Si Pemberi Senyum Terindahku, Payah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama
Lolos moderasi pada: 23 January 2018

“Tania.” Mama memanggil lembut namaku sembari mengguncang kecil tubuhku.
“Tania, ayo sayang bangun! Udah siang banget lho.”

Aku mencoba membuka kedua mataku dan masih berharap semoga matahari masih menyembunyikan dirinya, tapi ternyata Mama benar. Aku segera menyadarkan diriku dengan duduk menepi di ranjang yang sudah menemani tidurku selama 6 tahun terakhir. Mama mengganti ranjang tidurku 6 tahun lalu karena dirasa aku sudah tumbuh besar dan ranjangku itu dirasa sudah tidak kuat menampungku. Ya, aku sudah besar. Usiaku sudah 16 tahun. Tahun lalu aku masuk ke dalam dunia putih abu yang menurutku sangat asyik, mungkin aku akan masuk ke dalam salah satu orang yang akan merindukan masa putih abuku kelak.

“Kamu mau sarapan apa?” Mama sibuk menyeka gorden kamarku
“Apa aja deh.”
“Ya udah cepat mandi! Nanti Mama buatkan nasi goreng, ya?”
Aku hanya mengangguk dan segera bergegas mandi.

Aku rasa dua tahun berlalu begitu cepat. Dulu aku adalah seorang murid baru di gedung berbentuk letter U ini. Tak begitu banyak teman yang kukenal dulu. Tapi itu dua tahun yang lalu, sekarang semua terasa berbeda. Aku sudah mempunyai adik tingkat, sudah mempunyai banyak teman, dan tahun depan aku akan meninggalkan gedung ini dengan status alumni. Tapi…

“Tania” Seseorang menepuk pundakku saat aku sampai tepat di depan kelas
Aku hanya menolehkan wajahku padanya
“Makasih ya undangannya. Gue pasti dateng ke acara sweet 17 lo.”
“Iya Fat sama-sama. Gue tunggu, ya.”

Fatkhur memperlihatkan senyumnya lalu pergi begitu saja. Andai dia tahu bahwa aku ingin melihat senyumnya lebih lama. Aku pun memasuki kelas.

“Tan, kenapa lo nggak bilang aja sih kalo lo suka sama Fatkhur? Kan lo juga sering sama dia.” Rasanya Riri menyadari tragedi di depan kelas tadi
“Apaan sih, Ri.” Jawabku sambil meletakkan tas
“Lo suka kan sama Fatkhur?”
Kurasa pertanyaan Riri tak perlu dijawab. Jadi, kuputuskan untuk menghiraukannya saja.

Malam ini perayaan ulangtahunku yang ke-17 diadakan. Aku sengaja meminta Mama untuk menyewa Event Organizer agar kami tidak perlu repot menyiapkan segala sesuatunya. Aku dan Mama juga memutuskan untuk menggelar acaranya di cafe yang tak jauh dari rumah. Sedangkan Papa hanya iya-iya saja. Kurasa malam ini aku harus mengeluarkan banyak kata terimakasih karena banyak yang hadir di pesta ulangtahunku membawa bingkisan yang disebut kado.

“Happy Birthday, Tan.” Ucapnya tanpa memberikan bingkisan dalam bentuk apapun tapi menurutku kedatangannya saja sudah cukup
“Thank you, Fat.”
“Maaf ya gue nggak bawa kado, besok gue kasih pas ambil rapor. Oke?”
Aku hanya mengangguk. Rasanya aku perlu menghampiri Riri, teman sebangkuku selama satu tahun ini.

“Ri?”
“Hai. Fatkhur ngasih apa?” Riri sedang asyik dengan minuman sodanya
“Nggak ngasih apa-apa. Katanya besok pas ambil rapor.” Aku memutuskan untuk duduk di sampingnya, di meja nomer 8

“Lho apa bedanya besok sama sekarang?”
“Nggak tahu.”
Kami terdiam beberapa saat

“Tan, lo cerita ke Fatkhur kalo lo mau pindah sekolah?”
Aku menggelengkan kepalaku
“Lho kenapa?”
“Menurut gue dia nggak perlu tahu, Ri.”

“Lo suka sama dia juga dia nggak perlu tahu?”
Aku menatap Riri lalu tersenyum.

“Lo kenapa pindah sih? Jauh lagi.”
“Jauh? Cuma Bandung Ri.”
“Itu jauh. Nanti lo nggak ketemu Fatkhur lagi dong?”

“Ya justru itu. Bagus dong. Gue bisa lupain dia.”
“Jadi bener kan? Lo suka Fatkhur.”

Setelah semalam suntuk aku sibuk dengan menghapus make up dan membuka bingkisan-bingkisan pemberian teman-temanku, aku harus pergi ke sekolah pagi ini bersama Mama untuk mengambil rapor dan mengurus segala kepindahan sekolahku ke Bandung. Kulihat Fatkhur sedang bersama temannya duduk di tepi lapangan sekolah. Ia menatapku dan melontarkan senyum yang kukira sudah ditangkap dan disimpan dengan baik oleh hatiku. Akan kusimpan rekaman senyumnya sebagai hadiah yang katanya ingin ia berikan hari ini. Kurasa ini hadiahnya.

“Ma, aku boleh ketemu teman aku dulu?”
“Kayanya nggak deh sayang. Mama takut Papa sudah nunggu terlalu lama di rumah. Gak papa, ya?”
“Oke, Ma.” Fatkhur, maaf.

Aku sudah menyelesaikan masa putih abuku selama tiga tahun di dua gedung berbeda. Aku masih ingat betul bagaimana aku memulai putih abuku dan masuk ke gedung yang sama (lagi) dengan sosok yang kudambakan sejak masa putih biru akhirku. Ia laki-laki yang pintar dan banyak dikagumi oleh banyak teman-teman sekolahku dulu karena mempunyai wajah yang diatas rata-rata. Menurutku, tak salah jika aku menyukainya. Tapi tidak, tak ada yang lebih selama 5 tahun kami bersama. Dia tetap menganggapku teman yang sering Ia ajarkan untuk memecahkan soal matematika dan aku tetap menganggapnya sebagai seseorang pemberi senyum terbaik.

“MAMAAAAAA. AKU LOLOS SNMPTN” Aku berlari menghampiri Mama yang sedang asyik menonton sinetron India kesukaannya
“Ah, selamat sayang.” Mama memeluk dan matanya terlihat berkaca-kaca
“Terimakasih, Ma.”
“Kita telepon Papa, ya?” Mama menyeka air matanya lalu mengambil ponselnya di kamar untuk menghubungi Papaku yang sedang dinas selama 2 minggu di Aceh

“Papa, hallo Pa?” Mama membuka pembicaraan lalu menyerahkan ponselnya padaku
“Papa, Tania lolos SNMPTN” jawabku menahan haru
“Masya Allah, diterima di?”
“Universitas Indonesia, Pa. Jurusan Ilmu Hukum.”

“Nak, terimakasih. Papa bangga sekali punya Tania.” Tangis Papa terdengar pecah dari sabang sana
“Iya Pa, Papa cepat pulang ya?”
“Iya sayang. Secepatnya Papa pulang dan urus kepindahan kamu ya?”
“Iya, Pa.”

Aku menyudahi teleponnya dan kembali memeluk Mama.
“Mama harus ikut kamu pindah, Mama nggak mau kamu sendirian.”

Masa perkuliahan sudah semakin dekat, terhitung sejak kepindahanku dari Bandung kemarin kira-kira satu minggu lagi aku akan memasuki kuliah hari pertamaku. Hari ini aku memutuskan untuk bertemu Riri yang sudah tak kutemui selama satu tahun sejak aku tinggal di Bandung.

“Riri?” Aku berlari kecil ketika sudah melihat Riri duduk di meja nomer 28
“Tania, gue kangen banget!” Riri menyambutku dengan sebuah pelukan
“I miss you too.” Jawabku sambil melepas pelukannya lalu duduk

“Gimana Bandung? Cerita dong.” Ucap Riri yang sangat antusias mendengar ceritaku
“Nggak lebih baik dari Jakarta. Tenang, gue masih rindu kota Jakarta. Nggak ada pemberi senyum terbaik.”
“Astaga Tania.”

“Lo gimana? Kuliah di mana?”
“Gue di IPB.”
“Oh ya? Yah kita jauh dong.”
“Nggak kok, gue bakal pulang ke rumah setiap sabtu minggu.” Jawabnya sambil mengaduk orange juice yang tinggal tersisa setengah gelas

“Kalo Fatkhur gimana?” Jawabku sambil mengalihkan pandangan ke menu
“Fatkhur?”
“Iya. Fatkhur. Dia kuliah di mana?”
“Gue nggak tahu. Gue kira malah lo tau. Sejak lo pindah ke Bandung ternyata Fatkhur juga pindah sekolah tapi gue nggak tahu di mana.”

Aku terkejut bukan main. Aku mengalihkan pandanganku dari menu ke wajah Riri yang sangat heran. Aku juga heran, kenapa Fatkhur bisa berpikir untuk menghilang? Kenapa dia tidak memberi kabar mengenai kepindahannya? Apa dia ingin melupakanku juga? Untuk apa?

Tugas semakin menumpuk di semester ke empatku ini. Sudah dua tahun aku menjalani hidup sebagai seorang mahasiswi di kampus terfavorit. Entah mengapa saat ini aku merasa biasa-saja. Karena menurutku menjadi mahasiswi sangat melelahkan daripada menjadi seorang pekerja kantor. Entah karena aku belum merasakan atau memang karena status mahasiswi ini begitu sulit? Tugas-tugas itu membuatku merasa butuh hiburan. Aku segera meraih ponselku dan mendapati satu pemberitahuan melalui pesan twitter.

Tania? Masi inget gue nggak?
Siapa ya?

Aku sama sekali tidak bisa menebak siapa dia. Di atas pesan terdapat tulisan pengirim pesan tersebut, @FatkhurMuhammad. Kulihat profilnya, gambarnya profilnya Naruto. Bagaimana bisa aku mengenalinya?

Yah masa nggak inget, sih?
Enggak, siapa ya?

Muncul ide brilianku untuk melihat foto-foto yang pernah diuploadnya, di sana aku melihat sosok yang kurindukan sampai detik ini. Dia pemberi senyum terbaikku. Bagaimana bisa aku tidak memikirkan bahwa itu adalah dia saat aku membaca usernamenya? Menurutku, ribuan orang memiliki nama Fatkhur dan aku sama sekali tidak pernah berpikir bahwa Ia akan muncul lagi menghubungiku.

Eh, okey. Sekarang gue tau, apa kabar Fat?”
Baik. Lo?
Jauh lebih baik setelah gue dapet pesan ini dari lo. (Ah nggak mungkin. Oke, delete)
Baik.

Kuliah di mana sekarang Tan?
UI. Lo?
UGM, Tan.
Wah, jauh ya.

Iya. Tan, gue boleh minta nomer lo? Gue mau off.
Oh boleh. 0812345678900

Tak lama kemudian ponselku berdering menandakan ada panggilan masuk lalu terhenti setalah beberapa detik.
Itu nomer gue, Tan. Save ya!
Oke.
Lanjut di sms aja ya.

Ah betapa berartinya pesan demi pesan yang ku baca saat ini. Aku harus berterimakasih pada operator karena dengan sabarnya menyampaikan pesan-pesan yang kukirim tanpa harus Fatkhur melihat ekspresi bahagia lebayku ini. Kalau dia tahu, bisa malu aku.

Siang ini aku sudah membuat janji dengan Riri. Ini sudah satu bulan lamanya aku tidak bertemu Riri sejak pertemuan terakhirku bulan lalu. Aku rasa aku sudah punya bahan curhatan siang ini.

“Lama banget sih, gue udah pesen 2 ice tea nih” Keluhku
“Iya maaf, tadi macet banget ke sini. Lagi kenapa nggak di Jakarta aja sih? Kenapa harus di depok? Gue jauh banget tau.”
“Oke nggak penting. Yang penting sekarang adalah gue mau cerita kalo gue udah dapet kabar tentang Fatkhur.”

“HAH? SERIUS LO?” Riri membelakakkan kedua matanya yang terbingkai kacamata
“Iya. Dan lo tau? Liburan semster nanti dia ngajak gue ketemu.”
“Fix banget. Ini saatnya lo jelasin semua perasaan lo dari dulu sama dia, oke?”
Aku hanya tertawa kecil

Sejak pagi aku sudah sibuk memilih baju untuk aku gunakan malam ini. Entah anak pangeran siapa yang ingin kutemui hingga aku begitu repot seperti ini. Aku rasa aku harus terlihat cantik malam ini karena aku akan bertemu dengan si pemberi senyum terbaik. Kurasa tubuhku sudah memuai beberapa senti sejak 3 tahun lalu, jadi aku harus berusaha terlihat tetap cantik saat dia melihatku lagi. Setengah jam lagi aku harus berada di cafe tempat aku dan Fatkhur membuat janji tapi saat ini aku sama sekali belum siap. Padahal, butuh waktu satu jam untukku sampai si cafe itu.

“Hai.” Sapaku dengan sosok laki-laki di meja nomer 9
“Tania?”
Aku mengangguk. Ia segera bangun dan mempersilahkanku duduk lalu memanggil waiters.

“Mau pesan apa, Tan? Mau makan berat atau ngemil aja?”
“Terserah.”
“Gue yang pilihin oke?”
“Iya.”

“Spaghetty Carbonara 2, Lipton Ice Tea 2.” Ucapnya pada pelayan yang sedang mencatat perkataannya lalu pergi berlalu

“Tan, i’m so happy to meet you again.”
“Me too.”

“Gimana kuliahnya?”
“Ya begitulah, sama aja dengan mahasiswa lain. Tugas alasan kenapa gue pengen cepet lulus.”
“Oke oke.” Responnya dengan tertawa kecil

“Oh ya Tan, gimana anak-anak?”
“Anak-anak?”
“Iya. Anak-anak angkatan kita, ada kasus apa setelah gue pergi gitu.”

“Gue pindah ke Bandung saat lo juga pindah. Gue tau lo pindah pas gue ketemu Riri di Jakarta dua tahun lalu.”
“Lo pindah ke Bandung?”
“Kenapa lo nggak cerita kalo lo mau pindah?” Aku memutuskan untuk tak menjawab pertanyaan basa-basinya
“Lo juga kenapa nggak cerita kalo lo pindah ke Bandung?”

Kemudian pelayan datang membawakan 2 lipton ice tea dan meminta aku dan Fatkhur menunggu untuk pesanan selanjutnya. Fatkhur meng-iya-kan.

“Tan, gue boleh nanya sesuatu?”
“Nanya apa?” jawabku sambil mengaduk-aduk lipton ice tea milikku
“Lo bener pernah suka sama gue?”
“Hah? Lo tau dari siapa?” Aku membelakakkan mataku, jantungku rasanya ingin lepas dari kaitannya

“Jawab gue.” Fatkhur memegang satu tanganku yang memang sedari tadi ku biarkan diatas meja, sedangkan yang satunya sibuk mengaduk-aduk lipton ice tea
“Gue rasa nggak perlu dijawab kalo emang lo dapet dari sumber yang nggak jelas.”
“Tan, gue juga suka sama lo. Sejak dulu. Dulu banget. Sejak lo sama gue masih naik sepeda bareng kesekolah sampe lo pakai baju kodok saat ambil rapor dulu. Bahkan sampai detik ini lo ada di depan mata gue.”
Aku diam seribu bahasa. Tak tahu lagi apa yang harus ku katakan. Aku harus bilang apa?

“Tan, Riri cerita semuanya sama gue dihari pengambilan rapor itu. Tapi dia nggak bilang lo bakal pindah. Gue juga ngerasa semuanya udah terlambat. Gue harus pindah sekolah dan gue rasa itu saatnya gue lupain lo. Gue terlalu payah buat ngakuinnya. Gue rasa gue bakal lupa tapi ternyata nggak, makin hari perasaan gue justru makin penasaran dan makin kangen sama sosok lo. Semakin lama gue semakin nyesel kenapa gue dulu ngebiarin lo gitu aja.”
Menurutku pernyataannya tidak memerlukan jawaban yang begitu berarti, kan?

Hari demi hari kulalui dengan berpuluh-puluh pesan bahkan hampir seratus pesan setiap harinya. Semakin dekat-semakin dekat namun tak ada kejelasannya. Entah bisa kusebut apa tapi ini jauh lebih dekat dari sebelumnya. Bahkan aku menyebut namaku sendiri untuk menyebut diriku dalam percakapan dengannya, memberikan perhatian kecil, bahkan marah ketika semua tak terjadi seperti yang aku mau. Begitupun sebaliknya. Aku merasa semua terasa hambar. Dia tak semenarik dulu. Jantungku tak lagi berdetak cepat saat menerima pesan darinya, persiapanku tak selama dulu saat aku dan dia ingin bertemu, bahkan senyumnya tak seindah dulu.

Aku menjalani hubungan dekat pula dengan teman satu organisasiku, mungkin bisa kalian sebut ini masa pe-de-ka-te. Masa-masaku dengannya jauh lebih mendebarkan dari masa-masa yang kulalui saat ini bersama Fatkhur, bahkan dengan tidak adanya kejelasan aku merasa langkahku ini sah-sah saja dilakukan, aku tak milik siapapun kecuali milik Tuhan dan kedua orangtuaku.

Dear Si Pemberi Senyum Terbaik dulu,
Kenapa kepayahanmu terulang lagi, Fatkhur? Kenapa saat aku benar-benar dekat, kau menjauh lagi? Bahkan lebih jauh dari jarak Jakarta-Bandung sebelumnya. Aku masih bisa merindukanmu pada jarak itu tapi sekarang tidak. Kau begitu payah. Membawa hatiku begitu saja lalu menyimpannya tanpa kau beri nama, apa itu namanya? Tak bisa kusebut bahwa kau seorang laki-laki jika begitu. Tolong, jangan salahkan aku saat ini jika aku sedang merasakan jatuh cinta pada laki-laki lain yang semoga tak sepayahmu. Sejak pengakuan rasa itu sampai delapan bulan setelahnya ini, kau masih saja membiarkan hatiku padamu tanpa kau cap sebagai kaulah pemiliknya. Maka sekarang izinkan aku mengambil hati itu lalu memberikannya pada yang lain, yang bisa memberikan hatiku nama bahwa Ia adalah pemiliknya.

9 bulan setelah aku resmi berpacaran dengan laki-laki yang tak sepayahmu, kau membuktikan padaku bahwa kau bukanlah laki-laki payah. Kau berhasil memberikan status pada perempuan lain, mungkin bisa kusebut lebih beruntung dariku karena Ia berhasil mendapat status darimu setelah menjalani beberapa fase pe-de-ka-te sedangkan aku gagal padahal faseku jauh lebih panjang dari itu. Atau bisa kusebut bahwa aku jauh lebih beruntung dari perempuan itu bahwa aku tak sempat dinobatkan sebagai mantan kekasih si lelaki payah?

Jelaskan padaku bagaimana bisa ini semua terjadi. Bagaimana bisa kau menyukaiku dengan waktu yang sangat panjang tapi kau tak memberiku kejelasan sedangkan hanya dengan hitungan bulan saja kau menjalani pendekatan itu, kau bisa memberikan kepercayaan penobatan status pacar padanya. Bagaimana bisa?

Entahlah kapan kau baca suratku ini, entah besok atau lusa, atau bahkan hitungan tahun lagi. Setidaknya kau harus tahu bahwa aku masih menunggu penjelasanmu hingga detik kau selesai membacanya.
Thank you,
Tania

Cerpen Karangan: Divia Rekha Permana
Facebook: Divia Rekhae Permana
Divia Rekha Permana, yang akrab dipanggil Divia, lahir di Jakarta pada 28 Juni 1998. Ia terus belajar mengembangkan hobi tulis menulisnya yang sudah Ia tekuni sejak berada di sekolah dasar. Sekarang, Ia menjadi seorang Mahasiswi Program Studi Ilmu Hukum di salah satu universitas negeri di Jakarta.

Cerpen Si Pemberi Senyum Terindahku, Payah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Pertama

Oleh:
Aku emang tak pantas mengucap kata rindu kepada dirimu, lagi pula aku tak tau caranya menjelaskan rindu kepada seseorang yang keberadaanya dipertanyakan. Tapi ini sebuah rasa, rasa yang teramat

Bestfriend

Oleh:
“Selamat pagi Yo” kata yang selalu terucap darinya hampir di setiap pagiku. Dia pria remaja yang beranjak dewasa berumur satu tahun diatasku, Alrian Viandra “Pagi juga rian” balasku dengan

Remember Summer (Part 2)

Oleh:
“Sejak kapan kamu akrab dengan Steven?” pertanyaan itu terlontar dari bibir Sam. Hari itu hari paling terbahagia untuk seluruh siswa kelas tiga. Hari terakhir ujian nasional telah berakhir dan

Bas (Part 5)

Oleh:
“Seharusnya saat perpisahan SMU kita, aku bicara ke kamu tapi aku malah membiarkanmu pergi.” ucap Bas lagi. “Aku suka kamu… nggak bukan suka, tapi suka banget… Tapi aku takut,

Kisah Cinta

Oleh:
Hujan. Ya! Tak asing lagi. Yang datang menyapa secara tiba-tiba. Banyak hal yang bisa terjadi. Aku sering mendengarkan kisah cinta romantis kala hujan. Jujur saja aku pernah merasakan cinta

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *