Sebuah Surat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama
Lolos moderasi pada: 3 April 2019

Waktu kecil aku ini gendut. Gigi depanku rusak sehingga warnanya hitam dan jelek. Teman-teman sering mengejekku gigi busuk dan itu jelek sekali terdengar, aku malu. Sering pulang sekolah aku nangis sendirian di jalan, tapi mama gak pernah tahu.

Mungkin karena gigi itulah aku ditolak oleh anak laki-laki yang aku sukai waktu itu. Anak itu aku hampiri dan dia lari! Aku mengejarnya sampai ke lapangan sekolah, berkeliling. Bayangkan tubuh tambun mengejar teman laki-lakinya? Dilihat seluruh isi sekolah, apalagi aku nekat mencium pipinya!! Oh tidak!!! Kenapa aku begitu dulu? Aku juga tidak tahu!

Beberapa minggu kemudian, gigi depanku goyah, aku takut bilang ke mama karena temanku bilang rasanya sakit dicabut. Tapi pada akhirnya mama tahu! Jadilah aku kejar-kejaran dengan mama pagi itu karena goyangnya sudah genting. Dicabut paksa! Aku menangis karena darahnya banyak. Jadilah panggilanku berubah. Ompong. Duh, gak ada bagus-bagusnya.

Di kelas, meskipun aku sering dibully mereka, tapi aku termasuk berisik di kelas. Sampai akhirnya aku melihat seorang teman perempuanku yang begitu anggun, dia pendiam dan manis. Perlahan aku menirunya. Pribadiku yang kasar dan suka ribut di kelas jadi hilang. Aku juga gak mengejar anak laki-laki itu lagi. Sudah lupa kalau aku suka dia.

Sebulan kemudian, datanglah sebuah surat diselipkan di tasku. “Apa ini?”
Waktu itu aku sama sekali gak tahu itu surat, selain karena tidak diamplop itu juga gak ada nama pengirimnya. Aku gak baca surat itu. Besok paginya, teman sebangkuku memberikan secarik kertas padaku.
“Ini apaan?”
“Surat katanya, dari anak belakang” kata dea. Aku gak yakin siapa yang dimaksud, tapi kertas itu kubuka, isinya ya tulisan. Dan, sulit dibaca!

“Via, kenapa suratnya gak dibalas? Kamu gak suka lagi ya sama aku?”

Aku tahu itu siapa! Anak lelaki yang kukejar dulu, namanya rian. Aduh, aku masih kecil, baru nyadarnya setelah terinspirasi oleh temanku itu, namanya evi. Aku gak tertarik lagi cinta-cintaan.
Akhirnya pesan itu aku balas.

“Kita teman aja ya? Apapun itu kita masih kecil, tunggu dewasa gapapa”

Benar-benar surat dariku menjadi penutup pertemuan kami di sekolah.
Sebab, besoknya dia pindah! Aku kaget, kenapa mendadak? Dia gak pamit di suratnya. Oh iya, surat yang diselip dalam tas belum kubuka, belum baca…
Ah, nanti pulang sekolah aku lihat isinya apa. Gumamku.

“Suratnya aku taruh dimana ya?” pulang sekolah aku langsung mengubrak-abrik lemari dan meja belajarku. Aku lupa. Kemana kertas itu berlabuh. Aku menyesal mengabaikan kertas itu tempo hari.

4 tahun kemudian, aku sudah 1 smp dan aku masih jomblo. Waktu itu, teman sebayaku sudah punya pacar, dua atau tiga malah bahkan lebih! Gila mereka.
Boro-boro sebanyak itu, satu aja aku belum, kena tolak terus! Kutukan kali ya? Karena nolak rian dulu? Surat pertamanya sampai sekarang gak nemu-nemu. Jadi kepikiran mulu.

“Duh, tiwi! Cowokku nih! Katanya pingin jemput”. Ica mengeluh kesal.
“Ah kamu, ca! Baguslah.. Jadi gak panas-panasan”. Tiwi asik dengan sms nya.
“Iya sih, tapi kan pacarku yang si farhan nanti tahu kalau aku dijemput, kan bahaya!” tuh kan, pacar pasang dua.
“Heleh kamu, aku yang pacarnya 5 aja santai aja tuh, kamu sih cari pacar dekat-dekat sini semua”. Mereka ‘aneh’ tapi mereka temanku. Dan aku harus mendengar ocehan memilukan mereka.
“Jangan sombong kamu, wi! Baru 5 aja bangga kamu”. Aku ketawa tertahan.
“Bangga lah, kenapa emang?”
“Via aja pacarnya banyak gak songong kayak kamu, ya via?” plak! Pacar? Apaan sih ca…
Mereka berdua melihat kearahku. Aku diam. Siap-siap dengan pertanyaan mereka.
“Pacarmu berapa via?” kompak!
“Hm.. Ga pernah .. Hehe..” rasa nya itu, uh… Pilu nyaaaa.
“Ha!!” mereka ketawa ngakak. “Kok gak percaya ya? Kamu gak pernah pacaran? Segede ini???”

Mereka merasa ini lucu, sebab aku ini cantik. Oh iya, aku gak gendut lagi lho. Gigiku juga udah bagus, gigi kelinci.
Tapi heran, kenapa aku selalu ditolak ya? Kenapa gak ada yang nembak aku kayak mereka itu? Aku ingin rasain pacaran juga.

Ya tuhan, kasih aku pacar!
Yang imut juga gakpapa…

Setahun kemudian, aku baru duduk dikelas 2 smp, dan belum puber. Kenapa? Disaat teman-teman perempuanku udah menstruasi semua, aku belum… Dan masih jomblo.

Kali ini, kelas sebelah dapat siswa baru, dari jakarta. Namanya fadri.
Aku dengar, dia populer di sekolah. Aku ingin cari tahu sih, tapi sepertinya aku terlambat. Seseorang menghambat langkahku di pintu kelasku.

“Kamu via?” anak jakarta itu mengenaliku!
“Iya, kok kamu tahu aku?” suara senetral mungkin biar terdengar tenang. Aslinya gugup, grogi.
“Gak tanya siapa namaku?” dia tersenyum yakin, aku tahu namanya.
“Aku tahu…” dia tertawa.
“Nama lengkapku via” aku menatapnya, dia tinggi, senyumnya manis. Ya tuhan siapa namanya? “Gak tahu?” dia bertanya.
Aku menggeleng, merasa bersalah tapi juga senang dia bicara denganku. Ehehe.
“Maaf fad”. Tanganku rasanya dingin.
“Ok lah, kalau kamu gak ingat, aku cuma mau mastiin apa kita udah cukup dewasa sekarang” dia mengusap rambutku lalu balik ke kelasnya. Sadar jadi pusat perhatian, aku lari ke tempat dudukku lagi.
Tadi itu apa? Memangnya apa yang aku lupa? Kok dia bilang begitu? Namanya fadri kan? Aku menggumam dengan jelas seperti orang gila, bicara sendiri.
Rasanya aku cuma lupa surat itu kemana.

Besoknya sepulang sekolah,
“Fad!” aku menunggunya di gerbang sekolah, padahal kelas kami sebelahan.
“Eh, via. Nungguin aku?” aku mengangguk.
“Aku mau tanya dong, boleh?”
“Kalau mau jadi pacar, aku gak bolehin”. Plak! Dia terlalu perrrrcaya dirii!
“Bukan! Bukan! Bukan kok, tenang aja..” rese bener, gumamku. “Gini, maksudnya aku gak ingat itu apa ya?” aku penasaran. Ucapku dalam hati.
“Oh itu.. Yuk balik bareng”.
“Lho? Kok balik sih?” aku jadi penasaran.
“Udah ikut aja, aku bantu biar ingat”. Ke mana sih, aku agak kesal sama cowok ini, apa susahnya sih jelasin?

Dia bawa aku kemana ini…
“Kok ke seko..Lah”. Wajahnya penuh kemenangan. Riang sekali.
“Udah ingat?” dia bertanya dengan semangat. Mataku membulat menatapnya.
“Rian? Nama lengkap kamu fadrian?”
Dia mengangguk bangga, sedikit membungkuk menatapku.
“Kita sudah dewasa belum?” aku menggeleng, aku tersipu malu, ternyata dia masih menyimpan suratku dan mengingat isinya. Dia tertawa melihatku menggeleng.
“Kamu berubah banget”. Kataku sambil menarik hidungnya.
“Kamu tuh yang berubah banget” lalu mengambil sesuatu dari tasnya dan diberikan padaku. “Buka deh”. Aku membukanya dan isinya …
“Surat?” dia mengangguk lagi. Kertasnya udah lusuh, pasti ini surat lama.
“Dulu kamu gak baca isinya, jadi aku ambil lagi suratnya”.
“Ha? Kamu ambil dimana suratnya??”
“Masih dalam tas kamu, masa gak tau?”
“Aku pikir suratnya hilang di rumah… Kenapa suratnya diambil lagi sih?” mataku mulai berkaca-kaca. Dia tertawa pelan lalu menjelaskan.
“Waktu kamu balas suratku itu, aku mau masukin surat terakhirku dalam tas kamu”.
“Terus?”
“Tapi pas aku buka, ternyata suratku yang pertama belum dibuka, aku kesal sekali karenamu hari itu, jadi aku ambil gitu aja”.
“Owh gitu ternyata”. Aku kecewa dan menyesal.
“Tapi aku menyesal, kenapa ya aku ambil lagi, padahal isinya juga biasa aja”.
“Apa emang isinya?” matanya mengisyaratkan baca sendiri, udah dibalikin juga suratnya.
Isinya … Tulisan cakar ayam itu lagi…

“Via, lusa aku pindah sekolah ke jawa.
Udah sebulan ini tiba-tiba kamu abai sama aku. Juga lebih pendiam.
Mendadak aja aku jadi ingat waktu kamu kejar aku di lapangan dulu,
Dilupakan begitu aja setelah itu rasanya gak lucu via. Jadi kangen.
Ternyata aku suka kamu.

Maaf ya? Aku belum telat kan?”

Tulisannya yang jelek itu gak mempengaruhi isinya, aku kecewa gak langsung baca dulu.

“Jadi gimana?” rian mengagetkanku.
“Apanya?”
“Suratmu….” oh aku ngerti.
“Oh belum”. Matanya membulat.
“Maksudmu?”
“Ya belum dewasa, yang itu kan?” dia menghela nafas panjang sekali. Kesal.
“Ya memang belum..” dijawab dengan suara yang datar sekali. Matanya kecewa.
“Pertanyaan kamu spesifik dong…” matanya membulat sekali lagi, kali ini berusaha mengerti maksudku.
“Oooo aku tau nih, kamu mau aku tembak ya?” dia tertawa merasa menang sekali lagi.
“Ya ampun” gantian aku yang menghela nafas panjang. Dia terlalu blak-blakan.
“Via, aku cuma mau mastiin, kamu masih suka gak sih sama aku?”
“…” aku diam.
“Kalau masih, aku bisa nunggu sampai kita dewasa baru pacaran sama kamu”.
“……” aku diam.
“Jawab ngapa?” dia terdengar gak sabaran.
“Sekarang juga gak apa kok”.
“Apa? Pacaran?” aku mengangguk.

Aku bisa melihat ekspresi girangnya mendapat jawabanku. Rasanya hebat sekali surat itu. Karena kertas itu aku dapat kutukan 4 tahun kesulitan dapat pacar. Ternyata untuk menunggu orang yang sudah terlanjur aku minta menungguku menjadi dewasa.

Ternyata benar, kalau cinta pertama bakal susah dilupain. Apa lagi ternyata kami berdua adalah cinta pertama satu sama lain.
Aku gak butuh banyak pacar. Cukup satu dan itu hanya rian. Maksudku fadrian.

Tamat.

Cerpen Karangan: Aryulanda
Blog / Facebook: Silvia Aryulanda
mahasiswa unp semester 4

Cerpen Sebuah Surat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


La Petite Mort

Oleh:
Malam hari terasa aneh bagiku. Suhunya dingin, tetapi tak ada waktu lain yang lebih menghangatkan hatiku dibanding saat malam hari. Makanya, ini adalah waktu favoritku untuk berjalan-jalan di taman

Rain dan Hujan

Oleh:
Datang tak diindahkan. Tak datang diharapkan. Yups, itu adalah hujan. Perkenalkan namaku Rain. Dalam bahasa Inggris Rain artinya Hujan. Selain karena aku lahir pada musim hujan, Ibu memberikan nama

Kasih di Sepucuk Surat

Oleh:
Detak jam dinding terus berbunyi hingga saat ini. Sonya masih termenung kaku mengingat hal yang baru saja ia lakukan. Gadis itu masih di sana, duduk di kursi ruang tengah

Pertemuan Singkat

Oleh:
Mentari mulai menampakkan sinarnya dan sudah siap untuk menerangi sebagian dari belahan bumi ini. Sama seperti Netta yang sudah siap untuk memulai lembaran baru di SMA Harapan Bangsa. Ya,

Cinta Tak Pernah Salah (Part 2)

Oleh:
Setelah aku putuskan untuk move on dari Zhoumi rasanya pekerjaanku menjadi sedikit berat. Apalagi sekarang pekerjaanku semakin berat karena perusahaan akan mengadakan ulang tahun perusahaan sekaligus pernikahan putri presdir,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *