Bas (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama
Lolos moderasi pada: 30 January 2018

Vas bunga yang biasanya ada di meja belajarku menghilang.. Aku baru pulang dari kampus dan saat meletekkan tas di mejaku ku tak melihat vas bungaku ditempatnya lagi. Padahal baru tadi pagi aku ganti dengan bunga dari taman rumahku. Biasanya kalau nggak musim bunga aku selalu isi dengan bunga plastik supaya mejaku terlihat nyaman. Aku keluar dari kamarku mencari mama siapa tau mama yang bawa keluar tapi saat di ruang TV ku lihat Yoga memegang vas berisi bunga mawar yang indah eh..sepertinya itu vas ku deh..

“Yog..” ucapku. Yoga menoleh padaku lalu tersenyum.
“Itu..” belum selesai aku bicara Yoga memotong perkataanku.
“Kak tadi aku ambil vas ini dari kamar kakak, aku ganti dengan mawar ini bagus kan?” ucapnya.
“Iya tapi aku baru tadi ganti dengan bunga dari taman.” ucapku. Yoga senyum.

“Ini lebih indah, maaf ya kak nggak permisi ke kamar kakak.” ucap Yoga.
“Nggak apa..” ucapku.
“Ni kak..” ucap Yoga sambil menyodorkan vas berisi mawar merah yang indah itu.., aku menerimanya.
“Kamu beli di mana bunga ini Yog, terima kasih ya.” ucapku.

“Nggak kak, ini nggak beli dikasi.” ucap Yoga.
“Loh kalau gitu kenapa kamu kasi ke kakak, ini dari cewek yang suka kamu? Wah..biasanya cewek yang dikasi ini kebalikannya..” ucapku sambil senyum.
“Bukan, itu dari cowok memang untuk kakak..” ucapnya.
“Apa?” ucapku kaget.

“Iya itu dari bang Tian..” ucap Yoga deg..dadaku berdetak keras dari Bastian?
“Kami tadi lewat toko bunga yang penuh dengan bunga mawar segar, kata yang punya toko bunganya baru di kirim dari kebunnya. Terus bang Tian teringat kakak jadi dia belikan dan aku disuruh letakin di meja kakak. Bang Tian romantis ya..” ucap Yoga sambil senyum. Tanganku terasa gemetar..jadi bunga ini dari Bas..ku tatap bunga di tanganku.

“Loh kok jadi melamun kak..” ucap Yoga.
“Jangan-jangan cewek yang disukai bang Tian itu sebenarnya kakak.” ucap Yoga jenaka. Aku menatap Yoga.
“Nggak mungkinlah Bas dari dulu cuek sama kakak, dia justru akrab banget dengan Puri teman sekelasnya.” ucapku.
“Ah..itu nggak mengartikan apa-apa.” ucap Yoga sambil tersenyum kecil.

“Wah seandainya benar aku setuju banget… Ini keren..” ucap Yoga sambil pergi meninggalkanku yang terpaku menatap bunga di tanganku.. ini seperti mimpi… Ini beneran dari Bas atau bisa bisanya Yoga aja aku tersadar saat mama menegurku.

“Ngapain kamu berdiri terpaku di sini Star..” ucap mama sambil menyentuh bahuku.
“Eh ma.., nggak..” ucapku mama senyum lalu aku berjalan ke kamarku meninggalkan mama. Aku nggak mau mama tau kondisi hatiku yang amburadul ini… Aku meletakkan vas berisi bunga mawar itu di mejaku aku menatap bunga itu lalu tersenyum… Bas ingat aku dan membeli bunga untukku.. yuhuu… apakah itu artinya aku masih punya kesempatan..

Hari ini ke kampus dengan perasaan yang lebih indah dari hari-hari sebelumnya. Rasanya begitu lega dan penuh semangat.. bunga dari Bas membuatku punya semangat baru thanks Bas..

“Star..” Jean menemuiku di kantin, aku menatap jean. Jean duduk di depanku.
“Kenapa lo.. wajahmu sedikit mendung..” ucapku.
“Iya, proposalku ditolak nih..” ucapnya sambil mendesah pelan.

“O ya, jadi harus cari yang baru?” tanyaku.
“Begitulah.. ku harus mulai yang baru.” ucap Jean.

“Hei ladys..” bang Lio muncul dan langsung duduk di sisiku. Aku senyum.
“Sepertinya pada santai ni nggak ada jam kuliah ni hari ini?” tanya bang Lio
“Iya tadi cuma satu mata kuliah..” ucapku.

“Hei Je.. kok manyun..” ucap bang Lio.
“Lagi galau tu bang..” ucapku.
“Galau kenapa? Diputusi pacarmu?” ucap bang Lio, Jean cemberut. Aku senyum.
“Proposalnya ditolak bang, bukan diputusi pacar. Pacar aja nggak punya gimana diputusi..” ucapku bercanda.

“O.. trus gimana?” tanya bang Lio pada jean.
“Yah mau gimana lagi, ku harus mulai dari awal lagi.” ucap Jean.
“Itu sih aku tau, tapi maksudnya gimana masalah nggak punya pacarnya..” ucap bang lio. Aku tertawa. Jean menatap bang Lio sebel.., bang Lio masih dengan wajah seriusnya. Jean berdiri dari duduknya dan langsung berjalan pergi. Aku ikutan berdiri. Bang Lio juga.

“Je..” panggilku. Lalu membayar makananku dan mengejar Jean yang ngambek hehe.. Bang Lio sudah menjejeri langkah Jean. Bang Lio sih bercanda melulu.. sudah tau Jean lagi sensitif sekarang.
“Je..” ucapku sambil berjalan di sisinya.

“Jangan langsung marah donk Je, kan cuma bercanda..” ucap bang Lio. Jean diam saja.
“Makanya abang serius sedikit kenapa..” ucapku.
“Iya maaf..” ucap bang Lio.

“Sebagai tanda kalau aku menyesal banget aku akan bantuin kamu untuk buat proposal baru..” ucap bang Lio.
“Nggak usah..” ucap Jean ketus.
“Pokoknya aku mau bantu..” ucap bang Lio. Jean berhenti berjalan.
“Aku bilang nggak usah..” ucap Je sambil menghadap bang Lio.

“Apa susahnya menerima bantuan orang sih..” ucap bang Lio..mereka mulai bertengkar. Duh.. dua orang ini.., mereka saling menatap tajam.
“Hei.. sudah jangan bertengkar..” ucapku menengahi, Jean menatapku lalu berjalan pergi.
“Je..” panggilku.
“Aku mau pulang” ucap Je.

“Sudah nggak usah diikuti, kalau lagi ngambek gitu tuh..” ucap bang Lio.
“Kita duduk di bangku taman itu dulu yuk..” ajak bang Lio sambil menarik tanganku. Lalu kami duduk di bangku taman. Bang Lio mendesah..

“Sulit sekali si jean ni, kalau sudah mulai bicara dengannya pasti ujung-ujungnya bertengkar, kali dia dendam banget ya sama aku..” ucap bang Lio.
“Emangnya abang ada buat kesalahan apa sama dia..” ucapku.
“Sepertinya nggak ada..” jawab bang Lio.

“Lalu kenapa Jean harus dendam dengan abang..” ucapku.
“Nggak tau..” ucap bang Lio, aku senyum.
“Nggak usah berpikir negatif dulu bang, mungkin dia lagi sensitif aja.” ucapku.
“Bukan hanya kali ini aja Star..kamu kan sering liat kalau kami sering sekali bertengkar.” ucap bang Lio. Iya juga sih.. tapi kenapa ya…aneh

Aku terbangun dari tidur sore ku…, aku melangkah keluar kamar. Aku berjalan menuju dapur tenggorokanku terasa kering, kubuka lemari es dan meraih botol minuman lalu menuangkan ke gelas dan akhirnya air segar ini mengalir di tenggorokanku… Ah.. segar banget…
“Segar ya…” sebuah suara mengagetkanku… Aku noleh… Bas… Bas berdiri di pintu dapur. Dia terseyum jantungku berdetak lebih cepat.
“Baru bangun?” tanya Bas… Aku mengangguk tanpa suara.. Kenapa setiap berada di hadapannya aku selalu gugup seperti ini…?
“Kata Yoga kamu tadi pulang langsung tidur, capek banget ya..?” tanyanya.

“Mmm iya, tadi bantuin teman mencari data untuk skripsinya.” Jawabku.
“Teman? Kata Yoga itu pacar kamu…” ucap Bas… what?
“Nggak kok Bas.. bang Lio itu seniorku di kampus kami memang akrab..” ucapku, ih.. Yoga ntar Bas salah paham lagi duh… Ih aku kok jadi sewot belum tentu juga Bas peduli.

“Jadi siapa pacar kamu sekarang?” tanyanya membuyarkan semua prasangka yang ada dipikiranku.
“Apa?” ucapku gugup.
“Siapa pacar kamu sekarang?” tanyanya sekali lagi.
“Mmm.. belum ada…” ucapku pelan…

“Gimana kabar seseorang yang kamu kasih kado saat perpisahan SMU dulu..?” tanyanya, dia masih ingat?
“Aku nggak jadi kasi kado itu..” ucapku.
“kenapa?” tanyanya.
“Aku pengecut, aku takut dia menolak pemberianku dan akan semakin menyakitkan bagiku..” ucapku

“Lalu kamu biarkan saat terakhir SMU itu berlalu tanpa menunjukkan kalau kamu perhatian padanya?” ucap Bas.., aku menunduk… Dan baru sadar kalau aku terlihat begitu kusut dengan baju kaos kusut karena baru bangun dan celana pendek… ya ampun aku berpenampilan begini di depan Bas…

“Star…” suara Bas mengagetkanku.
“Ya…” ucapku sambil menaikkan wajahku.
“Kamu nggak dengar apa yang aku katakan…?” tanya Bas…
“Apa?” tanyaku balik. Bas senyum…

“Jadi kamu kemanakan kado itu?” tanyanya.
“Ku buang di tong sampah sekolah…” jawabku.
“Semudah itu kamu buang perasaanmu?” tanyanya, kenapa Bas jadi sok tahu gitu dan kenapa juga aku harus bicarain ini dengan dia…
“Kupikir kamu terlalu cepat mengambil kesimpulan dan ku rasa itu bukan urusanmu…” ucapku sedikit kesal, dia bilang aku semudah itu membuang perasaanku? Tidak tahukah dia kalau sampai hari ini aku masih memiliki perasaan itu dan berapa banyak cinta yang kulewatkan untuk perasaan yang tak tahu sampai kapan berakhir ini… Dan berapa banyak air mata.. penantian… dan pengharapan untuk perasaan itu…

Aku melangkah hendak pergi meninggalkannya…dengan perasaan kesal. Aku melewatinya tapi aku terhenti karena tangan Bas menahanku, Bas memegang pergelangan tanganku. Aku menatapnya…
“Maaf kalau kamu tersinggung.” ucapnya, aku hanya diam Bas mendekatkan dirinya padaku.
“Ternyata kamu masih Starla yang dulu..tidak banyak berubah hanya telihat lebih dewasa…” ucapnya, aroma parfumnya menyentuh hidungku lembut… Bas berdiri begitu dekat denganku. Bas..yang dari dulu ku cari keberadaannya… Bas yang selalu ku rindu… Bas yang selalu mengisi pikiranku…Bas yang selalu buatku penasaran… Bas… Bas… Bas… Sejenak terasa sepertinya hanya ada aku dan Bas. Ku dalam suasana hening yang menyejukkan… apakah ini nyata Tuhan? Aku bisa merasakan kehadirannya… merasakan genggaman tangannya di pergelangangan tanganku… mendengarkan suaranya… mencium aroma tubuhnya…

“Bang…” suara Yoga membuyarkan keheningan ini… Bas langsung melepaskan genggaman tangannya. Dan kami langsung menghadap ke arah suara Yoga. Yoga muncul…
“Eh lagi ngapain kakak en abang di sini?” tanyanya heran, Kami hanya diam…
Yoga berdiri di depan kami, lalu melipat tangannya dan menatap kami menyelidik… Ih dasar ni anak…
“Pantesan lama, dari tadi aku tungguin di halaman belakang eh nggak tahunya disini bareng kak Starla…” ucap yoga sambil menatap kami dengan tatapan menyelidik…

Bas tertawa…, suara tawanya begitu menyenangkan. Aku menatapnya…
“Sorry Yog, tadi ngobrol bareng Starla… biasa jumpa teman SMU, jadi kalau obrolin tentang masa SMU jadi suka lupa sama yang lain.” ucap Bas sambil mendekati Yoga. Lalu bas merangkul bahu Yoga dan mengajak Yoga keluar ke halaman belakang. Aku menatapnya seperti biasanya pergi begitu saja tanpa kata… huhhh… Bas… nyebelin banget… Aku lalu kembali ke kamarku.

Di kampus, duduk di sisi Jean di atas rerumputan disekitar kampus yang terhampar luas. Sambil menatap langit biru yang bersih hari ini.. Masih dalam posisi yang sama seperti biasanya… inilah yang selalu kulakukan bareng Jean… Dan masih juga dengan kebiasaan yang sama Jean di sebelahku sibuk dengan angka-angkanya. Bedanya saat memandang langit aku tak bertanya lagi tentang ke beradaannya…karena Bas ada di sini…

Hari ini Bas akan pergi, liburan telah selesai katanya. Padahal liburan masih panjang, katanya dia sedang mempersiapkan tugas akhirnya. Ada rasa sedih di hatiku.. Bas.. kamu akhirnya pergi juga… Aku memandang langit biru duduk di rerumputan kampus seperti biasanya ku lakukan bareng Jean. Tapi kali ini tanpa Jean karena Jean lagi sibuk dengan proposalnya. Ada rasa sepi di hatiku Bas sudah pergi… Aku kembali seperti keadaanku saat tamat SMU. Sepi… Kamu hadir tiba-tiba Bas membuat hatiku kembali porak-poranda dan sekarang kamu pergi begitu saja. Aku menantikanmu bertahun-tahun dan berharap aku masih ada kesempatan bersamamu. Tapi nampaknya semua hanya impian semu bagiku karena kepergianmu kali ini pun tak ada kepastian tentang hati ini.

Aku masuk ke kamar Jean, aku sedang main ke rumah Jean tapi kata mamanya Jean lagi pergi. Jadi aku telpon Jean dan ternyata Jean lagi dalam perjalanan pulang. Aku duduk di depan meja belajar Jean yang di penuhi buku-buku yang berserakan. Hmmm… nggak biasanya ini anak berantakan begini mungkin tadi pergi buru-buru atau sengaja supaya dia mudah menemukan buku yang bakalan dia pakai sebagai literatur proposalnya. Tapi bukannya malah ribet liat buku berserakan begini? Aku menatap buku-buku Jean tapi ada satu buku yang menarik mataku yang ujungnya tersembul di balik buku-buku lain. Warnanya merah jambu dan sampulnya tebal seperti sampul album foto, perlahan aku meraihnya menjatuhkan buku-buku yang ada di atasnya. Eh… ini kan diary… Jean menulis diary aku nggak pernah tahu. Aku merasa nggak enak sama Jean masak aku mau mengintip diarynya. Ah… jangan deh… suara handponeku berbunyi membuatku kaget dan diary Jean terjatuh. Aduh… aku lalu menjawab handpone-ku ternyata dari Jean.

“Star sabar ya ku sudah dekat…” ucapnya.
“Iya Je…” jawabku lalu handpone di matikan. Ku mencari diary Jean yang terjatuh tadi, kelihatan banget mau berbuat tidak baik aku ni… Langsung kaget mendengar suara handpone hahahaha… Diary Jean ternyata jatuh dekat kaki kursi dan terbuka, sebuah foto ada di sana. foto dua orang anak kecil yang saling bergenggaman tangan sedang tertawa ceria. Aku meraih diary Jean lalu melihat foto itu, ini kan Jean trus anak cowok ini siapa? Aku membalik foto itu disana tertulis. “Aku dan Jean selamanya bersama” dan di bawah tulisan itu ada nama Marcelio. Itu bukannya nama bang Lio… O…itu foto Jean bareng bang Lio… Tapi kenapa disimpan di diary… jangan-jangan… Ah… aku meletakkan foto itu di dalam diary itu lagi dan meletakkan diary itu di tempatnya semula di bawah buku-buku Jean yang berserak. Lalu aku berdiri dan duduk di tempat tidur Jean. Mungkinkah Jean suka bang Lio… Dia memang selalu bertengkar dengan bang Lio tapi hanya dengan bang Lio Jean suka merajuk. Aku penasaran, kalau itu benar… berarti selama ini aku sering menyakiti hatinya karena terlalu dekat dengan bang Lio. Jadi aku harus gimana? Bang Lio yang selalu menghiburku aku senang dekat dengannya. Tapi nggak adil rasanya menghalangi bang Lio untuk bisa dekat dengan cewek yang mencintainya. Hanya untuk mengatasi rasa sedihku karena Bas…

“Starla…” Jean muncul dari balik pintu kamarnya. Aku tersenyum melihatnya.
“Maaf ya…kamu nunggu lama…” ucap Jean.
“Nggak apa-apa, lagian aku yang salah karena nggak ngomong kalau mau datang.” ucapku, Jean senyum. Aku harus mengorek informasi dari Jean supaya semua jelas. Tapi gimana caranya..

“Heh…tumben nih dah muncul aja.” ucap Jean.
“Tumben apa? kan aku sering ke rumahmu.” ucapku.
“Yah beberapa minggu ini kamu kan di rumah terus kayak orang patah hati, diajak jalan nggak mau… Dikunjungi bawaannya suka melamun.” ucap Jean, memang beberapa minggu ini hatiku lagi nggak enak karena baru ditinggal Bas…
“Sama seperti saat kita baru tamat SMU.” ucap Jean lalu tiduran di tempat tidurnya. Aku senyum.

“Jangan-jangan…” ucap Jean.
“Jangan-jangan apa?” ucapku sambil memukul bahu Jean pelan dengan bantalnya.
“Kamu beneran patah hati seperti saat SMU.” ucap Jean, aku manyun. Iya emang kamu benar Je…
“Aku selalu penasaran cowok mana sih bisa buat kamu seperti itu, kalau ku lihat-lihat teman SMU kita aku nggak pernah bisa tebak siapa yang buatmu patah hati. Bukannya beberapa cowok populer di sekolah kita kamu tolak cintanya.” ucap Jean.

“Ah… lebay lo…” ucapku.
“Eh… aku nggak pernah lebay ya…aku selalu bicara fakta.” Protes Jean, aku senyum Jean memang nggak pernah lebay.
“Gimana proposalmu?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Selalu begitu mengalihkan pembicaraan setiap bicara mengenai cowok itu.” ucap Jean, aku senyum.

“Proposalku sudah diterima jadi sebentar lagi temanmu ini pun akan menyusulmu penelitian, tapi kami buat program Star bukan penelitian.” ucap Jean.
“Jadi gimana Star, apa cowok itu dari club basket kita.” ucap Jean.
“Siapa?” tanyaku.
“Ya cowok yang sudah buatmu patah hati itu…” ucap Jean, tumben Jean kepo gini biasanya dia nggak mau terlalu mengorek masalahku kalau aku nggak mau cerita. Tapi tujuanku kemari tadinya kan salah satunya mau cerita ke Jean. Pengen jujur tentang perasaanku selama ini aku nggak pernah cerita ke siapa pun tentang Bas. Jean tidak terlalu sinis seperti Sania mungkin dia akan menerima kalau aku bilang aku suka Bas. Padahal tadi aku yang mau mengorek informasi dari Jean kok jadi dia yang ngorek informasi dariku. Aku sulit untuk memulai cerita ini.

“Oke Je… aku mau jujur. Tapi janji jangan cerita ke siapa pun termasuk Sania dan Kania.” ucapku.
“Iya…” ucap Jean lalu bangkit dan duduk, kami duduk di tempat tidur Jean saling berhadapan.
“Kamu kenal kok dia. Jujur aku nggak mau cerita tentang dia karena aku khawatir kalian nggak bisa menerima dia.” ucapku sambil menatap Jean lalu…

“Aku sebenarnya tidak pernah memperhatikannya sampai saat dia menolongku, saat itu aku hampir tersrempet mobil. Dan saat itu dia yang terluka karena kami terjatuh bersama dan dia melindungiku. Sejak itu aku memperhatikannya, dan walau dia menolongku dia nggak pernah merasa kalau aku berhutang budi padanya. Aku jadi sering mencoba mendekatinya tapi dia seperti gunung es. Cuek dan tidak terlalu suka bila ku dekati membuatku jadi penasaran. Tapi ketika ku semakin mengetahui dirinya aku jadi menyukainya, dia baik tidak banyak bicara. Dia selalu tahu apa yang akan dia lakukan apa yang dia tuju. Aku banyak belajar dari dia, belajar rendah hati. Belajar menikmati hidup dengan apa yang kita miliki. Aku terjebak dalam perasaan yang tak bisa kuhentikan sampai saat ini.” ucapku. Lalu berhenti bicara.

“Apakah dia Bas?” tanya Jean, aku menatap Jean. Jean bisa menebak siapa orangnya.
“Kok kamu bisa menebak?” tanyaku heran.
“Iya soalnya beberapa kali kulihat waktu itu, kamu ngobrol dengan Bas. Waktu itu aku heran ngapain kamu ngobrol sama Bas.” ucap Jean.
“Iya dia Bas, pria yang sampai saat ini menghantuiku.” ucapku.

“Sampai sekarang?” tanya Jean, aku mengangguk.
“Aku nggak bisa memalingkan hatiku darinya. Aku aneh kan Je…” ucapku.
“Bukan kamu yang aneh, tapi begitulah cinta terkadang aneh…” ucap Jean.
“Seperti sudah pengalaman aja Je…” godaku Jean cuma tersenyum.

“Jadi… kado itu buat dia?” tanya Je, aku mengangguk.
“Lalu kenapa nggak kamu kasi waktu itu malah kamu buang.” ucap Jean.
“Saat itu aku ingin memberikan kado itu padanya. Tapi saat aku hendak memberikan kado itu, aku mendengar pembicaraan Bas dengan Puri. Puri menyatakan suka pada Bas. Aku langsung mundur Je. Puri cewek yang selalu bersamanya, dan dia selalu lebih suka mengajak Puri ngobrol dibandingkan meladeni obrolanku. Itu artinya Bas pasti nerima Puri, lalu untuk apa aku kasi kado itu…” ucapku.

“Belum tentu dia nerima Puri, Star…” ucap Jean, aku mendesah lalu merebahkan tubuhku di atas tempat tidur Jean.
“Tapi masa itu sudah berlalu, tapi aku masih mencintainya.” ucapku.
“Tapi Je…” ucapku lagi.
“Beberapa bulan lalu Bas tiba-tiba muncul di rumahku dan ternyata dia pelatih basket Yoga saat SMU.” ucapku.

“Apa? Ya ampun kebetulan yang tak terduga.” ucap Jean.
“Itu bukan kebetulan tapi mungkin sebuah jalan untukku akhirnya tahu keberadaannya. Selama ini hatiku selalu bertanya dimana dia, bagaimana keadaannya… Dan Tuhan menjawab segala pertanyaanku je. Ini pasti rencana Tuhan mempertemukan kami kembali. Tapi kisahnya masih sama seperti dulu, Bas pergi lagi karena dia kuliah disana. Dan masih tidak ada kepastian untuk hatiku.” ucapku.
“Jadi apa rencanamu Star…” ucap Jean.
“Ngak ada, aku bingung harus gimana. Sampai detik ini perasaanku masih sama padanya tidak berubah. Aku mencoba melupakannya dengan berpaling ke pria lain namun aku gagal. Setiap didekat Bas rasanya jantungku berdetak keras, aku selalu terpaku diam saat di dekatnya. Banyak kesempatan untuk dekat dengannya tapi aku malah sering menghindarinya karena aku nggak bisa di depannya. Dulu aku yang selalu berusaha didekatnya…bicara dengannya…tapi sekarang aku yang malah menghindarinya. Aku pusing…” ucapku.

“Apakah ada niat menyatakan perasaanmu padanya?” tanya Jean.
“Aku nggak bisa, setiap melihatnya konsentrasiku hilang. Ketenanganku hilang dan terkadang aku ingin lari aja dari hadapannya… Mungkin karena aku masih kaget dengan kehadirannya kembali. Tetapi sekarang dia sudah pergi lagi.” ucapku pelan.
“Je… apa yang harus kulakukan sekarang aku bingung…” ucapku lagi…
“Star kamu harus kendalikan hatimu, jangan sampai ini menggangu kuliahmu. Ku lihat kamu sekarang lebih sering melamun dari pada ngurusin proposalmu. Ingat minggu depan kamu seminar.” ucap Jean. Iya Jean benar, karena Bas konsentrasiku buyar…

“Fokuslah dulu ke hal yang lebih utama, jika nanti Tuhan pertemukan kalian lagi kamu harus ambil kesempatan itu untuk lebih dekat dengannya. Dia pasti akan kembali kemari bukankah orang tuanya disini.” ucap Jean mengembalikan pikiranku ke jalan yang benar.
“Biarkan cinta mengalir apa adanya, jika dia jodoh yang Tuhan siapkan bagimu pasti Tuhan akan pertemukan kalian kembali.” ucap jean bijak… hmmm… iya, tapi bolehkah Bas memang benar jodoh yang Engkau persiapkan bagiku Tuhan… bolehkah Tuhan… aku nggak bisa melupakannya Tuhan…

Cerpen Karangan: Imelda Oktavera

Cerpen Bas (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Cinta Pertamaku

Oleh:
Perkenalkan terlebih dahulu nama saya Dwi Rahmawati, biasa dipanggil Dwi. Juli 2016, ya saat itu aku baru memasuki sekolah menengah kejuruan. Cukup senang menjadi siswi SMK. Sekolah yang sebagian

Cinta Pertama Yang Menyakitkan

Oleh:
Namaku Ulfa, aku lahir di Jakarta, 19 Oktober 1997 aku adalah anak tunggal dari keluarga yang memiliki usaha dibidang properti yang cukup besar di Indonesia. Kedua orangtuaku sudah berpisah

Berubah

Oleh:
Hai, Namaku adalah Dealova Oktavia tapi Nama panggilanku adalah Via, Aku adalah seorang Cewek yang berpenampilan cupu dan juga aku adalah seorang Pendiam. Setiap hari, aku ini rambutnya dikelabang

Rain dan Hujan

Oleh:
Datang tak diindahkan. Tak datang diharapkan. Yups, itu adalah hujan. Perkenalkan namaku Rain. Dalam bahasa Inggris Rain artinya Hujan. Selain karena aku lahir pada musim hujan, Ibu memberikan nama

Penantian Cinta Kirana

Oleh:
Aku Kirana, usiaku 17 tahun, sekarang aku duduk di bangku kelas 3 SMA. Hari ini, hari pertama aku masuk sekolah. Ya, aku adalah murid pindahan sebelumnya aku tinggal di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *