Si Anu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 January 2017

Hari ini seperti biasa, aku bertengger di tempat dudukku sambil membaca novel, aku malas mengoleksi eh maksudku mempunyai banyak teman, cukup mereka yang menjadi temanku.

Novel Sherlock Holmes sedang menghipnotisku, membuat hatiku menjadi tenang dan otakku menjadi fresh, aku penasaran siapa pembunuhnya?.
“Ini pembunuhnya” kata seseorang yang tiba tiba di sampingku, aku tak tau namanya.
“Tau darimana?” tanyaku ketus, dia tersenyum kecut.
“Perhatiin kata kata yang yang di situ, gelagatnya keliatan banget” kata lelaki itu.
“Tapi kan bisa aja salah” cercaku, sebenarnya aku setuju dengan pendapatnya.
“Yaa.. Anu.. Itulah” kata lelaki itu, ah aku ingat! Lelaki itu yang sering digosipkan oleh orang orang karena sering mengatakan ‘anu’, aku tak tau namanya, sebut saja Si Anu, aku kembali fokus pada novelku.

Bukannya angkat kaki si Anu tetep duduk di sampingku. Mau apa hm? Ini daerah kekuasaanku, dan aku benci kalau ada yang mengganggu daerah kekuasaanku.
“Ngapain lo disini? tar lagi guru dateng” tanyaku ketus, air muka dia seketika berubah.
“Itu.. Anunya.. Eh.. Anu.. Ah.. Anulah” si Anu gelagapan berkata dan langsung ngibrit menuju kursinya. Dia lelaki aneh yang pernah aku temui, kenapa dia bisa sekolah di sini? Sekolah ini kan punya banyak peminat.

“Almira” panggil guru geografi, aku langsung menutup novelku dan mendongkak, guru geografi sedang memelototiku.
“Simpan bukunya, atau ibu ambil?” tanya guru geografi, aku membelalakkan mata, buku ini diambil? Gak boleh!, aku memilih menyimpan novelku daripada diambil.
“Kamu juga. Mau tidur atau sekolah?” Kata guru geografi yang memarahi si Anu, aku terkekeh.
“Itu bu.. Itu.. Anu” kata si Anu gelagapan.
“Una anu una anu. Emangnya kamu Dj Una? Bukan kan? Ya udah diem” kesal guru geografi yang membuat tawa seisi kelas.

Bel pulang sekolah sudah berbunyi, aku memilih pulang nanti dan diam di kelas sambil membaca novel kesayanganku, hidupku monoton, hanya berkecimpung di dunia CaLisTung.

Oh iya, soal pembunuh itu. Benar kata si Anu, dia pembunuhnya. Nampaknya si Anu bersiap siap mau pulang.
“Anu.. Almira.. Gue duluan ya” kata si Anu. Aku mengangguk, tunggu, sejak kapan si Anu mau pamit padaku?.
Aku tak terlalu memikirkan itu, aku kembali fokus pada epilog novel ini.

Dan akhirnya epilog selesai kubaca, ceritanya tidak terlalu menggantung. Aku pun bersiap untuk pulang dan keluar kelas dengan bahagia dan menuju parkiran.

Aku berjalan menuju mobilku dan menjalankan mobilku menuju gerbang utama, di tengah jalan ada yang menghalangiku, aku turun dan menggedor kaca mobilnya.
“Maju woy!” Kesalku. Dan sang pemilik mobil pun membuka kaca mobilnya.
“Lo?” Aku terkejut, karena dia sang pemilik mobil itu adalah si Anu.
“Anu.. Ngapain lo di sini?” Tanya si Anu.
“Harusnya gue yang nanya” ketusku.
“Ck.. Anu.. Kenapa sih lo jutek banget, salah gue apa?” Tanya si Anu.
“Ya.. Karena gue gak mau deket sama lo, bahasa lo ambigu” kataku lantang, si Anu keluar dari mobilnya.
“Ambigu yang mana?” Tanya si Anu lagi.

Anu.
“Yang ‘anu’, iya yang itu” kataku tak yakin.
“Oh jadi kebiasaan gue ngomong ‘anu’ itu ambigu?” Si Anu mendekat dan aku mundur.
“Iya” aku mulai tak yakin kalau ini akan baik baik saja.
“Lo jangan kepedean, anu.. lo itu ngeselin” kata si Anu yang setelah itu pergi menjalankan mobilnya.

Aku pun kembali melanjutkan perjalanan. Anu? Ambigu? Kepedean? Enak aja!. Sesampai di rumah aku langsung membaringkan badan di kasur.
Si Anu nggak jelek, dia imut, suranya lucu, tapi kenapa nggak punya temen? Eh aku juga gak punya sih, tapi seenggaknya aku punya banyak temen pas SMP.
Kok jadi mikirin si Anu? Ah sudahlah, kubenci.
“Almira, sholat ashar dulu” titah Ummi, aku hampir lupa sholat. Aku pun bergegas ke kamar mandi untuk wudhu lalu sholat ashar.

Aku lapar, maka aku siap siap keluar kamar dan makan di ruang makan bukan di kamar mandi, dan makan dengan nasi bukan dengan ASI.

Ini hari kesekian di SMA baruku, hidupku monoton, dan si Anu akhir akhir ini tak melirikku. Sekarang pelajaran Indonesia, dan sedang pembagian kelompok, aku benci berkelompok, karena aku tak punya teman.
“Almira sama Danuziar” kata guru Indonesia, dan sialnya satu kelompok 2 orang, aku dengan Danuziar dan aku tak tau Danuziar itu yang mana. Aduh yang mana pula Danuziar?.

Tapi si Anu malah menghampiriku, si Anu pasti nyasar.
“Anu.. Lo Almira kan?” tanya si Anu.
“Iya, dan gue sama Danuziar bukan lo” kataku sarkastik.
“Hahahahahaha” si Anu tertawa untuk pertama kalinya di kelas. Semua menatapku dan si Anu takjub.
“Apa yang lucu?” Tanyaku kesal.
“Danuziar itu gue” kata si Anu yang KATANYA nama asli dia Danuziar.
“Bohong banget” aku tak percaya.
“Gak percayaan banget sih” kata si anu lalu menunjukkan kartu pelajarnya, dan benar saja nama aslinya Danuziar.
“Percaya?” Tanya si Anu, mau tak mau aku mengangguk.

Masalah hasil diskusiku dengan si Anu, kita akan ke Gramedia untuk wawancara, sekalian cari novel tersayang, Sherlock Holmes. Oh iya, si Anu asyik juga kalau diajak bahas novel itu, dan ternyata dia punya ilmu kepenulisan lebih baik dari aku. Seperti sekarang aku sedang membaca novel dan dia yang menebak kisah selanjutnya, dan hasilnya tebakkan dia benar. Akhir akhir ini semua memandangku dengan si Anu( Bisa dipanggil Zi) dengan heran, karena yang mereka tau kita sama sama diam.

Hari ini, aku akan wawancara pihak Gramedia, aku dan si Anu janjian ketemu di Gramedia. Aku sudah di Gramedia, dan aku sedang melihat lihat novel, dan si Anu sudah bersamaku.
“Anu.. kalo lo jadi Sherlock Holmes, lo mau ngapain?” tanya si Anu.
“Gue pengen, mempertegakkan hukum, hukum agama, penganiyayaan.. Hm.. Banyak lah” kataku sambil menerawang tentang pertanyaan itu.
“Kalau lo mau ngapain?” Tanyaku.
“Eh.. Anu.. Itu.. Gak tau” kata si Anu, oh iya, soal si Anu gue gak paham kenapa dia hobi bilang ‘anu’ dan ‘gak tau’, aku mendengus.

“Ya udah sih, gue kan emang gak tau” kesal si Anu.
“Kapan sih lo gak bilang ‘gak tau’ sama ‘anu’ sehari aja”
“Lah, yang bilang kan gue, kenapa lo malah ribet?” Tanya si Anu.
“Tapi kan, gue tau kok pengetahuan lo itu banyak” kataku.
“Cie perhatian” kata si Anu tiba tiba.
“Eh apaan?” Aku gugup sekali.
“Cie perhatian” kata si Anu dengan nada mengejek. Untungnya ini saatnya wawancara maka percakapan gaje tadi tak dilanjutkan.

Selesai wawancara, aku langsung ngibrit ke deretan kumpulan novel, aku memilih milih novel. Berbeda dengan si Anu yang terus memandangiku.
“Almira, will you be mine?” Ujar si Anu saat pilihan novelku sudah jatuh pada novel terbaik, saat pilihan hatiku sudah jatuh pada hal yang aku suka.
“Gue gak bisa romantis, tapi ini dari hati.. Will you be mine?” Ulang si Anu, aku ingin berkata iya tapi aku gugup.

“Eh.. Emh.. Anu.. Itu.. Iya gue mau” dan hari ini, aku tertular oleh sikap ‘anu’ nya si Anu.
Danuziar memelukku, saat aku sudah mengatakan iya dan pilihan novel terbaik ada di tanganku, juga orang terbaik ada di hatiku. Danuziar tak memiliki teman, muka pas-pasan, suka Sherlock Holmes. Tak ada yang spesial pada dirinya, tapi aku suka Danuziar apa adanya.

Danuziar yang hobi bilang anu.
Danuziar yang hobi bilang gatau.
Danuziar yang ambigu.
Danuziar yang aneh.

si Anu adalah Danuziarku.

Cerpen Karangan: Dhiya’un Nabila Hasya
Facebook: Dhiya’un Nabila / Dhiya’un Nabila

Cerpen Si Anu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Isi Hati

Oleh:
Aku menatap gerbang sekolah baruku. Hari ini hari pertamaku di SMA ini sebagai murid pindahan kelas 2. Sekolah yang besar, luas, dan fasilitas yang lengkap. Aku tidak menyangka ayah

Untuk Garuda

Oleh:
Namaku joko, aku berumur 18 tahun. Aku memang menyukai sepak bola. Aku berada di tim yang cukup besar. Aku bermain di posisi kiper. Banyak teman yang baik kepadaku terutama

Hargai Aku

Oleh:
Rasanya sangat pusing sekali melihat rumus yang bertebaran dimana mana. Bagaimana tidak? Saat ini aku sedang mengerjakan tugas fisika yang cukup identik dengan rumus. Aku memijat pelipisku, untuk menghilangkan

Bukan Petak Umpet

Oleh:
Cit ciit cuitt suara merdu burung Pipit di balik pepohonan membuat pagi hari ini terasa sangat istimewa. Ini hari minggu. Ada sesosok anak remaja sedang asyik melaju bersama motor

Phobia (Part 2)

Oleh:
Aku bosan Cuma duduk doang disana. Bokongku sudah panas untuk beranjak pergi. Pemandangan di perumahan ini cukup membuat hatiku damai. Ada lapangan sekaligus taman kecil yang cocok untuk budak-budak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *