Pria Yang Mencintai Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama
Lolos moderasi pada: 8 February 2014

Mei 2012, Café Rose.
Segelas coklat panas rasanya sangat pas menemani kegiatan menulis Arisa sore ini. Sepulang dari kantor Arisa memang selalu menyempatkan diri mampir ke Rose Café untuk sekedar menikmati coklat panasnya yang terkenal sangat enak. Ditambah hujan deras yang mengharuskan dia lebih lama di cafe itu. Saat masih asyik dengan laptopnya. Tiba tiba, cringgg… suara pintu café terbuka. Seorang pemuda masuk dengan baju yang sedikit basah. Ia mengarahkan pandangan ke setiap penjuru café, dilihatnya Arisa yang sedang lincah mengetik. Pemuda itu tersenyum dan berjalan menuju Arisa.
“Permisi” kata pemuda itu, “Ya” sahut Arisa tanpa melepaskan pandangannya dari monitor.
“Apa aku boleh duduk disini?” tanyanya lagi.
Arisa memandang pemuda itu sekilas “Its okey” sambil terus melanjutkan kegiatannya.

Tak lama kemudian pelayan café datang, pemuda itu memesan segelas vanilla latte. Setelah pelayan pergi pemuda itu memulai lagi pembicaraanya dengan Arisa.
“Kau masih sama seperti dulu” katanya membuka pembicaraan
Arisa menghentikan jari jari lentiknya.
“Maksudmu?” kata Arisa dengan nada tak acuh.
“Masih sama cantiknya” jawab pemuda itu lagi.
“Cihh, kau juga masih sama. Masih pintar merayu”. Sepertinya Arisa tak suka dipuji demikian. Tak berapa lama pelayan café itu mengantarkan pesanan si pemuda, obrolan terhenti sejenak.
“Hahaha, itu memang kelebihanku Arisa” pemuda itu melanjutkan.
“Sudah berapa wanita Amrik yang kau dapatkan dari hasil merayumu?” nada sinis Arisa terdengar.
“Tak satu pun” jawabnya lemah.
“Hah? apa mungkin wanita Amrik terlalu pintar untuk dibohongi dengan rayuan murahanmu” ejek Arisa yang mulai mengalihkan laptopnya.

Pemuda itu terdiam, suasana hening di antara mereka. Pemuda itu menghembuskan nafas dalam-dalam.
“Itu semua bukan karena mereka pintar, tanpa kurayu pun mereka banyak yang suka padaku” ungkapnya. Arisa menatap pemuda itu lekat-lekat, setiap garis muka pemuda itu ditelusurinya, hidungnya mancung, wajahnya yang putih bersih, bola matanya tajam dan berwarna kecoklatan memang sulit jika tak menilainya tampan.
“Terus kenapa tak kau pacari salah satu dari mereka, membawanya ke Indonesia dan kau kenalkan padaku!” sungut Arisa.
Pemuda itu menatap Arisa tajam, hal ini membuat Arisa salah tingkah ia menyeruput coklatnya yang mulai mendingin sampai habis tak tersisa.
“Karena cintaku telah dimiliki oleh gadis Indonesia” jawabnya sambil tetap menatap Arisa
“Dan gadis itu sekarang ada di hadapanku” lanjut pemuda itu sambil tersenyum.
“Kali ini aku takkan hanyut oleh rayuanmu lagi, Rafa” Arisa menyebut nama pemuda itu.
“Ternyata setelah sekian lama, kita dipertemukan lagi oleh Tuhan lewat hujan” kata Rafa tak mempedulikan kalimat terakhir Arisa. Otak Arisa berputar mengingat peristiwa lima tahun yang lalu, dimana ia dan Rafa untuk pertama kalinya dipertemukan, memori yang sudah lama ingin ia lupakan.

Mei 2007, Halte Bus
Langit hitam, butiran air turun dari langit dengan derasnya. Gelegar petir melengkapi datangnya hujan sore ini. Arisa yang pulang dari klub Karate terpaksa berteduh di sebuah halte bus yang tampaknya sudah tidak terpakai. Ia menepikan motornya.
“Hah sial!! kenapa bisa lupa bawa mantel sih” umpatnya kesal
Tiba tiba sebuah motor sport berhenti di depan halte, pengendara motor itu berlari menghampiri Arisa dan melepaskan helmnya. Arisa merapatkan tasnya rapat rapat selain takut dengan pemuda itu udara dingin juga mengusik kenyamannya. Pemuda itu tersenyum ke arah Arisa. Pemuda sudah basah kuyup. Ia membuka tasnya dan mengambil sebuah jaket dan menyerahkannya pada Arisa.
“Pakai aja, itu punyaku!!” kata pemuda itu sambil tersenyum ke arah Arisa
“Kenapa kamu tak memakainya?” tanya Arisa heran
“Aku suka hujan” jawabnya pendek
“Hah?” Arisa masih tak mengerti maksud pemuda itu
Pemuda itu masih saja tersenyum, sepertinya ia senang melihat kebingungan Arisa
“Aku mencintai hujan, bagiku hujan itu anugerah tuhan. Saat aku mencintai hujan sama halnya aku mencintai anugerah tuhan, dan kalau aku memakai jaket itu sama aja aku menghalangi kulitku tersentuh oleh tangan tuhan”
“Dasar aneh!!” batin Arisa dalam hati
“Kau pasti mengiraku aneh” kata pemuda itu seperti mengerti apa yang difikirkan Arisa.
“Emang” sahut Arisa pendek
“Ternyata kau orang yang jujur ya!” sindir pemuda itu sambil memandangi Arisa
“Oh ya kita belum berkenalan, aku Rafa”
“Arisa”
“Nama yang cantik, sama seperti orangnya” rayu Rafa yang berhasil membuat Arisa tersipu malu
“Senang bisa bertemu denganmu, aku pergi dulu ya!!” pamit Rafa
“Tapi hujannya kan masih deres banget!”
“Justru aku harus pergi sebelum hujan reda”
“Jaketmu?” tanya Arisa
“Kau bisa kembalikan jika kita bertemu lagi”
“Jika kita tidak bertemu?”
“Aku yakin suatu saat kita akan bertemu, Bye” Rafa menghilang dibalik lebatnya hujan
Perkenalan singkat yang mempertemukan mereka cukup memberi kesan pada hati mereka masing masing. Cukup menunggu skenario tuhan untuk mempertemukan mereka kembali, yah dan mereka berdua yakin itu.

Malam tahun baru 2008, Puncak
Suasana riuh memang selalu mengiringi malam pergantian tahun. Terompet, kembang api, pesta barbeque seakan menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Kali ini Marsha merayakan tahun baru bersama sama dengan teman teman kampusnya.
“Sa, apa harapan loe di tahun ini” tanya Miranda, sahabatnya
“Gue pengen tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya” jawab Marsha singkat
“Semua orang juga berharap gitu kali Sa”
“Nah terus?”
“Harapan yang lebih khusus”
“Gak ada sih, ehm gue pengen kuliah gue cepet kelar deh”
“Kalau itu sih kayaknya bakal terkabul deh, tahun ini pasti loe bakal dapet gelar sarjana ekonomi”
“Aminnn” mereka kompak mengamini
“Oh ya Sa, loe gak pengen punya pacar gitu?”
“Haduh Nda gue masih belum kepikiran tuh. Masih pengen sukses dulu baru deh seneng seneng!!”
“Masa sih selama ini loe belum ketemu someone yang loe rasa special gitu”
Arisa terdiam dan kemudian tersenyum simpul, “Ada sih” ungkapnya malu malu
“Hah? Siapa? Ahh curang loe gak cerita cerita!!” Miranda pura pura kesal
“Namanya Rafa” ujar Arisa pelan
“Orangnya gimana ganteng? Loe udah seberapa deket sama dia? Ketemu dimana?” tanya Miranda membombardir Arisa
“Orangnya aneh. Gimana deket, ketemu aja cuman sekali di halte bus yang udah gak kepake!!”
“Hah?” Miranda mengaruk kepalanya yang tidak gatal
Akhirnya Arisa menceritakan kronologis pertemuannya dengan Rafa.

“Gue doain loe bisa ketemu deh sama pangeran loe itu”
“Tapi aku masih belum yakin sih Nda” ujar Arisa ragu
“Oh ya kalau hubungan loe sama Kevin gimana?” tanya Arisa mengalihkan pembicaraaan
“Kayaknya gue udah gak pengen jadiin Kevin pacar deh”
“Hah? Maksud loe?” Arisa terkejut
“Ya gue udah bosen pacaran sama Kevin!!”
“Serius loe? Loe udah mikirin ini semua mateng mateng kan?”
“Iya Sa, masa gue bohong sih. Gue udah bosen jadiin dia pacar, gue pengen dia jadi suami gue”
“Hah?”
“Iya, bulan depan rencananya Kevin mau ngelamar gue hehehe”
“Hah? Gue fikir… Congrats ya Nda” kata Arisa memeluk Miranda
“Sumpah ya, loe emang paling bisa bikin gue shock”

April 2008, Pesta pernikahan Miranda dan Kevin
“Selamat Miranda sayang” Arisa memberi selamat kepada kedua mempelai
“Makasih Dear”
“Kev, jagain Miranda ya!!”
“Oke bos”
“Oh ya gue nyari minuman dulu ya, auss banget nih” pamit Arisa pada pasangan pengantin baru itu

Setelah asyik memilah milih minuman yang berwarna warni, Arisa menegaknya sampai habis. Kelihatan sekali ia sedang kehausan, tiba tiba terdengar seseorang yang memanggil namanya
“Arisa” sontak Arisa menoleh pada pemilik suara itu
“Masih ingat aku?”
“Rafa” pekik Arisa
Rafa tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. Setelan jas yang ia kenakan semakin membuatnya memukau.
“Apa kabar Sa?”
“Baik, kamu?”
“Aku juga baik, kamu kesini sendiri?”
“Seperti yang kamu lihat, kalau kamu?”
Sebelum Rafa menjawab, seorang wanita bergaun ungu muda menghampiri mereka berdua dan bergelanjut mesra di lengan Rafa
“Sayang, kita kasih selamat pengantinnya yuk. Oh ya ini siapa yang? Temen kamu?” tanya wanita itu
“Oh ya ini Arisa”
“Arisa ini Tifanny”
“Arisa”
“Tifanny”
“Arisa temen kamu? Kok kamu gak pernah cerita sih sayang?”
“Ehh Raf, aku permisi dulu ya!!” pamit Arisa pergi menjauh dari kedua pasangan itu. Arisa tak bisa membendung air matanya. Pertemuan hari itu cukup membuat hatinya hancur.

September 2008 kantor Arisa
“Sa, ada yang mau ketemu sama kamu tuh!!” kata Yuna, rekan kerja Arisa
“Siapa?” tanya Arisa heran
“Kurang tau sih Sa, katanya sih penting. Dia nunggu di lobi!!”
“Oke thanks Yun”

Arisa menghentikan pekerjaaannya dan segera menuju ke lobby.
“Arisa”
“Oo kamu Raf” ujar Arisa dingin
“Sa, aku mau ngomong sesuatu sama kamu!!”
“Ngomong aja!”
“Bisa kita keluar sebentar?”
Arisa mengangguk dan mereka berdua menuju coffe bean yang tak jauh dari kantor Arisa

“Kenapa bisa sampai disini?” tanya Arisa dengan sedikit ketus
“Selama lima bulan ini aku nyari kamu Sa”
“Oo kamu mau ambil jaket kamu? Masih ada kok!”
“Sa, aku serius!!”
“Rafa, aku juga serius”
“Dua bulan lagi aku akan ke Amerika buat ngelanjutin studiku!!” ujar Rafa pelan
“So?”
“Sebelum aku pergi aku pengen kamu tau. Semenjak pertama kita ketemu aku sudah menaruh hati padamu Sa!”
Arisa tercekat, seakan tak percaya dengan apa yang telah didengarnya
“Aku cinta kamu Sa”
“Hah? Gak mungkin Raf, kita baru beberapa kali bertemu. Gak ada alasan untuk kamu suka aku!”
“Dan gak ada alasan juga untuk gak suka kamu Sa. Dan entah mengapa aku merasa kau juga merasakan hal yang sama!” ungkap Rafa
“Geer kamu Raf, terus pacar kamu waktu itu?”
“Maksud kamu Tifanny? Aku gak cinta sama dia, dia anak dari teman bisnis papaku yang akan dijodohkan denganku Sa!”
“Raf, aku gak ngerti jalan fikiran kamu? Kamu mau ke Amerika dan bilang cinta aku disaat kamu udah dijodohin. Maksud kamu apa sih Raf?” Arisa terisak
“Maafin aku Sa. Ini semua keinginan papaku Sa. Aku diberi dua pilihan, menikah dengan Tifanny atau kuliah di Amerika. Aku terpaksa memilih option kedua Sa”
“Aku gak harap kamu akan nunggu aku Sa, aku hanya ingin kamu tau perasaanku sama kamu!”
“Aku gak bisa Raf, aku harus kembali ke kantor banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan” ucap Arisa sambil pergi meninggalkan Arisa
Langit mendadak mendung, semendung hati Arisa. Turunnya air hujan bersamaan dengan meluruhnya air mata Arisa.

Juli 2012, Atap Sebuah Gedung
“Sa, langitnya cerah banget ya?”
Arisa mengangguk “Iya Raf, bintangnya bagus banget!”
“Aku udah lama pengen nunjukin tempat ini ke kamu, tapi baru sempet sekarang” kata Rafa sambil memandangi Arisa
“Sa, maafin aku ya” lanjutnya
“Maaf untuk?”
“Semuanya” ucap Rafa diiringi dengan nada menyesal, Arisa hanya mengangguk.
“Oh ya Sa, aku sudah berhenti mencintai hujan”
“Kenapa?” tanya Arisa heran
“Aku sadar Sa. Aku bisa berhenti mencintai hujan, tapi aku tidak pernah bisa berhenti mencintai kamu!”
“Sa, maukah kamu menghabiskan sisa hidupmu bersamaku?” tanya Rafa sambil membuka kotak kecil berwarna merah hati yang berisi cincin permata yang sangat indah.

Untuk kesekian kalinya Arisa mengangguk diiringi dengan senyum bahagianya, Rafa memasangkan cincin tersebut pada jari manis Arisa kemudian memeluk wanita yang sangat dicintainya itu. Malam ini terasa begitu indah bagi mereka berdua. Walaupun tanpa hujan, bintang dan bulan cukup menjadi saksi bersatunya kedua insan itu.

the end

Cerpen Karangan: Ayunani Sulaiman
Facebook: Ayunani Sulaiman Putri II
Ayunani Sulaiman Putri, Mahasiswi FPK Universitas Airlangga

Cerpen Pria Yang Mencintai Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love In Silence

Oleh:
Nina memandangi sebuah novel yang ada di depan matanya, ia merasa judul buku itu hampir mirip dengan kisah silamnya 2 tahun lalu. Ia mulai membuka halaman pertama buku itu

Hei Budek, I Love You

Oleh:
Lagi-lagi gue harus duduk dan dengerin ocehan guru sejarah yang luar biasa membosankan. Entah orang gila mana yang mau dengerin itu pelajaran dengan ikhlas atau sukarela, paling-paling cuman mau

Kisah Cinta Pertamaku

Oleh:
Perkenalkan terlebih dahulu nama saya Dwi Rahmawati, biasa dipanggil Dwi. Juli 2016, ya saat itu aku baru memasuki sekolah menengah kejuruan. Cukup senang menjadi siswi SMK. Sekolah yang sebagian

Cinta Di Patok Tenda

Oleh:
Dengarkan suara hati ini Suara hati yang ingin kudendangkan Tak mampu untuk kusampaikan Kan kuungkapkan lewat laguku (“Kira-kira, lanjutannya apa lagi ya?. hemmm”) Aku berhenti menuliskan bait puisi cintaku.

Menyebut Namanya Dalam Sujudku

Oleh:
Hari ini, aku sungguh tak percaya dengan takdir allah. Bagaimana tidak? Dia satu kelas denganku. Ketika kelas 10, tak jarang aku menyebut namanya dalam sujudku, salah satunya agar dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Pria Yang Mencintai Hujan”

  1. Farah Fadhiani says:

    Ah, sosweet banget sih. hujan, aku juga suka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *