Bas (Part 5)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama
Lolos moderasi pada: 30 January 2018

“Seharusnya saat perpisahan SMU kita, aku bicara ke kamu tapi aku malah membiarkanmu pergi.” ucap Bas lagi.
“Aku suka kamu… nggak bukan suka, tapi suka banget… Tapi aku takut, takut kamu menolakku. Kamu salah satu bintang di sekolah, kamu punya teman-teman yang juga bintang. Aku nggak bisa masuk dengan mereka, ku pikir bila aku mau dekat denganmu aku pun harus bisa dekat dengan temanmu… Aku pergi dari kota ini dengan hati yang patah, ku pikir aku telah kehilangan kesempatan dekat dengan kamu. Di kotaku yang baru aku berharap aku bisa melupakanmu di sana, tapi aku salah… Setiap aku melihat langit ada hal yang mengingatkanku padamu… Ketika aku melihat laut kamu pun ada di sana, ketika aku berada di manapun kamu selalu ada membuatku hampir gila. Aku mencari kesibukan supaya aku bisa melupakanmu salah satunya bergabung dalam klub basket kampus lalu mengajar ekstra kurikuler di sekolah sebagai pelatih basket. Disana aku ketemu Yoga, Yoga yang selalu bicara padaku meski aku cuma diam, meski terkadang aku mencuekinnya. Yoga mengingatkanku denganmu, sampai akhirnya kami menjadi dekat. Yoga selalu mengingatkanku untuk tidak bersikap dingin, untuk lebih sering tersenyum. Supaya aku tidak kehilangan lagi kesempatan kedua bila bertemu wanita yang ku suka.” ucapnya, aku tertunduk. Ternyata Yoga yang membantunya untuk berubah.

“Karena itu aku buat foto-foto seperti itu, semua hal bisa membuatku teringat padamu. Aku seperti seorang pria yang bermimpi meraih bintang… Dan berharap bisa menyentuh bintang…” ucap Bas. Aku teringat foto pria yang sedang membelakangi di tepi pantai sambil melihat langit dan foto seorang pria yang seperti menyentuh bintang dengan tangannya.
“Bertemu denganmu membuatku semakin bertekad untuk berubah. Untuk bisa lebih berani, berani mengekspresikan hatiku. Berani menghadapi penolakan, berani menghadapi teman-temanmu yang mungkin akan menghadangku untuk dekat denganmu. Karena itu aku memasukkan foto-foto itu ke pameran Arya dan membuat nama Starla di foto itu.” ucap Bas… Aku terharu… jadi Bas sebenarnya suka aku… lalu Puri?

“Saat Perpisahan itu salah satu yang menghalangiku untuk bicara padamu adalah kado itu. Aku pikir kamu akan beri kado itu untuk seseorang yang spesial. Waktu itu aku patah hati banget…” ucap Bas lagi… Bas… kado? Ya ampun kado itu…
“Dan saat kulihat kamu bersama Lio kemarin aku juga patah hati untuk kedua kalinya… Tapi aku nggak mau kehilangan kesempatan lagi. Aku ingin langsung bertanya padamu…bicara padamu. Saat tadi kamu bilang kamu nggak pacaran dengan bang Lio aku senang banget… berarti aku masih ada kesempatan…” ucap Bas… Lalu Bas diam sesaat. Kemudian…
“Jadi…” ucap Bas lalu berhenti. Bas melirikku… dadaku berdesir halus. Dia tersenyum… ih…kenapa dia jadinya tersenyum buat grogi aja. Sama aja dengan Yoga mau mengodai aku.
“Jadi apa…” ucapku sedikit kesal karena dia menggantung kata-katanya. Bas tersenyum lagi.

“Dulu aku nggak pe-de, sekarang aku kepedean. Ngelihat kamu yang berusaha menjelaskan padaku bahwa kamu tidak pacaran dengan bang Lio dan melihat wajahmu yang digodain Yoga. Aku pikir kamu juga suka aku.” ucap bas, upsss… jantungku berdetak kencang. Huh… mungkin wajahku sekarang sudah merah seperti kepiting rebus.
“Apa aku salah…” ucap bas… Aku mengatur nafasku berusaha mengatasi kegrogianku.
“Nggak, iya aku juga suka kamu…” ucapku akhirnya sambil menunduk, inilah saatnya kami saling jujur.
“Sebenarnya kado itu, kado yang kupegang saat perpisahan itu buat kamu. Aku nggak jadi kasi ke kamu karena aku mendengar pembicaraan kamu dengan Puri, Puri menyatakan perasaannya padamu.” Ucapku, sambil menarik-narik rumput di dekat kakiku. Bas menarik tanganku dan menggegam tanganku.

“Saat itu aku menolak Puri. Aku menjadikan Puri tamengku untuk menghindarimu. Aku merasa bersalah padanya karena sudah memanfaatkannya.” ucap Bas…lalu kami diam kemudian…
“Apakah teman-temanku begitu seram…” ucapku.
“Mmm… sedikit…” ucapnya jenaka.

“Kalau sekarang kamu masih takut…” ucapku sedikit menggodanya.
“Kalau sekarang… takut banyak…” ucapnya sambil tertawa. Tawa yang lepas yang sangat menawan hatiku.
“Jadi… gimana tu…” ucapku sambil senyum.
“Jadi.., semua akan terjawab jika kamu menjawab pertanyaanku…” ucap Bas…

“Pertanyaan…” ucapku, Bas mengangguk.
“Pertanyaan apa?” ucapku sambil menatap Bas yang juga menatapku. Matanya menatapku lembut… dadaku berdesir halus.
“Maukah kamu menerima cintaku. Menjalani hari bersama selalu.” ucap bas, dadaku berdesir halus. Bas…, inikah akhir penantianku…

“Starla…” Bas menyadarkanku dari lamunanku. Aku senyum…
“Ya, aku mau…” ucapku, Bas senyum. Angin berhembus mempermainkan rambut kami. Seakan waktu berhenti…kami saling menatap… Tak ada lagi yang harus ku sembunyikan atau ku simpan dan tak perlu menghindar bila bertemu Bas lagi…

Bas sekarang sudah kembali tinggal di kota ini. Bas sudah selesai kuliah tinggal nunggu wisuda beberapa bulan lagi katanya. Hari ini aku akan pertemukan Bas dengan teman-teman. Teman-teman belum ada yang tau aku pacaran dengan Bas, termasuk Jean. Hari ini aku ke kampus bareng Bas, kata Kania hari ini semua pada ngumpul di kampus. Aku mengajak Bas ke kantin mungkin mereka lagi di kantin. Nah itu mereka, Kania, Sania, Jean dan bang Lio… Aku dan Bas mendekati mereka.

“Hai…” sapaku…, mereka menoleh… Aku senyum.
“Hai…” ucap mereka lalu mata mereka beralih ke Bas…
“Hei… masih kenal dengan Bas kan…” ucapku pada teman-teman. Jean menatapku… Kania dan Sania menatap Bas…
“Bas…” ucap Sania…sepertinya dia tidak mengingat Bas.

“Ini Bas teman SMU kita, dia emang nggak sekelas kita tapi kita satu angkatan…” ucapku lagi lalu menarik tangan Bas untuk duduk.
“O… maaf kami nggak ingat lo…” ucap Kania, Bas hanya senyum.
“Kalau gitu gimana kalau kalian kenalan lagi…” ucapku.
“Aku Kania…” ucap Kania lalu mengulurkan tangannya pada Bas, Bas menerimanya. Lalu satu persatu Sania dan Jean mengenalkan diri mereka. Kecuali bang Lio…

“Bang Lio sudah kenal?” tanya Kania.
“Iya, kemarin kami ketemu di galery teman…” ucap bang Lio.
“Galery apa bang?” tanya Sania.
“photography…, Bas salah satu yang menampilkan karyanya di sana.” ucap bang Lio.

“O ya… wah… pengen lihat hasil karyamu.” ucap kania.
“Datang aja ke galery Arya, sampai sekarang pameran masih berlangsug.” ucap Bas sambil senyum.
“Iya karya Bas itu bagus lo…” ucap bang Lio sambil melihat Bas lalu melirikku. Aku melihat bang Lio dia melihatku mungkin dia sedang bertanya di dalam hatinya kenapa aku barengan dengan Bas… Bisa kulihat dari raut wajahnya yang sedikit berbeda hari ini.

“Kamu kuliah di mana?” tanya Sania.
“Di bandung, kuliahku sudah selesai tinggal nunggu wisuda…” jawab Bas sambil senyum.
“O… jadi kamu nunggu wisuda, enak donk… kami masih berkutat ini dengan skripsi…” ucap Sania. Bas senyum…
“Tapi Starla nggak pernah cerita tuh tentang kamu, apa kamu dan starla sejak SMU sudah dekat…” ucap Kania heran. Aku menoleh pada Bas, Bas juga melihatku.

“Iya, dari sejak SMU aku kenal Bas, kami beberapa kali ngobrol. Bas pernah nyelamati aku saat aku di serempet mobil.” ucapku…m ungkin teman-teman akan ingat dengan kejadian itu.
“Di serempet mobil… o… iya kamu pernah cerita. O… jadi kamu Bas yang menolong starla…” ucap Kania, Bas senyum.
“Oh… aku ingat… Iya Bas, tapi…” Sania berhenti bicara lalu melihat ke arah Bas…
“Tapi Bas yang kutahu kok beda ya…” ucapnya heran…

“Iya…” ucap Kania. Mereka menatap Bas heran sedang Jean hanya diam.
“Mmmm… nggak kok ini Bas yang sama, cuma sekarang rambutnya lebih rapi dan kacamatanya dimuseum kan…” ucapku.
“O iya, dulu pakai kacamata… Kok sekarang nggak lagi…” ucap Kania.
“Mataku sudah sembuh, kemarin memang ada gangguan mata saat kelas tiga…” ucap Bas.

“O…pantes…” ucap Sania. Lalu Kania melihatku menunjukkan raut wajah bertanya…
“Apa…” ucapku padanya tanpa suara hanya gerakan mulut dan tangan. Dia melirik Bas… Aku cuma senyum. Tiba-tiba handponeku berbunyi, ku lihat layar handponeku sms dari Kania. Aku membaca pesan dari Kania.

“Eh… apa maksudmu membawa Bas kemari, dari gelagatnya kayaknya ada hal besar yang belum kamu ceritakan pada kami…” tulis Kania. Aku membalas pesannya.
“Iya, tapi ntar kalau kita kumpul berempat baru aku ceritain…” tulisku.
“Oke…tapi aku sudah bisa menebak ceritamu ini kayaknya…” tulisnya, aku melihat ke Kania, dia menatapku sambil menyipitkan matanya. Aku senyum… dan tidak membalas pesannya. “Aku kayaknya pulang ni, ada yang mau aku kerjain…” ucap bang lio sambil berdiri.

“Aku juga deh…” ucap jean ikutan berdiri.
“Loh kok jadi pada pergi?” ucapku.
“Iya ntar sms aku aja kapan kita bisa ngumpul, aku ada keperluan ni.” Ucap jean.
“Iya, ntar aku nemuimu star. Ku mau ngerjain sesuatu ini.” ucap bang lio. Aku hanya bisa mengangguk. Lalu bang lio dan jean pergi, tumben bareng nggak bertengkar. Kulihat bang lio mengatakan sesuatu pada jean. Sepeninggal bang lio dan jean kami masih ngobrol di kantin kampus.

Bang Lio ajak aku ketemu di cafe tulip, nggak tahu kenapa harus ngajak ketemuan di cafe tulip biasanya juga ketemu di kampus atau di rumah. Kami ngobrol di cafe…bang lio tahu kalau aku sudah pacaran dengan Bas…

“Star… aku patah hati untuk kedua kalinya…” ucap bang Lio.
“Kedua kalinya?” ucapku aneh.
“Ya kedua kalinya, kamu dan sahabatmu itu membuatku patah hati.” ucap bang Lio sambil meminum teh di depannya.
“Sahabatku? Yang mana?” ucapku nggak nyambung dengan perkataan bang Lio.

“Itulah, sahabatmu yang suka ngambek itu.” ucap bang Lio.
“Jean…” ucapku kaget, bang Lio mendesah pelan. Loh jadi bang Lio juga suka jean?
“Abang sejak kapan suka Jean?” tanyaku penasaran, bang Lio mendesah pelan.
“Sejak dia masih seragam putih biru, awalnya aku kira cuma sesaat. Tapi… itu berlangsung sampai sekarang. Saat SMU Jean mulai jutek padaku, aku berusaha mendekatinya tapi dia terus aja marah-marah samaku.” ucap bang Lio.

“Lalu aku ketemu kamu, kamu yang tulus. Kamu sedikit mirip dengan jean yang selalu apa adanya. Aku berpikir mungkin saatnya berpaling, karena itu aku selalu mendekatimu. Kamu dan jean mengisi hatiku, tapi kamu lebih terbuka dan selalu membuatku nyaman di dekatmu.” ucap bang Lio lagi, aku menunduk. Jadi bang Lio suka aku dan Jean.
“Tapi aku senang kamu dapat pria yang baik. Aku sudah dengar cerita Arya tentang Bas dan perjuangannya. Aku nggak akan merebutmu darinya, sedikit banyak perasaannya mirip denganku kepada Jean.” ucap bang Lio.
“Bedanya, Jean selalu ada di hadapanku… walau tak dapat ku raih.” ucap bang Lio.
“Aku selalu mengajaknya bercanda tapi justru membuatnya marah dan menjauh.” ucap bang Lio lagi. Lalu bang Lio cerita tentang persahabatannya dengan Jean, aku tahu meski sempat suka aku bang Lio nggak pernah berhenti mencintai Jean. Ku pikir Jean sepertinya suka bang Lio tapi aku belum yakin.. Semoga ada jalan untuk mereka bisa bersama.

Aku dan Jean sedang duduk di taman kampus sambil menatap langit senja. Ntah apa yang dipikirkan Jean saat ini. Aku teringat pembicaraan dengan bang Lio beberapa waktu yang lalu. Aku menoleh pada Jean yang masih menatap langit senja. Aku kembali menatap langit.

“Indah ya langit senja hari ini…” ucapku membuka pembicaraan.
“Hemm…” jawab Jean.
“Apa yang kamu pikirkan Je…” tanyaku.
“Gimana rasanya cinta pertamamu terwujud…” ucap Jean, tanpa melepaskan tatapannya dari langit.

“Menyenangkan…” jawabku sambil tersenyum, terbayang wajah Bas.
“Yah… seandainya aku juga bisa mewujudkan cinta pertamaku.” ucapnya, baru kali ini Jean bicara tentang cinta pertamanya. Aku mengalihkan mataku dari langit dan menatap Jean.
“Siapa Je… kok nggak pernah cerita.” ucapku, mungkinkah cinta pertamanya bang Lio… Jean hanya diam.

“Aku nggak boleh tau ya…” ucapku pelan. Jean mendesah pelan.
“Bang Lio…” ucap Jean… Ternyata benar…
“Dari sejak kecil kami bersama, aku sangat menyukainya. Tapi saat dia SMU semua berubah, bang Lio lebih sibuk dengan teman-temannya. Dia jarang mengajakku jalan lagi, apalagi dia juga sudah punya banyak teman cewek. Aku kesal dan marah sejak itu aku tidak mau lagi akrab dengannya. Aku berusaha melupakan perasaanku tapi sangat sulit. Aku sering menghindarinya, dan tersiksa dengan perasaanku sendiri. Karena itu aku mengerti perasaanmu saat kamu menyimpan perasaanmu pada Bas.” ucap Jean.

“Karena itu setiap aku di dekatnya, aku nggak pernah bisa ramah atau bermanis-manis. Aku nggak bisa mengendalikan hatiku, jantungku selalu berdebar cepat membuatku gugup. Aku kadang jutek padanya untuk mengatasi kegugupanku.” ucap Jean, Jean menoleh padaku dan tersenyum samar.
“Aku pernah cemburu sama kamu Star, kamu bisa bebas dan akrab dengan bang Lio.” Ucap Jean sambil menunduk.
“Maaf…, aku nggak tahu Je.” Ucapku
“Itu bukan salahmu Star…, aku aja yang bego…” ucap Jean.

“Kenapa bego…” sebuah suara di belakang kami mengagetkan kami, aku menoleh… Bang Lio… Bas… mereka berdiri di belakang kami. Aku melihat Jean, Jean langsung berdiri, wajahnya memerah. Aku melirik Bas yang sedang menatapku.

“Sejak kapan kalian ada di sana…” ucapku, aku berdiri.
“Kenapa bego Je…” bang Lio tidak menjawab dia justru mengulang lagi perkataannya. Jean lalu berbalik dan berjalan meninggalkan kami.
“Je…” panggilku, aku mau menyusulnya tapi Bas menahanku. Bang Lio mengejar Jean.
“Biarkan mereka menyelesaikan sendiri.” ucap Bas sambil menarik tanganku dan mengajakku duduk.

“Sejak kapan kalian berdiri di belakang kami?” tanyaku pada Bas.
“Sejak nama bang Lio disebutkan Jean. Bang Lio menyuruhku diam dan kami mendengar semua pembicaraan kalian.” Ucap Bas. Aku mendesah pelan, harus seperti ini kah semua terungkap. Jean pasti malu dan gugup.
“Sepertinya bang Lio suka Jean…” ucap Bas, aku mengangguk.
“Semoga mereka bisa saling jujur dan akhirnya pacaran seperti kita…” ucapku sambil merangkul lengan Bas. Bas tertawa lalu mengacak lembut rambutku. Bas menggegam tanganku hangat lalu kami menatap langit senja bersama…kali ini tidak dengan hati yang sendu tapi dengan hati yang berdebar hangat bersama Bas-ku. Semoga cinta pertamamu pun terwujud Je…

Tamat

Cerpen Karangan: Imelda Oktavera

Cerpen Bas (Part 5) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Biru

Oleh:
Hujan, masa kecil dan cinta pertama. Tiga hal yang tak mungkin mudah untuk dilupakan. Terutama cinta pertama. Apa kalian mengerti apa itu cinta pertama? Cinta pertama belum tentu pacar

Cinta Pertamaku

Oleh:
Hari ini aku berjumpa lagi dengannya, dia adalah laki-laki yang sangat menyebalkan, dan selalu mengejekku disetiap kita jumpa. Pagi ini saat ingin berangkat sekolah dia mengejekku lagi. “hei manok

Kunanti Kinanti

Oleh:
Hari ini tahun ajaran baru, yang artinya aku resmi duduk di bangku kelas 12. Leganya, karena artinya ini tahun terakhirku harus berdamai dengan orang-orang yang senantiasa mengusik ketenanganku ditambah

The Perfect of Love

Oleh:
Haiii.. namaku adalah Elisa. Aku adalah seorang perempuan yang mampu menutup pintu hatiku dengan rapat agar tak seorang pria pun yang dapat membukanya kembali. Itu semua dimulai dari ceritaku

Cinta Beda Usia

Oleh:
Tahun 2009 adalah tahun dimana aku duduk di bangku kelas 3 SMP, 3 tahun aku menimba ilmu disitu aku belum sekalipun merasakan pacaran, meskipun teman sebayaku mungkin sudah beberapa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Bas (Part 5)”

  1. Apriliya says:

    Uhhh sosweet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *