Dua Kali

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 March 2018

Rindu ini sungguh meyiksa bathinku…
Semilir angin malam tolong sampaikan pada kekasih jiwaku,
Dikala aku menutup mataku ketika malam aku mengingat wajahnya…
Dikala aku terbangun di pagi hari aku mengingat senyumnya…

Namun apakah engkau tau wahai kekasih hatiku?
Bahwa dalam hatiku dipenuhi dengan rindu untukmu…

Nama gue Yuli sekarang gue kelas XI di SMA Merah Putih salah satu SMA Swasta di Ibu kota. Gue adalah siswa pendiam dan jarang bergaul kalau di sekolah, tapi kalau gue udah dekat dengan seseorang gue juga bisa heboh kok. Gue punya dua orang sahabat, Dinda dan Nesty. Kalau lagi sama mereka gue bisa lebih heboh dari suporter sepak bola di GBK. Hehe…
Gue memang hobi banget nulis baik itu puisi, cerpen maupun cerbung. Gue ngerasa dengan nulis gue bisa meluapkan semua perasaan gue baik itu sedih, marah ataupun ketika galau. Hal itu mungkin karena gue emang pendiam dan jarang ngomong makanya gue lebih suka mengekspesikan perasaan gue lewat tulisan.

“Dinda, Nesty nanti pulang sekolah jadikan ke rumah gue?” tanya gue pada dua sahabat gue.
“Duh gimana ya Li, kayaknya kita gak bisa hari ini deh.” Kata Dinda.
“Kenapa?” tanya gue heran karena kemaren mereka udah fiks banget mau ngerjain pr di rumah gue.
“Pulang sekolah nanti kita mau nonton pertandingan futsal Li. Lo nonton juga kan?” timpal Nesti.
“Kayaknya gue gak nonton deh.” Jawab gue.

“Nanti sore si Putra main loh, yakin Lo gak ikut nonton sama kita?” tanya Dinda.
“Hah! Rindu main juga?” tanya gue.
“Iya Yuli si Rindu Lo itu juga main nanti sore.”
“Ya udah kalau gitu gue ikut kalian aja deh.”
“Dasar plin plan.” Ujar kedua sahabat gue hampir bersamaan. Gue hanya cengengesan mendengar ucapan mereka.

Dia adalah Rindu Eka Putra. Seseorang yang membuat gue betah berlama lama duduk di perpustakaan sambil meluangkan perasaan gue dalam bentuk tulisan. Ya hanya itu yang bisa gue lakukan karena gue gak berani buat bilang kalau gue suka sama dia kalau gue setiap hari merhatiin dia dan membuat satu puisi setiap hari tentangnya. Dia lah inspirasi terbesar gue dalam menulis. Memang banyak siswi di sekolah ini yang menyukai Rindu karena dia memang layak untuk dikagumi. Selain karena parasnya yang elok dia juga memiliki kepribadian yang baik serta otak yang cerdas dia adalah sosok yang sempurna di mata gue.

Gue hanya terpaku tak berkedip melihat sosok yang berdiri di tengah lapangan. Dia lah Putra oh bukan bukan maksud gue Rindu. Badannya yang tegap dan atletis akan membuat semua wanita mengaguminya. Di barisan depan kursi penonton ada Tania yang sedari tadi terus menyorakkan nama Putra. Gue gak tau apa hubungan antara mereka berdua dan gue juga gak mau tau yang gue tau adalah gue suka sama Putra sorry maksud gue Rindu. Tania dan Rindu memang sudah lama dekat gue gak tau sejauh mana hubungan mereka, gue juga gak bermaksud buat cari tau takut nanti akan bikin gue sakit hati.

“Hei tunggu!” seseorang menghentikan langkah gue dari belakang. Gue membalikkan badan dan ternyata Tania. Dia berjalan menghampiri gue.
“Lo manggil gue?” Tanya gue heran.
“Iya. Lo Yuli kan?” gue hanya mengangguk menanggapi pertanyaan itu dengan wajah heran gue.
“Gue denger Lo berbakat nulis puisi dan cerpen yah. Lo berminat gak gabung jadi penulis tetap buat mading sekolah?” Tanya Tania.
“Iya sih gue bisa sedikit. tapi kenapa gue?”
“Yah gak kenapa kenapa. Gimana Lo mau gak?”
“Gue pikirin dulu deh.”
“Ya udah tapi mikirnya jangan lama-lama ya.” Ujarnya
“OK” jawab gue
“Ya udah kalau gitu gue balik ke kelas dulu yah.” Katanya meninggalkan gue yang masih keheranan.

Gue masih bingung kenapa tiba-tiba Tania minta gue nulis buat mading dan dari mana dia tau kalau gue bisa ngarang. Selama ini gue hanya nulis buat gue sendiri dan yang tau hanya Dinda dan Nesty gak mungkin mereka yang bilang ke Tania. Gue langsung menemui kedua sahabat gue tapi mereka bilang mereka gak tau apa-apa. Tapi mereka menyarankan gue buat terima tawaran Tania karena Rindu adalah salah satu penulis buat mading. Tulisan-tulisan Rindu jauh lebih bagus dari tulisan gue tapi kenapa Tania malah minta gue ya?

Akhirnya gue terima juga tawaran Tania karena ini adalah satu-satunya kesempatan gue agar bisa dekat dengan Rindu. Tania bilang gue dan Rindu yang akan bertanggung jawab untuk mengirim tulisan di mading mulai dari cerpen, puisi atau karya ilmiah lainnya. Dan hal itu membuat gue senang bukan kepalang. Hari ini Tania minta gue buat ngumpul dengan pengurus mading untuk menyerahkan hasil karya gue disana juga ada Rindu.

“Teman-teman kenalkan ini Yuli dia akan jadi salah satu penulis buat mading.” Tania mengenalkan gue pada anggota yang lain. Tapi gue benar-benar gugup karena Rindu dari tadi mandangin gue terus. Gue jadi salting.
“Putra Lo sebagai penulis yang lebih senior bisakan tolongin Yuli kalau dia kesulitan.” Ujar Tania pada Putra maksud gue Rindu.
“OK” hanya itu sahutan yang di lontarkan pemuda itu.

“Lo lagi ngapain di sini?” gue kaget dengan suara itu.
“Rindu?” refleks gue memanggilnya dia Rindu.
“Lo lagi nulis ya?”
“Iya. Tapi gue bingung mau nulis apa, gak ada inspirasi.” Jawab gue tanpa memandang wajahnya karena gue terlalu gugup.
“Lo tulis aja apa yang Lo rasain, tulisan itu akan lebih indah bila Lo nulis apa yang Lo rasain bukan apa yang Lo pikirin.” Gue tertegun mendengar kata-kata itu. Itu adalah kata-kata gue untuk menyemangati diri gue sendiri dan sekarang Rindu menyemangati gue dengan kata-kata itu pula. Tapi gue senang dengan itu.

“Lo sendiri ngapain di sini?” tanya gue
“Tadi gue lewat trus liat Lo kayak orang bingung ya udah gue samperin.” Jawabnya
Gue hanya ber-oh panjang mendengar penjelasan Rindu.
“Kenapa sih Lo selalu manggil gue Rindu?” gue jadi bingung mau jawab apa. Gue manggil dia Rindu ya karena gue selalu merindukan dia setiap saat tapi gak mungkin kan gue jawab kayak gitu.
“Oh i..itu karena nama Lo Rindu. Apa salah ya gue manggil kayak gitu. Kalau gitu gue minta maaf.” Kata gue mengulurkan tangan gue untuk memintak maaf. Dia malah tersenyum dan menjabat tangan gue.
“Gak apa-apa kok. Gue malah senang Lo manggil gue Rindu. Karena itu ngingatin gue sama seseorang.” Jelasnya.

Gue sebenarnya gak nyangka bisa ngobrol seakrab ini sama Rindu yang selama ini hanya bisa gue pandangin dari balik rak-rak buku di perpustakaan. Tapi gue ngerasa kalau gue udah sering ngobrol sama dia padahal ini adalah kali pertama, entah dari mana perasaan itu muncul tapi gue gak ngerasa canggung ngomong sama dia seperti yang gue bayangin selama ini. Hati gue bilang kalau gue udah kenal Rindu dari lama, gue gak tau apakah itu hanya perasaan gue atau entahlah gue sendiri juga bingung.

“Yuli besok Lo ada acara?” gue kaget tiba-tiba Rindu nanyain itu sama gue. Tentu saja gue senang tapi gue juga ngerasa gak enak sama Tania dia kan udah baik sama gue selama ini masak gue mau nusuk dia dari belakang sih.
“Kenapa Ndu?” tanya gue
“Kalau Lo gak ada acara gue mau ngajak Lo ke taman besok.”
“Ngapain ke taman?”
“Bantuin Lo ngaranglah ngapain lagi. Lo bisa atau gak nih”
“Ya udah. Ok deh.”
“Sampai ketemu besok ya.” Katanya berlalu meninggalkan gue. Gue terkejut melihat bayangan Tania yang tadi berdiri tak jauh dari kami gue segera mengejarnya karena gue gak mau dia salah paham sama gue.

“Tania tunggu!” Tania menghentikan langkahnya.
“Ada apa Li?”
“Tan Lo jangan salah paham ya, gue sama Rindu gak ada apa-apa kok. Dia ngajak gue ke taman Cuma ingin bantuin gue ngarang.” Jelas gue.
“Iya Li gue tau. Lagian kenapa Lo harus jelasin ini ke gue?” tanyanya
“Gue gak mau ngerusak hubungan Lo sama Rindu Tan. Lo itu udah baik banget sama gue.”
“Gue sama Putra gak ada hubungan apa-apa. Memang gue suka sama dia gue akuin itu tapi Putra udah suka sama orang lain dan gak akan ada tempat buat gue di hatinya.” Tania terlihat sangat sedih. Gue sendiri juga ikut sedih bukan karena Tania tapi karena Rindu udah punya seseorang yang ngisi hatinya. Dan harapan gue udah pupus, Tania saja yang sangat baik dan cantik tak menggoyahkan hatinya apalagi gue yang baru ia kenal dan biasa-biasa saja. Gue hanya siswi biasa saja yang gak punya keistimewaan apapun sampai dia bisa menyukai gue.
“Putra gak bisa ngelupain cinta pertamanya bahkan dia kembali ke Indonesia hanya buat ngejar cintanya itu. Gue juga gak tau siapa orangnya tapi beberapa hari lalu dia bilang ke gue kalau dia udah nemuin cinta pertamanya itu.” Jelas Tania.

Gue udah gak bisa nahan air mata gue mendengar penjelasan Tania. Seharusnya gue sadar semua akan berakhir seperti ini dan dari awalpun gue udah tau kalau cinta gue hanya akan membuat hati gue terluka tapi hati gue terlalu gigih mencintai Rindu. Dari pertama menyukai Rindu gue udah tau konsekuensinya tapi gue gak pernah menghiraukan itu gue hanya terlena dengan keindahan ciptaan Tuhan itu hingga gue lupa diri dan jatuh cinta terlalu dalam padanya.

Mengapa cinta ini begitu menyakitkan?
Mengapa bukan bahagia yang aku raih?
Mengapa malah sakit yang kurasa?
Kau telah melukai hatiku meski tanpa kau sadari…
Sakit…
Mengapa sesakit ini?
Cinta sungguh kejam dirimu…
Kau biarkan ku terlena oleh cinta yang semu,

Gue gak tau harus gimana sekarang terlalu sakit mengetahui semua ini. Aku bahagia kok Ndu meski hanya aku seorang yang merasakan rasa ini. Aku bahagia pernah mengenalmu aku bahagia kau pernah tersenyum untukku aku bahagia pernah singgah di hidupmu meski akan kau lupakan. Rasanya duniaku benar-benar hancur. Aku akan melupakanmu Rindu agar aku tak terus merindukanmu.

“Yuli” seseorang memanggil gue. Gue kenal suara itu, itu suara Rindu.
“Ada apa?” Tanya gue tanpa melihat wajahnya.
“Kenapa Lo gak datang ke taman kemaren. Lo tau gak gue nungguin Lo sampai sore.”
“Sorry gue lupa.”
“Udah itu aja?”
“Maksud Lo?” tanya gue
“Lo kenapa sih Li. Lo ada masalah?”
“Gak ada. Sorry ya Ndu kayaknya gue gak bisa lagi deh nulis buat mading sekolah.”
“Kenapa?”
“Gue sibuk. Ya udah gue ke kelas dulu yah.” Gue langsung beranjak meninggalkan Rindu yang tengah kebingungan. Gue sengaja ngelakuin ini sebagai usaha gue buat ngelupain Rindu karena kalau gue masih ketemu sama dia pasti gue gak akan bisa ngelupain dia.

Beberapa hari terakhir Rindu terus nyariin gue tapi gue selalu punya alasan buat gak ketemu sama dia. Sebenarnya gue kangen banget sama dia tapi gak ada gunanya rasa kangen gue ini hanya akan membuat gue makin susah ngelupain Rindu.

“Yuli.” Terdengar suara Rindu di belakang gue. Gue segera mempercepat langkah gue tapi terlambat tangan gue udah terlanjur di tangkapnya. Gue berusaha melepaskan genggamanya dari pergelangan tangan gue.
“Lepasin gue.” Bentak gue.
“Gak akan” dia balik membentak
“Gue bilang lepasin gue.” Gue meronta sehingga genggaman Rindu yang kuat terlepas.
“Lo kenapa sih Li kenapa Lo selalu menghindar dari gue?”
“Gue gak papa” jawab gue ketus
“Gak mungkin gak ada apa-apa” dia megang bahu gue dengan kedua tangannya sehingga gue menatapnya sejenak. Namun buru-buru gue mengalihkan pandangan gue karena gak mau terjebak dalam mata teduh pemuda ini.
“Apa apaan sih” gue tambah marah dengan sikap Rindu barusan.
“Lo kenapa ngindarin gue pakai ngundurin diri dari pengurus mading lagi.”
“Gue emang ngerasa gak betah aja di sana.”
“Trus kenapa Lo selalu menghindar dari gue?”
“Gak kok. Perasaan Lo aja kali.” Elak gue
“Sekarang Lo harus ikut gue.” Kata Rindu menarik tangan gue gue berusaha melepaskan genggamannya namun bukan terlepas malah genggaman itu makin kuat melingkari pergelangan tangan gue.

“Putra lepasin tangan gue.” Bentak gue. Dia menghentikan aksi menarik gue dan melepaskan tangan gue. Dia menatap gue tajam tapi gue balas menatap matanya.
“Lo barusan manggil gue Putra. Kenapa?” tanya nya heran gue gak mengerti apa maksudnya bukankah orang orang memanggilnya Putra lalu kenapa dia begitu kaget saat gue yang manggil dia putra.
“Baru kali ini Lo manggil gue Putra.” Dia tersenyum kecil. memang ada yang aneh dengan hal itu batin gue.
“Maksud Lo?” tanya gue heran
“Yah seumur umur gue baru dengar Lo manggil gue dengan nama selain Rindu.”
“Seumur umur? kita aja kenal baru beberapa minggu lalu.” Dia kembali tersenyum entah apa maksud dari senyuman itu tapi gue gak mau tau. Gue Cuma mau pergi ninggalin dia dan tempat ini.

“Lo ingat tempat ini gak?” tanya nya. Gue mrngedarkan pandangan gue dan gue baru ngeh ini adalah taman dekat SD gue. Bagaimana dia bisa tau taman ini dan bagaimana dia tau juga gue suka taman ini.
“Lo kok tau tempat ini?” tanya gue heran karena gue udah lama banget gak kesini karena memang sekarang rumah gue udah jauh dari tempat ini.
“Gue gak mungkin lupa tempat ini.” Gue hanya menatapnya heran mendengar apa yang diucapkannya barusan.
“maksud Lo?” tanya gue heran banget sumpah.
“Gue gak mungkin lupa tempat ini dulu ada seorang anak perempuan manis yang selalu duduk di taman ini sambil menulis cerpen. Dulu setiap hari gue hanya bisa merhatiin dia dari jarak yang gak dekat.” Gue tertegun mendengar penuturanya.
“Gue gak bisa dekatin dia sebagai seorang teman karena dia selalu buat perasaan gue gak tenang jadi gue dekatin dia sebagai pengacau yang akan mengacaukan konsentrasinya saat hendak menulis. Gue tau dia akan membenci gue tapi gue gak punya cara lain agar gue bisa mendengar suaranya meskipun yang keluar dari mulutnya hanyalah umpatan dan sumpah serapah tapi gue ngerasa senang bisa mendengar suara gadis itu.” Jelasnya
“Dan Lo tau siapa gadis kecil yang gue ceritaiin itu?” tanyanya pada gue. Gue menggeleng lemah. Dia menunjuk gue dengan jari telunjuknya.
“Kamu” katanya.

Gue semakin heran dengan ceritanya. Seperti sebuah dongeng saja dia bilang gadis kecil itu gue? Hah GUE? Jangan jangan dia itu…
“Jangan bilang Lo itu Eka?” tanya gue menyelidik. Dia malah tertawa medengar itu
“Gue memang Eka.” Jawabnya sambil tersenyum ke arah gue.
“Tapi Eka gak bisa ngarang dan paling benci nulis, dulu aja tugas karangan dia gue yang buatin.” Ups gue keceplosan
“Dulu gue emang benci nulis tapi semenjak gue pergi ke Jerman saat gue rindu sama Lo gue pasti nulis jadi sejak saat itu gue suka nulis. Dan soal puisi yang Lo selipin diam diam ke tas gue sebenarnya gue juga tau kalau itu dari Lo.”
“Tapi…” gue masih belum percaya bahwa Putra adalah Eka cinta pertama gue yang bikin gue gak bisa jatuh cinta sama laki-laki lain. Dan gue benci banget sama dia karena hal itu.
“Udah gak ada tapi-tapian. Gue tanya sama Lo nama lengkap gue siapa?” gue coba mengingat nama itu meskipun nama itu sudah melekat di otak gue. Rindu Eka Saputra. OMG dia adalah Eka orang yang paling gue benci dalam hidup gue. Eka masih memecah rekor sebagai orang yang paling gue benci dan bagaimana bisa dia adalah Putra orang yang sangat gue kagumi. Mereka adalah orang yang sama?
“Udah gak usah kaget. Harusnya kamu udah sadar saat kamu manggil aku Rindu. Ingatkan dulu kamu pernah bersumpah kalau kamu gak akan pernah manggil nama aku selain Rindu?”

Gue pasti sudah gila gimana mungkin Eka adalah Putra dan Purta adalah Eka. Ini sungguh membuat gue gila. Eka orang yang gue sangat benci. Bukan tanpa alasan gue sangat membenci Eka bukan karena kejahilan yang dia lakukan pada gue tapi karena sikapnya yang menghilang dan ninggalin gue sendirian tanpa mengucapkan sepatah kata pun terlebih dahulu dan itu membuat gue selalu kesepian, gue memang sayang sama Eka gue gak tau sikap jahilnya pada gue membuat gue jatuh cinta. Memang aneh tapi itulah yang terjadi. Gue berpikir sejenak. Di umur gue yang hampir 17 tahun gue hanya jatuh cinta dua kali itu pada Eka dan Putra yang ternyata adalah orang yang sama. Oh kenapa ini Tuhan?

“Gimana Lo bisa tau kalau ini gue?” tanya gue masih dengan sisa penasaran gue.
“Neng kalau udah cinta ada 1001 cara untuk mengetahuinya.” Jawabnya singkat
“Trus kenapa dulu Lo ninggalin gue tanpa bilang apapun dan sekarang kenapa Lo kembali?” tanya gue.
“Nanyanya satu satu dong neng. Kepo amat deh.”
“Udah jawab aja.” Gue udah gak sabar ingin mendengar penjelasannya
“Ok maaf dulu aku pergi gak pamit dulu tapi aku pergi karena nenek aku meninggal di Jerman jadi aku harus pindah ke sana dan kedua orang tuaku harus mengurus bisnis nenek di sana. Aku kembali karena Rindumu ini merindukanmu.” Dia tersenyum selesai menyelesaikan kalimatnya.

“Kenapa baru sekarang Lo rindu sama gue?”
“Aku merindukan kamu setiap saat Li. Saat tamat SMP aku ingin kembali ke indonesia dan sekolah di sini tapi kedua orang tuaku tak mengizinkanku karena alasan aku belum bisa dipercaya hidup sendirian di Jakarta mereka takut aku akan jadi anak yang salah jalan. Tahun kemaren aku berusaha keras agar aku bisa kembali ke sini dengan mengucapkan sejuta janji pada kedua orangtuaku. Sampai akhirnya mereka menyetujui permintaanku”

“Trus kenapa baru bilang sekarang?”
“Aku sudah ingin memberitahumu saat aku mengajakmu ke taman waktu itu tapi kamu gak datang. Setelah itu kamu menghindar dariku. Bagaimana caranya aku bisa bilang kalau kamu selalu bersembunyi saat aku mencarimu ke kelas.” Jelasnya. aku jadi merasa malu. Kenapa aku begitu marah saat tau dia telah menyukai seseorang dari masa lalunya yang ternyata adalah aku. Berarti selama ini aku mengutuk diriku sendiri karena membuat Rinduku menyimpan perasaan terhadapnya.

“Sekarang biar aku yang bertanya.” Ujar Rindu
“Tanya apa?”
“Kenapa kamu menghindari aku selama ini?” gue bingung mau jawab apa.
“Ii.. itu karena gue sakit hati setelah tau kalau Lo udah menyukai orang lain. Dan gue pengen ngelupain Lo makanya gue ngindar dari Lo.” Jawab gue
“Makanya neng jangan mudah ngambil kesimpulan sendiri. Gak nanya dulu sih siapa orang yang aku sukai itu.” Jelas Rindu sambil tersenyum. Sebuah senyuman untuk meledek gue.
“Memangnya siapa?” sebenarnya gue udah tau jawabanya tapi gue mau dia bilang langsung sama gue.
“Kamu tau kok jawabannya.”
“Gue ingin dengar langsung dari mulut Lo”
“Orang itu adalah kamu. Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu dan yang pasti aku rindu banget sama kamu Yuli. Dan boleh gak neng gak usah gue guean lagi?” Gue tersenyum mendengar kata katanya.
“Iya iya deh. Gue maksud gue aku juga sayang dan cinta sama kamu dan aku juga sangat merindukanmu Rindu.” Kata gue.

Dia tersenyum menatap gue. Gue gak nyangka mungkin inilah yang dinamakan takdir. Gue jatuh cinta dua kali pada orang yang sama. Dan gue mengaguminya dua kali pula. Tapi gue senang akhirnya Rindu gue kembali. Dia adalah cinta pertama gue dan akan menjadi cinta terakhir gue.

THE END

Cerpen Karangan: Yulia Mardesi
Facebook: Yulia Mardesy

Cerpen Dua Kali merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Untuk 3 Hati yang Berbeda

Oleh:
“kita kesini lagi kak?” kataku memastikan. Ia hanya menganggukkan kepala saja tanpa ada satu kata pun yang ku dengar dari mulutnya. Sebuah mobil Honda jazz berwarna putih berhenti di

Postingan Facebook Dan Buku Diary

Oleh:
Sore itu, aku tiba di rumah. Perlahan ku buka pintu rumahku. Ku dapati kedua orangtuaku telah menungguku dengan raut wajah yang mengerikan. Ibaratkan seekor singa yang siap menyerang musuhnya.

Jika Kau Sahabatku

Oleh:
Kriiiing!!! Bel tanda istirahat berbunyi. Muri-murid berhamburan keluar kelas. Ada yang menuju kantin, ada yang menuju perpustakaan, ada pula yang menuju musola. Amel hendak menuju ke luar kelas ketika

Misteri WC Sekolah

Oleh:
Perkenalkan namaku Anne aku baru masuk ke pesantren Nurul Iman, kata teman temanku pesantren ini sangat angker tapi aku tidak percaya karena aku tak pernah percaya dengan hal semacam

Hargai Aku

Oleh:
Rasanya sangat pusing sekali melihat rumus yang bertebaran dimana mana. Bagaimana tidak? Saat ini aku sedang mengerjakan tugas fisika yang cukup identik dengan rumus. Aku memijat pelipisku, untuk menghilangkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Dua Kali”

  1. lol says:

    ini knp ya nama dibulet buletin, sini eka, sana putra, dipanggil rindu -_-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *