Cinta Terhalang Guru BK

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 March 2018

Belakangan ini, Dave suka banget gangguin aku. Entah itu gangguin aku waktu belajar, gangguin aku waktu makan siang, atau gangguin aku apa pun bentuknya. Sebenarnya aku risih digangguin dia terus. Tapi di sisi lain aku seneng dengan sikapnya itu. Hidup aku terasa lebih berwarna karena ada dia. Dari awal aku ketemu sama dia, aku udah ngerasa kalau dia sering merhatiin aku, terus senyum-senyum sendiri. Aku bingung dengan sikapnya itu.

“Halo, Anggi. Cieee… yang lagi makan.” Seperti biasanya, dia gangguin aku makan di kantin. Entah sejak kapan senyumanku sudah terukir di ujung bibir.
“Apaan sih, Dave? Lo tuh gangguin orang makan aja deh.” Ujarku sambil mencubit lengannya. Dave meringis kesakitan. Tapi aku malah tertawa melihat ekspresi wajahnya.

Aku pun melanjutkan makan tanpa mengubris Dave yang sedang mengoceh menceritakan tentang kucing tetangga yang melahirkan 5 anak sekaligus. Karena merasa tidak ditanggapi, akhirnya Dave diam juga.
Hahaha… diam kan lo, gue diemin? Rasain. Batinku senang. Tapi kali ini dia malah memperhatikanku yang sedang melahap siomay. Aku melihat dari ekor mata aku kalau Dave sedang memperhatikan aku sambil senyum-senyum. Gila, senyumannya manis banget. Padahal aku baru lihat dari ekor mataku. Kalau aku lihat langsung…

Deg deg deg…
Tatapanku dan Dave bertemu. Beberapa saat kami terdiam sambil terus menatap sebelum akhirnya,
Kriiiiing…
Bel masuk berbunyi. Aku dan Dave langsung tersadar. Cepat-cepat aku menutupi pipiku yang sudah panas dan bersemu merah. Aku lihat pipinya Dave, ternyata pipinya juga memerah.
Duuh, malu banget.

“Ummm… gue ke kelas dulu ya,” kataku yang langsung meninggalkan Dave. Aku harap Dave tidak melihat rona merah di pipiku.

“Anggi, lo belum pulang?” Dave tiba-tiba menghampiri gue yang sedang menunggu jemputan di gerbang sekolah. aku menggeleng. “Belum. Kayaknya Nyokap gue gak bisa jemput deh, soalnya ada meeting sampai nanti sore.”
“Bareng gue aja, yuk. Rumah kita kan deket. Pak Tio pasti juga mau nganter.” Tawar Dave. Aku menimbang-nimbang sejenak. Aku membayangkan satu mobil dengan guru BK yang paling galak sedunia. Bisa-bisa aku diceramahi habis-habisan. Apalagi masalah cabut dijam pelajaran kemarin belum selesai. Membayangkannya saja aku sudah merinding.
“Udah, gak usah takut. Bokap gue gak bakalan menyangkut pautkan masalah sekolah kok, kalau udah pulang.” Tanpa seizinku Dave langsung menarik tanganku menuju mobilnya.
Astaga… aku baru sadar kalau tangannya lembut sekali.

Saat itu, Pak Tio juga sedang berjalan menuju mobil.
Mati gue, mati gue, mati gue. Batinku. Aku sudah takut. Karena Pak Tio sudah memandangku dengan mata elangnya.
“Dave, gue naik angkot aja ya?” bisikku. Dave tidak menjawab. Dia malah makin mempererat genggamannya.
“Sama mertua gak boleh malu-malu.” Bisik Dave lebih pelan bisikkanku.
Deg. Apa tadi katanya? Mertua? Gue gak salah dengar tuh?. Dia menarik tangannya memasuki mobil setelah Pak Tio menyalakan mobilnya.

Di sinilah aku, di mobil Pak Tio, the most killer teacher. Rasanya seperti duduk di kursi neraka. Tapi aku masih agak tenang karena ada Dave di sampingku. Untungnya Dave sudah melepas genggaman tangannya, jadi aku tidak lagi gugup. Aku bingung, kenapa Dave tidak duduk di samping Pak Tio, tapi malah di sampingku?

“Tumben kau bawa kawan kau, Dave? Biasanya kau mau sendiri?” tanya Pak Tio dengan logat batak khasnya.
“Iya, Pa. Dia teman spesialku.” Jawab Dave.
Aish. Dia ini, kalau bicara selalu tidak jelas. Teman spesial? Apa maksud dari kata-kata Dave tadi? Dia membuat otakku dikelilingi oleh berbagai pertanyaan.
“Oh, udah pacaran kalian?” tanya Pak Tio dengan nada terdengar marah. Aku langsung merinding. Tubuhku menegang seketika. Pak Tio paling tidak suka kalau ada siswanya melanggar peraturan sekolah. Apalagi soal pacaran. Belakang ini Pak Tio selalu marah kepada siswa-siswi SMA Jiwa Bangsa karena banyak di antara kami yang pacaran. Pak Tio hanya tidak mau siswanya terjerumus ke dalam pacaran yang tidak sehat. Sudah banyak kasus pergaulan bebas di daerah ini, dan Pak Tio tidak mau ada di antara kami yang terjerumus ke hal-hal buruk. Jika ada yang ketahuan pacaran, mau tidak mau harus putus, jika tidak maka Pak Tio dengan senang hati mutusin mereka. Jadi intinya, Pak Tio menjadi PHO antara dua orang yang sedang pacaran.

“Nggak lah, Pa. Maksud aku teman spesial, Anggi itu sahabat aku. Jadi Anggi lebih dari sekadar temanku, Pa.” Jelas Dave. Pak Tio mengangguk-ngangguk.
Aku lega. Kirain aku bakal dimarahi dengan Pak Tio karena pacaran dengan anaknya.
Tapi, rasa lega itu tiba-tiba tergantikan oleh perasaan tidak enak. Aku seperti tidak terima ketika Dave menganggapku sahabat. Aku kira, dia menganggapku lebih dari seorang sahabat?
Ah, aku terlalu berharap sekali. Mana mungkin Dave suka padaku?
Lagipula, aku mana berani pacaran dengan anak guru BK? Bisa-bisa aku disidang 7 hari 7 malam dengan Pak Tio.
“Kalian jangan pacaran dulu. Kalau kalian udah pacaran sekarang, mau jadi apa kalian?” ceramah Pak Tio.

Akhirnya mobil Pak Tio berhenti di depan rumahku. Aku mengucapkan terimakasih, menyalam Pak Tio, berpamitan dengan Dave, lalu turun dari mobil.
“see you tommorow, beib.” Kata Dave dengan suara pelan takiut didengar oleh Pak Tio. Cepat-cepat aku menutup pintu mobil dan segera berbalik badan. Karena senyumanku tak dapat ku tahan dan rona merah di pipiku tak dapat kubendung.
See you tommororow, BEIB.
Aku suka kata-kata terakhir Dave. Tubuhku seperti melemas, jantungku berdetak sangat cepat, rasanya aku ingin lompat setinggi-tingginya dan bersorak kegirangan.
Tapi, bukannya itu artinya aku menyukai Dave?
Dan Dave menyukaiku?
Aarrgghh…
Belakangan ini aku selalu berpikir yang tidak-tidak. Mana mungkin Dave suka sama aku. Sadar diri, Nggi, sadar diri. Lo hanya sebatas sahabat di mata Dave.

Dengan langkah cepat, aku berjalan menuju kantin untuk mengisi perutku yang sudah keroncongan. Setelah memesan soto dan es teh manis, aku duduk di tempat biasa. Tiba-tiba aku merasa mencium aroma khas Dave. Aku meilirik ke samping dan mendapati Dave sedang memperhatikanku sambil senyum-senyum.
Duh, dia ini memang paling bisa buat aku baper.

“Anggi, nanti pulang sekolah minum di cafe dulu yuk.” Ajak Dave yang masih tetap memperhatikanku.
“Memangnya lo dibolehin sama Pak Tio? Bukannya lo harus pulang bareng Pak Tio ya?” Aku tidak yakin dengan ajakan Dave.
“Tenang aja, gue udah izin sama bokap. Dan Bokap bolehin.” Jawab Dave. Aku mengangguk menandakan kalau aku setuju dengan ajakannya. Dia tampak kegirangan.
“Ada yang mau gue omongin sama lo.” raut wajah Dave berubah serius seketika. Perasaanku jadi tidak enak. Jangan-jangan ada hal buruk yang ingin Dave beritahu padaku.
“Ngomongin apa?” tanyaku kepo lalu meneguk es teh manisnya.
“Ada deh, pokoknya.” Raut wajah Dave kembali ceria.
Dia ini memang aneh. Sebentar serius, sebentar bercanda, sebentar ngasih harapan, sebentar ngejatuhin gitu aja.
Baper.

Di silah kami. Disalah satu cafe yang berada tak jauh dari sekolah. Cafe tempat para ABG dan sepasang kekasih bersantai. Aku jadi iri melihat mereka yang sudah memiliki pacar. Katanya, orang yang sedang jatuh cinta itu rasanya seperti ada kupu-kupu yang bertebangan di perut, tubuh seperti terbang, seperti ada bunga-bunga yang bermekaran, dan timbul rona merah di pipi. Apakah aku pernah merasakan semua itu? Rasanya… pernah. Aku merasakan semua karena… Dave?
Duuh, kenapa tiba-tiba ada nama dia yang ada di otakku.

“Nih.” Dave kembali dengan dua gelas hot chocolate yang dipesannya tadi. Dia duduk di depanku dan lagi-lagi menatapku dengan senyumannya.
“Dave, kok gue jadi iri ya, sama mereka yang udah punya pasangan? Kayaknya… di sini cuma kita berdua deh, yang gak punya pasangan.” Ujarku. Dave tertawa. Kenapa dia tertawa? Gak ada yang lucu, tau!
“Siapa bilang gue gak ada pasangan?” Kata Dave setelah tawanya merada. Aku tersentak. Bahkan hot chocolate yang sedang aku minum sempat muncrat.
“Ya elah, biasa aja kali reaksinya.” Dave mengelap ujung bibirku yang bercelemotan.

Deg deg deg…
Jantungku. Aku menatap mata Dave yang sangat dekat dengan wajahku. Tubuhku rasanya lemas seketika. Perutku seperti diterbangi oleh banyak kupu-kupu. Setelah membersihkan ujung bibirku, Dave menatap mataku. Tatapan kami bertemu dengan jarak yang sangat dekat. Aku langsung tersadar. Cepat-cepat aku menjauh dari wajahnya. Dia pun juga kembali duduk seperti semula. Aku yakin sekarang pipiku memerah. Begitu juga dengan Dave. Pipinya sudah memerah.

“Gue mau bilang, kalau sebenarnya gue memang ada pasangan. Tapi masalah c-a-l-o-n.” Ujar Dave setelah keadaan sudah tidak canggung.
“Siapa?” tanyaku dengan tidak bersemangat. Entah kenapa rasanya aku tidak suka Dave membahas tentang pasangannya. Aku belum siap mengetahui siapa nama cewek yang ditaksir oleh Dave. Aku seperti… cemburu.
“Lo.” kata Dave.
Aku melotot tak percaya. Apa katanya tadi? Lo? Maksudnya aku? Oh My God… apakah dia sedang mempermainkanku?
“Gue suka sama lo.” katanya lagi.
Rasanya aku ingin pingsan mendengarnya karena terlalu senang. Dave menggenggam kedua tanganku dan menatap mataku lurus-lurus.
“Lo mau gak jadi pacar gue?” kata Dave.

Tuhan, bilang padaku kalau ini bukannlah mimpi. Karena sekarang, aku sangat senang. Tapi… tiba-tiba aku teringat sesuatu. Pak Tio. Pak Tio sedang melakukan razia pacaran besar-besaran di SMA Jiwa Bangsa. Apa kata satu sekolah kalau ternyata anak Pak Tio sendiri yang berbuat ulah. Aku belum siap menerima gosip-gosip yang akan beredar disekolah.

Aku masih mengingat nasihat Pak Tio agar kami tidak pacaran dulu. Aku melepas genggaman tangan Dave.
“Dave, gue gak bisa.” Kataku dengan perasaan menyesal. Dave terlihat sangat kaget.
“K… kenapa?” tanyanya dengan nada kecewa. Aku menghela nafas berat. Aku melihat raut wajah sedih Dave. Dan itu membuatku merasa bersalah.
“Bokap lo kan—”
“Kalau lo nolak gue karena Bokap gue, please, jangan pikirin tentang itu. Kita bisa backstreet kan?” Dave memotong perkataanku. Aku jadi ragu. Aku ingin memiliki Dave.
“Dave, gue gak bisa.” Aku harap keputusan ini adalah jalan terbaik. Mata Dave sudah memerah. Sepertinya dia ingin menangis. Duh, aku jadi tidak tega melihatnya.
“Aku nolak kamu hari ini, bukan berarti selamanya kita gak akan bisa bersama. Kalau yang namanya jodoh, pasti gak akan lari kok.” Aku menggenggam tangan Dave. Dave tersenyum. Walaupun aku tahu senyuman itu adalah senyum kekecewaan. Dia menghela nafas panjang mencoba untuk mengerti dengan keadaan ini.
“Gue bakal setia nungguin lo. Karena gue yakin, lo adalah orang yang spesial di hidup gue.” Kata Dave. Aku dan Dave sama-sama mempererat genggaman masing-masing.

TAMAT

Cerpen Karangan: Lisa Elisabeth
Facebook: Lisa Elizabeth
Namanya Elisabeth. Bisa dipanggil Lisa. Umurnya 15 tahun dan sedang menempuh pendidikan di SMPN 4 Batam kelas 9. Menulis adalah salah satu hobi yang dia tekuni selain menggambar, menyanyi, membaca, bermain biola, bermain gitar, bermain basket dan lain-lain. Buku A Kuadrat merupakan buku pertamanya yang diterbitkan. Jika ada yang ingin berkorespondensi dengannya, silahkan kunjungi:
E-mail: Lizaelisabeth64[-at-]gmail.com
Instagram: @lisaelisabeth6003
FB: Lisa Elizabeth

Cerpen Cinta Terhalang Guru BK merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Pertama Aku

Oleh:
Aku rasa cinta pertama sulit untuk dilupakan. Saat duduk kelas 5 aku jatuh cinta pada dia, entah dia suka aku atau tidak. Namaku Nishfa dan yang aku sukai itu

Ternyata

Oleh:
“Arin” teriak Dimas saat memanggilku. Aku mendengar suara itu dari belakangku, lalu aku membalikkan badanku melihat ke arahmu dan menjawab “Dimas, ada apa?”. Jantungku mulai berdetak, begitu terpesonanya aku

Sahabatku Pengkhianat

Oleh:
Kenalkan, Nama ku Mei. Pacar ku bernama Kiki, Sosok tampan dan Idaman para wanita. Aku memiliki sahabat bernama Syifa, dia adalah orang yang baik dan mudah bergaul. Ya banyak

Ada Cinta Di Ruang Osis (Part 1)

Oleh:
Ferdi, sang ketua osis. Yah, namanya Ferdi. Tetapi ia lebih akrab dengan panggilannya, si maskot. Panggilan itu berawal saat ia telah memegang jabatan ketua osis SMAN Satu. Dia partnerku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *