Bas (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama
Lolos moderasi pada: 30 January 2018

Aku dan Jean sudah sibuk dengan penelitian kami masing-masing, Kania dan Sania juga sedang ngerjain proposal mereka, waktu bermain sudah berkurang sekarang. Bang Lio kelihatan juga sibuk tapi sesekali dia masih mau ajak aku jalan atau bantuin dia. Waktu berlalu begitu cepat aku dan Jean selesai penelitian dan sedang revisi skripsi.

Aku duduk di kantin sendiri tanpa sahabat-sahabatku yang nggak tau dimana saat ini. Mungkin lagi konsultasi dengan dosen atau lagi berkutat dengan skripsi. Sedang aku baru tadi memberikan skripsiku yang baru ku perbaiki. Saatnya sedikit santai di kantin hehehe…

“Hei…” aku menaikkan wajahku bang Lio sudah ada dihadapanku, dia senyum lalu duduk di depanku.
“Santai ni…” ucapnya aku senyum.
“Iya dunk…setelah dari kemarin sibuk dengan skripsi.” Ucapku sombong hahaha…
“Iya deh…” ucap bang Lio aku senyum.

“Kalau saya ya… udah santai untuk beberapa bulan ni ya. Yah… nunggu acara pengusiran kampus aja..” ucapnya santai aku tertawa, maksudnya tinggal nunggu wisuda, bang Lio tersenyum kecil.
“Wah kalau abang sudah nggak di kampus sepi deh…” ucapku.
“Tenang selesai wisuda masih rajin kok ntar abang datang…” ucapnya.

“Ngapain…” ucapku
“Dari pada nganggur di rumah.” ucapnya lalu…
“Huh… tadi dibilang kampus bakalan sepi tanpa abang, sekarang ditanya ngapain ke kampus…” gerutu bang Lio aku tersenyum.
“Hehehehe… nggak boleh merajuk dong…” ucapku jenaka bang Lio senyum.

“Mana Jean…” tanya bang Lio.
“Belum ada kelihatan…” jawabku.
“O…” ucap bang Lio.
“Nggak ada dicari, kalau lagi ada kerjaannya berantem…” ucapku, bang Lio menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

“Yah gimana ya Star, tahu deh Jean hal kecil aja bisa buat kami berantem mungkin dia benci banget sama aku ya.” ucap bang Lio aku senyum dan teringat foto bang Lio dan Jean di dalam diary Jean.
“Jangan langsung ambil kesimpulan gitu bang, bisa aja kebalikannya. Yah… cewek emang gitu kadang sulit dimengerti maksudnya…” ucapku, berharap kalau memang benar Jean suka bang Lio akhirnya mereka bisa sadari perasaan mereka. Bang Lio itu kayaknya juga sayang sama Jean walau aku nggak tahu dia sayang sebagai adik atau sebagai wanita…
“Iya emang cewek itu susah dimengerti…” ucap bang Lio, aku senyum. Mungkin juga Bas seperti itu padaku, dulu aku suka mendekatinya sekarang aku justru sering ngehindarinya… Karena perasanku yang tak menentu ketika bertemu dia kembali…

“O ya kamu lagi santai kan…” ucap bang Lio aku mengangguk.
“Kalau gitu ayo jalan.” ucap bang Lio.
“Ke mana?” tanyaku.
“Ayo deh…” ucap bang Lio aku sedikit enggan, sejak aku melihat foto bang Lio dan Jean di diary Jean waktu itu. Aku sering menolak ajakan bang Lio. Aku khawatir kalau dugaanku benar Jean suka bang Lio dan aku nggak ingin Jean terluka karena aku.

“Ayolah… akhir-akhir ni sulit amat diajak…” ucap bang Lio sambil menarik tanganku berdiri. Mau tak mau aku mengikuti bang Lio yang masih saja menggengam tanganku. Aku coba lepasin lenganku tapi bang Lio malah merangkul bahuku.
“Kenapa, apa sekarang kamu sudah ada gebetan di kampus ni jadi takut dia ngelihat.” ucap bang Lio.
“Bukan gitu bang, justru aku ngehindari kalau kalau ada cewek yang naksir abang liat abang merangkulku dia langsung nangis…” ucapku sambil melepaskan rangkulan bang Lio. Bang Lio tertawa.
“Ngeles aja kamu…” ucap bang Lio sambil menarikku ke parkiran dan membawaku keluar dari kampus dengan motornya. Ternyata bang Lio mengajak aku ke tempat galery bang Arya.

“Ada pameran lagi bang…” tanyaku, sambil turun dari boncengan bang Lio kemudian menatap kagum dengan foto-foto yang di pajang di sekitar jalan menuju galery dan juga halaman galery.
“Iya, konsep kali ini sedikit berbeda, foto-foto bukan hanya di pajang di ruangan tapi juga di luar ruangan.” Jawab bang Lio
“Wah… siang begini sudah banyak yang lihatin pamerannya…” ucapku sambil berjalan mengamati foto-foto itu. Wah bagus banget foto-fotonya.
“Nggak rugi kan jalan sama abang, abang tau kamu pasti suka.” ucap bang Lio, aku mengangguk senang. Bagus banget penataannya, aku melihat foto-foto di sisi jalan masuk.

“Ni bagus…” ucapku, sambil menunjuk foto hamparan rumput hijau dengan anak-anak yang bermain di rerumputan itu. Lalu aku melihat lukisan yang tidak jauh dari jalan masuk, di halaman galery. foto langit biru yang indah… dan mataku tertuju pada tulisan di sudut kanan atas foto. Starla… kenapa nama yang sama lagi. Siapa sebenarnya pemilik foto ini. Aku suka langitnya… Aku berjalan lagi untuk melihat foto yang di pajang tak jauh dari foto yang baru ku lihat. foto laut yang tenang dan biru… tapi dasarnya terlihat dan ada bintang laut di sana. Ku lihat tulisan di sudut foto…starla… Aku melihat ke sekelilingku, aku harus lihat semua foto ini supaya aku tahu apa maksud semua tulisan starla…kenapa aku merasa ini ada hubungannya denganku. Aku berjalan kembali melihat foto-foto dan beberapa foto masih menggunakan nama Starla juga. Ada foto bintang-bintang yang terbuat dari kertas berwarna warni di gantung dengan tali, ada foto batu berbentuk mirip bintang di atas rerumputan, ada foto sebuah bintang yang terletak di atas sebuah meja kayu di halaman rumah, ada banyak foto yang di dalamnya ada sebuah bintang. Aku berdiri di sebuah foto seorang pria yang hanya terlihat bagian belakang tubuhnya dengan tangan yang seperti menyentuh sebuah bintang di langit malam… Kenapa aku seperti mengenal sosok pria ini.

“Ada apa Star kok kayaknya wajah kamu terlihat binggung…” bang Lio sudah ada di dekatku. Aku menoleh pada bang Lio.
“foto-foto ini hasil karya siapa?” tanyaku, bang Lio melihat tulisan di sudut atas foto.
“Hmmm… Starla, nama kamu ni…” ucap bang Lio.
“Siapa ya… mmm… ayo kita tanya Arya.” ucap bang lio sambil menarik tanganku, kami masuk ke dalam galery.

“Tunggu ya, aku cari arya dulu.” ucap bang Lio aku mengangguk lalu melihat foto-foto yang di pajang di dinding galery. Aku berdiri di depan sebuah foto, foto ini yang dulu sudah di pajang di galery ini. Seorang pria duduk di tepi pantai sambil menghadap ke laut dan sedang menatap langit. Ini juga hasil karya yang bernama starla…

“Hei…Star…” bang Lio mengagetkanku, aku menoleh disisi bang Lio berdiri bang Arya. Aku senyum.
“Apa kabar?” ucap bang Arya sambil mengulurkan tangannya dan aku menerima uluran tangannya.
“Baik bang, selamat ya untuk pamerannya.” ucapku bang Arya senyum.
“Thanks…” ucapnya.

“Apa nih mau ditanya.” ucap bang Arya, aku melirik bang Lio.
“Tanya aja Star, tadi abang sudah omongin ke Arya kalau kamu mau nanyak sesuatu sama Arya.” ucap bang Lio.
“Mmmm… ini aku cuma pengen tau foto yang bernama Starla ini hasil karya siapa?” tanyaku sedikit malu.
“O.. iya ni hasil karya temanku, namanya…” belum sempat bang Arya sebutin nama temannya itu, seseorang menyapa bang Arya.

“Yak…” sapanya… aku terpaku di tempatku, jantungku berdetak keras dan lebih cepat.
“Eh… Bas, sudah datang…” ucap bang Arya… Bas… ini suara Bas… Ini beneran Bas kan… kenapa dia selalu membuatku kaget di setiap kemunculannya…
“Iya yak…” ucapnya.
“Nah kebetulan banget Bas, ada yang nanyak tentang hasil karyamu…” ucap bang Arya, nafasku terasa sesak. Oh… Tuhan kenapa aku jadi gini, aku menarik nafas panjang lalu melepaskannya perlahan mencoba mengatur nafasku dan detak jantungku kembali normal.

“O ya…” ucapnya lalu bang Arya menunjukku. Bas melihat ke arahku, sesaat ada riak di matanya tapi kemudian mata itu kembali tenang.
“Starla…” ucapnya aku mencoba tersenyum dengan normal.
“Loh… dah saling kenal…” ucap bang Arya.
“Iya, Starla ini teman SMU-ku…” jawab Bas yang langsung disambut dengan kata “O” dari bang Arya dengan raut wajah yang sedikit aneh. Kenapa… apa Bas pernah cerita tentang aku ke bang Arya. Cerita tentang apa… kenapa raut wajah bang Arya seperti menyembunyikan sesuatu.

“Foto kamu bagus…” ucap bang Lio yang sejenak aku lupa kalau dia ada di sisiku.
“Terima kasih…” ucap Bas ramah.
“Kenalin ini Lio sahabat aku Bas…” ucap bang arya lalu bang Lio dan Bas berjabat tangan.
“Arya banyak cerita tentang abang…” ucap Bas.

“Wah cerita apa aja tu…” ucap bang Lio, sambil melirik bang Arya. Bang Arya tersenyum.
“Jangan-jangan hal-hal memalukan yang sering kami lakukan bersama dulu…” ucap bang Lio.
“Yang pasti aku suka dengan cerita Abang dan Arya…” ucap Bas lalu mereka tertawa. Kenapa foto-foto Bas diberi nama Starla… apakah ada hubungannya denganku… kenapa… Lalu kami diajak bang Arya ke ruangannya yang nyaman dan melanjutkan obrolan disana. Tak ada lagi yang menyinggung foto-foto bernama Starla itu, seakan tak ada yang penasaran kenapa foto-foto itu bernama Starla. Apalagi setelah tau kalau ternyata foto-foto itu hasil karya Bas dan Bas itu teman SMU-ku. Apakah mereka semua akhirnya tahu? Apakah memang hanya aku yang tidak tahu kenapa foto-foto itu bernama Starla…

Aku menatap Bas, kenapa dia biasa aja. Aku pikir dia pasti tau pikiranku… dia tahu aku pasti bertanya soal foto-foto itu… Aku nggak bisa menemukan jawaban dari pertanyaanku… Tapi aku juga tidak berani bertanya saat ini.. Entahlah hatiku berkata untuk hanya diam saat ini.

Aku sedang tiduran di tempat tidur sambil menatap langit-langit kamarku. Hari ini aku menghadapi sesuatu yang sangat menggangguku, foto bernama Starla. Bas… Aku mendesah perlahan… Apakah foto-foto itu menunjukkan bahwa bas selalu mengingatku huh… aku terlalu cepat ambil kesimpulan. Gimana kalau aku salah, perasaan ini akan semakin sakit. Bas… kamu selalu muncul di saat-saat tak terduga, selalu meninggalkan tanya setiap kita bertemu… Eh… gimana kalau Bas salah paham, gimana kalau dia pikir aku pacar bang Lio. Gimana kalau Bas akhirnya pergi lagi dan kali ini nggak kembali… Aduhhh… kepalaku rasanya penuh…, penuh dengan berbagai pertanyaan yang membuatku binggung. Ahhhh.. aku mengacak rambutku kesal… Alhasil malam itu aku tak bisa tidur, menjelang pagi aku baru tertidur. Aku terbangun dari tidurku… rasanya mataku masih berat. Aku berjalan ke arah cermin, kulihat wajahku yang sembab. Aku mengusap wajahku dengan kedua tanganku, sebaiknya aku mandi dulu. Selesai mandi rasanya segar meski mataku masih sedikit sembab. Perutku terasa lapar, suasana rumah sepi semua pada pergi ya. Aku berjalan ke dapur bertemu bik Num pembantu kami.

“Sudah bangun Star…” ucap bik Num.
“Iya bik… semua sudah pada pergi ya…” tanyaku.
“Iya, dari tadi kamu di bangunin nggak bisa. Bergadang ya semalam…” ucap bik Num.
“Iya…” ucapku sambil melihat lemari makan.

“Wah… enak ni… Aku makan deh sudah lapar banget nih.” ucapku. Kulihat bik Num sedang buat minum…

“Ada tamu bik…” tanyaku.
“Iya temannya Yoga, mereka ada di halaman belakang.” ucap bik Num.
“O… si Yoga di rumah…” ucapku.
“Iya baru pulang…” jawab bik Num lalu pergi mengantar minuman.

Aku makan dengan lahap di meja dapur, yah jelas lahap dari tadi pagi perut nggak diisi karena tidur. Hmmm… lega banget perut sudah terisi aku lalu minum.

“Lapar banget ya…” sebuah suara mengagetkanku, kulirik arah pintu dapur asal suara itu Bas…
“Uhuk… uhuk…” aku tersedak karena kaget, Bas ada disini.
“Hei pelan-pelan…” ucapnya sambil mendekat aku bangkit berdiri dan pergi ke wastafel. Memalukan sekali seperti ini di depan Bas… Aku memegang dadaku pelan, ini anak kenapa selalu membuatku panik gini sih… Setelah bisa menguasai diriku, aku berbalik dan kembali ke meja.

“Maaf membuatmu kaget…” ucap Bas sambil menatapku dia sudah duduk di depanku, aku kembali duduk.
“Nggak apa…” ucapku pelan menahan rasa malu.
“Kamu sudah lama di sana tadi…” ucapku sambil melirik Bas.
“Nggak sih, tapi ngelihat kamu ada di dapur aku spontan aja ingin menyapamu tapi kamu malah kaget.” ucapnya aku tersenyum kecil.

“Aku pikir di rumah lagi nggak ada orang…” ucapku pelan.
“Kamu semalam nggak tidur…” tanyanya, aku menatap Bas, kok dia tau…
“Kata Yoga kamu belum bangun dan matamu sembab…habis nangis?” ucapnya.
“Nggak, aku nggak nangis. Memang semalam agak susah tidur…” ucapku sambil mengusap wajahku dengan kedua tanganku.

“Kenapa, ada masalah?” tanyanya.
“Ya, sedikit.” jawabku
“Sedikit? Masalah apa?” ucapnya, aku menatap Bas. Itu… masalah karena kamu…

“Apa…?” ucapnya, eh…aku kan bilangnya dalam hati…aku tadi nggak keceplosan kan…
“Adalah…” ucapku sambil menunduk. Bas mendesah pelan.

“Hari ini berarti nggak ke kampus?” tanyanya… aku menggeleng.
“Oke kamu kan sudah kenyang dan nasinya sudah turun selama kita ngobrol tadi. Sekarang gabung dengan Yoga di belakang yuk…” ajaknya, aku menatap Bas. Aku sudah berjanji untuk tidak akan menyia-nyiakan lagi saat kamu ada di depanku…
“Ya…” ucapku lalu kami ke halaman belakang rumah, Yoga asyik main basket sendiri. Bas bergabung dengan Yoga lalu mereka bermain bersama. Aku duduk direrumputan memperhatikan mereka yang asyik bermain. Aku teringat Bas saat main basket di belakang sekolah waktu itu. Ini Bas yang sama hanya Bas yang ini sudah lebih banyak tersenyum… Bas sudah berubah…Apa yang sudah merubahmu… Aku menatap Bas, ini seperti mimpi.. Bas yang selalu ku rindu ada di depanku.. Bolehkah seperti ini terus… Lalu mereka berhenti main. Lalu mendekatiku dan mereka duduk di kedua sisiku. Angin berhembus lembut. Siang ini cuaca tidak terik, membuat nyaman duduk di belakang rumahku.

“Bergadang ya semalam…” ucap Yoga padaku.
“Hemm…” ucapku.
“Ngerjain apa?” tanya Yoga yang duduk di sebelah kananku. Aku cuma senyum.

“Kakak sudah punya pacar ya…” ucap Yoga…
“Ih… nggak nyambung, apa hubungannya bergadang dengan punya pacar.” ucapku sambil menyikut lengan yoga. Yoga tertawa..
“Iyalah karena mikirin pacar kakak jadi nggak bisa tidur…” ucap Yoga.
“Jangan… jangan sudah jadian dengan bang Lio ya…” ucap Yoga lagi.

“Yoga, kamu asal aja…” ucapku, ntar Bas salah sangka jadinya.
“Oya… kamu pacaran dengan bang Lio, Star…” ucap Bas…tu kan…
“Nggak kok Bas, aku nggak pacaran dengan bang Lio…” ucapku sambil melihat ke arah Bas. Jangan sampai Bas salah paham. Bas menatapku…
“Ye… segitunya menjelaskan ke bang Bas…” goda Yoga… Duh… aku nafsu banget ya menjelaskannya… Ketahuan banget ya kalau aku takut Bas salah paham. Aku menggaruk belakang telingaku… Ah… si Yoga ni… Aku menoleh pada Yoga. Yoga tersenyum menggodaku. Ni anak nyebelin amat… Yoga tertawa lalu bangkit berdiri.

“Mmmm… aku masuk dulu ya… nggak tahan liat wajah kakak yang seperti itu.” ucapnya, aku melotot padanya. Yoga melangkah pergi aku hendak bangkit tapi Bas menahanku.
“Jangan pergi lagi Star…” ucapnya, aku urungkan niatku pergi.
“Temani aku di sini…” ucapnya lagi.
“Apa kamu nggak penasaran dengan foto-foto itu…” ucap Bas… foto.. Apa maksud Bas foto di galeri?

“Mmmm.. ya…” ucapku pelan.
“Aku nggak tahu apa yang ada di pikiranmu saat tahu itu semua karyaku. Aku nggak sangka secepat itu ketahuan olehmu. foto itu melambangkan hatiku, kemana pun aku pergi Starla selalu ada. Apa pun yang kulakukan Starla pasti ada di dekatku. Mungkin karena aku menyesal telah menyia-nyiakan kesempatan dekat denganmu saat SMU dulu. Kamu sudah kasih kesempatan buatku untuk dekat kamu tapi aku malah menjauh darimu. Aku nggak bisa melupakanmu, kamu selalu ada di pikiranku.” ucap Bas… aku menatap Bas dari samping. Bas menatap ke langit.

Cerpen Karangan: Imelda Oktavera

Cerpen Bas (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjalanan Cinta Pertamaku

Oleh:
“Chi, bangun!” teriak mama dari luar kamar. “Sebentar ma, sekarang masih pukul 6.10 am pun!” kataku yang masih memeluk bantal, seketika pula aku langsung beranjak dari tempat tidur dan

Qurban Perasaan

Oleh:
Tepat hari ini adalah hari raya Qurban atau Hari Raya Idul Adha. Aku sudah tidak dapat lagi menahan perasaanku yang selama ini aku pendam kepada seorang wanita. Dia adalah

Cinta Monyetku

Oleh:
Juli, 2010 Huuhh. Liburan telah berakhir. Kini aku mulai bersekolah lagi. Aku senang karena sekarang aku naik ke kelas 6. Yeyy! Bentar lagi ngerasain UN deh. Aku melangkah memasuki

My First Love

Oleh:
Pada saat aku SMA kelas XI, aku dicomblangin temanku dengan seorang cowok yang bersekolah di SMA favorit di kotaku. Awalnya aku sama sekali tidak tertarik sama dia karena dia

Apakah Aku Masih Terlalu Muda

Oleh:
Hai, namaku Ryn. Ini adalah kisah nyata. Umurku masih 11 tahun. Umur yang masih muda untuk mengenal kata cinta. Meski demikian, sebenarnya aku telah mengenal cinta sejak kelas 2

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *