Surat Cinta Untuk Fadil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 May 2019

“Eh, kamu. Tunggu!”
“I-iya, kak? Ada apa?”
“Kamu anak baru, kan?”
“I-iya, kak.”
“Kalau lewat permisi dulu sama saya. Saya di sini senior kamu! Lain kali kalau kamu lewat tanpa permisi, lihat aja akibatnya. Dasar anak baru culun!”
“Ma-ma’af, kak.”
“Sudah sana pergi!”

Begitulah kesan pertama yang didapatkan Nisa saat telah resmi menjadi siswi di SMA 5 Mataram. Nisa seorang gadis polos yang hanya berpenampilan sangat biasa. Gaya rambut yang dikepang dua, dan mengenakan sebuah kacamata. Ia gadis yang culun dan kurang dalam hal pergaulan. Namun hal-hal seperti dihina dan dicemooh oleh teman-teman sekolahnya sudah menjadi hal yang biasa di dalam hidup Nisa.

Saat jam istirahat di sebuah kantin …
“Eh, kamu!” kata salah seorang perempuan sambil mendekat ke arah Nisa.
“I-iya, kak?”
“Kamu yang tadi, kan?”
“Iya, kak.”
“Bukannya tadi sudah saya bilang, kalau mau lewat di depan saya harus permisi dulu!” kata senior tersebut, sinis.
“Maaf, kak. Saya nggak lihat,” kata Nisa tertunduk menatap tanah.
“Nggak lihat?! Saya yang sebesar ini nggak kamu lihat?!”
Suara yang cukup keras itu memancing perhatian anak-anak lainnya.
Nisa hanya bisa terdiam. Ia diam bukan karena takut, namun itu karena ia tak mau saja nantinya jika membalas perkataan senior tersebut masalah akan menjadi tambah runyam.

“Denger, ya! Kamu itu anak baru di sini! Jadi jangan belagu, deh!”
“I-iya, kak.”
“Apa? Saya nggak denger! Ulang!” perintah senior tersebut.
“Iya, kak. Lain kali saya akan permisi…”
“Tunggu!” tiba-tiba saja suara seorang lelaki menghentikan perkataan Nisa. “Jangan dilanjutin,” lanjut lelaki itu.

Nisa sedikit terkejut, ia menoleh ke arah lelaki itu dengan raut penasaran. Nisa seolah bertanya-tanya dalam hati. Kenapa? Kenapa lelaki setampan dia dan …

“Eh, Pia! Jangan lagi, deh bikin masalah. Sudah berapa kali aku bilang? Kalau kamu masih kaya gini aku terpaksa harus bilang putus sama kamu. Mungkin sudah cu…”
“APA?! Putus kamu bilang? Kamu mau putus sama aku? Kenapa? Gara-gara cewek sialan ini?” Pia yang merupakan senior Nisa itu tak percaya dengan apa yang dikatakan Fadil, pacarnya.

Secara tiba-tiba Fadil memutuskan Pia. Keputusannya mungkin bukan hanya karena Pia dengan seenaknya membuat masalah dengan Nisa, tapi juga karena Pia sudah sering sekali mengingkari janjinya pada Fadil.

“Sudah cukup, Pia. Mulutmu yang kotor itu yang jadi alasan aku mau putus sama kamu. Dan ini bukan yang pertama kalinya. Dari dulu aku mau putus sama kamu. Aku malu punya pacar kaya kamu, Pia!” tegas Fadil tanpa belas kasih melontarkan kata-kata mengerikan itu pada Pia.

Setelah mendengar kata-kata itu, Pia terdiam. Tatap matanya kosong dan hampa. Pia yang merupakan gadis galak dan kadang-kadang selalu berbuat jahat itu akhirnya meneteskan air mata. Suasana itu menjadi suasana membahagiakan bagi junior-junior yang pernah mendapatkan perlakuan kasar dari Pia. Tampaknya mereka bersyukur, dan satupun tak ada yang berbelas kasihan pada Pia.

“Kamu nggak apa-apa, kan?” tanya lelaki bernama Fadil pada Nisa. Tampaknya Fadil tak peduli pada kesedihan yang dialami Pia, namun sebaliknya ia malah peduli dengan Nisa, gadis culun itu.
“A-aku nggak apa-apa, kak,” jawab Nisa tampak sungkan dan malu-malu.
“Aku Fadil. Kamu?”
“Ma-ma’af, kak aku harus masuk kelas,” Nisa-pun pergi dari hadapan Fadil tanpa menjawab pertanyaan lelaki tampan itu. Lelaki bernama Fadil itu tampak diacuhkan oleh Nisa, namun Nisa sebenarnya tidak bermaksud seperti itu. Nisa hanya tidak enak dengan suasana yang terjadi antara Fadil dan Pia. Ia tak mau nantinya dianggap menjadi seseorang yang merusak hubungan Fadil dan Pia.
Senang. Mungkin perasaan itu yang sedang membalut jiwa Nisa. Namun ia tersadar kembali bahwa itu hanya karena kebetulan.

Cinta pada pandangan pertama. Tak sedikit orang pernah merasakannya. Cinta yang tumbuh ketika pandangan pertama. Menyejukkan hati dan perasaan. Tidak salah lagi bahwa Nisa sudah jatuh cinta pada pandangan pertamanya dengan Fadil.
Sosok tampan dengan mata tajam yang ramah itu telah menggoyahkan hatinya untuk pertama kalinya. Hatinya yang menggebu-gebu, detak jantungnya yang terasa semakin cepat itu menyadarkan Nisa bahwa dirinya sudah sepenuhnya jatuh ke dalam lingkaran hati lelaki tampan bernama Fadil.

Teeettttt!!! Toootttt!!! Teeetttt!!!
Suara bel sekolah itu menandakan bahwa sudah saatnya para siswa dan siswi pulang ke rumah. Nisa segera membereskan buku-bukunya yang masih berserakan di atas meja. Sesaat setelah guru di kelas mengakhiri jam pelajaran, Nisa melangkah keluar dari ruang kelas.

“Nisa. Itu nama kamu, kan?” tiba-tiba suara seorang lelaki menghentikan langkah kaki Nisa.
Lelaki tersebut ternyata adalah Fadil. Seorang lelaki bermata tajam yang telah berhasil meluluhkan hati Nisa itu berdiri tegak, bersembunyi di antara pilar-pilar bangunan sekolah. Beberapa saat kemudian ia menampakkan diri di hadapan Nisa.
Nisa tak bergeming. Tubuhnya seolah dipaku. Ia tertunduk menghadap tanah. Ia tak mampu memandangi sosok luar biasa itu.

“Jangan sembunyikan wajah kamu. Menurut aku, kamu itu cantik. Dan wajah cantik itu seharusnya tidak disembunyikan dari siapapun,” kata Fadil sambil memandangi Nisa dan tersenyum begitu tulus.
“Maaf, kak. Ada apa, ya?” tanya Nisa.
“Nggak ada apa-apa, kok. Tapi aku bener, kan?”
“Bener?”
“Iya, bener kalau nama kamu itu Nisa.”
“Bener, kak. Aku Nisa. Tapi maaf, kak. Aku harus segera…”
“Tunggu!” potong Fadil.
“Apa aku punya salah sama kamu?” lanjut Fadil.
“Ng-nggak, kok. Aku cuma nggak enak nantinya…,” Nisa tak melanjutkan.
“Nggak enak? Nggak enak sama siapa, Sa?” tanya Fadil tampak penasaran.
“Aku nggak enak sama kak Pia.”
“Pia? Memangnya kenapa? Kamu takut sama si Pia?”
“Nggak. Bukannya kaya gitu, kak. Tapi…,”
“Tapi?”
“Hmmm…,”
“Nisa. Kamu nggak perlu khawatir sama si Pia. Aku jamin kalau dia nggak bakal ganggu kamu lagi. Tenang aja, oke?” kata Fadil.
“Iya, kak. Makasi.”

Percakapan singkat antara Fadil dan Nisa di hari itu menjadi pupuk yang semakin menumbuhkan perasaan cinta Nisa terhadap Fadil. Rasa perhatian Fadil dan caranya diperlakukan oleh Fadil semakin membuat cinta itu tumbuh bersemi. Namun lagi-lagi Nisa meredam perasaan itu dengan kepesimisannya.

Pada suatu malam di sebuah kamar, Nisa terduduk di atas meja belajarnya.
Ia memegang sebuah pena. Dengan selembar kertas, ia ingin menuliskan perasaannya. Ia ingin menumpahkan perasaan cintanya jika saja suatu saat perasaannya tak tersampaikan. Dituliskannya perasaan bencinya terhadap keadaan yang tak memungkinkannya untuk menggapai cintanya. Dituliskannya juga perasaan bahagianya terhadap hatinya yang telah menemukan Fadil untuk pertama kalinya.

Bulan yang indah. Rembulan malam itu bersinar terang seakan mengiringi goresan tinta Nisa untuk surat cintanya. Bintang malam bagaikan tersenyum melihat Nisa yang untuk pertama kalinya dibalut perasaan cinta dan kebahagiaan. Walau mungkin ada juga perasaan benci di dalam dirinya pada kenyataan yang tak memperbolehkannya bersatu kepada yang dicinta.

Beberapa bulan kemudian, hubungan Nisa semakin dekat dengan Fadil. Kadang-kadang mereka selalu pulang bersama. Senyum dan tawa senantiasa mengiringi kehidupan sekolah mereka yang sehari-harinya selalu membosankan. Namun terlepas dari semua perasaan bahagia itu, Pia juga tak pernah menyerah untuk menghancurkan kehidupan Nisa dan selalu berusaha untuk merebut hati Fadil.

Tepat pukul 07.30 pagi, jam pelajaran pertama dimulai. Nisa mengeluarkan buku-buku miliknya dari dalam tas. Beberapa dari buku-buku miliknya dimasukkannya ke dalam kolong mejanya. Namun ketika memasukkan buku-buku tersebut, Nisa merasakan bahwa tangannya menyentuh sebuah kertas. Karena penasaran, Nisa akhirnya mengambil kertas tersebut dan mengeluarkannya. Kertas tersebut ternyata adalah sebuah surat.

Dear Nisa,

Hai, Nis. Aku Fadil. Sebenernya lucu juga bikin surat ini. Dan ini adalah pertama kalinya aku bikin surat buat perempuan. Tapi itu nggak penting. Yang mau aku sampaikan, nanti saat jam istirahat temui aku di perpustakaan sekolah, ya. Ada hal penting yang mau aku bicarakan sama kamu. Aku tunggu kedatangan kamu, Nis.

Bye…

Begitulah kiranya isi surat yang ditemukan Nisa yang ternyata adalah surat undangan dari Fadil. Setelah membaca surat tersebut, Nisa tersenyum penuh kebahagiaan. Ia tak sabar menanti-nantikan bel istirahat bergema.

Teeetttt!!! Tooottt!!! Teeettt!!!
Bel yang menandakan waktu istirahat-pun telah bergema. Dan itu artinya Nisa harus cepat-cepat ke perpustakaan sesuai dengan isi surat dari Fadil. Namun saat Nisa melangkah menuju perpustakaan, ia bertemu dengan Pia.

“Permisi, kak,” kata Nisa polos.
“Eh! Tunggu! Mau ke mana kamu?” tanya Pia sinis.
“Ma-mau ke perpustakaan, kak,” jawab Nisa singkat.
“Mau ngapain ke perpustakaan?”
“Aku… mau… baca buku, kak,” jawab Nisa sedikit berbohong.
“Yakin mau baca?!”
“I-iya, kak.”
“Alah, jangan bohong kamu! Kalau kamu mau baca buku, mana mungkin ada Fadil di sana. Kamu mau macem-macem sama Fadil, ya?”
“Astaga, kak! Nggak, kak. Aku mana mungkin berani kaya gitu, kak,” bantah Nisa.
“Jadi, bener kalau kamu mau ketemu sama Fadil, kan,”
“Iya, kak,” jawab Nisa pasrah.
“Jangan ngimpi, deh! Denger, ya! Kamu jangan ngarep yang nggak-nggak. Fadil nggak akan pernah suka sama cewek kaya kamu!”

Lagi-lagi Nisa hanya terdiam tak membalas hinaan yang dilontarkan Pia padanya. Nisa tertunduk sedih. Mentalnya menurun. Rasa percaya dirinya sirna seketika. Surat cinta yang dibuatnya untuk Fadil itupun terbayang-bayang. Padahal ia sudah susah payah membawa surat cinta itu, namun rasa percaya dirinya membuat Nisa mengurungkan niatnya.

“Itu apa yang kamu bawa?” tanya Pia seraya memperhatikan sebuah kertas yang digenggam Nisa.
“Bu-bukan apa-apa, kak. Ini hasil nilai ulangan aku,” jawa Nisa.
“Hasil nilai ulangan? Coba saya liat!” Pia mengulurkan tangannya, memberi perintah pada Nisa untuk menyerahkan kertas tersebut padanya.
“Jangan, kak. Aku malu. Nilai aku jelek, kak,” kata Nisa menolak.
“Coba sini saya liat!” perintah lagi Pia.
“Jangan…”
Tiba-tiba Pia mengambil kertas yang digenggam Nisa secara paksa.
“Jangan, kak. Aku mohon, jangan,” pinta Nisa.
Pia tak mendengarkan apa yang Nisa pinta. Justru Pia sangat senang saat Nisa merasa tersakiti dan menderita. Begitulah sosok Pia yang teramat kejam.

Kedua gadis itu masih saling berebut kertas yang merupakan surat cinta untuk Fadil yang dibuat oleh Nisa beberapa bulan yang lalu. Karena saling tarik-menarik, kertas tersebut-pun akhirnya sobek menjadi dua bagian. Nisa terkejut. Tak percaya apa yang dilihatnya. Kertas yang merupakan penggambaran isi hatinya itu begitu mudahnya sobek oleh seorang gadis bernama Pia.

“Yah, sobek,” kata Pia lirih dengan nada menjengkelkannya. Pia membuang sobekan kertas yang berhasil digenggamnya.
Nisa semakin sedih. Setetes air mata jatuh membasahi pipi gadis bernama Nisa. Ia tertunduk menatap sobekan kertas berisikan perasannya itu. Ia ingin menggapainya. Namun tubuhnya serasa tak mampu lagi menahan pedihnya luka yang didapatnya.

Di sela-sela kesedihannya, tiba-tiba seorang lelaki datang memungut sobekan kertas tersebut. Lelaki itu tak lain adalah Fadil yang merupakan sosok luar biasa di hati Nisa. Fadil memunggut sobekan yang satunya dan meraih sobekan yang ada di genggaman Nisa. Kemudian dibacanya dengan seksama.

Dear My First Love,

Aku nggak tahu harus bagaimana untuk menyampaikan perasaan cintaku yang semakin hari semakin terpupuki oleh senyum dan tawamu. Perasaan ini teramat membahagiakan bagi diriku yang tak memiliki wajah cantik seperti gadis-gadis lainnya. Sungguh aku benci terhadap kenyataan yang tak mungkin menghendaki kita untuk hidup bersama. Namun aku juga sadar bahwa sudah cukup bagiku merasakan bahagia yang nikmat ini bersamamu. Walau kita tak dapat bersatu oleh cinta dan kasih sayang, mungkin kita bisa menjadi teman yang begitu dekat. Untuk kamu Fadil, yang merupakan sosok lelaki luar biasa di hatiku, aku serahkan seluruh perasaan cinta ini untukmu. Namun apabila kita memang tidak dapat bersatu, biarkanlah perasaan ini tetap memiliki senyum indahmu.
I LOVE YOU.

Nisa,

Sungguh hati Fadil tersentuh ketika selesai membaca setiap bait dari kata-kata dalam surat tersebut. Namun kini ia begitu marah ketika kedua matanya memandang ke arah Pia. Tangan kanannya teracungkan, dan segera mendarat begitu kerasnya di pipi gadis bernama Pia. Pia tak dapat berkata-kata. Ia menangis dan berlari membawa luka untuk kesekian kalinya.

“Nisa. Kamu baik-baik aja?” tanya Fadil setelah berbalik arah.
“Maaf, kak. Aku nggak bisa datang…”
“Nggak apa-apa. Aku sudah tahu.”
“Sekali lagi, maaf, kak,” Nisa semakin tertelan oleh kepedihan.
“Nggak ada yang perlu dimaafkan, Sa,” kata Fadil seraya meraih tangan kanan Nisa dan menggenggamnya begitu erat. “Oh, ya. Balasan untuk surat kamu, aku juga cinta sama kamu, Nisa.” Lanjut Fadil terdengar mantap.
Nisa terkejut. Kata-kata yang keluar dari bibir Fadil itu menjadi penghenti tangisnya. Tatapan Nisa hampa karena rasa tak percaya.
“Bener, kak?” tanya lagi Nisa mencoba untuk memastikan.
“Iya, bener. Aku juga cinta sama kamu, Nisa,” kata Fadil lagi-lagi sambil tersenyum hangat.

Seperti itulah kisah pertemuan Nisa dengan Fadil yang teramat membahagiakan. Walau kepedihan ternyata senantiasa di sisi, namun semua itu hanya akan menjadi sebuah masa lalu kemudian berubah menjadi sebuah kebahagiaan. Cinta tak pernah terduga darimana datangnya. Namun ketika ia datang, maka seorangpun tak akan mampu untuk menjadi penghalang. Karena sesungguhnya cinta yang putih adalah cinta yang berasal dari kedalaman jiwa manusia itu sendiri.

END

Cerpen Karangan: Imron Rosyadi
Blog: imrontraveling.blogspot.com

Cerpen Surat Cinta Untuk Fadil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gara Gara Main Handphone

Oleh:
Vanessa Tresyadara, atau yang biasa dipanggil Nessa ini, gadis yang cantik, supel dan suka main handphone. Ia tak pernah lepas dari handphonenya. Nazwa Audya. Nazwa adalah best friend nya

Suara Minor Bangsaku

Oleh:
Mentari mulai kembali ke peraduannya. Digantikan oleh sang rembulan yang meski tak secerah mentari, tetapi tetap menawan dan memperindah mataku ketika melihatnya. Aku dan temanku Arif pergi ke masjid

Jerawat Wati

Oleh:
“Aarrgghhh!!!” Sepagi itu suara sebuah teriakan telah membuat pagi yang tenang menjadi karut marut tak karuan. Mendadak ayam-ayam jantan berhenti berkukuruyuk ria. Sang mentari -untuk beberapa saat lamanya- shock

Hati Untuk Menyimpan

Oleh:
Manusia terlahir mempunyai hati, namun membutuhkan pikiran untuk mengendalikannya. Manusia juga terlahir mempunyai jiwa, namun membutuhkan perasaan untuk mengendalikannya. Dan meskipun hati dan jiwa itu tidak dikendalikan, tetap saja

Kini Dia Bukan AKu

Oleh:
20 JANUARI 2013 Semuanya berakhir hari ini! tak pernah terfikir di pikiran ku jika kau akan menggucap “SELAMAT TINGGAL” pada ku. Kata “MAAF” mu tak bisa membuat sakit hati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *