Cinta Pertama Olin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 June 2017

Terbelenggu oleh keadaan yang kian hari makin mendesak setiap individu untuk mengikuti perkembangan zaman yang justru membuat setiap individu terjerumus dalam lubang kemaksiatan hanya karena yang namanya cinta. Padahal cinta itu adalah anugerah terindah dari sang Maha Pencipta, tapi entah mengapa remaja masa kini mengatas namakan cinta atas kemaksiatannya itu. Hhh, ‘cinta’ bagiku hanyalah suatu untaian kata yang kadang membuat hati setiap orang senang maupun sebaliknya. Ah aku tak terlalu memikirkan yang namanya cinta, apalagi peran diriku sebagai siswa yang dituntut untuk terus berprestasi agar tetap mendapatkan beasiswa menjadi prioritas utamaku saat ku duduk di bangku SMA. Berbagai organisasi dan ekstrakurikuler di sekolah kuikuti, mulai dari OSIS, rohis, karya ilmiah remaja, dan yang nggak ketinggalan adalah ekskul mading. Aku sangat suka menulis berbagai karya sastra hingga aku ditunjuk sebagai ketua ekskul mading di sekolahku.

Guna memeriahkan hari ulang tahun sekolah, gabungan dari berbagai organisasi di sekolahku mengadakan acara Smansa Basketball Excibition. Yang tentunya aku juga ikut menjadi panitia dalam acara tersebut. Hari pertama pertandingan telah dimulai, yang bertanding pada sesi pertama adalah SMA 10 dan SMK Merdeka. “Eee maaf, kamu Olin kan?” tegur seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku. “Iya saya Olin, ada yang bisa saya bantu kak?” jawabku dengan ramah karena aku harus bersikap seperti itu pada setiap peserta yang akan bertanding. “Oh enggak ada, kamu lupa sama aku? Aku temen semasa TK kamu.” “Bentar saya inget-inget dulu.” ucapku sambil mencoba membuka memori otakku tentang lelaki itu, tapi sia-sia saja aku tak mengingatnya. “Maaf saya lupa, teman semasa TK yang saya inget cuma Gerry tapi saya ingetnya hanya wajahnya sewaktu masih kecil. Dan entahlah sekarang dia seperti apa.” lanjutku. “Aku Gerry, yang dulu sering main bareng sama kamu, dan yang selalu ngusilin kamu.” “Ah masa’ sih, boleh saya lihat identitas kamu?” ucapku. Dia pun langsung membuka tasnya dan memperlihatkan identitas sekaligus foto-foto kita sewaktu masih kecil. Tapi mengapa ia selalu membawa foto-foto kita sewaktu masih kecil?, ah entahlah. Tapi aku mulai yakin kalau dia benar-benar Gerry, dia tau segala tentang masa kecilku bahkan memorinya juga masih sama denganku. Kejadian sewaktu kita berengkar, bercanda gurau bersama masih terekam rapi dalam ingatan kita masing-masing. Sekarang dia benar-benar beda, dia lebih tampan dan gagah. Di sisi lain aku mulai berfikir, orang yang dulu selalu memprioritaskan diriku daripada teman yang lain itu apakah masih sama seperti itu?

“Selama ini aku nyari kamu di mana-mana tapi nggak ketemu-ketemu, skarang kamu lebih cantik, baik, sholehah lagi. Beruntung banget laki-laki yang dapetin kamu.” tuturnya. “Oh ya, tapi sayangnya aku belum nemuin lelaki yang seperti cinta pertamaku. Oiya, kamu juga lebih tampan, gagah, sholeh lagi. Pasti wanita yang dapetin kamu juga sangat beruntung.” “Tapi selama ini aku sulit ngelupain cintaku semasa kecil, dan wanita semasa kecilku itulah yang insyaAllah akan menjadi wanita yang beruntung dan aku juga akan beruntung bisa mendapatkannya. Dia cinta pertamaku.” jelasnya. “Kalo boleh tau siapa wanita itu? Apakah aku kenal dekat dengannya?” “Ya, kamu kenal dekat dengannya. Bahkan kamu tau segala yang ada pada dirinya.” Fikiranku mulai menjelajahi isi memori otakku, tapi siapa yang ia maksud. Andai ia juga tau tentang lelaki semasa kecil yang kucintai itu adalah dia sendiri, tapi biarlah waktu yang akan mengatakan yang sebenarnya. Percakapan kami terhenti saat ia harus bertanding, ku mendo’akan yang terbaik untuknya. Skillnya yang sangat baik dan gerakannya yang sangat lincah mampu membawa nama sekolahnya masuk dalam semi final yang akan diselenggarakan lusa nanti.

Pertandingan hari pertama telah berlalu, dan pertandingan hari kedua akan segera dimulai. Banyak suporter dari keempat sekolah yang hari ini bertanding, dari kejauhan ku melihat Gerry tengah duduk di barisan para penonton. Meskipun hari ini bukan jadwal sekolahnya bertanding tapi ia tetap datang ke sekolahku. Jika difikir-fikir jarak rumahnya ke sekolahku itu lumayan jauh juga, tapi entah faktor apa yang mendorongnya sampai datang ke sini. Mungkinkah karena dia terlalu menyukai basket, ataukah karena ingin menemuiku? Ah betapa pdnya diriku. Aku tak menemuinya karena aku masih disibukkan oleh tugas-tugasku, kulihat dia memperhatikanku dari awal pertandingan sampai akhir pertandingan.

“Olin, tunggu bentar.” teriaknya sambil lari menghampiriku yang tengah duduk di teras masjid. “Aku minta nomor kamu.” lanjutnya sambil terengah-engah. “Di pamflet kemaren ada nomorku.” ucapku. “Oh ya, nanti aku hubungin kamu.” “Olin, buruan ke sini. Bentar lagi kita bakalan evaluasi.” teriak salah satu panitia basketball excibition. “Iya bentar.” ucapku setengah berteriak. “Aku ke sana dulu ya Ger.” lanjutku, “Oke, see you next time. Semangat terus ya, love you.” ucapnya. Ku hanya tersenyum sambil melangkahkan kakiku meninggalkannya, senang sekali rasanya mendapat semangat dari pria yang kukagumi selama ini. Eh tunggu dulu, dia bilang love you padaku? Apakah ini hanya mimpi, hatiku benar-benar serasa melayang-layang di udara. Sungguh tak kusangka pertemuan kedua kita akan seperti ini, sangat berkesan walau hanya sebentar.

Sinar matahari mulai masuk melalui celah-celah kamarku, kulihat ponselku ternyata baru jam setengah 5 pagi. Ehh tunggu, ada beberapa pesan masuk dan telepon tak terjawab dari nomor baru. Ya ampun, aku sampai lupa tak membuka ponselku sejak kemarin, padahal Gerry sudah bilang kalau akan menghubungiku. ‘Maaf Ger, kemaren aku lupa ngecek ponselku karena terlalu kecapekan.’ begitulah isi pesanku untuknya. Tapi dia tak membalas pesanku, mungkin dia belum bangun, fikirku. Aku jadi lebih semangat datang ke sekolah, mungkin itu karena ada Gerry.

Jam menunjukkan pukul 8 pagi, semifinal akan segera dimulai. Sesi pertama dimulai yang bertanding adalah SMK Merdeka dan SMA 2, dan sesi kedua akan dilakukan pertandingan antara SMA Harapan melawan SMA 8. Pertandingan sesi pertama telah selesai dilaksanakan, dan SMA’ku lah yang memenangkan pertandingannya. Sesi kedua akan segera dimulai, tapi entah mengapa kutak melihat Gerry ada di barisan pemain SMA 8. Pertandingan hari ini tugasku tak terlalu berat, jadi lebih banyak waktu untuk menonton pertandingan.

“Eh kak, kantin sebelah mana?” sapa seorang wanita bertubuh ramping dan berpakaian ala cheerleaders, dibagian punggungnya terdapat logo SMA 8 dan sudah bisa kutebak kalau dia adalah tim cheerleaders dari sekolahnya Gerry. “Oh iya mari saya antar.” sahutku ramah. “Nggak usah, tunjukin aja tempatnya di mana. Nggak usah sok ramah!” gertaknya yang membuatku sedikit shock. Akhirnya kutunjukkan arah menuju kantin, wajahnya begitu cantik, rambutnya yang panjang dan lurus menambah kecantikkannya.

Di tengah lapangan ku melihat para pemain telah bersiap-siap untuk bertanding, tapi tak ada Gerry di sana. Ah sebenarnya di mana dia, jadi nggak semangat gini lihat pertandingan. “Do’ain aku aja semoga permainanku kali ini lebih maksimal dari kemaren. Love you lin.” bisiknya lalu berlari menuju tengah lapangan. Ah dasar Gerry, bikin jantungku berdetak tak karuan! Dari kejauhan kulihat dia tersenyum manis ke arahku.

“Nggak usah ganjen, Gerry milik gue!” tegur wanita tadi. Apa maksudnya bilang kayak gitu, mungkinkah dia memang milik Gerry? Hhh tak ada gunanya memikirkan hal itu, “Gerry… Gerry… Gerry. Ayo yang semangat mainnya.” teriakan para cheerleaders dan para fans Gerry. Set demi set telah dirintangi, poin kedua lawan imbang dan harus dilakukan satu set lagi. Teriakan semua penonton semakin histeris saat Gerry berhasil mencetak poin yang meloloskan sekolahnya ke dalam babak final, “Selamat Ger, gue makin cinta sama lo.” ucap wanita tadi di depanku. Oh Tuhan, apa lagi ini. Banyak wanita-wanita yang mengaguminya, bahkan penampilannya jauh lebih baik dariku. Kuurungkan niatku untuk memberinya ucapan selamat, dan ku langsung berlalu meninggalkan mereka Merdeka dan SMA 2, dan sesi kedua akan dilakukan pertandingan antara SMA Harapan melawan SMA 8.
Tapi Gerry tak mengejar ataupun menahanku, ah terserahlah mungkin dia lelah atau mungkin dia lebih bahagia dengan wanita-wanita itu.

Babak final untuk memperebutkan juara pertama akan segera dimulai, sekolahku melawan sekolahnya. Kali ini aku hanya melihat pertandingan dari teras masjid karena aku malas bertemu dengan wanita itu lagi, “Maaf soal kemaren, terus do’ain aku Lin. Kemenanganku akan kupersembahin buat kamu.” bisiknya yang tiba-tiba duduk di sampingku dan berlalu begitu saja, hobi sekali dia mengagetkanku dan tiba-tiba menghilang begitu saja, dari kecil sifatnya memang tak berubah. Aku hanya tersenyum walau sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin kuajukan padanya.

Babak final kali ini dia memang bermain jauh lebih baik, tak perlu diragukan lagi jika sekolahnya lolos menjadi juara pertama basketball excibition. Saat itu juga langsung dilaksanakan penyerahan hadiah, trophy dan medali. Begitu bahagianya diriku melihatnya tersenyum senang atas kemenangannya, “Kemenangan ini aku persembahin buat cinta pertamaku yang sejak kecil sempat terpisah dariku dan kini telah menjadi penyemangatku, Olin Asyella Febriana.” ucapnya setengah berteriak. Aku tercengang mendengar ucapannya, ia mendekatiku dan mengalungkan medali itu di leherku. Ternyata cinta pertama memang benar adanya, cinta yang tak perlu kuragukan lagi. karena cinta kita adalah anugerah terindah dari sang Khalik.

Cerpen Karangan: Amilia Dwi Nursanti
Facebook: Amilia Dwi Nursanti

Cerpen Cinta Pertama Olin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Kehidupan Cece

Oleh:
Namanya cece dia adalah seorang wanita yang terlahir dari keluarga sederhana, usianya baru 14 tahun, cece mempunyai seorang sahabat yang bernama nita, nita adalah sahabat cece dari smp, mereka

Yes! I’m Your Home (Part 2)

Oleh:
Matahari semakin melesat ke bawah. Udara sudah berubah menjadi lebih sejuk dari sebelumnya. Aku melirik jam tangan yang melilit di tangan kiriku. Sudah menjelang pukul 4 sore. Aku pulang

Bersyukur

Oleh:
Rasanya kesal sekali hari ini. Seperti dihantam cobaan yang bertubi-tubi. Belum lagi kepalaku terasa pening. Ingin rasanya aku berhenti sejenak dari aktivitas hari ini. Sayangnya keadaan tidak memungkinkan untuk

Inikah Rasanya Punya Pacar (Part 1)

Oleh:
Matahari mulai menampakan cahayanya, cahaya yang sangat aku sukai tiap pagi, Udara yang segar membuat aku selalu setia berjalan kaki pergi sekolah setiap hari, rasa lelah dan sedihku akan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *