My First Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama
Lolos moderasi pada: 14 April 2016

Dear Rafa, aku bertemu denganmu untuk pertama kalinya saat ibumu, Bu Elis yang berwajah cantik itu, memperkenalkan putra semata wayangnya, kamu, kepadaku dan ibuku. Saat itu, aku yang amat pemalu terus bersembunyi di balik badan ibuku, sambil memeluk boneka beruang kesayanganku. Sementara, kamu tampak cuek dan sibuk dengan mobil balap mainanmu. Sesekali kamu melirikku yang malu-malu, tapi kamu lebih banyak fokus membetulkan roda mobil yang macet. Tahukah kamu? Saat itu, aku sudah tertarik padamu. Sepertinya kamu tidak secuek kelihatannya. Saat itu aku amat yakin dengan pikiranku.

Bu Elis dan keluargamu benar-benar memperlakukanku dan ibuku dengan baik. Selama 5 tahun aku dan ibuku tinggal di rumah kamu yang besar itu, tak pernah sekalipun kami mendapat perlakukan yang buruk. Bu Elis selalu menghargai kerja keras ibuku. Minggu-minggu pertama bekerja sebagai pembantu, ibuku beberapa kali melakukan kesalahan. Namun Bu Elis tak pernah marah. Ia selalu mengatakan bahwa kesalahan pasti dilakukan oleh manusia, sekecil apa pun itu. Cukup sering pula Bu Elis dan Pak Yoga, ayahmu yang super baik hati itu, memberikan sesuatu kepada kami, baik berupa makanan atau pakaian. Bu Elis kadang juga memberikan hadiah kecil untukku karena sering membantu pekerjaan ibuku. Kamu harus bersyukur memiliki orangtua sebaik mereka. Ibuku selalu menasihatiku agar selalu berperilaku baik terhadap keluarga kamu.

Sejak tinggal di rumah kamu pula, aku merasa menemukan kawan baru. Kamu, yang ternyata 3 tahun lebih tua dariku. Kamu yang selalu cuek dan sibuk sendiri. Hmm… aku juga senang menghabiskan waktu di taman belakang. Taman itu amat terawat dan menyenangkan. Aku bisa berjam-jam di sana. Bermain ayunan di bawah pohon kelengkeng. Mengamati ikan-ikan koi di kolam ikan. Berjalan-jalan di sekitar taman, mengagumi rumpun bunga aneka rupa. Sering kali aku melihatmu di taman itu, saat kamu mengambil sepeda, atau bermain sepak bola sendiri. Kamu jarang mempedulikan keberadaanku. Namun aku merasa senang setiap kali kamu muncul di taman itu.

Aku senang memperhatikanmu bermain bola, walau kita tak pernah bicara sepatah kata pun. Apa kamu ingat dengan kejadian konyol itu. Hari itu, aku sedang bosan. Sudah satu jam aku duduk-duduk di taman. Ibuku sedang pergi ke swalayan bersama Bu Elis, dan aku tidak memiliki sesuatu yang harus dikerjakan. Iseng-iseng aku menghampiri sepedamu yang tersandar di dinding pagar. Sudah beberapa kali aku ingin menaiki sepeda itu. Namun aku tidak memiliki keberanian untuk minta izin padamu. Dengan sifat cuekmu itu, mana bisa aku menjamin aku tidak akan kena marah darimu? Setelah aku yakin tidak melihat tanda-tanda adanya kamu, aku pun memberanikan diri menaiki sadel sepeda itu. Rupanya sadel itu cukup tinggi sehingga aku harus berjinjit untuk mencapai tanah dengan kedua kakiku.

Perlahan kakiku mulai mengayuh. Aku yakin aku bisa. Namun ternyata tubuhku tidak mau berkompromi dengan keyakinan tersebut. Karena sepeda itu cukup tinggi untukku, ditambah perasaan gugup setengah khawatir kamu akan memergokiku, anggota tubuhku tidak bisa bergerak dengan seimbang. Akhirnya… aku dan sepedamu ambruk di tanah dengan suara ‘bruk’ yang cukup keras. Untunglah tanah di taman itu tidak berbatu. Tahukah kamu betapa malunya aku saat kamu memergokiku yang terduduk dengan muka, tangan, dan kaki belepotan tanah? Awalnya kamu tampak terheran-heran, namun akhirnya kamu bergerak menolong. Saat itu tidak ada orang dewasa di rumah. Kamu yang berumur 10 tahun, dengan caramu sendiri, membantuku mengobati lukaku. Tentu tidak sulit menggapai kotak obat di atas almari dengan tinggi tubuhmu itu.

“Dasar anak kecil. Kamu ini tidak pernah naik sepeda, ya?” ledekmu saat itu.
“Bukan begitu. Sadel sepedamu terlalu tinggi untukku,” jawabku dengan polosnya.

Tak ku duga, kamu justru tertawa geli mendengar celotehanku. Aku tak bisa menyembunyikan wajah tersipuku. Aku mendengar tawamu untuk pertama kalinya. Dan bahkan, itu adalah percakapan pertama kita. Aku tidak menyesal dengan kejadian konyol itu. Karena semenjak kejadian tersebut, kita mulai akrab. Kita kerap bercanda dan tertawa bersama. Terkadang, kejahilanmu muncul. Kamu meledekku anak kecil karena selalu membawa boneka beruang. Kamu juga membuatku kesal dengan menyembunyikannya di tempat tinggi yang tidak bisa tergapai oleh tubuh pendekku. Ajaibnya pertengkaran tak pernah terjadi di antara kita.

Setiap pulang sekolah, kamu selalu mencariku, dan aku selalu siap mendengar ceritamu tentang kejadian-kejadian di sekolahmu. Aku juga sering menceritakan desa tempat kelahiranku yang indah, teman-teman dan keluargaku yang berada di sana. Kamu amat tertarik dan mengutarakan keinginanmu mengunjungi desa kelahiranku suatu saat nanti.
Kini, kamu bukanlah anak yang dingin dan cuek lagi di mataku. Lambat laun, aku mulai merasa menemukan sosok ayah, kakak, sekaligus teman pada dirimu. Kamu membimbingku naik sepeda dengan sadel tinggi, bermain sepak bola bersamaku, bahkan membuat boneka beruangku berteman dengan robot dan mobil mainanmu. Kamu selalu mengisi hari-hariku. Apa pun tingkahmu selalu berhasil membuatku tersenyum.

Lalu saat aku mencapai usia kedua belasku, getaran-getaran itu pun terasa. Aku tidak mengerti. Perubahan itu terjadi tanpa ku ketahui sebabnya. Yang aku tahu, saat aku sedang berada di dekatmu, sistem kerja tubuhku menjadi aneh. Perutku seolah dihuni kupu-kupu, rasanya menggelikan. Wajahku terasa hangat. Jantungku berdetak bagai ditabuh drum. Terkadang aku berubah gugup dan kikuk jika kamu bicara di hadapanku. Aku benar-benar tidak mengerti. Semua perubahan ini membuatku kembali menjadi pendiam. Aku menjadi lebih sering menghabiskan waktu di kamarku. Berbaring memejamkan mata sambil memeluk erat boneka kesayanganku. Tapi tahukah kamu, aku justru semakin gelisah, karena setiap aku memejamkan mata, wajahmu muncul begitu saja.

Terkadang, aku bertanya-tanya kepada cermin di kamarku. Berharap cermin itu dapat mendengar isi hatiku dan memberikan sebuah jawaban atas kegelisahanku. Selain itu, rasa khawatir mulai timbul di hatiku. Jika aku bertemu denganmu, aku takut tidak dapat mengontrol perasaan dan tubuhku. Mengapa begitu besar pengaruh dirimu kepada diriku? Aku tidak menyukai perasaan asing yang muncul tanpa diundang ini. Hal itu telah merubah semuanya. Merubah hubunganku denganmu. Bagiku, hari-hariku bermain dan bersenda gurau bersama kamu sudah menyenangkan hatiku. Bagiku, sosok dirimu yang ku anggap sebagai kakak sudah cukup berarti. Selama ini aku selalu berusaha menjadi adik yang baik untukmu.

Sebaliknya pula, kamu juga selalu memperlakukanku seperti seorang adik. Ah, lebih tepatnya, kamu selalu menganggapku sebagai anak kecil yang manis dan polos. Ah, anak kecil mana mengerti? Main boneka beruang saja sana. Begitu ucapmu jika aku ingin ikut menonton drama roman yang ditonton Bu Elis di televisi. Apakah ini bisa disebut adil? Apakah adil jika hanya aku yang mengalami perasaan tidak nyaman semacam ini? Seiring berjalannya waktu, aku akhirnya dapat memahami perasaan aneh yang melandaku. Dengan menguatkan hati, aku bertekad akan menerima semua ini. Karena aku menyadari, sejauh apa pun aku berusaha menghilangkan perasaan itu, aku tidak akan bisa. Tepatnya, aku tidak tahu bagaimana.

Aku tahu tidak seharusnya aku mengalaminya sekarang. Hatiku masih terlalu kecil untuk menerima perasaan cinta sebesar ini. Aku tidak ingin membebani dirimu, dan juga diriku, dengan perasaan-perasaan semacam itu. Akhirnya, aku pun mengartikan perasaan cinta itu sebagai perasaan sayang terhadap seorang kakak. Kamu sudah banyak memberikan kasih sayangmu padaku layaknya adik kandung. Kamulah alasan semua senyum dan tawa yang terpancar di wajahku. Dan sampai kapan pun juga, aku akan menyayangimu sebagai seorang kakak. Tapi satu hal yang tidak bisa aku pungkiri, juga yang harus kamu tahu. Kamu adalah cinta pertamaku. Aku yang akan selalu mencintaimu, Hana.

Cerpen Karangan: Yunifa Maulida
Facebook: Yunifa Salsabilla
Born in 1999. Live in Yogyakarta. Hope you enjoy my story!

Cerpen My First Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cowok Misterius Di Kereta Api

Oleh:
Baru kali ini aku naik kereta api di umurku yang sudah beranjak tujuh belas tahun. Aku memang anak rumahan yang jarang pergi kemana-mana. Kali ini pun aku terpaksa naik

Shortage is Love (Part 1)

Oleh:
“Ayo cepat bangun ini hari pertamamu di sekolah barumu, kamu tidak boleh terlambat di hari pertamamu”. “Iya ma ini aku udah bangun” Jawab Vino dengan mata tertutup. “Kalo kamu

Alien Dan Penyihir

Oleh:
Pagi yang benar-benar cerah, hh.. badanku benar-benar segar pagi ini. Aku ke luar dari kamarku dan berjalan menuruni tangga dengan senyum yang merekah, semangatku benar-benar menggumpal hari ini, pasalnya

Pacar Pertama Cinta Pertama

Oleh:
Sebelumnya tak pernah aku rasakan perasaan ini. Aku nggak tahu apa yang terjadi dengan hati ini. Rasa ini begitu berbeda, aku menikmati rasa ini. Aku bahagia dengan rasa ini.

Purnama

Oleh:
Ini adalah kisahku, yang mungkin tak begitu penting tetapi ingin kutuangkan dalam sebuah cerita. Namaku adalah budi (bukan nama asli) hehehe. Aku tinggal di kota antah berantah di sebuah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *