Sahabat Cintaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama
Lolos moderasi pada: 10 November 2020

Liburan sekolah telah usai, besok adalah hari pertama masuk sekolah. Desta dengan semangat menyiapkan peralatan sekolah yang akan dibawa besok. Ia rindu dengan sekolahnya juga dengan teman-temannya.

Kringgg… bunyi alarm yang membangunkan Desta setiap pagi. Ia langsung bergegas mandi, setelah mandi kemudian ia memakai seragam sekolahnya dan berdandan secantik mungkin. Terdengar suara mamanya memanggil Desta untuk segera sarapan. Desta pun langsung cepat-cepat keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Di meja makan sudah tersedia roti dan susu yang biasa dipersiapkan mamanya untuk sarapan. Setelah sarapan selesai, ia melirik jam tangannya ternyata sudah pukul 06.15, langsung ia berpamitan pada mamanya untuk berangkat sekolah. Tak lupa mamanya selalu berpesan agar Desta selalu rajin belajar dan berdo’a. Desta hanya tersenyum dan menganggukkan kepala sebagai tanda ia akan mengingat-ingat pesan mamanya.

Desta mempercepat langkahnya supaya tidak terlambat sampai di sekolah. SMA Negeri Bandung adalah sekolahnya, sekolahnya merupakan salah satu SMA favorit yang ada di Bandung. Desta tergolong anak yang pandai di sekolahnya, ia sering mengikuti berbagai macam lomba baik tingkat provinsi maupun nasional. Oleh karena itu, ia selalu disegani oleh teman-temannya di sekolah. Tak jarang ia selalu membantu teman-temannya yang membutuhkan bantuannya.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit daari rumahnya, ia merasa sedikit lelah karena sudah lama tidak berjalan kaki. Jarak sekolah dari rumahnya tergolong lumayan dekat. Sampai di depan gerbang sekolah ia bertemu teman-temannya, sambil berjalan menuju ruang kelas diselingi canda dan tawa untuk menghilangkan rasa kangen mereka. Sampai di kelas ternyata sudah banyak siswa yang datang, mereka langsung mencari meja dan bangku untuk ditempati.

Beberapa menit kemudian, bel masuk berbunyi. Seluruh siswa masuk ke dalam ruang kelas masing-masing. Bu Shinta wali kelas Desta memasuki ruang kelas. Namun, kali ini ia membawa seorang anak laki-laki pindahan yang tampan, tinggi, dan putih. Sontak seluruh siswa di dalam kelas bersorak ria. Bu Shinta kemudian mempersilahkan anak laki-laki itu untuk memperkenalkan diri. Di antara teman-teman Desta yang lain, ada yang melontarkan berbagai pertanyaan yang aneh-aneh, di antaranya: sudah punya pacar belum? minta no hp nya donk? rumahnya dimana?. Namun, berbeda dengan Desta. Saat anak laki-laki itu menyebutkan namanya, tiba-tiba Desta kaget, ia merasa tidak asing dengan nama anak laki-laki itu. Ia mencoba mengingat-ingat dimana, kapan dan bagaimana ia pernah bertemu dengan anak itu. Namun sayangnya, ia tidak bisa mengingatnya. Wahyu tidak menanggapi berbagai pertanyaan dari siswa lainnya, ia hanya memandang ke arah Desta yang terlihat sedikit bingung.

Bu Shinta kemudian menyuruh Wahyu untuk duduk di samping Desta, kebetulan bangku di sebelah Desta itu kosong. Yah, anak laki-laki itu bernama Wahyu, lengkapnya Wahyu Tri Handika. Wahyu dengan senang hati bisa duduk di samping Desta. Dalam hati Wahyu bergumam, “Desta Yuwita sahabat kecilku dulu, sekarang menjelma menjadi seorang gadis remaja yang cantik dan anggun”. Sambil senyum cengengesan, Wahyu menyapa Desta, Desta sedikit kaget karena pada saat itu ia sedang melamun mencoba memutar ingatannya tentang anak laki-laki itu. Desta membalas sapaan Wahyu dengan senyum yang memperlihatkan tanda lesung di pipinya. Wahyu melihat senyuman Desta yang ditambahi lesung pipinya, membuat ia ingin sekali mencubit pipinya yang sering ia lakukan sebelum mereka berpisah.

Sehari-hari diselingi canda dan tawa diantara perbincangan mereka, seolah-olah mereka sudah sangat dekat satu sama lain. Wahyu hanya bisa bertanya dalam hati, “apa kau sudah melupakan aku, Desta? ini aku, Wahyu sahabat kecilmu”. Yaa, wajar saja Desta lupa dengannya, karena sudah 10 tahun lebih mereka berpisah. Namun, hati Wahyu merasa senang bisa bercanda tawa setiap hari bersama Desta lagi, setelah sekian lama mereka berpisah. Jika Desta benar-benar lupa dengannya. Sampai waktu yang tepat, Wahyu akan memberitahu kalau ia adalah sahabat kecil Desta.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Kini hati Desta berdebar-debar ketika Wahyu sering menyunggingkan senyum, belum pernah ia merasakan hati berdebar-debar ketika bersama dengan anak lelaki seperti sekarang ini., seolah-olah hati Desta memiliki ikatan batin dengan Wahyu. Rasa penasaran Desta kepada Wahyu tidak bisa ditahan lagi. Dengan segala keberaian yang ia kumpulkan, ia bertanya kepada Wahyu tentang rumahnya dimana, keluarganya siapa, dan mengatakan bahwa ia merasa pernah bertemu dengannya. Tetapi Desta tidak mendapatkan jawaban sesuai dengan harapannya, Wahyu dengan spontan hanya menjawab “Rahasia”, itu membuat hati Desta sedikit kesal dibuatnya. Namun, dalam hati Wahyu bertanya “apa kamu sudah bisa mengingat dan mengenaliku, Desta?”. Dengan keputusan yang bulat, secepatnya ia akan memberitahu Desta segalanya, sebelum Desta terlanjur membencinya.

Suatu hari, saat pelajaran telah selesai dan waktunya pulang pun tiba. Wahyu mengajak Desta pergi jalan-jalan ke suatu tempat. Desta pun setuju sekaligus ia bisa melepas rasa lelah setelah menerima pelajaran yang sangat membosankan. Wahyu mengajak Desta pergi jalan-jalan ke taman bunga, ternyata taman bunga itu adalah tempat kenangan Desta dengan Wahyu. Betapa senangnya hati Desta diajak jalan-jalan seorang teman yang baru ia kenal beberapa bulan yang lalu, ternyata ke tempat favoritnya.

Desta memulai pembicaraan dengan berkata “Aku sangat merindukan taman bunga ini, juga sangat rindu dengan orang yang aku sayangi, sewaktu kecil kita setiap hari menghabiskan waktu di taman bunga ini, taman bunga ini merupakan kenangan terindah dengannya. Dia adalah sahabat sekaligus cinta pertamaku, namun saat ini aku tidak tahu keberadaannya, karena kita berpisah sudah 10 tahun lebih”. Mendengar perkataan Desta, dalam hati Wahyu bertanya “Apa kamu benar-benar merindukan aku, Desta?”.

Mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya. Dengan percaya diri dan keberanian yang ia kumpulkan. Wahyu mengeluarkan sebuah kalung liontin dari sakunya. Sekilas Desta tersontak kaget melihat kalung itu, kalung itu kenang-kenangan dari cinta pertamanya yang ternyata mirip sekali dengan kalung liontin yang dipakai Desta.
“Kamu dapat darimana kalung liontin itu?”. tanya Desta
“Ini adalah kalung liontin kenangan bersama sahabat kecilku”. Jawab Wahyu
“Sahabat kecilmu? Benarkah? Siapakah dia?”. tanya Desta
“Iya, sahabat kecilku. Dia adalah seorang gadis kecil menjelma seorang gadis remaja cantik dan anggun, yang sekarang sedang bersamaku”. Terang Wahyu sambil tersenyum.
“Sekarang bersamamu? Siapakah dia? Mungkinkah aku?”. tanya Desta dengan penasaran.
“Iya, kamu orangnya. Desta Yuwita sahabat kecilku”.
Muka merah menahan malu, Desta bertanya “Apa buktinya jika aku adalah sahabat kecilmu?
“Coba lepas kalung liontin yang kamu pakai, dan cocokkan dengan kalung liontin punyaku ini”.

Desta melepas kalungnya dan memberikan kalung itu ke tangan Wahyu, kemudian Wahyu menyatukan kalung liontin itu, ternyata cocok, lalu ia membuka kalungnya, di dalam kalung itu terdapat foto Desta dan Wahyu saat mereka kecil. Desta kaget melihatnya. Tiba-tiba ia meneteskan air mata karena terharu juga merasa senang. Sebab, orang yang bertahun-tahun ia rindukan, tanpa ia sadari selama ini berada di dekatnya.

“Maafkan aku, aku terlambat mengingat dan mengenalimu Wahyu “.
“Sudahlah Desta. Kamu tidak bersalah. Aku yang bersalah karena selama ini aku bersembunyi dan tidak memberitahuu. Mulai sekarang, aku tidak akan bersembunyi dan merahasiakan sesuatu darimu lagi. Aku berjanji”. hibur Wahyu.
“Terima Kasih “.
Kemudian mereka saling berpelukan, melepas rasa rindu yang bertahun-tahun terpendam dalam hatinya. Kini mereka telah menemukan cinta sewaktu kecil dipendamnya.

Happy Ending …

Cerpen Karangan: Yuvendri Dwi Lestari
Blog / Facebook: Yuvendri Dwi Lestari
Nama: Yuvendri Dwi Lestari
TTL: Pacitan, 9 Agustus 1999
Alamat: Pacitan,Jawa Timur
Sekolah: SMK Negeri 1 Pacitan

Cerpen Sahabat Cintaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Balik Putih Abu Abu

Oleh:
Pagi itu adalah pagi yang menegangkan. Hari dimana pengumuman penerimaan siswa-siswi baru di salah satu SMA di sekolahku. Aku pergi ke sekolah tersebut bersama teman akrabku dengan mengendarai sepeda

Dear Diary About Someone I Loved

Oleh:
Sebelumnya aku tidak mempunyai hobi menulis, aku hanya ingin saja. Menulis sejarah tentang diriku sendiri. Hahaha… aku memang bukan siapa-siapa. But, apa salahnya mengoreksi diri sendiri? No is not,

Salah (Part 2)

Oleh:
Sepulang sekolah, aku mengayuh sepedaku dengan hati-hati karena memang tangan dan kakiku masih lumayan sakit. Sesampainya di rumah aku ganti baju, dan seperti biasa aku membawa bekal roti keju

Cinta Itu Masih Tinggal Di Hati

Oleh:
Genap sudah lima tahun berlalu, semenjak aku memutuskan melanjutkan studi ke luar kota. Aku masuk ke salah satu Universitas swasta di Semarang. Awalnya kedua orangtuaku enggan untuk melepas kepergianku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *