Bas (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama
Lolos moderasi pada: 30 January 2018

Koridor kampus terlihat ramai pasti mereka lagi ngeliat nilai. Mudah-mudahan semester ini mata kuliahku lulus dan nilainya bagus. Aku berhenti di kerumunan mahasiswa, ikut ngeliat nilai. Teman-teman sepertinya belum kelihatan. Aku mencari namaku, wah puji Tuhan aku lulus dengan nilai yang baik. Tinggal 2 mata kuliah lagi ni belum keluar. Mudah-mudahan nilainya baik juga. Lalu aku keluar dari kerumunan mahasiswa. Waduh.. sesak juga nih, pada nggak sabar ni semuanya.

“Gimana nilainya dah keluar..” sebuah suara mengagetkanku. Aku noleh bang Lio..
“Eh.. bang, sebagian keluar..” jawabku.
“Bagus-bagus nilainya?” tanyanya.
“Iya.” jawabku sambil senyum.

“Baguslah..” ucapnya.
“Teman-temanmu yang lain pada ke mana?” tanya bang Lio.
“Nggak tau tuh bang belum ada yang muncul.” jawabku.
“Ke mana kamu liburan gini..” ucap bang Lio.

“Ngak ada main di rumah aja..” ucapku sambil senyum.
“Gimana kalau sekarang nemani abang.” Ucapnya.
“Ke mana?” tanyaku.
“Ada deh..yuk.” ajaknya lalu menarik tanganku. Kami berjalan ke parkiran.

“Nih..” bang Lio menyodorkan helm padaku.
“Abang selalu bawa helm 2.” ucapku.
“Nggak, ini emang sengaja sudah ada rencana menculik kamu.” ucapnya aku senyum lalu memakai helm yang di beri bang Lio. Kemudian kami pergi, motor bang Lio melaju keluar dari parkiran. Menyusuri jalan.. menyenangkan naik motor seperti ini.

Dan kami berhenti di sebuah gedung. Ini kan galeri, aku turun dari boncengan bang Lio. Lalu membuka helmku, dan menatap gedung itu.
“Ini galeri temanku.. dia lagi pameran fotografi..” ucap bang Lio.
“Karya dia sendiri?” tanyaku.
“Sebagian, sebagian punya teman-temannya.” ucap bang Lio. Lalu kami masuk. Ada beberapa pengunjung yang asyik melihat foto yang di pajang.

“Hei Lio..” seorang menyapa bang Lio.
“Hai..” ucap bang Lio. Lalu mereka berjabat tangan.
“Bawa siapa lo..” ucapnya sambil melihatku.
“O.. kenalin ini Starla..” ucap bang Lio.

“Starla..” ucapnya sepertinya agak aneh dengar namaku. Aku senyum, lalu dia mengulurkan tangannya.
“Arya..” ucapnya. Aku menyambut uluran tangannya.
“Starla..” ucapku. Dia menatapku, aku jadi kikuk.

“Jangan dipandang terus yak.” bang Lio berhenti bicara sambil menatap Arya jenaka. Arya tertawa, aku senyum.
“Ayo silakan liat-liat..” ucapnya aku lalu melihat foto-foto yang di pajang, bagus-bagus.

“Starla.. aku mau bicara sama arya dulu ya, kamu liat-liat aja dulu..” ucapnya.
“Oke..” ucapku. Lalu bang Lio pergi. Aku kembali melihat foto-foto. Dan berhenti di sebuah foto. Yang membuatku berhenti karena nama foto itu “Starla”. foto bintang di langit malam yang cerah, bagus banget tapi kenapa namanya starla. Lalu ku lihat lagi foto yang lain, namanya starla juga. foto Bintang laut. Aku lihat lagi, yang lain. foto sebuah pantai yang indah dengan airnya yang biru dan pasir berwarna putih dan seorang pria sedang duduk melihat laut yang terlihat cuma bagian belakang. Duduk di pasir yang putih. Kenapa ketiga foto ini namanya starla ya.. kebetulan banget.

“Hei..” bang Lio sudah ada disisiku, aku senyum.
“Ini siapa yang foto ya bang..” ucapku.
“Temannya Arya, tu cowok yang dalam foto itu dia.” ucap Bang Lio.
“Wajahnya nggak keliatan ” ucapku, bang Lio senyum.

“Gimanan bagus fotonya?” tanya bang Lio.
“Bagus, aku suka.” ucapku.
“Lain kali abang ajak kamu pas pameran yang lebih besarnya dan entar para fotografernya hadir juga.” ucap bang Lio, aku mengangguk.

“Ayo kita pergi.” ucap bang Lio. Aku mengangguk, setelah permisi dengan bang Arya kami pergi. Kali ini bang Lio mengajakku pergi ke cafe temannya. Suasana cafe yang nyaman, enak juga ngumpul bareng teman di sini. Kami duduk berdua sambil ngobrol.

“Teman-temanku sudah pada punya usaha, bikin iri aja.” ucap bang Lio.
“Ntar abang juga kebagian jatah sukses kok bang..” ucapku, bang Lio tertawa.
“Sudah dijatah ya..” ucapnya aku senyum.

“Mudah-mudahan tahun ini bisa kelar kuliahku.” ucap bang Lio.
“Amin..” ucapku.

“O ya, sepupumu Yoga itu senang banget sepertinya main basket.” ucap bang Lio.
“Iya, maniak banget.” ucapku.

“Permainannya bagus..” ucapnya.
“Iya, katanya waktu SMU pelatihnya bagus dan dia ngefans banget sama pelatihnya itu.” ucapku sambil senyum.
“O ya..” ucap bang Lio, aku ngangguk.

“Kalau kamu sukanya olah raga apa?” tanya bang Lio.
“Mm.. basket suka juga tapi nggak pandai mainnya. Aku nggak terlalu suka olah raga, aku lebih suka menulis dan fotografi.” ucapku.
“O ya, menulis apa?” tanya bang Lio.

“Apa aja, dulu aku kan pengurus Mading sekolah, sekarang aja nggak lagi banyak menulis.” ucapku.
“Kenapa?” tanya bang Lio.
“Entahlah.., ada sesuatu yang hilang ketika aku pergi dari SMU kami. Alhasil sekarang ya.. gini.. jarang menulis lagi.” ucapku.
“Apakah ada yang tertinggal di masa SMU itu?” ucap bang Lio. Aku diam, tentu aja.. Bas..

“Hei.. kok jadi melamun.” ucap bang Lio, aku cuma tersenyum.
“Abang juga suka basket kan..” ucapku mengalihkan pembicaraan mengenai masa SMU ku.
“Iya, futsal juga suka.” ucapnya.

“Tapi ku mau nanya nih bang, abang sama Jean tetanggaan sejak kapan.” ucapku.
“Mm.. mungkin sejak masih di dalam kandungan.” ucap bang Lio, aku tertawa.
“Pantesan kalian akrab banget..” ucapku.
“Akrab? Lebih tepatnya saling menjatuhkan. Jean itu lucu, kadang ketus..kadang manis. Tapi dia itu paling marah kalau di katain item haha..” ucap bang Lio.

“Loh Jean kan nggak hitam..” ucapku.
“Itu dia, dulu waktu kecil kan sering tu kami main bareng, nah waktu itu kami main di gudang rumah Jean karena gudangnya sudah lama nggak di bersihin banyak sarang laba-laba dan debu. Waktu main petak umpet rupanya Jean sembuyi di sudut gudang. Nah sewaktu keluar semua badannya penuh jaring laba-laba en debu, wajahnya jadi hitam. Karena itu aku selalu ejekin dia hitam.” ucap bang Lio, aku tersenyum.
“Tapi dia baik, cewek yang jarang banget bergosip..dan tidak banyak tingkah.” ucap bang Lio. Aku mengangguk setuju, Jean memang begitu. Lalu aku dan bang lio ngobrol hal-hal lain. Bersama bang Lio begitu banyak cerita, dan dia selalu mengerti aku. Aku merasa nyaman ngobrol apa aja dengannya, mungkin dia bisa mengusir bayang Bas dari pikiranku tapi.. sampai saat ini kehadiran bang Lio masih belum bisa membuatku tidak memikirkan Bas lagi. Bas.. please pergi dari pikiranku…

Terik matahari siang ini membakar kulitku, aku berdiri di halte menunggu angkutan umum. Meski sudah di halte gini tetap aja terkena matahari, aku mendesah pelan. Seandainnya aku nggak nolak tawaran papa untuk membelikanku mobil tentu sekarang aku nggak kepanasan seperti ini. Aku cuma nggak mau memanjakan diriku, kalau nanti aku punya mobil aku ingin itu dari hasil keringatku sendiri. Sekarang kan masih kuliah jadi kupikir itu bukan barang yang sewajarnya kumiliki, yah meskipun di zaman sekarang ini anak kuliah sudah biasa naik mobil bahkan anak SMU. Aku belajar kerendahan hati dari Bas. Dia lebih suka naik angkutan umum dibanding naik motornya, katanya bikin macet kalau banyak kendaraan dijalan dan menghemat pemakaian bahan bakar katanya. Bas memang dari keluarga sederhana dan dia anak yang pengertian. Sebenarnya papanya bisa kuliahkan dia di kota ini tapi tawaran pamannya menguliahkannya dia sambut dengan sukacita karena bisa mengurangi beban orangtuanya katanya. Bas masih memiliki dua adik lagi yang masih sekolah. Dia juga berencana saat kuliah ingin sambil bekerja. Bas kamu seorang yang tau apa yang harus kamu kerjakan dan kamu capai di hidupmu. Banyak orang yang tidak tau apa yang ingin dia capai dan apa yang harus dilakukanya untuk masa depannya, termasuk aku saat itu. Tapi sejak banyak ngobrol dengan bas aku jadi tau apa yang harus kulakukan dan capai. Lamunanku buyar saat suara kernek angkutan umum berteriak menyebutkan nama daerah tempat tinggalku. Aku segera naik ke angkutan yang sudah hampir penuh itu. Angkutan umum pun melaju membawa kami para penumpangnya. Melaju di jalanan yang padat dengan kendaraan yang berlalu lalang.

“Baru pulang kak..” sapa Yoga saat aku tiba di rumah.
“Iya..” jawabku lalu menghempaskan tubuhku disofa ruang keluarga.
“Lelah sepertinya kak..” ucap Yoga, aku hanya mengangguk.
“Kayaknya ini masih libur deh, kok rajin amat ke kampus.” ucap Yoga.

“Skripsi kan nggak libur Yog..” ucapku lalu menutup mataku.
“O iya kakak lagi skripsi.” ucapnya.
“Sebenarnya nggak skripsi masih proposal..” tambahku sambil membuka mataku. Yoga sudah duduk di sisiku.
“Lain kali kalo kakak mau pulang telepone aku aja, biar aku jemput. Kakak pasti lelah.” ucap Yoga.

“Kalau nggak terik banget hari ini, nggak terlalu lelah juga Yog. Cuaca terik membuat energiku rasanya terkuras.” ucapku.
“O..tunggu sebentar kak.” ucapnya sambil lari ke belakang. Kenapa lagi anak itu, ah biarin aja deh.. nggak lama kemudian Yoga muncul lagi dengan segelas juice jeruk.
“Nih kak, minum dulu. Kalau baru dari luar dan kelelahan juice jeruk adalah solusinya pasti seger..” ucap Yoga
“Uh.. baik banget.” ucapku sambil senyum lalu menerima gelas yang disodorkan Yoga. Aku lalu meminumnya, hmm.. memang terasa segar.

“Thanks Yog..” ucapku, Yoga tersenyum senang.
“Kak, bang Tian sudah di sini lo..” ucap Yoga.
“O..ya, ucapku sambil meletakkan gelas yang kupegang di meja.
“Iya, rencananya besok kami mau ketemuan..” ucapnya senang.

“Duh.. senangnya kayak mau ketemu pacar aja..” ucapku mengoda Yoga
“Hahahahaha…” Yoga tertawa.
“Ye.. kakak ni, masak jeruk makan jeruk..” ucapnya masih tertawa..
“Orang sih biasanya gitu kalau mau ketemu pacarnya..” ucapku.

“Jadi kakak juga gitu ya kalau mau ketemu pacar.” ucap Yoga.
“Semestinya.. tapi sayang kakak belum punya pacar..” ucapku
“Bang Lio..” ucap yoga.
“Bang Lio itu teman..” ucapku.

“Yah dari teman dulu baru jadi pacar.” ucap Yoga. Aku tertawa maksa banget si Yoga.
“Kalau gitu banyak donk pacar kakak, soalnya banyak teman..” ucapku.
“Ya bukan gitu kak..” ucap Yoga sambil tertawa.
“Ya sudah gimana kalau kakak pacaran sama bang Tian aja, ku lihat kalian cocok.” ucap Yoga. Aku tertawa lalu berdiri.

“Dari mana cocok ketemu aja belum pernah, ada-ada aja kamu..” ucapku lalu meraih gelas juiceku dan berjalan pergi menuju kamarku.
“Feeling kak, ntar aku bawa deh dia kemari..” ucap Yoga aku menganguk sambil tetap berjalan lalu meminum juice jeruk di tanganku. Ada-ada aja Yoga ini..

Aku sedang asyik di depan laptopku. Hari ini di rumah saja, aku sedang revisi proposalku untuk penelitianku. Sedikit lega karena dosenku sudah setuju dengan proposalku berarti tinggal selangkah lagi untuk penelitian hmm.. rasanya semangat sekali. Bang Lio juga sepertinya lagi semangat untuk menyusun skripsinya. Semoga nggak ada lagi penghalang baginya untuk segera ujian akhir. Ada suara ketukan di pintu kamarku.

“Kak..” Yoga rupanya.
“Ya, masuk aja Yog..” ucapku, suara pintu kamar dibuka.
“Ada apa Yoga..” ucapku sambil masih menatap layar laptopku.
“Sibuk ya kak..” ucapnya.

“Ngak juga sih, ada apa?” tanyaku sambil menoleh ke Yoga yang sudah duduk disisi tempat tidurku.
“Itu, aku mau kenalin bang Tian sama kakak..” ucapnya sambil senyum. Aku senyum.
“Kapan..” ucapku.
“Ya sekarang kak, dia ada di depan.” ucap Yoga.

“O..” ucapku.
“Kakak ada waktu?” tanyanya.
“Ada donk, kakak juga ingin tau seperti apa sih orangnya..” ucapku, Yoga senyum.
“Sampai membuatmu sangat mengidolakannya seperti artis ” ucapku, Yoga tertawa. Aku lalu menshutdown laptopku lalu merapikan rambutku.

“Yuk” ucapku. Lalu aku dan Yoga keluar kamarku.
“Sudah dikasi minum Yog..” ucapku.
“Sudah donk kak..” ucapnya, kami berjalan ke ruang tamu. Di ruang tamu terlihat seorang cowok yang duduk membelakangi kami.

“Bang..” ucap Yoga pada cowok itu. Cowok itu menoleh, seketika rasanya jantungku berhenti. Aku terpana menatapnya, dia juga terlihat kaget.
“Ini kakakku.” ucap Yoga. Dia langsung berdiri dan berhadapan denganku, Yoga sepertinya bingung dengan reaksi kami.
“Bas..” ucapku bergetar.
“Starla..” ucapnya. Mata kami beradu, aku rasanya bermimpi ketemu lagi dengan Bas. Dia terlihat makin dewasa dan..keren..

“Loh kalian sudah saling kenal.” ucap Yoga.
“Iya..” ucap Bas. Lalu mengulurkan tangannya.
“Apa kabar?” ucapnya aku menyambut uluran tangannya, mungkin tapak tanganku terasa dingin ditangannya.
“Baik, kamu gimana..” ucapku coba mengatasi kegugupanku.

“Baik juga..” ucapnya.
“Ayo duduk kak, bang.. masa berdiri aja..” ucap Yoga. Kami tersadar akan kehadiran Yoga. Lalu kami duduk
“Wah ternyata sudah kenal ya..” ucap Yoga. Aku tersenyum, Bas terlihat berbeda. Dia sudah menyingkirkan rambutnya yang sering menutup wajahnya. Dia lebih rapi..dan senyumannya…dia lebih sering tersenyum sekarang..

“Starla ini teman SMU-ku dulu.” ucap Bas kepada yoga sambil tersenyum, aku ikutan tersenyum.
“O..” ucap Yoga
“Gimana kabar teman-temanmu?” tanyanya.
“Baik, mereka satu kampus denganku.” jawabku, Bas masih tersenyum. Aku menatapnya, aku semakin menyadari betapa ku merindukannya..

“Banyak teman-teman kita yang kuliah di kampusmu?” tanyanya.
“Yah lumayanlah Bas..” ucapku. Kenapa Tian yang sering diceritakan Yoga sama dengan Bas yang selama ini sangat ingin ku tahu keberadaannya dan keadaannya. Nama Bas memang Bastian, jadi dia pakai nama Tian di sana. Bas dan Yoga ngobrol berdua aku sibuk dengan pikiranku yang nggak habis pikir tentang kebetulan ini. Tapi ini bukan kebetulan, bukankah nggak ada hal yang kebetulan semua sudah di atur Tuhan. Mungkin ini jawaban Tuhan atas semua pertanyaanku selama ini.

“Hei kok jadi melamun kak..” Yoga menegurku, aku tersadar dari lamunanku aku tersenyum. Bas sedang menatapku, jantungku berdetak lebih kencang masih sama seperti dulu saat melihatnya.
“Mmm aku ke dalam ya, tadi lagi ngerjain sesuatu..” ucapku.
“O… iya nggak apa..” ucap Bas. Lalu aku masuk ke kamar, bukannya ngelanjutkan ketikanku tapi duduk bengong di depan meja belajarku. Aku memegang dadaku, masih berdetak lebih kencang, aku menghirup udara dengan panjang lalu menghembuskannya perlahan. Mencoba menata debaran jantungku supaya bisa normal kembali. Bodohnya aku kenapa aku harus pergi dari sana. Bukankah ini kesempatan untuk ngobrol dengan Bas dan mencari tahu tentang keadaannya selama ini.. huh.. bodohnya kamu Starla.. ucapku dalam hati, kesal. Habis aku gugup sih.. Bas hanya sebentar berkunjung ke rumah kami. Sepulang Bas, Yoga menemuiku di kamar.

“Wah.. ternyata kakak dan bang Tian sudah kenal ya..” ucap Yoga sambil tiduran di tempat tidurku.
“Iya.” jawabku. Aku sudah kembali sibuk dengan laptopku.
“Di sekolah dulu bang Tian populer ya..” ucapnya.
“Ngak, dulu dia dijuluki si kutu buku.” Jawabku.

“Masa sih kak, emang sih abang itu pintar. Tapi dia gaul juga kok.” ucap Yoga.
“Dia dulu nggak gaul dan tidak pernah mau gabung team basket sekolah.” ucapku.
“Jadi bang Tian nggak ikut team basket sekolah, sayang banget dia hebat banget lo..” ucap Yoga.
“Tau..” ucapku.

“Kok tau?” tanya Yoga.
“Aku pernah pergoki dia main basket di belakang sekolah.” ucapku.
“O..” ucap Yoga, sepertinya Yoga merasa sedikit aneh dengan penjelasanku. Karena berbeda dengan apa yang dia tau tentang Bas. Mungkin Bas memang sudah berubah..

“Mmm.. sekarang dia sudah punya pacar?” tanyaku berusaha menekan suaraku supaya jangan terdengar terlalu penasaran.
“Belum, katanya dia belum bisa melupakan cewek yang dia suka di SMU-nya dulu.” ucap Yoga, jadi Bas belum bisa lupa sama Puri. Kenapa? Mereka putus..?
“Siapa kak cewek yang di sukai bang Tian di sekolah dulu?” tanya Yoga.
“Mmm nggak tau sih, mungkin Puri teman sekelasnya yang dulu akrab dengannya.” ucapku menahan getaran suaraku, aku masih saja cemburu terhadap Puri. Jadi aku masih tetap tidak ada harapan?

“O gitu ya..” ucap Yoga
“Kalian akrab saat di sekolah dulu?” tanya Yoga.
“Ngak juga, cuma sesekali kami mau ngobrol. Bas pendiam dan terkadang bersikap dingin.” ucapku.
“Iya sih, dulu waktu dia jadi pelatih basket di sekolahku banyak banget cewek cewek pada penasaran dengan abang itu.” ucap Yoga. Terselip rasa cemburu di hatiku, mungkin teman-teman cewek Yoga lebih leluasa dekat dengan Bas, karena Bas pelatih mereka. Seandainya aku punya kesempatan untuk lebih akrab dengannya.

“Aku keluar dulu kak, selamat melanjutkan ketikannya.” ucap Yoga.
“Oke..” ucapku lalu Yoga melangkah keluar dari kamarku. Aku mendesah pelan. Aku sebenarnya nggak konsentrasi lagi dengan proposalku ini. Bas sudah memporakporandakan hatiku.. pikiranku.. hari ini. Aahhh… aku lalu menshutdown labtopku dan membaringkan tubuhku di tempat tidur. Sebaiknya aku tidur aja siapa tau setelah bangun nanti aku bisa konsentrasi lagi… wuah… capek juga… lalu aku tidur.

Cerpen Karangan: Imelda Oktavera

Cerpen Bas (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kahaani

Oleh:
Hari ini adalah hari yang melelahkan bagiku, saat aku benar-benar muak dengan semua hal yang terjadi hari ini. Setiap hari keseharianku hanya seperti ini. Malam ini pun mataku enggan

Kenalkan Aku Pada Cinta

Oleh:
CINTA, aku rasa semua orang sudah mengenal cinta, mulai dari anak-anak, remaja, dan yang usianya sudah tidak muda lagi pun tau. Kini aku sudah kelas 1 smp, aku ingin

Jodohku Cinta Pertamaku

Oleh:
“Dera kalau aku pergi, apa kamu nanti bakal ngelupain aku” ujar anak laki laki berumur 10 tahunan itu dengan penuh kecemasan “engak kok, sampai kapan pun aku ngak akan

La Petite Mort

Oleh:
Malam hari terasa aneh bagiku. Suhunya dingin, tetapi tak ada waktu lain yang lebih menghangatkan hatiku dibanding saat malam hari. Makanya, ini adalah waktu favoritku untuk berjalan-jalan di taman

Terpendam

Oleh:
Ini adalah kisah sahabatku, panggil saja dia eman. Kisah cinta pertama ini dimulai dari bangku sekolah dasar kelas 5, berawal dari eman yang tak sengaja menatap mata seorang gadis

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *