Menunggumu Bukan Pilihan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama
Lolos moderasi pada: 21 April 2017

Pagi ini seperti pagi sebelumnya, aku duduk di teras rumah mungil ini ditemani secangkir teh. Tetesan-tetesan air yang membasahi dedaunan, kicauan burung yang terdengar merdu menjadi pemandangan menarik bagiku. Sudah hampir 2 tahun aku di desa ini, salah satu desa terpencil di ujung pulau Sulawesi. Aku masih belum percaya sudah di tempat ini selama itu. Jauh dari kebisingan dan kemacetan kota Makassar. Jauh dari Ibu dan Bapak. Aku termenung cukup lama, pandanganku kosong. Entahlah, ada yang ingin aku hindari. Semakin dipungkiri semakin sering aku memikirkannya.

“Bu Ame. Bu.. bu, kok ngelamun bu?”. Tanya bi ida, pembantu yang setia menemaniku selama aku di sini.
“ahh.. tidak bi, Cuma lagi menikmati udara pagi saja”. Elakku

Mentari semakin meninggi seakan menunjukan kekuatannya. Semakin kejam membakar seisi bumi. Akhir-akhir ini memang cuaca semakin panas, nampaknya bumi memang semakin tua. Aku buka jas kerjaku lalu kusandarkan kepalaku di sofa ruang kerjaku. Mataku terasa berat, belum lagi terlelap tiba-tiba “Assalamualaikum, bu dokter ada kiriman”. suara si rahman mengagetkanku.
“Waalaikumsalam, iya man masuk aja nggak dikunci kok”. Jawabku.
Seorang pemuda berusia 13 tahun muncul dari balik pintu, lalu dia tersenyum padaku dan kembali mengulang kata-katanya beberapa menit lalu “Bu, Dok. Ada kiriman dari Makassar, kayaknya dari Ibunya Bu Dokter”. Kata maman sambil menyodorkan bingkisan itu padaku.
“Oh iya man, makasih ya”. Jawabku. Aku baru ingat beberapa hari yang lalu aku meminta Ibu untuk mengirimkan novel-novel kesayanganku. Di desa ini sangat minim toko buku.

Tumpukan-tumpukan novel itu membuatku semakin merindukan rumah, Ibu dan Bapak. Serasa seperti kembali ke ruang nostalgia. Aromanya seperti aroma kamarku. Aku rapikan novel-novel ke rak buku satu per satu, entah kenapa saat aku pandangi satu per satu novel itu, mereka seperti punya cerita tersediri dalam memoriku. Lalu aku pandangi novel berikutnya, novel yang berjudul “Warna rindu” karya Adelia Sarah. Seperti ada yang bergejolak dalam hatiku saat aku pandang novel itu. Dadaku sesak, nafasku serasa berat. Aku terdiam, fikiranku melayang, meninggalkan tubuhku melewati atap rumah dan menembus cakrawala membawaku pada masa beberapa tahun yang lalu.

Dia seperti kafein dalam secangkir kopi. Pahit tapi membuatku ingin terus menerus meminumnya. Menimbulkan rasa senang tapi efek lainnya tidak baik bagi tubuh. Aku selalu menggambarkan dia seperti itu. Sore itu, 29 Agustus 2009 hari ulang tahunku yang ke tujuh belas tahun. Aku sendiri di rumah. Cuaca di luar sedang hujan. Handphoneku berdering. Dengan segera aku tatap layar benda merah berbentuk persegi itu. Tak ada nama penelepon tapi, akhiran nomor Handphone itu membuatku tersenyum senang. Aku memang tak pernah menyimpan nomor Handphonenya toh aku sudah menghafalnya.
“Lagi apa, Aku kangen”. Tanpa salam dan basa basi dia mengatakan itu padaku. Entah kenapa setiap yang dia lakukan selalu saja aku rasa sempurna. Namanya Erwin, dia teman sekelasku saat di SMA. Dimulai dari pertemanan, kebiasaan bersama akhirnya benih-benih suka itu tumbuh. Dia cinta pertamaku. Aku tahu perasaannya padaku, begitupun sebaliknya. Tapi ikrar yang dinamakan pacaran tidak pernah ada, aku tak butuh toh kami sudah seperti orang pacaran dan yang terpenting aku bahagia itu cukup.

Tak terelakkan aku jatuh dalam kisah yang kami buat. Aku terjebak, tak bisa lari dari semua hal tentangnya. Dia seperti kebetulan yang melintas dalam lamunan malam, tak sengaja singgah dan membawaku pergi. Dengan segala rindunya dia membuatku jatuh dan mengakui perasaan dalam hatiku adalah cinta. Aku merasa memiliki dia karena rasa memiliki itu takut kehilangan pun muncul. Semakin lama aku semakin kasmaran, aku tak bisa memandang ke arah lain selain ke arahnya. Aku fikir dia juga akan seperti itu ternyata aku salah. Erwin meniggalkan aku dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan tanpa status yang kami jalani, celakanya dia lakukan itu saat aku sedang cinta-cintanya. Jantungku rasanya seperti remuk redam, ibarat kaca yang jatuh ke lantai.

Pagi itu hari pertama sekolah setelah libur kenaikan kelas, tanpa terasa aku sudah kelas 3 SMA dan sebentar lagi akan lulus. Langkahku terasa berat ketika akan memasuki ruang kelas XII IPA 1. Cukup lama aku berdiri depan kelas untuk menguatkan perasaanku. Erwin tersenyum padaku. Entah kenapa senyuman itu membuat hatiku terasa tertusuk duri yang tajam. Semuanya telah berubah kami tak saling menyapa atau duduk berdua di depan kelas seperti biasanya. Meskipun begitu aku tak bisa mengalihkan pandanganku ke arah yang lain selain ke arahnya.

Hampir 3 bulan seperti itu akhirnya Erwin menghubungiku. Dia meminta agar hubungan kami kembali seperti semula. Aku setuju karena di hatiku saat itu memang hanya ada dia. Aku tahu saat itu dia berpacaran dengan adik kelas, dengan bodohnya aku bersedia menjadi yang kedua. Dia banyak berbohong tentang segala hal tapi aku masih saja setia menggenggam tangannya. Aku berharap suatu saat nanti dia akan sadar bahwa akulah yang paling setia di sampingnya. Aku salah menduga ternyata baginya aku tak berarti apa-apa. aku ibarat lilin redup di antara lilin-lilin yang terang lainnya. Erwin kembali memutuskan untuk pergi dan memilih yang lain. Aku muak dengan semuanya. Aku memutuskan untuk pergi dan mengakhiri segala perasaanku padanya. Setelah kelulusan aku tak pernah menghubungi atau sekedar mencari tahu kabarnya. Aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Universitas Hasanuddin, Makassar.

Di ruangan kecil berukuran 4cmx5cm itu aku menghabiskan waktu selama 3 tahun terakhir. Begitulah dunia mahasiswa tinggal di kos-kosan kecil, dengan peralatan seadanya. Ruangan yang dipenuhi dengan kabel dimana-mana. Malam itu aku hanya ditemani laptop dengan tulisan yang berjudul skripsi. Tiba-tiba aku dikagetkan oleh dering handphone berwarna merah tanpa casing belakang itu. Ternyata nomor baru entah siapa. Seketika aku tertegun, diam tanpa kata. Jantungku berdetak begitu kencang. Suara itu tidak asing lagi bagiku. Suara yang lama tak aku dengar.

“Hallo… ame, ame kok kamu diam saja? ini aku erwin”. Sapanya heran karena aku hanya diam. Aku tak tahu harus berkata apa?. Bingung harus bagaimana?, akhirnya aku matikan sabungan telepon itu. Seketika aku tertegun pandanganku nanar tak berarah, tiba-tiba tetesan bening itu membasahi pipi. Sudah hampir tiga tahun perasaan itu masih saja ada. Aku masih saja merindukannya. Sudah banyak yang mendekatiku di kampus masih saja aku tak bisa membuka hati. Aku selalu bertanya, apa yang salah sebenarnya mengapa kami tak pernah bertemu pada garis takdir yang sama?. Dia selalu seperti itu meraihku yang hampir pergi, kemudian memintaku pergi setelah meraihku.

Handphoneku kembali berdering tanda pesan masuk dan lagi-lagi pesan itu dari Erwin
“ame.. sekarang kau di makassar, kenapa kamu ga ada kabar, kamu ga kangen ma aku. Bisa kita ketemu besok sore aku tunggu ya di halte dekat kampus?”.

Bayangan kekecewaan dan sakit hati tiga tahun lalu kembali mengahantuiku. Pesan singkat erwin, seperti membuka kembali lembaran luka yang telah membekas dalam hatiku. Namun apa daya aku seperti berjalan di atas seutas tali melangkah goyang diam pun goyang. Aku tak ingin menemuinya lagi, namun rasa rindu yang terpendam sekian lama memaksa dan terus meronta untuk mencari jalan keluar. Aku takut jika tidak menemuinya aku akan kehilangan untuk selamanya. Namun jika menemuinya aku takut kecewa dan terluka seperti sebelumnya.

Air mataku menetes di atas tumpukan-tumpukan novel itu. Kesunyian malam ini semakin menambah kesedihanku. Aku tak pernah menyesali keputusanku untuk tidak menemui Erwin sore itu tapi, entah kenapa sesak ini tak pernah hilang setiap aku mengingatnya. Jantungku sudah hancur berkeping-keping tapi dengan kepingan paling retak dia masih sanggup berdetak. Aku juga ingin bahagia akhirnya aku memilih untuk melepaskannya, itu juga salah satu alasan mengapa aku berada di sini. Aku percaya rencana Allah itu akan indah pada waktunya. Pergilah bersama angin, terbanglah jauh ke manapun kau suka. Biarkan takdir yang memutuskan apakah kau dan aku nantinya akan menjadi kita atau semua tentang kita hanya akan menjadi cerita. Jika hari itu tiba aku harap kita akan bahagia walaupun jalan yang kita pilih mungkin berbeda.

SEKIAN

Cerpen Karangan: Aminah Latif
Blog / Facebook: Mimpisangpenghayal.blogspot.com / hanifah Ami Rasyida
Nama: Aminah Latif
Ig: Latifamina3
Email: Latifamina3[-at-]gmail.com
Alamat Lengkap: Desa Sumber Agung, Kec. Kalaena Kab. Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Makassar

Cerpen Menunggumu Bukan Pilihan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Atas Jalanan Hitam Putih

Oleh:
Aku melihat sepeda, sepeda motor dan mobil dari berukuran kecil hingga berukuran besar setiap detiknya selalu melintasi sebuah jalanan yang ditutupi oleh karpet hitam dan di tengahnya terdapat garis

Tak Tersampaikan

Oleh:
“brisik” grutuku mendengar orang-orang di sebelah rumahku sedang melakukan pembangunan rumah. Bangunan tingkat dua sama seperti rumahku. Rumah itu sudah hampir jadi sekarang. Aku tak sabar menuggu rumah itu

Cinta Pertamaku Pada Anak Guruku

Oleh:
Hi namaku al azzahra Berawal dari aku masuk tk dulu, aku bersahabat dengan aini sejak aku baru masuk di situ. Ada kakak kelasku yang katanya anak guru di situ

Biarlah

Oleh:
Semua terasa sangat berbeda saat ku mulai merasakannya. Cinta, bagi kalangan remaja hal itu sudah sangat biasa. Namun tidak denganku, aku merasa asing akan hal itu. Ada yang bilang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *