First Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama
Lolos moderasi pada: 9 January 2016

Langit yang cerah menjadi kelabu. Mentari tak lagi menyinari dunia ini. Mendung kembali menyelimuti. Seakan petir menyambar tubuhku hingga ku terhempas. Menatap sendu dari kejauhan dirimu yang pergi meninggalkanku. Membawa sejuta harapan, kebahagiaan, cinta, dan kasih yang ku miliki. Kau bawa semua harapan yang kau beri padaku. Tersentak ku dari lamunan yang menghampiriku. “Astaga, ternyata ini hanyalah lamunanku saja.”

Setelah beberapa waktu kejadian itu, pikiranku tak lepas darinya. Ku selalu terbayang akan dirinya. Prima namanya. Dia adalah pemuda yang berhasil menjadikanku seorang wanita yang sangat berarti. Awal perkenalan ku dengannya hanyalah sebatas teman saja. Dia pemuda yang baik, selalu ceria, cerdas, ramah, dan juga pemuda yang dewasa. Ya, walau usia kami masih sangat muda, tapi untukku dia adalah pemuda yang cukup dewasa. Semua masalah ia selesaikan tanpa jalan kekerasan.

Belakangan ini ku dengar dari teman-temanku, ada seorang wanita yang menyukainya, Dina namanya. Dina ini adalah wanita yang bisa dibilang kurang ramah, terkesan cuek, namun dia pintar, smart, dan juga baik. Dina adalah teman sekelasku, begitu pun Prima. Mengetahui hal itu, aku langsung saja menjadi mak comblang untuk mereka berdua. Aku berusaha mendekati Prima untuk memberitahu bahwa Dina menyukainya. Aku pun bertanya pada Prima, apakah dia juga memiliki rasa yang sama? Pagi itu aku bertemu Prima di kantin sekolah, terjadi sedikit perbincangan di antara kami berdua.

“Pagi Prim,” sapaku.
“Pagi Ana.” balas Prima.
“Prim aku mau Tanya nih sama kamu, boleh gak?” tanyaku tanpa basa-basi.
“Oh silahkan aja mau tanya apa?”

“Jadi gini, kamu udah tahu kan gimana perasaan Dina ke kamu, terus sampai kapan kamu mau gantungin dia terus? kamu juga suka kan dengannya?” tanyaku penasaran.
“Emm gimana ya An, aku tuh anggap Dina hanya sebatas teman aja kok gak lebih. Aku kan juga gak kasih harapan yang besar ke dia jadi ya aku gak ngerasa kalau aku PHP-in dia..” jawab Prima. Dengan santainya. “Oh gitu ya.” jawabku sembari bergegas pergi karena bel sudah berbunyi.

Pagi itu suasana di kelas sangat ribut sekali karena guru tidak masuk pada jam pertama. Ada yang nyanyi-nyanyi, ada juga yang ngobrol. Namun berbeda denganku dan juga Prima. Entah mengapa aku merasakan hal yang tak pernah ku rasakan dengan yang lain. Prima tepat duduk di depan tempat dudukku. Saat dia menatapku, aku pun tertunduk dan tersipu malu. Begitu pun dengannya.

Tiba-tiba getar hp-ku mengagetkanku. Aku membuka pesan dan ternyata itu dari Prima. Aku spontan terkejut. Dina yang berada di sampingku pun bertanya apa yang terjadi. Kemudian aku pun bilang ke Dina bahwa Prima mengirim pesan kepadaku. “Mungkin dia tertarik padamu Ana.” kata Dina mengagetkanku. Aku pun merasa tak enak hati padanya.
“Udah gak usah merasa tidak enak begitu. Aku tahu kok kalau dia tidak suka denganku. Tapi ya sudahlah mungkin dia tidak ditakdirkan denganku melainkan bersamamu.” kata Dina padaku.

Aku tahu Dina jika soal percintaan gini yang memang tidak terlalu diprioritaskan. Berbeda denganku. Aku yang soal perasaan ini sangat terbawa sekali. Mudah hanyut dalam perasaan. “Kring…” bel sekolah kembali mengejutkanku lagi. Aku pun bergegas merapikan buku-buku ku kemudian melaksanakan tugas harian yaitu piket kelas. Tiba-tiba saja Prima datang menghampiriku dengan mengulurkan tangannya padaku.

“Ada yang bisa dibantu?” Tanya Prima dengan senyumnya yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak.
“Emmm eh Prima. Ti.. ti.. tidak kok.” jawabku gugup. Kemudian dia pun mengambil sapu dari tanganku.
“Jangan, jangan. Ini kan tugas perempuan.” kataku sembari mengambil sapu itu dari tangannya.”

Hari pun sudah hampir sore. Ya, seperti biasa aku menunggu Ayah atau Ibuku menjemputku. Jika tidak dijemput maka aku pun harus pulang dengan berjalan kaki. Di tengah perjalanan aku bertemu dengan temanku. Dia menawarkanku untuk ikut pulang dengannya. Putri namanya. Dia seorang anak manajer di salah satu perkebunan. Dia pindahan dari Palembang. “Makasih ya untuk tumpangannya Put..” kataku kepadanya sembari melambaikan tangan.

Hari ini sungguh melelahkan untukku. Aku bergegas masuk ke dalam rumah untuk mandi, makan, kemudian beristirahat. Hari sudah menjelang magrib. Aku pun masih berbaring di tempat tidur. Tiba-tiba saja hp-ku bergetar.Ternyata ada pesan dari Prima. Dia mengingatkan kepadaku untuk tidak lupa makan, salat, belajar, lalu beristirahat. Aku pun langsung merasakan getaran dalam dadaku. Entah apa yang terjadi padaku saat ini. Jantungku berdegup kencang. Mataku tak lepas dari pesan itu.

Aku merasakan hal yang aneh. Yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. Apakah ini yang namanya cinta? Apakah seperti ini yang dirasakan orang-orang jika tengah jatuh cinta? pikiran-pikiran itu pun terus saja menari di dalam kepalaku hingga membuatku susah tidur. Hari sudah larut malam. Sebelum tidur, entah mengapa ada dorongan yang menyuruhku agar mengucapkan selamat malam pada Prima. Aku pun mengambil ponselku dan mengirimkan pesan selamat malam pada Prima.

Ternyata Prima membalasnya. Dia membalas pesanku dengan senyuman yang membuat hatiku semakin tak karuan. Aku pun bertanya kepadanya kenapa dia belum tidur. Dia bilang dia tidak bisa tidur karena masih terbayang denganku saat piket tadi siang. Waduh, jantungku pun makin tak karuan. Serasa mau copot jantungku ini. Aku hanya bisa tersenyum malam itu. Tak beberapa lama aku pun tertidur.

Pagi ini sangat cerah. Bagai berada di Negara yang sedang bermusim semi. Semua kelopak bunga bunga ini merekah dengan indahnya. Wanginya yang sangat luar biasa. Membuat siapa saja yang mencium aroma bunga ini seakan terkena sihir. Ya, aku sangat senang Pagi ini. Aku sangat bersemangat pergi bersekolah. Entah setan apa yang membuatku aneh seperti ini sampai sampai temanku pun terheran-heran denganku hari ini.

“Kenapa kamu Ana?” sapa temanku dengan nada bingung.
“Hehe gak kenapa-kenapa kok..” jawabku dengan senyuman seceria mungkin.
“Cie.. ada yang lagi berbunga bunga nih hatinya..” timpal Dina menghampiriku.
“Ah, Dina kamu bisa aja..” jawabku dengan malu.
“Ya udah yuk masuk kelas..” kata temanku menggandeng tanganku.

Sesampainya di depan pintu berdirilah pemuda yang telah membuatku berbunga-bunga. Ya, Prima yang berada di depan pintu kelasku itu tiba-tiba saja menyapaku. “Selamat Pagi Ana.” sapa Prima dengan senyumnya yang sangat sangat menggetarkan hatiku. “Pagi juga Prima.” balasku dengan senyum yang tak kalah manisnya.

Aku pun kemudian masuk kelas untuk meletakkan tas ku kemudian berbaris untuk melaksanakan apel pagi. Apel pagi telah selesai. Barisan telah dibubarkan. Namun, tanpa aku duga Prima berjalan di sampingku. Teman-teman yang melihatnya pun langsung saja meledek dan berkicau seperti burung yang kelaparan. Aku pun malu, grogi, senang, campur aduklah hatiku rasanya.

Di sekolah, aku dan Prima tak banyak berbicara. Kami hanya selalu diam, tatap-tatapan dengan penuh makna, dan hanya bisa berkomunikasi lewat senyum yang kami lontarkan. Hari terus berjalan seperti itu. Lama juga kami menjadi teman yang begitu dekat. Siang itu, keadaanku kurang sehat. Aku pun duduk di belakang meja. Tiba-tiba saja Prima menghampiriku dengan membawa segelas air putih hangat dan sebutir obat.

“Ini minum dulu air dan obatnya Ana biar agak mendingan.” kata Prima mengejutkanku.
“Pri.. Pri.. Prima…” Aku pun langsung tersentak bangun.
“Ayo diminum obatnya.” timpal Prima lagi padaku.
“Emm.. aku gak apa-apa kok Prim.” jawabku sekenanya.
“Jangan gitu dong. Emang kamu gak sayang apa sama badan kamu?” timpal Prima lagi meyakinkanku agar mengambil segelas air putih dan obat yang digenggamnya.

“Iya. Makasih ya Prima. Kamu kenapa care banget sama aku?” tanyaku padanya.
“Emm, anu.. hehe gak apa-apa kok. Emang ada yang marah ya kalau aku care denganmu?” jawab Prima dengan gugup sembari meledekku.
“Ah, kamu bisa aja Prim. Aku malah makasih sama kamu karena udah mau care seperti ini denganku. Lagian siapa juga yang marah.” jawabku seadanya.
“Ah masak sih gada yang marah?” Tanya Prima lagi mengggodaku.
“Ya gak lah Prim. Entar ada yang marah lagi sama aku karena kamu care denganku..” timpalku meledek Prima. Dia pun hanya tersenyum saja.

Kejadian siang itu membuatku selalu terbayang. Mungkinkah aku… Ah tidak mungkin. Mana mungkin Prima menyukaiku. Lamunanku pun buyar seketika karena bel sudah berbunyi. Aku pun bergegas merapikan buku-bukuku dan pulang ke rumah. Saat itu aku pulang jalan kaki karena kebetulan orangtuaku tidak bisa menjemputku. Di tengah perjalanan, aku bertemu dengan Prima yang sedang menunggu angkot.

“Hai Prim.” sapaku mengagetkan Prima.
“Ehh hai Ana.” jawab Prima.
“Nunggu angkot ya Prim?” tanyaku ingin tahu.
“Iya nih, loh kamu pulang kok jalan kaki?” tanya Prima kembali.
“Hehe.. iya nih kebetulan orangtuaku gak bisa jemput aku jadi aku pulang jalan kaki deh..” jawabku sekenanya.
“Emm Ana angkotnya uda datang nih. Aku pulang dulu ya. Hati-hati di jalan Ana..” kata Prima sembari melambaikan tangannya kepadaku.
“Dah.. hati-hati juga Prima..” kataku mengakhiri pertemuan siang itu.

Huh.. hari ini sungguh hari yang melelahkan. Aku pun merebahkan diriku ke tempat tidur. Rasanya semua persendianku hendak lepas. Sungguh letih ku rasa hari ini. Entah apa yang ku rasakan saat itu hingga aku tertidur pulas hingga matahari mulai terbenam. “Astaga.. udah hampir magrib. Kenapa aku jadi ketiduran gini sih..” omelku sambil bergegas mengambil handuk untuk mandi. Selesai aku mandi, tiba-tiba saja ponselku berdering. Aku pun mengangkat telepon dari nomor yang tidak aku ketahui itu siapa.

“Halo Ana..” terdengar suara pemuda dari telepon di seberang sana.
“Iya halo, maaf ini siapa?” tanyaku menyelidiki siapa gerangan orang yang meneleponku ini.
“Ini Prima. Aku ganggu waktu kamu gak?” tanyanya.
“Oh.. tidak, tidak. Ada apa Prim?” tanyaku dengan sangat penasaran.
“Emm.. ini..emm.. anu…” Jawabnya dengan terbata-bata.
“Iya ada apa?” tanyaku terheran-heran.
“Aku.. besok ingin bicara dengan kamu boleh An?” tanya Prima dengan penuh harapan.
“Boleh boleh, tapi…” tanyaku terputus. Ternyata ponselku habis baterai.

Ya sudahlah ku putuskan untuk tidur saja. Tetapi ajakan Prima tadi sungguh membuatku terus terbayang dan tidak bisa tidur. Aku pun terus memaksa menutup mataku agar tidur. Tapi tidak bisa juga. Dengan kesalnya aku pun mengambil buku di lemari kemudian membacanya. Yang benar saja, belum hampir dua lembar ku baca aku sudah tertidur pulas.

Ini adalah hari yang ku tunggu-tunggu dengan penuh penasaran. Penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan Prima kepadaku. Saat itu suasana di sekolah masih sangat sepi. Aku pun melangkahkan kaki menuju kelasku yang benar-benar terlihat belum ada seorang pun yang dating. Aku membuka pintunya dan ternyata… “Prima…” tanyaku kebingungan. Terlihat di setiap sudut kelasku penuh dengan lilin dan bunga yang begitu indah. Dan tertulis juga namaku yang berhiaskan dengan bunga-bunga yang sangat-sangat indah.

“Ana. Cukup lama aku mengenalmu. Kamu terlihat sungguh berbeda dari teman wanitaku yang lain. Aku mengagumi kepribadianmu. Aku sangat ingin menjadikanmu wanita yang berarti dalam cerita hidupku ini. Aku ingin mengukir indah namamu di setiap hembusan napasku. Aku merasa nyaman bisa di dekatmu dan terus menatapmu. Aku merasakan kehangatan yang tak bisa ku dapat dari wanita lain. Aku tak mengerti apa yang terjadi padaku ketika ku mengenalmu. Ku merasakan getaran yang selalu hadir ketika ku bertemu denganmu. Aku merasakan gejolak yang tak pernah ku alami sebelumnya. Entah apa namanya.”

“Mungkinkah ini cinta? benarkah kau wanita pertama yang memberikan getaran-getaran aneh ini? Jika iya, maka akan aku katakan kepadamu saat ini juga bahwa aku jatuh hati padamu Ana..” itulah yang dikatakan Prima kepadaku hingga membuatku meneteskan air mata. Ternyata yang terjad padaku selama ini juga terjadi padanya. Aku pun merasakan hal yang sama dengannya. Mungkinkah aku mencintainya? Apakah benar aku juga menyayanginya?

Ku tak mengerti ini. Dan aku pun tak tahu harus mulai berkata dari mana. Dan jika saja dia tahu bahwa jauh di dalam lubuk hatiku ini juga tersimpan nama dia. Prima adalah laki-laki yang membuatku merasakan yang namannya jatuh cinta. Dialah pemuda yang mengajariku banyak hal. Dia juga menjadikanku seorang wanita yang amat beruntung.
“Ana.. maukah kau menjadi teman hidupku?” tanya Prima sembari memberi setangkai mawar kepadaku. Tanpa berkata-kata lagi, aku pun mengambil bunga itu tanda bahwa aku juga ingin dia menjadi teman hidupku.

Tamat

Cerpen Karangan: YMA
Facebook: Lia Lika

Cerpen First Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenanganku dan Tentangnya

Oleh:
Lima belas tahun aku menyimpan rahasia ini. Bahwa aku mengalami masa kecil yang buruk. Kemurungan demi kemurungan pada semua hari yang kulalui. Aku tidak dapat menceritakannya ke siapapun. Ya,

Cinta Pertama Putih Merahku

Oleh:
“Cinta pertama boleh jadi cinta yang tak terlupakan yang pernah hadir dalam kehidupan kita, yang tak sedikit orang bisa melupakan cinta pertamanya karena moment itu sangat mengesankan saat itu

Kekasih Yang Tak Sempat Ku Miliki

Oleh:
Nama aku Dira. Aku adalah seorang mahasiswi di salah satu universitas yang terkenal di kotaku. Banyak orang yang berpikir bahwa di kota metropolitan seperti ini banyak kaula muda yang

My First Love

Oleh:
Hay, perkenalkan. Aku Gabby Fadilla, panggil saja Dilla. Hari ini hari pertamaku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). “Hey! Apa kau baik-baik saja?” Teriak seseorang. Aku tak mengenalnya.

Cinta Pertama

Oleh:
Bunyi burung yang berkicau begitu indah, ditambah lagi langit yang mendung menambah kan hawa yang sejuk di pagi ini… “Eh ra lo gak papa tuh ngeliatin doi lagi sama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *