat seluruh mata yang menoleh ke kami. Memang dasar deh

Cinta Pertamaku Pada Anak Guruku

Oleh:
Hi namaku al azzahra Berawal dari aku masuk tk dulu, aku bersahabat dengan aini sejak aku baru masuk di situ. Ada kakak kelasku yang katanya anak guru di situ

Perasaan Kita (Part 2)

Oleh:
Saat capucino pesananku telah datang… “minumlah alvin..” “iya..” “bagaimana rasanya?” “harum..” Aku sangat senang sekali mendengar jawaban itu.. 17 tahun lamanya aku tak pernah mendengar kata-kata itu.. terima kasih

Senja Sahabatku, Seiyyo Cintaku

Oleh:
Mentari senja mulai menyelimuti separuh bagian bumi ini. Aku menatap langit senja dari balik jendela kamarku. Warna langitnya oren, itulah yang kupikirkan setiap hari ketika senja. Tapi, seketika langit

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *