Cinta Di Patok Tenda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama
Lolos moderasi pada: 27 February 2019

Dengarkan suara hati ini
Suara hati yang ingin kudendangkan
Tak mampu untuk kusampaikan
Kan kuungkapkan lewat laguku

(“Kira-kira, lanjutannya apa lagi ya?. hemmm”)
Aku berhenti menuliskan bait puisi cintaku. Bersama angin malam yang berhembus mesra menyapa tendaku, aku terus termenung berpikir terbuka kalimat cinta apalagi yang harus kutuliskan untuk mengungkapkan segenap perasaanku ini kepada dirinya.

Malam ini, satu hari di Bumi Perkemahan Bunut, Kabupaten Pelalawan. Adalah hari pertamaku bermalam di tenda, dalam acara Perkemahan Budaya antar Penegak se-Kabupaten Pelalawan.
Bahagia semakin tidak terbendungkan, karena untuk yang kesekian kalinya, aku bertemu lagi dengannya. Pria tampan yang begitu manis dan menyenangkan. Disetiap perkemahan antar kabupaten, dia selalu hadir bersama wajahnya yang ramah tersebut.

Aku bertemu dengannya untuk pertama kalinya, saat diawal perkemahan penggalang SD saat itu.
Hehehehe, memang sangat lama pertemuan itu terjadi. Dan bisa dikatakan, dia seperti cinta pertamaku di masa cinta monyetku.
Namun, entah mengapa, walau saat ini aku telah berusia 17 tahun, masih saja hanya dirinyalah yang selalu aku rindukan ketika perkemahan seperti ini.
Aku selalu mencari dirinya, apabila aku telah sampai di bumi perkemahan. Sungguh, rasa suka ini kian bersemi menjadi perasaan jatuh cinta yang kini telah bersemi di dalam hidupku.

Walau aku menyadari, sudah 8 tahun berlalu, aku tidak juga kenal dengannya. Yang kutahu adalah, di perkemahan dirinya biasa dipanggil Zul. Huhhhh, apakah ini karena diriku yang berkepribadian kuper mungkin?.
Entahlah. Namun, cukup aku mengenal namanya sudah sangat berarti untukku.

“Hana. Malam ini ada pergelaran pentas seni. Ftria gak bisa tampil nari, karena dia sedang sakit. Jadi, aki minta kamu ya yang tampil sebagai perwakilan dari sekolah kita?”
“Aku?”
“Iya, kamu. Aku dan teman-teman yang laim berharap banget sama kamu. Kami percaya kamu pasti bisa. Bukankah kamu ahli dalam berpuisi kan?. please, bisa kan?”
“Hemmm.. baiklah. Aku akan tampil yang maksimal untuk kalian. Tapi, puisi apa yang akan kubacakan?”

Hening. Aku dan Lusi saling diam satu sama lain.
“Bagaimana kalau puisi kamu untuk Zul. Seseorang yang sudah kamu sukai sejak dulu di Pramuka?”
Aku tercengang. Sungguh, ide Lusi benar-benar membuatki menjadi gila.

“Oh. Itu tidak mungkin lus. Aku bisa malu kalau sampai Zul mendengarnya. Ditambah lagi, dia adalah panitia di perkemahan ini”.
“Aduh… kan nama Zul gak tercantum Han. Jadi dia pasti gak bakalan peka kalau itu kamu. Bukankah ini saatnya, dia kenal sama kamu?. Ayolah Han, kamu sudah jatuh cinta dengan Zul 8 tahun lamanya. Di setiap Perkemahan, hanya Zul yang kamu sukai. Jadi, udah saatnya sekarang kamu dan Zul saling mengenal”.
Mendengar celotehan Lusi, seketika membuatku menjadi bergumam. Ada rasa takut ditambah juga dag dig dug di dalam hatiku. Yang aku pikirkan hanya satu, apa yang harus kulakukan, jika aku bertemu dengannya nanti?.

Jam 22. 00 WIB
Di Panggung Seni Bumi Perkemahan Bunut
Saatnya pagelaran seni dimulai.

“Han, kamu undian ke-5”
“Hah… lima lus. Kok cepet banget”.
Mendengar pernyataan Lusi hanya membuatku berdesus pelan.
Sembari menuggu nomor tampilku.
Di belakang panggung, sembari menyenderkan punggungku di dekat tiang panggung, aku kembali melanjutkan bait puisi cintaku. Sudah kuputuskan, jika malam ini aku akan membacakan puisiku ini tepat di depan dirinya nanti.

(Berawal dari perkemahan ini)
(Rasa itu pun hadir dihatiku)
(Menghiasi relung sukmaku)
(Cinta bersemi di bumi perkemahan)
(Oh. Mungkinkah rasa cinta ini akan abadi untuk selamanya)
(Rasa ini semakin membelenggu)
(Cinta lokasi di bumi perkemahan)

“Haiiiii..”
Aku menoleh ke arah suara yang menyapaku tersebut.
Oh. tidak. Suara itu adalah suara Zul yang menyapaku. Ini untuk yang pertama kalinya, di hadapanku secara bertatap muka, Zul menyapaku sangat ramah dan mempesona.
Di hadapanku, dia sangat tampan dengan mengenakan seragam pramuka, lengkap dengan barret dan kacunya.

“Iyyya. Hai juga”
Dengan suara kikuk, aku membalas sapaanya tersebut.
“Peserta dari SMAN 1 Pangkalan Kerinci?”
“Iya. Benar”
“Hemmm.. Hanna namanya kan?. Aku dengar malam ini kamu akan tampil membacakan sebuah puisi”.
“Iya betul”.
“Semoga berhasil”

Diakhir pembicaraan yang singkat ini. Deg, dia tersenyum kepadaku dengan sembari menyalamiku penuh hangat. Sudahlah, sepertinya di malam ini aku akan semakin bergelora penuh semangat. Dan di malam ini juga puisiku ini, akan kupersembahkan untuknya.

” Hannna… sumpah kamu tadi tampil baca puisinya keren banget. Menyetuh” Ketika aku turun dari panggung, tiba-tiba keempat rekanku kemudian menghampiriku seraya memberikan pujian untukku.
“Puisi ini aku persembahkan untuk kalian semua. Jadi mesti bagus”
“Ohhhhh. Are you seriously?. Not for him?”
Aku diam malu-malu. Selayang pandang, aku mencoba melirikkan mata melihat dirinya dari jauh. Masih terlihat tampan, dengan senyum lesung pipitnya yang khas miliknya tersebut, dia berjalan menemui para peserta perkemahan untuk memotret beberapa moment.

Pagi harinya
Saat lomba Semaphore
Walau alarm jam masih bergerak dipukul 5 subuh, tetap saja, waktunya bagi kami, anak pramuka bergegas untuk mandi. Dingin… so, sudah pasti. Apa daya, bagaimanapun ini telah mentradisi bagi para pramuka sejati.

Pukul 08. 00 pagi…
“Hai, udah sarapan?” Lagi, Zul menghampiriku dan menyapaku. Pagi ini, dia terlihat cool dengan kaos tshirt bergambar tunas kelapa dan celana jeans ponggolnya.
“Sudah tadi” Aku membalas pertanyaannya seraya menunduk malu. Sejujurnya, aku berusaha untuk menyembunyikan rona wajah merahku di hadapannya.

Namun…
Saat dimana perbincangan mulai tercipta di antara diriku dan Zul. Lusiana datang menemuiku dan mengajakku untuk segera tampil dalam perlombaan semaphore.
Terlihat jelas, aku merasakannya, bahwa saat dimana aku tampil, Zul, memotret diriku dengan menggunakan kameranya.

Last Day in Bumi Perkemahan…
Yahhh… dan sekarang saatnya adalah hari terakhirku di Bumi Perkemahan ini. Ini adalah hari terakhir, dimana aku dan rekanku akan kembali ke rumah masing-masing. Tetapi, hatiku kini terasa pilu, sejak malam api unggun di malam hari tadi, hingga pagi ini, aku tidak melihatnya.
Dirinya seperti telah hilang secara tiba-tiba. Perasaanku risau dan terus saja bertanya, kemanakh dirinya pergi?.
Hingga di ujung acara pembagian trophy, aku sama sekali tidak melihatnya.

“Pasti kamu masih bertanya di mana Zul kan?”
“Hemmm. memgapa harus di hari terakhir perkemahan dia pergi?”
“Hana, jika takdirmu adalah Zul. Maka cintamu akan berakhir dengan indah. be positif thinking”.
Karena bosan, segera aku membuka loker kamar dan hendak melanjutkan puisiku.

But…
Naas, diaryku yang bertuliskan puisikipun hilang. Dan tidak ketemu walau telah mencari di kapal berulang kali.

2 Tahun Kemudian
Beginilah aktifitas mahasiswi selagi setrlah UAS. Akan merasa tenang dan lega dengan cara merefleksi diri berjalan-jalan ke sebuah mall sembari berfoto selfie.

Di Mall Pekanbaru…
Menyelusuri sudut-sudut pintu mall, penuh oleh mahasiswi yang sedang merefleksi.
Namun, saat hendak akan turun ke lantai dasar, sangat jelas terdengar olehku, sebuah lagu dimainkan dengan liriknya yang sangat cocok dengan lirik puisiku yang hilang.
Aku berjalan terus menghampiri sumber suara tersebut, dan tidak menyangka, Jika ternyata yang bernyanyi adalah Zul. Pria Yang selama ini kucintai.

“Ini Zul kembalikan diary Hanna. Saat itu ketinggalan. Dan maaf yah, puisi Hanna Zul nyanyikan sebagai lagu. Zul suka dengan liriknya”
“Justru aku senang, bahwa kamu suka dengan lirik puisiku. Karena kamu, sekarang semua orang jadi tahu puisi cinta di patok tenda ini. Ditambah dengan alunan musiknya yang mellow kan”.

“Hanna?”
“Iya”
Aku dan Zul sama-sama terdiam
“Sebenarnya sudah sangat lama. Sejak di Perkemahan Penggalang, Zul suka sama Hanna bahkan sampai hari ini”.

Entahlah, mendengar pernyataan cintanya di depanku saat ini, rasanya ingin aku berteriak sekencang-kencangnya mengutarakan kebahagiaanku.
Cinta yang selama ini kutunggu dan kuukir di patok tenda. Telah terbit menjadi kisah cinta yang indah dan menyenangkan.

Andai dari dulu aku tahu bahwa zul juga menyukaiku. hehehe

TAMAT

Cerpen Karangan: Aisyah Nur Hanifah
Blog / Facebook: Aisyah Nur Hanifah (Nur)

Cerpen Cinta Di Patok Tenda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Dan Dia

Oleh:
Him.. Semua kenangan itu kembali saat aku bertemu dengannya. Sore itu di sebuah stasiun. Aku bertatap muka dengannya. Seorang gadis yang kini sudah menjadi wanita dewasa. Dia masih sama

Bas (Part 3)

Oleh:
Vas bunga yang biasanya ada di meja belajarku menghilang.. Aku baru pulang dari kampus dan saat meletekkan tas di mejaku ku tak melihat vas bungaku ditempatnya lagi. Padahal baru

Kasih Tak Terbalas

Oleh:
Cinta menjadi kebutuhan setiap orang, tanpa cinta hidup terasa hampa, kehilangan cinta sama dengan kehilangan seluruh harapan. Harapan yang sudah dipupuk untuk hidup bersama, ternyata hilang diambil orang, begitulah

I’m Feeling Blue (Part 1)

Oleh:
Deru campur debu, kelabu menutup biru. Panas matahari, walau masih pagi, memanggang sepanjang jalanku. Air menggenangi jalan-jalan berlubang akibat hujan semalam. Jalanan becek dan semerawut karena orang-orang sibuk berangkat

Aku Cinta Kamu Rara

Oleh:
“Rara!!” sahutnya seraya mengejarku. “Kalo kamu nggak bisa nangkap aku, kamu harus traktir aku bakso!” timpal ku sambil berlari membelakanginya. “Hore.. Firlana bakal traktir aku bakso lagi..” Tambahku kegirangan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *