7 Alasan untuk Hidup (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 18 October 2014

Akankah manusia takut saat hari kiamat tiba?
mungkinkah mereka bisa berlari menghindari sang maut yang siap mengakhiri hidup indah mereka?
Apakah mereka akan teriak, menangis, bahkan memohon diberi perpanjangan waktu untuk bisa lebih lama hidup di dunia?
yeah mungkin saja semua itu benar adanya. Tetapi pertanyaan itu bukan untuk diriku.

Aku tidak takut. Karena aku tidak punya masa depan untuk bisa mengkawathirkan akan ganasnya hari kiamat kelak.
Aku tak akan lari. Karena akulah yang menghampiri sang maut.
Dan aku tak akan teriak, menangis apalagi memohon perpanjangan usia hidup. Karena sebaliknyalah yang ingin ku lakukan saat ini.

Kudekatkan kedua kakiku pada bibir tepi jurang tempatku berdiri. Terbayang samar-samar senyum ibu melambaikan tangannya ketika mengantarku TK dulu. Mengiris hati sesakkan dada mengingat aku akan mengecewakan kepercayaanya atas diriku. Karena Pupus sudah harapan, tak ada tujuan, dan berakhir pula kisah hidupku semenjak ibu meninggalkanku menghadap sang pencipta semesta.
kulebarkan senyum di bibirku, setidaknya aku bahagia karena sebentar lagi aku akan menyusulnya di surga sana.
‘Ibu aku datang’ gumamku bersiap untuk menceburkan diri pada kedalaman jurang lebih dari 300 m.
*sreeeekkkk..

“woii… tunggu!” suara seorang pria muncul dari balik semak-semak. ku menoleh mencari pemilik dari sumber suara tersebut. Betapa kagetnya ketika kumendapati sosok yang tak seharusnya kulihat sekarang. Aku mengenalnya. sudah pasti hampir semua orang mengenalnya betapa tidak dia adalah cowok terpintar, terpopuler, sekaligus terkaya di sekolahku. tapi tentu saja dia tidak mungkin mengenalku. karena aku cuma gadis culun panti asuhan yang dipandang sebelah mata.

“Laila… tolong jangan bunuh diri, ini bukan jalan terbaik untuk mengakhiri hidup” pinta Ardan memelas. ku tatap cowok ini dengan heran. bagaimana dia tahu namaku dan kenapa pula dia bisa berada di tempat ini?

Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan padanya. Namun aku sudah tak punya waktu untuk bicara hal-hal tak penting seperti itu untuk saat ini. Begitu juga Dia sudah cukup mengganggu konsentrasiku untuk saat ini.

“apa urusannya denganmu, sebaiknya kamu pergi sekarang.. sebelum kamu melihat darah dan akan membuatmu tak bisa tidur nanti malam” jawabku tak peduli. kupalingkan wajahku dari muka tampannya dan mencoba berkonsentrasi lagi pada jurang di bawah ujung kakiku.

“Tentu saja ini urusanku, kau pengecut!” teriaknya lantang melangkah maju mendekat ke arahku.
Beraninya dia mengataiku pengecut! dia tidak tahu hidup apa yang sudah kujalani selama ini, penderitaan dan luka batin seperti apa yang sudah kutanggung. Luka yang tak bisa tersembuhkan yang kucoba sembunyikan seumur hidupku.

Apalagi sekarang sudah tak ada lagi alasan untukku melanjutkan hidup yang sia-sia. Karena 3 bulan lagi umurku mencapai 18 tahun. Dan mau tidak mau aku harus meninggalkan panti asuhan tempatku berlindung selama ini.

Sedangkan malangnya suratan takdir yang tuhan tuliskan terhadapku. sampai detik ini tak ada satu keluarga pun yang mau mengangkatku sebagai putri angkat mereka. Aku sendirian, sebatang kara dan aku yakin aku tak akan kuat menjalani hidup luar setelah lepas dari panti.

Disini aku tak membunuh diri hanya mempercepat proses kematian yang sudah tentu akan aku alami setelah menjalani kejamnya hidup di luar sana, karena nanti aku akan lebih lelah lebih stress dari keadaanku sekarang. Jadi ini adalah pilihan terbaik untuk mengurangi sakitnya goresan luka yang semakin hari semakin mengangah di relung hatiku.

“aku bukan pengecut!”
“kamu gak ngerti dan tak akan ngerti apa yang kuhadapi selama ini!” bentakku keras. mengakibatkan pantulan suara diriku yang menyaut dari kejauhan atas jurang ini.

Aku tak habis pikir teganya cowok ini menilaiku seperti itu. aku tertunduk tak kuat menahan bendungan air mata yang sedari tadi kutahan. Aku malu pada diriku sendiri telah meluapkan emosi pada orang asing.
“laila… apapun yang kamu alami aku minta maaf kamu sudah tersakiti. tapi bukan dengan cara ini kamu melarikan diri dari semua masalah, bunuh diri hanya untuk orang orang pengecut” kata Ardan lembut semakin mendekatkan dirinya menuju posisi dimana ku berdiri.

“stop! jangan mendekat! kau ambil satu langkah lagi maka aku akan terjun!” ancamku menghentikan usahanya untuk lebih mendekatiku.
“silahkan… terjun saja. aku yakin kamu juga takut kok” tukasnya mantap
sekali lagi beraninya dia meragukan tekadku. baiklah akan kubuktikan.

Kulihat kedalaman isi jurang, betapa curamnya di bawah sana. Seandainya aku terjatuh dari atas sini, maka sudah pasti tubuhku akan hancur berkeping-keping dan tak akan ada yang mengenal mayatku. Bahkan kemungkinan mereka takkan menemukan mayatku karena banyaknya hewan buas yang berkeliaran di hutan ini.
Merinding ku mengingat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Tapi aku harus lakukan ini. kutarik nafas dalam-dalam bersiap melompat dalam hitungan 1.. 2.. 3…

“aaahhhh…”
Sial! kenapa aku jadi takut sekarang. kemana hilangnya tekad yang kubulatkan 5 menit yang lalu.

“kenapa gak terjun terjun. katanya mau bunuh diri?” kata Ardan dengan nada meledek.
‘ugghhh semua ini gara-gara dia, dia menghancurkan konsentrasiku tadi’ sekarang tak tahu kenapa aku ngeri melihat apa yang ada di bawah kakiku.
Aku benci cowok menjengkelkan ini! teriak batinku

“aku… aku… Ardan tolong pergi sana ini bukan urusanmu!”
“sudah kubilang berhubung aku melihat maka ini sudah menjadi urusanku dan aku tak akan pergi sebelum kau mau ikut pulang bersamaku”
“aku tak punya rumah! dan aku tak punya alasan untuk pulang!”
“banyak hal yang belum kamu lihat dan alami di dunia ini. Dan aku yakin kamu akan menemukkan kejutan yang membahagiakanmu di masa mendatang”

Aku bersumpah aku tak percaya akhir bahagia yang hanya terjadi di dongeng-dongeng anak kecil.
“Ardan aku bukan anak kecil. Dan motivasimu itu tak ada pengaruh untukku mengubah keputusanku”

Terkilas kenangan pahit dan penderitaan hidupku yang silam membuatku memantapkan tekadku dengan lebih bulat lagi.

“selamat tinggal Ardan” dengan itu aku membalikkan badan dan menutup kedua mataku bersiap menjemput sang maut yang menantiku di ujung jurang sana.

“tunggu…! ok fine aku bakalan ngebiarin kamu bunuh diri. tapi sebelum itu aku mohon waktumu hanya 1 minggu saja untukku memperlihatkan 7 alasan kenapa kau tak boleh mati. setelah itu aku janji jika kamu tetap bertekad ingin mengakhiri hidupmu maka aku akan membiarkanmu mati dengan cara apapun”
“Dan sebelum kamu menyetujui perjanjian ini maka aku tak akan pergi meski aku harus ikut terjun sekalipun. Ini bukan cuma untukmu tapi untuk kebaikanku juga. karena aku tak akan bisa pulang dengan rasa bersalah yang menghantuiku karena telah membiarkan seorang gadis bunuh diri di depan mataku”

Aku bingung kenapa cowok ini tak mau menyerah. apa keuntungan buatnya denganku yang sudah tak bisa diperbaiki ini. aku bukan siapa siapa dan akan tetap dalam keadaan menyedihkan ini. Tapi apa yang kukawathirkan lagi.
tak ada. maka tak ada salahnya membiarkan cowok ini membuang waktunya 7 hari bersamaku sebelum ia sadar betapa tak pantasnya aku melanjutkan hidupku yang sudah broken beyond repair.

Maka aku memutuskan

“Baiklah cuma 7 hari”

To be continued…

Cerpen Karangan: Mella Amelia
Facebook: Mella Memey Seyy

Cerpen 7 Alasan untuk Hidup (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Text Me, Please!

Oleh:
Pernahkah kalian para kaum hawa, mengagumi seorang pria yang kalian idolakan? Memang, itu hal yang sangat wajar sekali, tapi tidak bagiku. Aku harus berjuang mati-matian dahulu untuk mendapatkannya, bahkan..

Long Dream

Oleh:
Namanya Melisia, gadis SMA yang sedang beranjak remaja. Dia sangat percaya sama yang namanya keajaiban dalam mimpi. Sampai sampai dia berjuang untuk mewujudkan mimpi itu. “pagi Mel?” sapa Pita

Nina Dika

Oleh:
“Aku tidak terlalu tergesa gesa, sebab kau tidak lagi menungguku di pinggir jalan.” “Kita adalah rindu yang disembelih waktu” kata lelaki itu, seraya tengadah menatap langit senja sore ini.

Pangeran Mimpi

Oleh:
Tetesan air langit kini tiada lagi berhamburan ke bumi. Sang raja cahaya kini mulai menampakkan dirinya yang tersipu malu, terhalang oleh mega. Di balik celah-celah batuan terjal kaki gunung

Kekasihku

Oleh:
Mencintai seseorang terkadang itu adalah hal yang bahagia, namun aku fikir, mencintai seseorang yang mencintaiku, itu jauh lebih bahagia. Dia kekasihku, jelas aku katakan, dia kekasihku! Aku baru sadar,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

8 responses to “7 Alasan untuk Hidup (Part 1)”

  1. alkisa says:

    Lanjut dong..
    Please

  2. mella says:

    alkisa@ tunggu aja ya…itu jg klo cpet di update sama si adminnya…hehe

  3. putri says:

    Part 2 nya manaaaaa? penasaran

  4. wiwil says:

    cerpennya bagus banget!
    ditunggu kelanjutannya ya,,,

  5. josephin says:

    Kapan sih part 2 nya udah mau setahun nih?

  6. johan says:

    ditunggu part 2 nya

  7. yusnita says:

    admin please lanjut part 2 ea lah!!! dah lama kami nunggu!!

  8. sabela says:

    min pliss lanjut yaa penasaran banget nih sama kisah Laila dan ardannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *